Indonesia
NovelToon NovelToon
Jejak Di Pinggir Hutan

Jejak Di Pinggir Hutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:461
Nilai: 5
Nama Author: Thomaz3235

Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: PERTARUNGAN DENGAN PREMAN SEKOLAH DAN NASIHAT YANG MENYENTUH HATI

Kehidupan Rangga di SMA Negeri 1 Kabupaten berjalan cukup mulus setelah insiden tawuran yang ia saksikan beberapa minggu lalu. Ia terus berjualan di pasar malam, belajar dengan giat, dan menghabiskan waktu bersama Anisa. Namun, seperti pepatah mengatakan, di mana ada terang di situ ada gelap. Kali ini, masalah datang dari dalam sekolah sendiri—seorang siswa bernama Bram, yang dikenal sebagai "preman sekolah nomor 1."

Bram adalah siswa kelas tiga SMA yang tubuhnya besar dan kekar, dengan wajah penuh bekas luka dan tatapan mata yang selalu mengancam. Ia dikenal sebagai pemimpin geng yang beranggotakan lima orang, semuanya sama menakutkannya. Mereka sering memalak siswa-siswa yang lebih lemah, mengambil uang jajan mereka, dan bahkan pernah beberapa kali terlibat perkelahian dengan siswa dari sekolah lain. Tidak ada guru yang berani menegurnya secara keras karena ayahnya adalah seorang pejabat penting di kecamatan.

Rangga sebenarnya tidak pernah berurusan langsung dengan Bram selama ini. Namun suatu hari, saat jam istirahat dan suasana kantin sedang ramai dengan siswa-siswa yang makan dan bercengkrama, Bram dan genknya mendekati meja Rangga dengan langkah tegas dan penuh percaya diri. Rangga sedang duduk sendirian di meja pojok yang sepi, menikmati makan siang sederhana—nasi bungkus dengan lauk tempe goreng dan sayur bayam yang ia bawa dari asrama. Bram berdiri di depan meja Rangga, menyilangkan tangannya dengan ekspresi mengancam, sementara empat anak buahnya membentuk setengah lingkaran di sekeliling meja.

"Hei, kau Rangga, kan? Yang pintar itu?" tanya Bram dengan suara berat dan merendahkan, matanya menyipit curiga seperti elang mengincar mangsa.

Rangga menatapnya dengan tenang, meskipun hatinya mulai berdebar-debar. "Ya, aku Rangga. Ada apa, Bram?"

"Aku dengar kau berjualan di pasar malam. Katanya daganganmu laris manis. Aku juga dengar kau dapat banyak uang dari situ," kata Bram, matanya menyala-nyala seperti sedang mengincar harta karun. "Aku ingin kau berbagi. Mulai minggu depan, kau harus memberi aku seratus ribu setiap minggu. Kalau tidak..." Bram mendekatkan wajahnya ke wajah Rangga, napasnya yang bau rokok menyengat, "kau akan menyesal."

Suasana kantin mendadak hening senyap seperti sedang terjadi bencana alam. Semua mata tertuju pada Rangga dan Bram. Beberapa siswa mulai berbisik-bisik ketakutan, ada yang sudah bersiap-siap untuk lari jika terjadi keributan, dan ada yang diam membeku di tempat. Anisa yang duduk tidak jauh dari situ segera menggenggam tangan Rangga dengan erat di bawah meja, berusaha memberinya kekuatan, tetapi tangannya sendiri gemetar ketakutan. Wajahnya pucat pasi, dan matanya berkaca-kaca melihat ancaman yang dihadapi Rangga.

Rangga menatap Bram dengan mata jernih, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun meskipun jantungnya berdebar kencang. "Bram, aku tidak punya uang sebanyak itu. Aku berjualan hanya untuk biaya sekolah dan membantu nenekku yang sudah tua dan sakit-sakitan. Aku tidak bisa memberimu uang yang aku hasilkan dengan kerja keras. Itu tidak adil."

Bram tersenyum sinis, tetapi matanya menunjukkan kemarahan yang membara. "Kau menolak? Kau pikir kau bisa menolakku? Kau hanya anak desa yang tidak punya apa-apa!" Bram meninju meja dengan keras hingga nasi bungkus Rangga jatuh ke lantai. "Aku bisa menghancurkan hidupmu, Rangga. Aku bisa membuatmu tidak bisa berjualan lagi. Aku bisa membuatmu keluar dari sekolah ini. Aku bisa membuatmu menyesal pernah lahir ke dunia ini!"

Rangga menarik napas dalam-dalam, mengingat nasihat Nenek Saroh yang selalu ia pegang erat: "Nak, jangan balas kejahatan dengan kejahatan. Balaslah dengan kebaikan dan kesabaran. Orang yang sabar akan menang pada akhirnya." Ia juga mengingat nasihat Pak Heru tentang hidup yang seperti naik sepeda—untuk tetap seimbang, kau harus terus bergerak maju, bukan ke samping untuk bertabrakan dengan orang lain.

"Bram, aku tidak ingin bermusuhan denganmu," kata Rangga dengan suara tenang, meskipun tangannya gemetar di bawah meja. "Tapi aku juga tidak bisa memberikan uang yang aku hasilkan dengan kerja keras hanya karena kau meminta. Itu tidak benar."

Bram kehilangan kesabaran. Wajahnya merah padam, matanya melotot penuh amarah. "Kau berani bicara tentang kebenaran padaku? Kau pikir kau bisa mengajariku tentang benar dan salah?" Dengan gerakan cepat, ia meninju wajah Rangga dengan keras, membuat Rangga terhuyung dan jatuh dari kursinya ke lantai kantin yang dingin. "Aku akan mengajarimu siapa yang berkuasa di sini!"

Darah mengalir deras dari bibir Rangga yang robek, dan matanya mulai membengkak. Namun ia belum sempat bangkit ketika Bram dan genknya sudah mengepungnya di lantai. Mereka mulai menendang dan memukuli Rangga tanpa ampun, pukulan demi pukulan menghujani tubuhnya yang rapuh. Rangga hanya bisa melindungi kepalanya dengan kedua tangannya, berusaha bertahan dari serangan yang tak henti-hentinya. Sepatu-sepatu kasar menghantam perut, punggung, dan kakinya. Tubuhnya terasa seperti dihantam berton-ton batu.

"BERHENTI! TOLONG BERHENTI!" teriak Anisa histeris, berusaha mendorong salah satu preman itu dengan seluruh kekuatannya. Air mata mengalir deras di pipinya, dan tangannya gemetar hebat. "BIARKAN DIA! KALIAN AKAN MEMBUNUHNYA!"

Namun preman itu mendorong Anisa dengan kasar hingga ia jatuh tersungkur ke lantai, lututnya berdarah karena tergores lantai. "Diam kau, cewek! Ini urusan kami! Kalau kau tidak mau ikut kena, pergi dari sini!"

Rangga melihat Anisa jatuh dari balik sela-sela tendangan yang menghantam tubuhnya. Melihat gadis yang ia cintai terluka karena dirinya, ada sesuatu yang meledak di dalam dadanya. Bukan amarah, tetapi tekad yang lebih kuat dari sebelumnya. Ia tidak bisa membiarkan semua ini terus berlanjut. Dengan sisa tenaga yang tersisa, ia berteriak sekeras-kerasnya, "BERHENTI! AKU AKAN BAYAR! TAPI DENGARKAN AKU DULU!"

Bram menghentikan pukulannya, dan genknya pun berhenti. Mereka semua menatap Rangga yang terbaring di lantai dengan tubuh penuh luka dan lebam. Rangga terengah-engah, napasnya tersengal-sengal, darah mengalir deras dari hidung dan mulutnya, dan salah satu matanya hampir tertutup rapat karena bengkak. Namun di tengah semua rasa sakit yang luar biasa itu, ada tekad yang membara di matanya yang masih terbuka.

"Kau... kau benar-benar mau bayar?" tanya Bram setengah tidak percaya, napasnya juga tersengal karena kelelahan memukul.

Rangga berusaha duduk, tubuhnya gemetar hebat karena rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh. Setiap gerakan terasa seperti disayat pisau. "Aku akan bayar... tapi aku ingin bicara dulu. Hanya sebentar."

Bram mendengus, tangannya masih mengepal. "Kau mau bicara? Tentang apa? Tentang bagaimana kau mau menyerah?"

Rangga menggeleng pelan, meskipun gerakan itu membuat kepalanya terasa berdenyut seperti akan pecah. "Tentang apa yang kau cari, Bram. Tentang apa yang kau dapatkan dari semua ini. Aku benar-benar ingin tahu."

Bram terdiam, sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Ia tidak pernah berpikir bahwa korban pemalakan akan bertanya seperti itu. Biasanya, mereka hanya menangis ketakutan atau marah. "Aku mendapatkan uang. Aku mendapatkan kekuasaan. Aku mendapatkan rasa takut dari orang-orang. Itu sudah cukup."

"Dan apakah semua itu membuatmu bahagia?" tanya Rangga, suaranya lemah tetapi penuh makna. "Apakah kau benar-benar bahagia dengan menjadi orang yang ditakuti? Apakah kau benar-benar bahagia dengan menyakiti orang lain seperti yang kau lakukan padaku sekarang?"

Bram terdiam lagi, kali ini lebih lama. Wajahnya yang garang mulai menunjukkan keraguan. Genknya yang lain juga mulai saling pandang, kebingungan dengan pertanyaan-pertanyaan Rangga yang menusuk hati.

"Apa yang kau cari sebenarnya, Bram?" Rangga melanjutkan, suaranya semakin mantap meskipun tubuhnya hancur. "Kau ingin dihormati? Kau ingin diakui? Kau pikir dengan menjadi preman, orang akan menghormatimu? Kau salah. Orang hanya takut padamu. Mereka tidak menghormatimu. Ada perbedaan besar antara rasa takut dan rasa hormat. Rasa hormat datang dari kebaikan, bukan dari kekerasan."

Di sekitar mereka, para siswa mulai berkerumun membentuk lingkaran besar. Ada yang merekam dengan ponsel, ada yang berbisik-bisik dengan ekspresi takut, ada yang menangis melihat keadaan Rangga, dan ada yang mulai bersorak mendukung Rangga. Pendapat mereka terpecah seperti dua kubu yang bertentangan.

"Ia benar! Apa yang kau cari, Bram? Apa gunanya jadi preman?" teriak seorang siswa dari kerumunan dengan berani.

"Rangga berani melawan! Kita juga harus berani!" seru yang lain dengan semangat.

"Tapi Bram berbahaya! Aku takut!" kata seorang siswa lainnya dengan suara gemetar.

"Aku tidak mau sekolah di tempat yang ada preman! Ini tidak aman!" timpal yang lain.

"Rangga adalah pahlawan! Dia mengorbankan dirinya untuk kita semua!" seru seorang siswi dengan air mata.

Suasana semakin riuh dengan berbagai pendapat dan komentar yang saling bertabrakan. Bram dan genknya mulai terlihat gelisah. Mereka tidak terbiasa dengan situasi seperti ini—biasanya, orang-orang hanya diam dan takut, tidak ada yang berani bersuara. Kini, mereka justru dihadang oleh keberanian dan kebenaran yang menyuarakan protes.

Tiba-tiba, Anisa berlari ke tengah kerumunan dan berdiri di depan Rangga, melindunginya dengan tubuhnya yang kecil dan rapuh. Wajahnya basah oleh air mata, tetapi matanya menyala dengan keberanian yang luar biasa. "Jangan sentuh dia lagi!" teriaknya dengan suara bergetar tetapi penuh tekad. "Kami akan melaporkan kalian ke kepala sekolah! Kami akan melaporkan kalian ke polisi! Kami punya banyak saksi di sini! Kalian tidak akan bisa lolos!"

Bram menatap Anisa, lalu menatap Rangga yang masih terbaring di lantai dengan tubuh penuh luka, tetapi matanya tetap tenang dan penuh keyakinan. Untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa kekerasan tidak pernah menyelesaikan masalah. Ia melihat bahwa ada sesuatu yang lebih berharga daripada rasa takut—yaitu rasa hormat yang tulus yang diperoleh melalui kebaikan, bukan melalui kekerasan.

"Bram, ayo pergi," kata salah satu genknya dengan gugup, menarik lengan Bram. "Ini sudah keterlaluan. Banyak yang melihat dan merekam. Kita bisa kena masalah besar."

Bram masih terdiam, matanya menatap Rangga dengan perasaan yang campur aduk—antara amarah, malu, dan penyesalan yang mulai tumbuh. Akhirnya, ia menghela napas panjang dan berkata dengan suara rendah, "Aku... aku minta maaf, Rangga. Aku tidak tahu... aku tidak menyadari bahwa selama ini aku hanya menyakiti orang lain."

Ia berbalik dan berjalan pergi perlahan, diikuti oleh genknya yang tampak lega dan bersyukur. Namun sebelum benar-benar pergi, Bram menoleh dan berkata dengan suara yang nyaris tidak terdengar, "Besok... besok aku akan datang untuk bicara lagi. Bukan untuk memalak, tapi untuk... untuk berterima kasih. Kau membuka mataku hari ini."

Setelah Bram pergi, suasana di kantin menjadi riuh rendah. Para siswa mulai bergerak, membantu Rangga yang masih terbaring lemah di lantai. Anisa memeluk Rangga erat-erat, menangis tersedu-sedu di pelukannya. "Rangga, kau sangat bodoh! Kenapa kau harus melawan mereka? Kau hampir mati!"

Rangga tersenyum lemah, pipinya yang lebam terasa sakit saat ia bergerak. "Aku tidak bisa diam, Anisa. Aku harus menunjukkan bahwa ada cara lain. Bahwa kekerasan tidak pernah membawa kebaikan. Dan lihat... Bram mulai sadar. Itu lebih berharga daripada sekadar menyelamatkan diri sendiri."

"Tapi kau hampir mati!" tangis Anisa semakin keras.

"Aku masih hidup," kata Rangga, meraih tangan Anisa dengan tangannya yang gemetar. "Dan aku masih punya kau, punya teman-teman, punya Nenek. Itu lebih dari cukup. Aku tidak akan menukar semua itu dengan rasa takut."

Para siswa yang melihat kejadian itu mulai bertepuk tangan perlahan, lalu semakin keras. Mereka mengagumi keberanian Rangga dan keteguhan hatinya. Mereka juga mulai mempertanyakan sikap mereka selama ini—apakah mereka juga telah membiarkan kekerasan terjadi tanpa melakukan apa-apa?

"Aku akan melapor ke kepala sekolah," kata seorang siswa dengan tegas.

"Aku akan menjadi saksi," kata yang lain, mengangkat tangannya.

"Aku tidak akan diam lagi jika ada pemalakan," kata yang lainnya lagi.

Rangga tersenyum melihat perubahan yang terjadi. Ia mungkin telah dipukuli dan tubuhnya penuh luka, tetapi ia juga telah menginspirasi orang lain untuk berani bersuara. Itu adalah kemenangan yang lebih besar dari sekadar menghindari pukulan. Itu adalah kemenangan hati dan kebenaran.

---

[Bersambung...]

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!