SALAHKAN AKU MENCINTAIMU
Sinopsis
Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.
Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: BATAS YANG KABUR
Di lorong SMA Garuda, kebisingan jam istirahat terdengar membahana. Suara derap langkah sepatu, tawa para siswa, dan dentang bel sekolah yang baru saja berbunyi seolah menjadi dunia yang sangat jauh bagi Aluna.
Aluna berjalan menyusuri koridor dengan langkah yang sedikit ragu. Seragam sekolahnya memang sudah dirapikan kembali sebelum mereka turun dari mobil Devan pagi tadi, namun rasa hangat bekas sentuhan jemari Devan di kulitnya seolah masih membakar dan membekas di sana.
"Aluna! Kamu dari mana aja sih?" sapa Maya, sahabat dekat Aluna, seraya merangkul lengannya tiba-tiba dari samping.
Aluna tersentak kaget, refleks memegang dadanya sendiri. "E-eh, Maya... Aku dari kamar mandi tadi."
Maya menatap Aluna curiga, memicingkan matanya. "Muka kamu kok merah banget? Terus itu... bibir kamu agak bengkak, Na. Kamu sakit atau kena alergi?"
Jantung Aluna serasa berhenti berdetak seketika. Pertanyaan polos dari sahabatnya itu menghantamnya bagai petir. "N-nggak kok! Cuma... tadi kedinginan aja di kelas, terus kepedasan makan permen."
"Ooh, gitu..." Maya manggut-manggut percaya. "Eh, liat tuh. Kakak tiri kamu ganteng banget ya. Beruntung banget kamu punya kakak kayak Devan."
Aluna mengikuti arah pandangan Maya. Di sudut lorong dekat ruang OSIS, Devan berdiri bersama beberapa pengurus sekolah lainnya. Pria itu tampak begitu karismatik dalam balutan seragamnya yang rapi, mendengarkan penjelasan temannya dengan raut wajah tenang dan dewasa.
Namun di pertengahan kalimatnya, Devan mendadak menghentikan bicaranya. Matanya bergerak lurus melintasi kerumunan murid, mengunci pandangannya tepat ke arah Aluna.
Devan menatap Aluna intens. Tanpa sadar orang lain, sudut bibir Devan terangkat sangat tipis—sebuah isyarat rahasia yang sarat akan ingatan tentang apa yang telah mereka lakukan di dalam kabin mobil beberapa jam yang lalu. Tatapan mata Devan yang kelam seolah menegaskan bahwa batas antara "kakak tiri" di depan umum dan "pemilik" di balik layar telah benar-benar kabur.
Aluna buru-buru mengalihkan pandangannya dengan napas memburu, meremas kuat tali tasnya demi menutupi getaran di jemarinya.
Sore harinya, keheningan rumah kembali menyambut mereka. Ayah dan Ibu belum pulang dari kantor, meninggalkan rumah besar itu hanya diisi oleh mereka berdua.
Aluna baru saja selesai mandi dan berniat melangkah ke kamarnya di lantai dua, hanya mengenakan gaun tidur tipis berwarna krem selutut. Namun tepat saat ia melewati depan pintu kamar Devan yang terbuka sedikit, sebuah tangan kekar mendadak menjangkau pergelangan tangannya dan menariknya masuk ke dalam.
Brak.
Pintu kamar Devan terkunci rapat.
"Kak Devan! Kaget tau!" jerit Aluna tertahan saat tubuhnya terdesak ke pintu yang tertutup rapat.
Devan berdiri menjulang di depannya, baru selesai mandi dengan rambut hitamnya yang masih setengah basah dan kaus hitam polos yang melekat pas di tubuh tegapnya. Aroma sabun dan kayu cendana langsung memenuhi indera penciuman Aluna.
"Siapa cowok yang ngobrol sama kamu di kantin tadi siang?" tanya Devan rendah. Suaranya terdengar dingin, menahan gejolak kecemburuan yang sengaja ia tahan sepanjang hari di sekolah.
"Itu... itu cuma Ryan, teman sekelas Aluna yang mau pinjam catatan Ekonomi," terang Aluna jujur, matanya menatap Devan dengan cemas.
"Aku nggak suka cara dia natap kamu," bisik Devan serak. Ia memajukan langkahnya, mengikis jarak hingga dada tegapnya menempel rapat pada tubuh Aluna.
Tangan Devan yang hangat merayap naik dari pinggang Aluna, menyusup ke balik rambut basah Aluna dan menahannya di tengkuk.
"Kak... Ayah sama Ibu sebentar lagi pulang..." cicit Aluna lemah, meski tubuhnya sendiri refleks merapat ke dalam dekapan Devan saat bibir pria itu mulai menyesap lembut garis lehernya.
"Biarkan aja," gumam Devan di antara kecupan-kecupannya yang makin berani dan menuntut di sepanjang leher dan rahang Aluna. Jemari Devan yang lain meremas pinggang Aluna dengan protektif dan posesi penuh. "Sebelum mereka sampai rumah... tunjukkan sama aku kalau kamu cuma mikirin aku seharian ini."
Desah napas Aluna tertahan saat Devan memiringkan kepala dan membungkam bibirnya sekali lagi—sebuah ciuman yang sarat akan dominasi, gairah rahasia, dan rasa kepemilikan mutlak yang tak lagi bisa mereka bendung.