Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.
Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.
Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Aslan mengurai pelukannya dari tubuh Liza dengan gerakan yang agak terburu-buru. Wajahnya masih tegang, sisa amarah dan panik dari kepergian Naya belum sepenuhnya reda. Ia merapikan kerah kemejanya, mengambil jas yang tergantung di sandaran kursi, lalu berbicara singkat tanpa menatap kedua wanita di hadapannya.
"Kamu makan sama mama. Aku harus pergi ke kantor,” ucapnya datar.
Ranti yang sejak tadi berdiri di dekat meja langsung mengerutkan kening. “Makan apa? Memangnya ada makanan?” tanyanya, nada suaranya naik satu oktaf karena heran.
Aslan yang sudah melangkah menuju pintu hanya menoleh sekilas. “Masak saja. Biasanya Naya juga masak. Aku tidak ada waktu untuk membelinya.” Tanpa menunggu jawaban, ia keluar dari ruang makan, mengambil kunci mobil, lalu meninggalkan rumah dengan langkah cepat. Bunyi mesin mobil menyala beberapa detik kemudian, lalu menjauh.
Keheningan langsung mengisi ruang makan.
Liza dan Ranti saling berpandangan. Ekspresi keduanya sama-sama kesal, kecewa, dan sedikit tidak percaya.
Liza menghela napas panjang, lalu berdecak pelan. Ia duduk pelan di kursi dengan gerakan lesu, tangan menyentuh perutnya yang masih datar.
Sejak awal mendekati Aslan, Liza membayangkan hidup yang jauh lebih mudah. Rumah besar, suami kaya, tidak perlu susah-susah mengurus apa pun. Tapi kenyataan pagi ini justru sebaliknya. Tidak ada Naya, tidak ada pembantu, tidak ada sarapan yang sudah tersedia di meja. Hanya dapur yang kosong tanpa makanan apapun.
“Mama saja yang masak,” ucap Liza akhirnya, suaranya manja tapi penuh alasan. “Perutku mual kalau bau masakan. Aku tidak kuat berdiri di depan kompor.”
Ranti menatap anaknya dengan tatapan campuran antara kesal dan heran. “Kenapa tidak beli saja? Suamimu banyak uang, Liza. Telepon saja katering atau pesan dari restoran. Tidak perlu repot-repot.”
Liza menggigit bibir bawahnya, lalu menunduk. “Aku belum dikasih uang, Ma,” akunya pelan, hampir berbisik. “Sejak kemarin Aslan belum memberikan apa-apa. Dompetku juga tinggal sedikit.”
Ranti terdiam. Ia menyilangkan tangan di dada, lalu menghela napas panjang. “Jadi kita harus masak sendiri?” gumamnya, lebih pada diri sendiri. “Padahal di Bandung kamu bilang hidup di sini akan lebih enak. Tidak perlu kerja, tidak perlu susah.”
Liza tidak menjawab. Ia hanya menatap meja makan yang kosong, lalu ke arah dapur yang terlihat asing.
Ranti akhirnya berdiri dengan langkah berat. “Sudahlah. Mama yang masak. Tapi jangan harap istimewa. Cuma telur dan nasi goreng seadanya.”
Liza mengangguk kecil, merasa lega sekaligus bersalah. Ia tetap duduk di kursi, memainkan jari-jarinya di atas meja, sementara suara Ranti mulai terdengar dari dapur, bunyi pintu kulkas yang terbuka, wajan diletakkan di atas kompor, dan desisan minyak yang mulai panas.
Di ruang makan yang sunyi, Liza menatap jendela. Pikirannya sempat melayang ke Naya, dia merasa menang karena sudah berhasil mengusir wanita itu dari kehidupan Aslan. Kini hanya dirinua satu-satunya istri laki-laki itu.
****
Aslan menancap gas begitu mobilnya keluar dari kompleks perumahan. Mesin meraung, ban berdecit di tikungan pertama, dan ia menyalip beberapa kendaraan dengan jarak yang terlalu dekat. Matanya terus memindai jalan di depan, mencari mobil putih yang biasa dikendarai Naya. Ia yakin istrinya belum jauh. Lalu lintas belum terlalu padat, dan Naya pasti masih di jalan raya utama.
Tapi semakin lama Aslan melaju, semakin kosong harapan itu. Saat berhenti di lampu merah berikutnya, Aslan sudah mulai gelisah. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, memeriksa setiap mobil yang berhenti di sampingnya. Berharap menemukan mobil Naya.
Di flyover berikutnya, ia memacu mobil lebih kencang lagi, menyalip dari jalur kanan dengan ugal-ugalan. Klakson dari kendaraan di belakangnya berbunyi marah, tapi ia tidak peduli. Yang ada di kepalanya hanya mengejar Naya, sebelum wanita itu benar-benar menghilang.
Ketika sampai di jalan raya utama yang lebih lebar, Aslan memperlambat laju mobilnya. Matanya memindai setiap kendaraan di depan, di samping, bahkan yang melaju di arah berlawanan. Tidak ada mobil putih itu. Tidak ada plat nomor yang ia hafal di luar kepala. Naya sudah menghilang di antara lautan kendaraan pagi hari.
“Sial… ke mana dia?!” umpat Aslan serak. Ia memukul setir dengan keras hingga telapak tangannya perih. “Ke mana kamu pergi, Naya?!”
Mobilnya melaju pelan di lajur kiri. Aslan mengacak rambutnya kasar, napasnya memburu. Rasa panik yang sempat muncul di rumah kini bercampur dengan kesal yang semakin membara. Ia sudah membayangkan akan menyalip mobil Naya, memaksa wanita itu berhenti di pinggir jalan, lalu membawanya pulang dengan paksa. Tapi kenyataan justru sebaliknya. Naya sudah selangkah lebih cepat, pergi entah kemana.
Beberapa detik kemudian, ekspresi di wajah Aslan berubah. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum smirk yang sombong dan penuh keyakinan. Ia menyandarkan punggungnya ke jok, menghela napas, lalu berbicara pelan seolah Naya masih bisa mendengarnya.
“Aku yakin kamu hanya menggertakku saja, Naya,” ucapnya lirih, nada suaranya penuh keangkuhan. “Kamu tidak mungkin meninggalkanku. Kamu tidak punya siapa-siapa selain aku.”
Senyum itu semakin melebar. Di kepalanya, ia menyusun kembali semua alasan mengapa Naya pasti akan kembali. Wanita itu tidak punya keluarga. Tidak punya tempat tinggal lain. Tidak punya penghasilan tetap. Semua yang ia miliki selama ini berasal dari Aslan. Mulai dari rumah, uang, status. Kalau Naya pergi, ia akan terlantar di jalanan. Ia akan menyesal. Ia akan kembali dengan sendirinya, seperti biasa.
Aslan menekan tombol pada setir untuk menelepon Naya sekali lagi. Panggilan itu hanya berdering beberapa kali sebelum masuk ke kotak suara. Aslan tidak putus asa, dia bahkan tertawa kecil.
“Tinggal tunggu waktu,” gumamnya. “Kamu akan kembali. Aku yakin itu.”
Yang tidak ia ketahui, atau lebih tepatnya, yang tidak mau ia akui, adalah kenyataan yang jauh berbeda.
Setahun setelah Naya menikah dengan Aslan, kedua orang tua wanita itu meninggal dunia karena kebakaran. Naya saat itu baru berusia dua puluh enam tahun. Dalam semalam, ia kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki. Tidak ada saudara kandung, tidak ada kerabat dekat yang bisa diandalkan. Yang tersisa hanyalah Aslan, suaminya yang saat itu masih tampak peduli, masih menggenggam tangannya dengan penuh kasih sayang.
Naya percaya. Ia benar-benar percaya.
Ia berharap Aslan bisa menjadi pengganti orang tuanya. Menjadi sandaran, menjadi rumah yang aman bagi dirinya. Maka dari itu dia menyerahkan segalanya mengabdi pada pria itu. Dia tidak bekerja, dan melupakan mimpinya melanjutkan studi, bahkan dirinya sendiri. Ia menjadi istri yang patuh, yang selalu menunggu, yang selalu memaafkan, karena di dalam hati ia takut kehilangan satu-satunya orang yang tersisa.
Tapi tahun-tahun berlalu justru membuktikan sebaliknya. Aslan tidak menjadi sandaran. Ia menjadi sumber luka bagi Naya.
Sementara di tempat lain, Naya sudah memarkir mobilnya di basement sebuah apartemen sewaan yang ia pesan sejak seminggu lalu. Ia menurunkan koper, menatap unit kecil yang masih kosong, lalu menutup pintunya kembali.
jadi kenapa kamu harus marah?