Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan / Penyeberangan Dunia Lain / Fantasi Isekai
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Dunia Wilwatikta

Asap tipis mengepul dari cangkir tanah liat yang disodorkan Ki Wira, melayang naik dalam pola berkelok sebelum menghilang ke udara malam. Aroma daun herbal yang hangat menguar, sedikit pahit namun menenangkan, berbeda jauh dari teh celup instan yang biasa Galih seduh di rumah.

"Minumlah dulu. Bisa membantu tubuhmu yang letih," kata Ki Wira sambil duduk bersila di seberang meja kayu bambu rendah, tempat cahaya lampu minyak berpendar hangat menerangi wajahnya yang keriput.

Galih menerima cangkir itu dengan kedua tangan, meniupnya sebentar sebelum menyesap perlahan. Rasa pahit menyebar di lidahnya, diikuti hangat yang merambat turun ke perutnya. Ia duduk bersila di samping Sekar, yang masih memasang wajah dingin sedari tadi, tangannya bersedekap seolah menjaga jarak dari tamu asing yang tiba-tiba masuk ke kehidupannya.

"Nama saya Ki Wira," kata kakek itu akhirnya, seperti baru teringat bahwa ia belum memperkenalkan diri secara resmi. "Kau berhak tahu di mana kau berada sekarang, Nak."

Galih mengangguk cepat, duduk lebih tegak, mencoba menyerap setiap kata yang akan keluar dari mulut Ki Wira. Sekar tidak bersuara, hanya menatap lurus ke depan, meski telinganya jelas ikut menyimak.

"Kau ada di Wanasari," Ki Wira memulai, suaranya tenang dan mengalir seperti sudah terbiasa menjelaskan hal ini berkali-kali. "Sebuah desa kecil di wilayah yang dulu dikenal sebagai Wilwatikta. Dunia ini bukan duniamu. Di sini, manusia hidup berdampingan dengan ancaman dari dimensi lain."

"Dimensi lain?" Galih mengulang, suaranya nyaris tak percaya.

"Loka Gaib," sambung Ki Wira. "Sarang-sarang monster yang muncul dari celah dunia lain. Ada yang berkeliaran bebas di hutan, seperti Tuyakra yang menyerangmu tadi siang. Ada pula yang terkurung di dalam gerbang tersegel, bertingkat-tingkat, dihuni monster yang jauh lebih kuat semakin dalam kau masuk."

Galih meletakkan cangkirnya perlahan, tangannya sedikit gemetar. Dunia yang tadi pagi masih berisi PR matematika dan jadwal ulangan kini berubah menjadi tempat asing yang dipenuhi monster dan gerbang dimensi. Kepalanya terasa berat, seperti ada terlalu banyak informasi yang dipaksa masuk sekaligus. Ia menekan pelipisnya sendiri dengan jari, mencoba mencerna kenyataan bahwa sekolah, kelas XII-IPS 2, bahkan rumahnya sendiri, mungkin sudah tidak bisa lagi ia jangkau selamanya.

"Lalu bagaimana orang-orang di sini bisa bertahan hidup?" tanyanya, berusaha mencerna meski suaranya sendiri terdengar linglung di telinganya sendiri.

"Balai Desa," jawab Ki Wira. "Tempat para pemburu mendaftarkan diri, mengambil misi resmi, entah berburu monster, mencari tanaman obat, atau menjaga ladang dari serangan. Semua penduduk yang ingin hidup dari perburuan wajib terdaftar di sana. Tanpa itu, kau hanya akan jadi mangsa empuk di luar sana. Setiap kota besar punya balai serupa, hanya saja urusannya jauh lebih rumit dan misinya jauh lebih berbahaya."

Sekar akhirnya bersuara, dingin namun tegas. "Yang tadi menyerangmu itu belum apa-apa. Tuyakra cuma level rendah. Kalau kau bertemu Bayangkara sendirian, kau sudah mati sebelum sempat berteriak."

Galih menelan ludah. Bayangan cakar tajam Tuyakra yang nyaris merobek wajahnya masih segar di kepalanya, dan mendengar ada makhluk yang lebih mengerikan dari itu membuat perutnya mulas.

"Setiap manusia yang mampu bertarung di dunia ini punya tingkatan kekuatan," lanjut Ki Wira, mengambil jeda untuk menyesap tehnya sendiri. "Tingkat 1 adalah dasar, kekuatan fisik dan energi batin yang masih mentah, dimiliki hampir semua orang biasa. Tingkat 2 sudah mampu mengendalikan elemen atau senjata dengan kekuatan jauh di atas manusia biasa. Tingkat 3, yang paling langka, punya kendali penuh atas kekuatan mereka, cukup untuk menumbangkan monster boss seorang diri."

"Sekar Tingkat 2," tambah Ki Wira sambil melirik cucunya sekilas, ada nada bangga tersembunyi di baliknya. "Ia sudah berlatih sejak kecil, sejak orang tuanya tiada. Tidak ada yang memberinya kekuatan itu secara cuma-cuma."

Sekar tidak menanggapi, hanya menunduk sedikit, seolah tidak nyaman dipuji di depan orang asing. Jarinya mengetuk pelan lantai kayu, satu-satunya tanda bahwa kata-kata kakeknya tetap mengena meski wajahnya berusaha tetap datar.

Galih menunduk, menatap kedua telapak tangannya sendiri. "Kalau begitu, aku ini apa? Aku tidak bisa apa-apa. Aku bahkan tidak tahu cara memegang senjata."

Ki Wira terdiam sejenak, matanya menyipit menatap Galih dengan cara yang berbeda dari sebelumnya, lebih dalam, seperti sedang membaca sesuatu yang tersembunyi di balik tubuh lemah pemuda itu.

"Kau memang belum punya kekuatan fisik," katanya pelan, "tapi energi di dalam dirimu berbeda. Aku bisa merasakannya sejak pertama kali melihatmu di persimpangan jalan, sebelum badai itu datang. Energimu tidak seperti manusia dunia ini. Ia belum punya bentuk, belum punya nama, tapi jelas bukan sesuatu yang biasa."

Galih teringat kemampuan indigo yang selama ini dianggap aneh oleh orang-orang di dunianya, suara-suara yang hanya ia dengar sendirian, bayangan yang muncul lalu menghilang begitu saja. Selama ini ia menganggapnya sebagai kutukan, sesuatu yang membuatnya berbeda dan dijauhi. Namun mendengar cara Ki Wira mengucapkannya, seolah-olah hal yang selama ini ia sembunyikan justru adalah benih dari sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang murni dan belum pernah ada di dunia ini.

Dadanya berdegup aneh, campuran antara takut dan sesuatu yang mirip harapan kecil yang enggan ia akui.

Sekar melirik sekilas ke arah Galih, dahinya berkerut. Ia tidak mengerti kenapa kakeknya, yang biasanya tidak mudah terkesan pada siapa pun, begitu memperhatikan pemuda lugu berpakaian aneh ini. Ada sesuatu yang membuatnya sedikit gelisah, meski ia sendiri enggan mengakui rasa penasaran itu.

"Istirahatlah dulu malam ini," kata Ki Wira akhirnya, menutup pembicaraan sambil berdiri perlahan. "Semua ini terlalu banyak untuk dicerna dalam semalam. Besok kita bicarakan lagi."

Galih mengangguk, meski pikirannya masih dipenuhi ribuan pertanyaan yang belum sempat ia tanyakan. Ia dituntun menuju kamar kecil di sudut rumah panggung, beralaskan tikar tipis dan selimut kasar namun bersih. Lampu minyak diletakkan di sudut ruangan, cahayanya redup namun cukup untuk menemani malam.

Galih duduk di tepi tikar, menatap dinding kayu di hadapannya. Malam semakin larut, suara jangkrik di luar terdengar teratur seperti detak jam yang tak pernah berhenti. Dari celah dinding, angin malam menyusup dingin, membawa aroma tanah dan dedaunan basah yang masih asing bagi indranya. Ia merebahkan tubuhnya perlahan, menatap langit-langit bambu sambil membiarkan pikirannya melayang, mencoba menerima kenyataan bahwa hidupnya yang dulu mungkin sudah benar-benar berakhir, dan yang tersisa hanyalah dunia baru yang penuh misteri ini. Kata-kata Ki Wira tentang energi aneh dalam dirinya masih terngiang, berputar pelan di kepalanya sampai akhirnya kantuk perlahan menariknya ke dalam tidur yang tidak juga terasa tenang.

1
quancyberx studio
untuk novel nya lumayan dan perlu peningkatan dari segi kata paragraf dan lain nya
quancyberx studio
semangat ya
PLEMIK: Kamu juga semangat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!