Baska tak pernah tertarik pada olahraga hidupnya cuma berputar antara kantor dan kasur. Sampai suatu hari, karena tak sengaja merusak koleksi berharga sahabatnya, ia terpaksa ikut main padel sebagai ganti rugi. Siapa sangka, sebuah smash yang meleset dan membuat kepalanya berdarah justru mempertemukannya dengan Zia admin lapangan yang cantik, ramah, dan punya cara sendiri membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya. Dari luka kecil di pelipis, tumbuh benih cinta yang membuat Baska rela mengambil kelas privat, bukan demi jago bermain, tapi demi alasan untuk terus kembali menemuinya. Namun kebahagiaan yang mereka bangun perlahan diuji ketika bayangan masa lalu Zia seorang mantan bernama Ali tiba tiba muncul kembali, membawa kesalahpahaman demi kesalahpahaman yang nyaris menghancurkan semuanya. Akankah cinta yang tumbuh dari lapangan sederhana itu cukup kuat bertahan melawan kecemburuan, keraguan, dan bayang bayang masa lalu yang menolak pergi? Kamu di Lapangan Padel adalah kisah tentang bagaimana cinta sejati sering kali lahir dari hal paling tak terduga dan diuji oleh hal yang paling sulit untuk dilepaskan: kepercayaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senin yang sama setiap minggu
Jam menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit ketika Baska Aditya Wirawan masih rebahan di kasurnya, menatap langit-langit kamar sambil menghitung mundur berapa lama lagi dia bisa menunda bangun sebelum benar-benar telat masuk kantor. Alarm sudah bunyi tiga kali sejak jam enam, dan tiga kali itu juga dia matikan tanpa sedikit pun niat untuk benar-benar bangkit dari posisi nyaman tersebut.
"Bangun, Nak! Udah jam segini masih tidur," teriak ibunya dari dapur, suara panci beradu dengan wajan jadi latar belakang teriakan tersebut.
"Iya, Bu, bentar lagi," jawab Baska dengan suara serak, meski dalam hati dia tahu "bentar lagi" itu bakal jadi lima belas menit lagi seperti biasa.
Rutinitas paginya selalu sama: bangun mepet, mandi kilat, sarapan sambil berdiri, lalu ngebut naik motor menuju kantor yang untungnya cuma berjarak sepuluh menit dari rumah. Hidupnya, kalau boleh dijabarkan dalam satu kalimat, adalah lingkaran tertutup antara kasur, meja kerja, dan sofa ruang tamu.
Di kantor, Baska duduk di bilik kerjanya yang berantakan dengan tumpukan kertas dan tiga cangkir kopi yang belum sempat dicuci, matanya menatap layar komputer dengan ekspresi datar yang sudah jadi ciri khasnya. Rekan-rekan sekantornya sudah hafal betul dengan gaya hidup Baska yang menurut mereka membosankan sekaligus mengundang tanya.
"Bas, lo tuh nggak bosen apa hidupnya cuma kantor-rumah-kantor-rumah gitu terus?" tanya Dika, yang duduk di bilik sebelah, sambil mengunyah roti isi yang dia beli dari kantin lantai bawah.
"Nggak, santai aja. Lagian ngapain repot-repot cari kegiatan lain kalau di rumah juga udah nyaman," jawab Baska tanpa menoleh, jari-jarinya masih sibuk mengetik laporan yang deadline-nya besok pagi.
Dika menggeleng-geleng, sudah biasa dengan jawaban template sahabatnya tersebut. Sore itu, ketika mereka berdua sedang beres-beres meja sebelum pulang, insiden kecil terjadi yang akan mengubah rutinitas membosankan Baska tersebut. Baska yang buru-buru mau ambil tas, tanpa sengaja menyenggol meja Dika hingga sebuah action figure koleksi edisi terbatas yang baru dibeli Dika bulan lalu jatuh dan lecet di bagian kepalanya.
"Anjir, Bas! Itu action figure gue baru minggu lalu dateng, edisi terbatas lagi!" seru Dika dengan wajah yang campur antara kesal dan panik, mengangkat action figure tersebut dan memeriksa kerusakannya dengan hati-hati.
"Waduh, sori banget, Dik. Gue ganti deh, berapa harganya?" tawar Baska dengan nada bersalah, meski dalam hati dia sudah membayangkan berapa banyak uang yang harus dia keluarkan untuk barang koleksi semahal itu.
Dika terdiam sejenak, memikirkan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekadar uang ganti rugi. "Nggak usah ganti duit, Bas. Gue ada permintaan lain."
"Apaan?" tanya Baska dengan alis terangkat, curiga dengan nada Dika yang tiba-tiba berubah jadi terlalu ramah.
"Minggu ini lo harus ikut main padel bareng gue dan anak-anak kantor. Udah lama banget gue ajak, lo selalu nolak. Sekarang lo harus bayar utang ini dengan cara itu," jawab Dika dengan senyum penuh kemenangan, tahu betul bahwa Baska tidak akan bisa menolak permintaan tersebut mengingat posisi dia yang sedang bersalah.
Baska menghela napas panjang, membayangkan betapa merepotkannya harus berpanas-panasan di lapangan dan berkeringat demi sesuatu yang menurutnya buang-buang waktu. Tapi mengingat rasa bersalah yang masih menggantung, dia akhirnya mengangguk pasrah. "Ya udah deh, sekali doang ya."
"Sip! Sabtu ini jam sepuluh pagi, gue jemput lo," jawab Dika dengan penuh semangat, tidak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut.
Sabtu pagi tiba lebih cepat dari yang diharapkan Baska. Dia bangun dengan perasaan malas yang sudah menumpuk sejak hari pertama tahu akan diajak main padel tersebut, mengenakan kaos olahraga yang sudah lama tidak tersentuh sejak dibeli setahun lalu untuk keperluan yang bahkan sudah dia lupakan.
"Buat apaan sih beli baju olahraga kalau ujung-ujungnya cuma numpuk di lemari," gumamnya sambil bercermin, sedikit heran melihat pantulan dirinya sendiri yang jarang sekali mengenakan pakaian olahraga tersebut.
Dika sudah menunggu di depan rumah dengan mobilnya, klakson berbunyi dua kali sebagai tanda tidak sabar. "Ayo, Bas! Jangan lama-lama, ntar telat!"
Baska bergegas keluar dengan raket pinjaman yang dia ambil dari gudang, tidak menyangka bahwa perjalanan singkat menuju lapangan padel tersebut akan membawanya pada pertemuan yang jauh melampaui sekadar kewajiban membayar utang kepada sahabatnya itu.
Sepanjang perjalanan menuju Sport Padel, Dika masih sempat menggoda sahabatnya tersebut yang terus mengomel soal betapa panasnya cuaca pagi itu. "Udahlah, Bas, nikmatin aja. Siapa tau lo malah ketagihan main padel abis ini," ujar Dika sambil tertawa, sama sekali tidak menyangka bahwa candaan tersebut akan menjadi kenyataan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.
"Amit-amit, Dik. Gue cuma dateng sekali doang, abis itu lunas utang gue," jawab Baska dengan nada yakin, meski hari tersebut akan segera membuktikan bahwa keyakinannya tersebut keliru besar.