Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Kring kring.

Ponsel pintar murah milik Akbar bergetar pelan di atas kasur lipatnya.

Akbar yang baru saja sampai di rumah langsung meraih ponsel retak tersebut.

Sebuah ikon mikrofon kecil berkedip-kedip di layar utama menandakan adanya file audio baru yang masuk.

Itu adalah transmisi langsung dari Alat Sadap Lalat Gaib yang menempel di kerah baju Pak Wanto.

"Mari kita dengarkan seberapa panik tikus tua itu sekarang," gumam Akbar sambil tersenyum penuh kemenangan.

Dia memasang earphone kabelnya yang sudah mengelupas di beberapa bagian agar suaranya terdengar lebih jelas ke telinga.

Klik.

Akbar menekan tombol putar pada file rekaman tersebut tanpa ragu.

Keresek keresek.

Suara gesekan kain terdengar kasar selama beberapa detik pertama pemutaran.

Trek.

Lalu terdengar suara kunci pintu ruangan diputar dari dalam dengan sangat terburu-buru.

"Sialan, sialan, anak gembel itu benar-benar tahu semuanya!" Suara berat Pak Wanto terdengar menggema dan bergetar hebat dalam rekaman.

"Dia pasti diam-diam mengintip dari jendela luar waktu aku menghitung uang minggu lalu."

Nafas Pak Wanto terdengar sangat memburu dan ngos-ngosan seperti orang paruh baya yang habis berlari maraton.

Akbar bisa membayangkan dengan jelas wajah pucat botak itu sedang mondar-mandir panik di dalam ruang kerjanya.

Tuut tuut tuut.

Terdengar suara nada panggil telepon di-loudspeaker dari dalam rekaman itu.

"Halo, Parmin! Kau di mana sekarang?" teriak Pak Wanto sesaat setelah panggilannya diangkat di seberang.

"Saya masih di rumah Pak Kades, baru mau beranjak tidur, ada masalah apa malam-malam begini memanggil?" jawab suara pria lain yang agak serak.

Akbar tersenyum lebar mendengar nama Parmin disebut dengan jelas dalam rekaman audio itu.

Parmin adalah bendahara desa yang selama bertahun-tahun memang terkenal sebagai tangan kanan setia Pak Wanto untuk urusan kotor.

"Tidur matamu! Cepat kau datang ke rumahku sekarang lewat pintu belakang dapur!" bentak Pak Wanto kalap.

"Jangan sampai ada satu warga pun yang melihat kau masuk ke pekarangan rumahku malam ini."

"Baik Pak Kades, saya segera pakai jaket dan meluncur ke sana sekarang juga."

Panggilan telepon itu pun dimatikan secara sepihak dan terburu-buru oleh Pak Wanto.

Terdengar suara langkah kaki mondar-mandir lagi yang diselingi suara barang-barang dibongkar dari laci.

Srek srek.

Suara engsel lukisan dinding raksasa yang digeser terdengar cukup berderit memecah kesunyian rekaman.

Tit tit tit tit.

Suara tombol angka digital pada brankas dinding ditekan dengan kecepatan tinggi.

Klek.

Bunyi pintu besi brankas yang sangat tebal itu terbuka lebar mengakhiri kepanikan sesaat.

"Uangnya masih aman, syukurlah belum ada yang disentuh atau hilang satu lembar pun," gumam Pak Wanto menghela nafas panjang tanda kelegaan.

Akbar menahan tawanya mendengar betapa serakahnya kepala desa korup itu di ambang kehancurannya.

Pria tua itu ternyata lebih mempedulikan tumpukan uang haramnya daripada mengkhawatirkan nyawanya sendiri yang baru saja diancam fatal.

Sekitar lima belas menit kemudian, terdengar suara pintu ruangan diketuk pelan dari arah luar.

Tok tok tok.

"Masuk Min, cepat kau tutup dan kunci lagi pintunya dari dalam rapat-rapat!" perintah Pak Wanto dengan nada mendesak.

"Ada masalah genting apa sebenarnya Pak Kades? Wajah bapak pucat sekali seperti habis melihat setan," tanya Parmin keheranan masuk ke ruangan.

"Lebih buruk dari setan Min, si Akbar anak miskin pembawa sial itu ternyata tahu soal uang pupuk ini di brankas."

"Hah? Serius Pak Kades? Bagaimana ceritanya anak gembel itu bisa tahu urusan dapur rahasia kita?" suara Parmin mendadak ikut bergetar ketakutan.

"Aku juga tidak tahu dari mana keparat itu dapat infonya, tapi yang jelas rumah ini sudah tidak aman lagi buat menyimpan uangnya."

Terdengar suara tumpukan keras kertas-kertas dijejalkan ke dalam sebuah tas kain dengan sangat kasar.

Sruk sruk sruk.

"Ini ada lima ratus juta rupiah uang tunai subsidi pupuk jatah kelompok tani yang kita potong bulan lalu."

"Kau masukkan semua ini dan bawa tas punggung ini pulang ke rumahmu sekarang juga diam-diam."

"Kubur tas ransel ini di bawah lantai tanah gudang beras belakang rumahmu malam ini juga tanpa sisa."

"Ta... tapi Pak Kades, kalau sampai ketahuan tim sidak polisi kabupaten, saya bisa ikut dipenjara seumur hidup," tolak Parmin ketakutan setengah mati.

Plak!

Terdengar suara tamparan kulit yang sangat keras dan jelas dari dalam rekaman mikrofon itu.

"Kau pikir kalau aku tertangkap kau bisa duduk bebas di luar hah?" bentak Pak Wanto mengamuk sejadi-jadinya.

"Kau itu yang bertugas memalsukan semua tanda tangan petani miskin di daftar penerima bantuan bulan lalu!"

"Kalau aku sampai hancur, kau dan seluruh keluargamu juga pasti akan ikut hancur membusuk di penjara, paham kau!"

Suara tangisan pasrah tertahan terdengar dari mulut Parmin yang mentalnya langsung hancur diintimidasi atasannya.

"Ba... baik Pak Kades, saya akan kubur uang haram ini di lantai gudang saya malam ini juga."

"Bagus, sekarang cepat kau keluar pergi lewat pintu belakang lagi dan jangan berani tinggalkan jejak apa pun di jalan."

Klek.

Suara pintu ruangan kembali ditutup rapat dan rekaman audio itu pun kembali hening menyisakan deru napas Pak Wanto.

Akbar menekan tombol jeda di layar ponselnya dengan senyum yang sangat mengerikan dan puas.

"Jackpot luar biasa," ucap Akbar pelan sambil meninju udara dengan kepalan tangan kanannya.

"Bukti percakapan ini sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka berdua memakai seragam tahanan warna oranye besok pagi."

Akbar segera mencabut earphone dari telinganya dan langsung membuka aplikasi WhatsApp di ponsel retaknya.

Dia sangat hafal nomor kontak pengaduan masyarakat Siber Krimsus Polres Kabupaten dari spanduk yang sering dipasang di perempatan jalan raya.

Akbar mengetik nomor tersebut dengan cepat dan mulai menyusun pesan laporan anonim yang sangat rapi.

"Selamat malam Bapak Komandan Piket, saya adalah warga Desa Sukamaju yang ingin melaporkan tindak pidana korupsi berjamaah."

"Berikut saya lampirkan bukti rekaman suara pembicaraan Kepala Desa Wanto dan Bendahara Parmin pada malam ini juga."

"Uang subsidi pupuk petani miskin sebesar lima ratus juta rupiah saat ini sedang dipindahkan dan dikubur di gudang beras milik tersangka Parmin."

"Mohon segera ditindaklanjuti malam ini juga sebelum uang bukti kejahatan tersebut dihilangkan oleh pelaku."

Akbar melampirkan file audio MP3 kualitas jernih dari sistem itu ke dalam kolom obrolan WhatsApp polisi tersebut.

Wush.

Tanda centang satu muncul di layar obrolan, lalu langsung berubah menjadi centang dua dalam hitungan lima detik.

Centang abu-abu itu mendadak berubah warna menjadi biru terang menandakan pesan laporannya sudah langsung dibaca oleh petugas piket kepolisian.

Akbar tersenyum lebar sangat puas dan langsung mematikan ponselnya, lalu mencabut baterainya agar nomornya tidak bisa dilacak sama sekali.

Tugas utamanya membalas dendam sudah selesai malam ini, dan sekarang dia hanya perlu tidur nyenyak menunggu pertunjukan utama besok pagi.

"Sistem, kerja alat sadap lalat gaibmu ini benar-benar kualitas luar biasa," puji Akbar sebelum menjatuhkan tubuhnya ke kasur.

[Terima kasih atas pujiannya Tuan, Sistem Dewa Hoki selalu berjanji memberikan kualitas barang tingkat dewa terbaik.]

Malam itu Akbar memejamkan mata dan tertidur dengan sangat nyenyak, nyaris tanpa ada beban pikiran sama sekali di kepalanya.

Kruyuk kruyuk.

Suara ayam jantan membangunkan Akbar tepat saat matahari baru saja mengintip kemerahan dari ufuk timur.

Akbar meregangkan ototnya dan menghirup udara pagi desa yang terasa sangat sejuk menyegarkan paru-paru.

Ngiung ngiung ngiung!

Tiba-tiba suara sirene mobil polisi meraung-raung sangat keras memecah keheningan damai pagi kampung itu.

Suara sirene itu terdengar sangat berisik karena tidak hanya satu, melainkan ada tiga atau empat mobil yang melaju beriringan dengan kecepatan tinggi.

Cittt!

Suara rem mobil terdengar berdecit kasar saling menyahut dari arah jalan utama tengah kampung, tepat di area rumah kepala desa.

Akbar langsung melompat berdiri dari kasurnya dan tersenyum sangat lebar mendengarkan keributan fantastis di luar sana.

"Polisi kabupaten ternyata bergerak jauh lebih gila dan cepat dari yang aku perkirakan semalam," gumam Akbar antusias.

Dia segera memakai kaos oblong putihnya asal-asalan dan berlari keluar rumah menuju arah sumber suara sirene gaduh tersebut.

Di sepanjang jalan gang, puluhan warga kampung juga sudah berhamburan keluar dari pintu rumah mereka karena kaget luar biasa.

"Ada kejadian apa ini pagi-pagi polisi banyak banget bawa mobil masuk kampung?" teriak Bu Tejo panik yang masih memakai daster tidurnya.

"Tidak tahu Bu Tejo, sepertinya rombongan polisi itu berhenti mengepung di depan rumah Pak Kades Wanto," jawab Tono yang kebetulan sedang lewat kebingungan.

"Ayo kita semua lari ke sana lihat ada kejadian apa, jangan-jangan ada perampokan bersenjata di rumah kades."

Warga berbondong-bondong setengah berlari menembus embun pagi menuju rumah mewah berlantai dua yang mencolok tersebut.

Sesampainya di sana, pemandangan yang tersaji di depan mata benar-benar membuat seluruh warga kampung menahan napas mereka serempak.

Empat mobil patroli polisi terparkir melintang sembarangan menutup total jalanan aspal di depan pagar rumah Pak Wanto.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!