Pernikahan Bisnis
Matahari sore Jakarta disambut oleh sapuan angin hangat saat pintu jet pribadi keluarga Djojodiningrat akhirnya terbuka. Lilianne Prameswari Djojodiningrat melangkah turun dari tangga pesawat dengan langkah perlahan namun penuh keanggunan. Perjalanan belasan jam dari London ke Jakarta cukup menguras tenaganya, tetapi penampilan Lilianne tetap tanpa cela.
Rambut blonde alaminya yang panjang, lurus, dan berkilau—warisan murni dari sang Mommy yang berdarah Eropa—terurai indah melintasi bahunya. Setiap kali netra hijaunya yang jernih terpapar sinar matahari sore, warnanya memantulkan kilau bagai batu zamrud yang sangat mahal. Di antara ketiga anak keluarga Djojodiningrat, hanya Lilianne yang mewarisi paras rupawan sang ibu secara penuh. Kedua kakak laki-lakinya, Raden Mas Gabriel dan Raden Mas Rafael, mewarisi struktur wajah tegas, kulit sawo matang yang matang, serta garis rahang dominan yang persis seperti Daddy mereka, Raden Mas Subroto Djojodiningrat.
Lilianne berdiri sebentar di apron bandara, menyesuaikan kacamata hitam Oversized buatan desainer ternama yang bertengger di hidungnya yang bangir.
"Akhirnya... humidity Jakarta," keluh Lilianne dengan nada manja namun terdengar menggemaskan saat mengipasi lehernya memakai telapak tangan.
Gabriel, sang kakak sulung, terkekeuh ringan sambil merangkul bahu adik bungsunya itu. "Baru sampai lima menit sudah protes, Li. Rasanya baru kemarin kamu bilang merindukan aroma tanah Jakarta."
"Aku rindu Eyang, Mas Gab, bukan rindu udanya yang panas," sahut Lilianne sembari mengerucutkan bibirnya.
Sang Daddy, Raden Mas Subroto, berjalan mendekat bersama sang istri, Eleanor. Beliau tersenyum melihat putri tunggal kesayangannya yang selalu menjadi pusat perhatian di mana pun berada. Di mata dunia bisnis, Subroto adalah konglomerat old money yang sangat disegani dan tidak kenal ampun. Namun di depan Lilianne, beliau hanyalah seorang ayah yang rela memberikan apa saja demi mengukir senyum di wajah putri manjanya.
"Sudah, jangan menggoda adikmu," ujar Subroto tenang. Beliau menoleh pada Lilianne. "Mobil sudah siap di depan, Sayang. Eyangmu sudah menunggu dari tadi pagi di kediaman utama."
"Eyang Kakung sama Eyang Putri tidak ikut menjemput ke bandara, Dad?" tanya Lilianne penasaran saat mereka berjalan menuju deretan mobil mewah yang sudah berjejer rapi.
"Eyangmu sudah sepuh, Lilianne. Mereka memilih menyiapkan penyambutan terbaik di rumah," jawab Eleanor lembut, membelai pelan rambut emas putrinya.
Iring-iringan mobil mewah itu membelah jalanan ibu kota menuju kawasan elite Menteng, tempat kediaman utama keluarga besar Djojodiningrat berdiri kokoh sejak puluhan tahun lalu. Sebuah rumah bergaya kolonial yang megah, dikelilingi taman hijau yang luas dan pepohonan tua yang rindang, menegaskan posisi mereka di puncak hierarki sosial dan ekonomi tanah air.
Begitu mobil berhenti di depan teras utama, pintu rumah sudah terbuka lebar. Dua sosok sepuh berbusana tradisional Jawa yang sangat bersahaja namun memancarkan kewibawaan tinggi sudah berdiri di sana. Mereka adalah Raden Mas Haryo Djojodiningrat dan Raden Ajeng Sri Rahayu—Eyang Kakung dan Eyang Putri yang sangat dihormati.
Lilianne tidak bisa lagi menahan rasa rindunya. Tanpa memedulikan sepatu high heels-nya yang menepuk lantai marmer dengan nyaring, ia berlari kecil menghampiri kedua orang tua tersebut.
"Eyang!" seru Lilianne penuh kegembiraan.
"Oalah, cucu kesayangan Eyang yang paling cantik sudah sampai..." ucap Eyang Putri dengan suara bergetar haru.
Lilianne langsung memeluk Eyang Putri dengan sangat erat, meletakkan kepalanya di bahu sang Eyang yang beraroma wangi melati dan minyak kayu putih yang menenangkan. Setelah itu, ia beralih memeluk Eyang Kakung yang langsung tertawa lebar menerima pelukan hangat dari cucu bungsunya.
"Eyang Kakung! Li kangen banget! Kangen kue lumpur buatan Eyang Putri juga," ujar Lilianne dengan nada manja yang membuat semua orang di teras tersenyum.
Eyang Kakung mengelus lembut rambut pirang Lilianne, mengamati wajah cucunya dengan tatapan penuh rasa bangga sekaligus kasih sayang yang mendalam. "Cucu Eyang tambah cantik saja. Seperti putri dari kerajaan Eropa, tapi hatinya tetap putri Jawa milik Eyang."
"Tentu saja! Li, kan, cucunya Eyang Kakung yang paling penurut," sahut Lilianne bangga, membuat Rafael yang baru masuk membawa beberapa tas belanjaan adik bungsunya tertawa mengejek.
"Penurut dari mananya? Kemarin saja habis memborong tiga tas edisi terbatas di Paris sampai kartu kredit Daddy hampir terkunci," goda Rafael sambil meletakkan tas-tas belanjaan berlogo brand mewah tersebut di meja foyer.
Lilianne memutar matanya, menatap sang kakak dengan nada sengit yang dibuat-buat. "Mas Raf iri bilang saja! Lagipula Daddy yang bilang kalau Li boleh beli apa saja yang Li mau, ya kan, Dad?"
Subroto hanya terkekeh pelan sambil mengangguk setuju. "Selama Lilianne senang, tidak ada masalah sama sekali."
"Tuh, dengar!" seru Lilianne sambil menjulurkan lidahnya pada Rafael, lalu kembali memeluk lengan Eyang Putri. "Eyang, Mas Raf jahat banget dari tadi di pesawat ngeledek Li terus."
Eyang Putri menepuk pelan tangan Rafael sambil tersenyum. "Sudah, Raf, jangan menggoda adikmu terus. Mari kita masuk ke dalam, udara luar tidak bagus untuk kulit cucu Eyang."
Mereka semua kemudian melangkah menuju ruang keluarga utama yang sangat luas. Meja kayu jati berukir di tengah ruangan sudah dipenuhi dengan bermacam-macam hidangan tradisional khas Jawa kesukaan Lilianne—mulai dari selada Solo, kue lumpur, hingga es beras kencur segar.
Lilianne duduk di antara kedua Eyangnya, membiarkan Eyang Putri sibuk mengambilkan makanan ke atas piringnya seolah-olah ia masih anak kecil berusia lima tahun.
"Makan yang banyak, Nduk. Di London pasti kamu tidak bisa makan makanan seenak ini, toh?" kata Eyang Putri manis.
"Pasti, Eyang! Di sana tidak ada kue lumpur selembut buatan Eyang Putri," puji Lilianne sebelum menyantap kue tersebut dengan sangat lahap.
Di balik suasana hangat dan penuh tawa itu, ada sekilas pandangan bermakna yang saling bertukar di antara anggota keluarga yang lebih tua. Subroto menatap sang ayah, Raden Mas Haryo, dengan anggukan pelan yang sangat tersirat. Sementara itu, Eleanor tampak menghela napas halus, menatap putri cantiknya yang sedang tertawa lepas dengan tatapan yang sedikit rumit—perpaduan antara kasih sayang dan rasa bersalah.
Eyang Kakung berdehem pelan, menghentikan obrolan santai sejenak. Beliau menyesap teh melati hangatnya sebelum menatap Lilianne dengan senyuman penuh makna.
"Lilianne, cucu Eyang yang paling cantik..." panggil Eyang Kakung lembut.
Lilianne menghentikan suapannya, menoleh pada sang Eyang dengan mata hijau yang berbinar polos. "Iya, Eyang Kakung?"
"Bagaimana kuliahmu di Inggris? Semua lancar, kan?"
"Lancar sekali, Eyang! Minggu depan Li sudah mulai libur semester panjang, makanya Li senang banget bisa pulang lama ke Jakarta. Li sudah merencanakan banyak hal! Li mau shopping sama teman-teman, mau liburan ke Bali, terus mau—"
"Lilianne," potong Subroto dengan suara berat namun tenang dari ujung meja.
Lilianne menghentikan celotehannya, menatap sang Ayah yang kini menatapnya dengan raut wajah yang cukup serius. "Iya, Dad?"
"Kepulanganmu kali ini bukan hanya sekadar untuk liburan semester," ujar Subroto perlahan. Beliau memperbaiki posisi duduknya, menyandarkan siku di atas meja.
Dahi halus Lilianne berkerut tipis. Netra hijaunya beralih menatap Mommy-nya, lalu ke kedua kakaknya yang tiba-tiba mendadak diam dan membuang pandangan. Suasana hangat di ruang keluarga itu mendadak berubah menjadi agak formal dan tegang.
"Maksud Daddy apa? Ada acara keluarga yang penting, ya?" tanya Lilianne penasaran. Ia masih tidak menangkap sinyal serius dari atmosfer ruangan tersebut. "Atau... ada pesta ulang tahun perusahaan?"
Eyang Kakung memegang tangan halus Lilianne, mengusap punggung tangannya dengan penuh kehangatan. "Lilianne, keluarga kita dan keluarga Soerjoatmodjo sudah menjalin hubungan persahabatan dan bisnis sejak zaman kakek-buyutmu dulu. Kamu tahu itu, kan?"
Lilianne mengangguk perlahan. "Tahu, Eyang. Keluarga Raden Mas Soerjoatmodjo yang punya bisnis perbankan dan properti raksasa itu, kan? Yang sering masuk majalah bisnis sama Daddy?"
"Benar," lanjut Eyang Kakung. "Dan besok malam, keluarga Soerjoatmodjo akan datang makan malam ke rumah ini."
Lilianne tersenyum tipis, mengira ini hanya jamuan makan malam bisnis biasa seperti yang sering diadakan orang tuanya. "Oh, jamuan makan malam biasa? Li harus pakai gaun yang mana, Mom?"
"Ini bukan sekadar jamuan makan malam biasa, Nduk," sela Eyang Putri dengan nada sangat halus.
Subroto mengambil alih pembicaraan. Suaranya terdengar mantap dan tak terbantahkan, karakter khas seorang pemegang kendali dinasti bisnis. "Besok malam adalah acara pertemuan resmi. Kami, atas nama keluarga besar Djojodiningrat, sudah menyepakati sebuah langkah besar untuk masa depan keluarga dan kerajaan bisnis kita."
Lilianne mulai merasa ada yang tidak beres. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat saat melihat keseriusan di mata sang Ayah. "Langkah besar apa, Dad?"
Subroto menatap putri tunggalnya itu lurus-lurus.
"Keluarga kami dan keluarga Soerjoatmodjo telah memutuskan untuk meresmikan persekutuan ini secara abadi. Besok malam, kamu akan secara resmi dipertemukan dan ditunangkan dengan putra tunggal mereka..." Subroto jeda sejenak. "...Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo."
Deg.
Sensasi dingin mendadak menjalar di sekujur tubuh Lilianne. Garpu emas yang dipegangnya terlepas dan jatuh menimpa piring porselen dengan bunyi denting yang nyaring di tengah keheningan ruangan.
"Per... pertunangan?" bisik Lilianne gagap. Matanya melebar penuh ketidakpercayaan. "Daddy bercanda, kan? Li bahkan baru sampai di Jakarta dua jam yang lalu! Dan siapa... Raden Mas Arya Sena? Li bahkan tidak kenal siapa dia!"
"Kamu akan mengenalnya besok malam, Lilianne," jawab Subroto tegas namun tanpa nada amarah. "Ini demi kebaikanmu, dan demi masa depan seluruh keluarga besar kita."
Lilianne menoleh cepat pada Mommy-nya dengan tatapan meminta pertolongan. "Mom? Mommy setuju dengan ini? Li baru 21 tahun! Li masih mau menikmati hidup, Li tidak mau dijodohkan dengan orang asing!"
Eleanor hanya mampu mengusap bahu putrinya dengan tatapan iba. "Lilianne, Arya adalah laki-laki yang sangat bertanggung jawab, dari keluarga yang sangat terpandang. Ini keputusan terbaik yang sudah dipikirkan matang-matang oleh Daddy dan Eyangmu."
"Tapi Li tidak cinta sama dia! Li bahkan belum pernah bertemu mukanya!" seru Lilianne, nada manjanya kini berubah menjadi kepanikan dan protes keras.
"Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, Nduk," sahut Eyang Kakung menenangkan. "Pernikahan ini adalah amanah dan kewajiban besar untuk menjaga apa yang sudah dibangun oleh para leluhurmu."
Lilianne menyandarkan tubuhnya di kursi dengan napas memburu. Ketenangan dan kehangatan penyambutan beberapa menit lalu mendadak musnah tanpa sisa. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa kepulangannya ke tanah air yang sangat ia rindukan ini ternyata adalah sebuah jebakan takdir—sebuah perjodohan politik demi melapisi kejayaan dan keabadian kerajaan bisnis dua keluarga old money yang paling berpengaruh di tanah air.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Nisa Nisa
pembukaan yang sangat seru, cerita juga juga bagus
2026-08-30
2