Indonesia
NovelToon NovelToon
Pernikahan Bisnis

Pernikahan Bisnis

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Pernikahan megapahit antara Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo dan Lilianne Prameswari Djojodiningrat murni dirancang demi menyatukan kerajaan bisnis dua keluarga old money. Tanpa cinta, Arya yang dingin dan angkuh memandang ikatan ini sebatas transaksi bisnis, sementara Lilianne tumbuh sebagai putri manja yang impulsif dan gemar berfoya-foya. Tinggal di bawah satu atap justru menyulut perang dingin dan benturan ego antara tradisi serta kebebasan. Namun, saat intrik korporasi mulai mengancam dinasti mereka, Arya dan Lilianne terpaksa bersatu, perlahan meruntuhkan tembok gengsi dan membuka hati satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 2

Suasana di kamar Lilianne malam itu dipenuhi ketegangan yang tertahan. Lampu kristal memantulkan sinar keemasan pada cermin rias berukir jepara di hadapannya. Lilianne duduk tegak, membiarkan dua penata gaya pribadi menyisir dan menata rambut blonde alaminya. Ia mengenakan gaun malam berwarna hijau zamrud karya perancang busana kenamaan dunia—potongan off-shoulder yang memperlihatkan bahu cantiknya dengan sempurna, berpadu pas dengan warna netra hijaunya.

Ia sengaja memilih gaun paling memukau dan perhiasan berlian paling mencolok malam ini. Jika keluarga Djojodiningrat dan Soerjoatmodjo berpikir ia akan hadir sebagai gadis penurut yang pasrah ditumbalkan demi bisnis, mereka salah besar. Lilianne akan hadir sebagai seorang ratu yang tak tersentuh—cantik, berkilau, tetapi dingin bagai es.

"Non Lilianne betul-betul cantik sekali malam ini," puji salah satu penata gaya sambil menyemprotkan perfume beraroma rose dan vanilla yang mewah.

Lilianne hanya menatap pantulan dirinya di cermin tanpa mengukir senyum sedikit pun. "Cantik untuk sebuah transaksi bisnis, kan?" gumamnya sinis.

Pintu kamar terbuka pelan. Eleanor melangkah masuk dengan gaun kebaya modern bernuansa abu-abu perak yang sangat anggun. Sang Mommy menghentikan langkah tepat di belakang kursi rias Lilianne, mengusap lembut bahu putrinya yang terbuka.

"Lilianne, rombongan keluarga Soerjoatmodjo sudah dalam perjalanan," ujar Eleanor halus. Matanya menatap sang putri lewat pantulan cermin. "Mommy mohon, malam ini bersikaplah yang manis. Ini bukan hanya soal bisnis Daddy-mu, tapi juga nama baik dua keluarga besar."

Lilianne memutar kursinya, menatap sang ibu dengan tatapan dingin yang dipaksakan. "Manis, Mom? Mommy minta Li pura-pura bahagia saat kebebasan Li dijual demi saham dan ekuitas?"

"Li..." Eleanor menghela napas panjang, tersirat rasa bersalah yang mendalam di matanya. "Arya laki-laki yang baik. Dia pria bertanggung jawab. Kamu belum mengenalnya."

"Dan Li tidak berniat untuk mengenalnya," sahut Lilianne cepat. Ia berdiri, merapikan lipatan gaunnya dengan dagu terangkat tinggi. "Li akan turun karena menghormati Eyang Kakung dan Eyang Putri. Tapi jangan harap Li akan tersenyum pada pria itu."

Di lantai bawah, atmosfer kediaman besar Djojodiningrat sudah disulap menjadi ruang jamuan makan malam yang sangat megah. Meja makan panjang dari kayu jati utuh dihiasi karangan bunga lily putih dan deretan alat makan perak yang mengkilap. Raden Mas Subroto bersama kedua anaknya, Gabriel dan Rafael, berdiri di dekat pintu utama dengan pakaian beskap modern berwarna gelap yang memancarkan kesan old money yang kental.

Tak lama kemudian, deretan mobil Rolls-Royce dan Bentley hitam memasuki pelataran rumah. Para pengawal berjas hitam bergegas membukakan pintu.

Melangkah keluar pertama kali adalah Raden Mas Bambang Soerjoatmodjo, kepala keluarga Soerjoatmodjo yang sangat disegani di dunia perbankan Asia, didampingi sang istri, Raden Ajeng Gayatri, yang tampil memukau dengan perhiasan mutiara langka. Dan tepat di belakang mereka, melangkah keluar seorang pria yang mendominasi seluruh perhatian malam itu.

Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo.

Arya mengenakan setelan jas buatan tangan berwarna navy gelap yang melekat sempurna di tubuh jangkungnya yang tegap. Garis rahangnya tegas, hidungnya bangir, dan ketampanannya seolah dipahat tanpa cela. Namun, yang paling menonjol dari pria itu bukanlah raut wajahnya yang rupawan, melainkan aura dingin, angkuh, dan penuh dominasi yang dibawanya. Tatapan mata tajamnya yang kelam seolah mampu mengintimidasi siapa saja hanya dalam satu lirikan.

"Selamat datang, Kangmas Bambang," sambut Subroto seraya menjabat tangan tamunya dengan hangat.

"Terima kasih, Dik Subroto. Sungguh kehormatan bisa kembali bertamu di sini," balas Bambang ramah sebelum beralih menepuk bahu putranya. "Arya, beri salam pada Om Subroto."

Arya mengangguk singkat, mengulurkan tangannya dengan gerakan yang sangat efisien dan formal. "Selamat malam, Om Subroto." Suaranya berat, dalam, dan tanpa nada emosi yang berlebih.

"Malam, Arya. Kamu makin berwibawa saja semenjak memegang kendali penuh di holding Soerjoatmodjo," puji Subroto hangat.

Arya hanya mengukir senyum tipis—hanya sebatas formalitas tanpa menyentuh matanya. "Terima kasih, Om. Saya hanya menjalankan kewajiban."

Saat rombongan mulai dipersilakan menuju ruang tamu utama tempat Eyang Kakung dan Eyang Putri menunggu, suara langkah sepatu high heels yang tegas berdentang di atas marmer tangga utama.

Semua pandangan mendadak teralih ke arah tangga.

Lilianne melangkah turun dengan perlahan. Gaun hijaunya membalut tubuh indahnya dengan sempurna, sementara rambut pirangnya terurai bagai benang emas di bawah sorotan lampu. Paras cantiknya yang berdarah blasteran memancarkan daya pikat luar biasa, namun ekspresi wajahnya begitu datar dan tak tersentuh.

Untuk pertama kalinya malam itu, tatapan tajam Arya Sena tertahan. Netra kelamnya terkunci pada sosok Lilianne yang berjalan mendekat. Ada kilatan ketertarikan yang sangat tipis melintas di mata Arya, meski dalam sekejap ia berhasil menyembunyikannya kembali di balik topeng dinginnya.

"Lilianne, kemari, Nduk," panggil Eyang Putri lembut.

Lilianne melangkah mendekati Eyang Putri, menyalami tangan kedua orang tua tersebut dengan penuh hormat. "Eyang..." bisiknya halus.

"Ini dia putri bungsu kami, Lilianne Prameswari," ucap Subroto memperkenalkan. Beliau menoleh pada Lilianne. "Lilianne, ini Om Bambang, Tante Gayatri, dan ini... Raden Mas Arya Sena."

Lilianne menegakkan posisinya. Netra hijaunya langsung berbenturan dengan mata kelam Arya. Selama beberapa detik, udara di antara mereka terasa membeku. Ada tegangan tak kasat mata yang sangat kuat berdesir di ruang tamu tersebut—gesekan antara keangkuhan pria bersikap dingin dan resistensi wanita bermuka dingin.

Lilianne mengulurkan ujung jarinya yang lentik dengan gerakan sangat lambat dan acuh tak acuh. "Lilianne," ucapnya singkat, suaranya terdengar dingin dan datar.

Arya menerima uluran tangan itu. Genggamannya hangat dan kokoh, namun ia tidak langsung melepaskannya. Arya menatap lurus ke dalam mata hijau Lilianne yang menyala penuh perlawanan.

"Arya Sena," balas pria itu pendek. Sudut bibirnya terangkat sangat tipis, menciptakan senyum miring yang terkesan meremehkan. "Saya sudah mendengar banyak tentang Anda, Lilianne. Terutama... kebiasaan belanja Anda di Paris."

Dada Lilianne berdesir hangat oleh rasa jengkel. Ia langsung menarik tangannya dengan cepat dari genggaman Arya. "Dan saya sama sekali belum pernah mendengar tentang Anda, Mas Arya. Karena bagi saya, hal-hal yang membosankan jarang menarik perhatian saya."

Suasana ruangan mendadak hening sejenak. Gabriel dan Rafael saling bertukar pandang dengan alis terangkat, sementara Subroto berdehem pelan untuk mencairkan ketegangan yang tiba-tiba menusuk.

Gayatri, ibu Arya, justru tersenyum lebar menanggapi ucapan ketus Lilianne. "Oalah, cantiknya... persis sekali seperti ibunya. Bahasa Indonesianya juga sangat lancar ya, Eleanor."

"Terima kasih, Mbak Gayatri," jawab Eleanor canggung sambil melirik tajam pada Lilianne yang berpaling muka.

"Mari kita berpindah ke meja makan, hidangan sudah disiapkan," potong Eyang Kakung bijaksana, memecah kecanggohan.

Selama jamuan makan malam berlangsung, pembicaraan didominasi oleh para orang tua yang membahas sejarah kejayaan kedua keluarga dan aliansi proyek infrastruktur baru. Lilianne hanya memutar-mutar garpunya di atas piring, sesekali menyesap air mineral tanpa selera makan sedikit pun.

Arya yang duduk tepat di seberang meja makan memperhatikan setiap gerak-gerik Lilianne. Pria itu makan dengan sangat tenang dan elegan, memancarkan kedisiplinan tingkat tinggi.

"Arya," panggil Subroto di tengah obrolan. "Bagaimana pandanganmu mengenai akuisisi sektor properti di Bali yang kita bicarakan kemarin?"

Arya meletakkan pisau dan garpunya dengan rapi sebelum menjawab. "Semuanya sudah dalam perhitungan matang, Om. Tim analisis saya sudah menuntaskan laporan kelayakan. Dengan menggabungkan aset Djojodiningrat dan ekuitas Soerjoatmodjo, kita bisa menguasai pasar dalam waktu kurang dari enam bulan."

"Bagus sekali. Keputusan yang sangat tajam," puji Subroto bangga.

Lilianne terkekeh pelan—cukup keras untuk terdengar oleh semua orang di meja makan.

Arya menoleh, menatap Lilianne dengan alis terangkat sebelah. "Ada yang lucu, Lilianne?"

Lilianne menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, menatap Arya dengan tatapan menilai yang tajam. "Tidak ada. Saya hanya kagum bagaimana Anda berbicara tentang manusia, tanah, dan masa depan seolah-olah semuanya cuma angka di atas kertas laporan keuangan Anda. Sangat mekanis."

"Lilianne!" tegur Subroto dengan nada peringatan.

Namun Arya tidak tampak tersinggung. Pria itu justru menegakkan posisi duduknya, menatap balik Lilianne dengan tatapan penuh dominasi yang dingin.

"Dunia bisnis dijalankan dengan logika dan angka, Lilianne. Bukan dengan perasaan atau dorongan impulsif untuk menghamburkan uang," sahut Arya tenang namun telak, sindiran yang sangat jelas mengarah pada gaya hidup Lilianne.

Netra hijau Lilianne berkilat marah. "Logika tanpa rasa empati itu bukan kepemimpinan, Mas Arya. Itu cuma keangkuhan yang dibungkus jas mahal."

"Dan kebebasan tanpa tanggung jawab itu bukan kemandirian," balas Arya tanpa jeda, suaranya tetap terkontrol sempurna. "Itu hanya manja."

Atmosfer di meja makan itu mendadak begitu panas. Kedua keluarga besar hanya bisa menyaksikan interaksi serang-membalas antara dua calon mempelai tersebut. Bukannya terlihat seperti pasangan yang disatukan oleh takdir manis, Arya Sena dan Lilianne Prameswari justru tampak seperti dua penguasa dari dua kerajaan berbeda yang siap melancarkan perang dingin di bawah satu atap yang sama.

Eyang Kakung hanya tersenyum tipis di ujung meja, menyesap tehnya perlahan. Beliau tahu, api yang menyala di antara keduanya malam ini barulah awal dari kisah panjang yang akan menguji seberapa kuat tembok gengsi masing-masing.

Bersambung....

1
Mita Paramita
😍😍😍
Mita Paramita
Arya jadi suami siaga 😍😍😍
Helen@Ellen@Len'z
up byk ya 💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪thor 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Anonim
crazy up thor
falea sezi
sesuai janji q kirim bunga tuh🤭 lanjut banyakkk Thor
Heresnanaa_: wahhh, terimakasih Kaka, stay tune ya 🥹😚
total 1 replies
falea sezi
lanjut q kirim hadiah
Heresnanaa_: wahhh, maaciw kakak, stay tune ya beb🙏😚
total 1 replies
falea sezi
cantik tp otak kosong🤣 lu nyingkirin widya g mau kesaing🤣 tp lu g mau gantiin tugas dia layani laki lo🤣🤣 aneh gt ini cwek manja bisa nya apa shoping doank😒
falea sezi
nah gini🤣 aduin ke bumertua🤣 emank babu g tau diri si widya
falea sezi
harusnya di belikan buat anak yatim🤣 biar suami mu kagum 🤭
falea sezi
g suka cwek sombongnya kayak lily ini 🤣🤣 berharap dia itu lemah lembut cegil tp bukan sok jd cowok penasaran🤣
falea sezi
nyimak dlu klo bagus q krim bunga🤭
Mita Paramita
so sweet 😍😍😍
Mita Paramita
Liliane masih syok udah di unboxing paksa 😭 tinggal Arya nih yang mesti ngejar cinta Liliane
Arix Zhufa
up
Mita Paramita
akhirnya Arya unboxing Liliane 😍😍😍
Mita Paramita
Widya backstabbing 🤣🤣🤣
i got you 🔥🔥🔥
Mita Paramita
nice statement Liliane 😍
Mita Paramita
berkelas banget balasan Liliane ke ulat bulu Widya 🤣🤣🤣🤣
Mita Paramita
lanjut Thor 😍😍😍
ceritanya bagus berkelas 🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!