Indonesia
NovelToon NovelToon
Brondong Konglomerat Sang Janda

Brondong Konglomerat Sang Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Mandul
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10

Hapus Fotonya, Sekarang

"Hapus fotonya, sekarang."

Karina mengulurkan tangan. Nathan mengunci layar dan memasukkan ponsel ke saku.

"Kevin mencari kita," katanya.

"Jangan alihkan pembicaraan."

"Aku nggak akan membahas ini di lorong. Besok kita ketemu. Aku tunjukkan semua file dan kita bicara."

"Aku nggak percaya."

"Kalau aku berniat menyebarkan, aku sudah bisa melakukannya sejak pagi kamu kabur."

Langkah Kevin semakin dekat. Nathan mundur dan mengangkat suara, "Cici-mu tadi hampir tersandung."

Kevin muncul di tikungan. "Cici baik-baik saja?"

Karina memaksakan senyum. "Iya. Aku pulang dulu."

Nathan tidak mengejar. Sebelum berbalik, dia mengangkat ponsel dan menunjukkan pesan baru kepada Karina.

Besok, pukul enam. Kedai kopi depan apartemenmu.

Karina datang keesokan harinya karena ingin memastikan foto itu hilang. Nathan sudah menunggu di sudut kedai dengan laptop terbuka. Tanpa banyak bicara, dia menunjukkan galeri, penyimpanan cloud, dan folder pesan.

Hanya ada satu foto.

"Hapus," kata Karina.

"Sebelum itu, jawab satu pertanyaan."

"Kamu nggak berhak memberi syarat."

"Kenapa kamu lebih takut Kevin tahu daripada takut suamimu tahu?"

"Andri bukan urusanmu."

"Dia menyakitimu."

"Dan kamu sedang melakukan hal yang sama dengan menahan foto ini."

Kalimat itu membuat Nathan terdiam. Dia membuka galeri, menekan hapus, lalu mengosongkan folder sampah di depan Karina.

"Selesai."

Karina memeriksa layar. "Cloud?"

Nathan menggeser laptop. "Periksa sendiri."

Karina menelusuri folder. Tidak ada salinan lain. Ketegangan di bahunya sedikit turun.

"Terima kasih."

"Aku minta maaf."

Karina menatapnya. Nathan tidak tersenyum.

"Aku nggak akan menggunakan apa pun untuk memaksamu lagi," lanjutnya. "Tapi aku juga nggak akan berpura-pura malam itu nggak berarti."

"Kamu menyimpan foto tanpa izinku."

"Aku tahu. Itu salah."

"Dan kamu sengaja memperlihatkannya supaya aku takut Kevin tahu."

"Iya."

Pengakuan tanpa pembelaan itu membuat amarah Karina kehilangan sasaran. Nathan tidak memakai masa muda sebagai alasan, tidak berkata dia hanya bercanda, dan tidak membalikkan kesalahan kepada Karina. Sangat berbeda dari Andri yang selalu membutuhkan seribu penjelasan untuk satu kebohongan.

"Kenapa baru sekarang minta maaf?"

"Karena tadi malam aku masih lebih sibuk menang daripada memikirkan perasaanmu."

"Sekarang?"

"Sekarang aku sadar kalau menang dengan membuatmu takut bukan kemenangan."

Karina menatap meja. Dia belum bisa memaafkan, tetapi bahunya tidak lagi sekaku saat datang.

Nathan memutar laptop agar Karina melihat folder sampah yang kosong. Dia juga membuka akun cloud dan riwayat sinkronisasi. "Kalau masih nggak percaya, ganti kata sandi akun ini sendiri. Setelah itu aku keluar."

"Kamu memberiku akses ke akunmu?"

"Untuk sepuluh menit. Jangan baca chat Nick. Isinya merusak kecerdasan."

Karina hampir tersenyum. Dia menahannya dan memeriksa sekali lagi. Foto itu benar-benar sudah hilang.

"Bagimu mungkin menarik. Bagiku itu terjadi saat hidupku hancur."

"Keduanya bisa benar."

Nathan menutup laptop. "Aku cuma minta satu hal. Kalau bertemu di depan Kevin, jangan bertingkah seolah aku orang jahat."

"Aku nggak pernah bilang begitu."

"Tatapanmu bilang banyak."

Karina berdiri. "Foto sudah dihapus. Kita selesai."

Nathan ikut berdiri. "Aku antar naik."

"Nggak perlu."

Hujan baru berhenti, membuat anak tangga gedung licin. Di lantai tiga, Karina menarik napas. Sejak pagi perutnya terasa tidak nyaman, mungkin karena stres dan kurang tidur. Nathan yang mengikuti beberapa langkah di belakang langsung memperhatikan.

"Sakit?"

"Cuma lelah."

Dia mengambil tas kerja Karina tanpa izin, tetapi kali ini Karina tidak merebutnya. Sampai unit lantai enam, keringat dingin sudah muncul di tengkuknya.

"Duduk," kata Nathan.

"Jangan menyuruhku di rumahku sendiri."

"Kalau begitu anggap permintaan. Duduk, Kak."

Karina duduk di sofa. Nathan mengambil air hangat dari dapur. Saat dia menyerahkan gelas, jari mereka bersentuhan. Keheningan muncul, terlalu penuh oleh kenangan.

"Kamu benar-benar menghapusnya?" tanya Karina.

Nathan membuka ponsel lagi. "Mau geledah sampai puas?"

Karina mengambil ponsel itu. Galeri kosong. Namun di daftar kontak, namanya tersimpan sebagai Kak Galak.

"Ganti namanya."

"Kenapa? Cocok."

Karina mengubahnya menjadi Karina, lalu mengembalikan ponsel. Nathan melihat layar dan tersenyum.

"Sekarang kamu mengakui kita kenal."

"Jangan mulai."

"Aku cuma menyimpulkan data."

Nathan duduk di ujung sofa. Jarak mereka cukup jauh, tetapi Karina tetap bisa mencium aroma yang sama dari malam hotel. Dia memegang gelas lebih erat.

"Kevin sangat menyayangimu," kata Nathan.

"Aku tahu."

"Dia pikir pernikahanmu baik-baik saja."

Karina menoleh tajam. "Kamu menanyainya?"

"Sedikit. Aku nggak membocorkan apa pun."

"Jangan libatkan adikku."

"Aku justru menjaga rahasiamu."

"Aku tidak meminta."

"Kamu nggak pernah meminta apa pun. Itu masalahmu."

Karina berdiri karena tersinggung, tetapi rasa nyeri tajam menusuk perut bawahnya. Gelas terlepas dan pecah di lantai.

Nathan bangkit. "Karina?"

"Nggak apa-apa."

Dia membungkuk hendak memungut pecahan. Nathan menangkap pergelangan tangannya.

"Jangan. Kamu pucat."

Karina berusaha menarik tangan, kehilangan keseimbangan, lalu jatuh ke dada Nathan. Tubuh mereka terlalu dekat. Nathan menahan pinggangnya, napasnya berubah.

"Aku masih boleh menyentuhmu?" tanyanya.

Karina tidak menjawab. Tatapan mereka bertemu. Rasa marah yang sejak tadi mendidih berubah menjadi sesuatu yang sama panasnya.

Nathan menyentuh pipinya perlahan. "Kalau nggak mau, dorong aku."

Karina seharusnya melakukan itu. Sebaliknya, jemarinya mencengkeram kerah Nathan.

Ciuman mereka bertemu di tengah.

Nathan langsung menariknya lebih dekat, lalu berhenti saat Karina meringis.

"Sakit lagi?"

"Cuma kram."

"Sejak kapan?"

"Pagi."

"Kita ke dokter."

"Nggak perlu. Mungkin mau haid."

Nathan tampak hendak berdebat. Karina memeluk lehernya dan menciumnya lagi, menggunakan kedekatan itu untuk membungkam pertanyaan. Beberapa detik, Nathan menyerah pada tarikan tersebut. Punggung Karina menyentuh dinding. Panas lama kembali menyala.

Lalu nyeri kedua datang jauh lebih tajam.

Karina tertekuk. Wajahnya kehilangan warna.

"Karina!"

Dia menekan perut bawah. Sesuatu yang hangat mengalir di paha. Ketika menunduk, noda merah terlihat di rok kremnya.

Nathan membeku hanya satu detik. Setelah itu dia bergerak cepat, mengambil jaket untuk menutupi pinggang Karina, ponsel, dan dompetnya.

"Kita ke UGD."

"Nathan, aku bisa jalan."

Karina mencoba berdiri dan hampir jatuh. Nathan langsung mengangkatnya.

"Pegang leherku."

"Tangga..."

"Aku nggak akan menjatuhkanmu."

Dia membawa Karina turun enam lantai. Di setiap bordes, napas Nathan semakin berat, tetapi lengannya tidak goyah. Seorang tetangga membuka pintu dan membantu memanggil mobil karena parkir gedung sempit.

"Istrinya kenapa, Mas?" tanya tetangga itu panik.

Nathan tidak sempat membetulkan salah paham. "Pendarahan. Tolong bukakan pintu bawah."

Tetangga tersebut berlari mendahului. Pengemudi kendaraan daring membantu memundurkan mobil sampai dekat tangga. Nathan meletakkan Karina perlahan, memastikan kepalanya tidak terbentur, lalu duduk di sisinya.

"Kartu identitas dan BPJS?" tanyanya.

"Dompet... di tas."

Nathan menemukan kartu yang diperlukan. Setelah melihat rumah sakit tujuan di aplikasi, dia meminta pengemudi menuju rumah sakit swasta terdekat dan berjanji membayar tambahan, bukan mencoba membawa Karina ke fasilitas jauh hanya karena lebih mewah.

Karina menggigil meski kabin hangat. Noda merah di rok semakin lebar.

"Aku pernah begini dulu," katanya terbata. "Bukan pendarahan. Cuma telat, lalu hasilnya negatif. Selalu negatif."

Nathan mengusap punggung tangannya. "Kita tunggu dokter."

"Kalau ini sesuatu yang buruk?"

"Kita hadapi setelah tahu. Jangan menghukum dirimu sebelum ada hasil."

Karina menatap wajahnya. Pemuda yang beberapa menit lalu membuat darahnya panas sekarang terlihat lebih pucat daripada dirinya.

"Kamu takut?"

"Banget."

Kejujuran itu membuat Karina menggenggam tangannya lebih kuat.

Di kursi belakang kendaraan, Karina menggenggam tangan Nathan sampai kukunya meninggalkan bekas.

"Darahnya nggak berhenti," bisiknya.

"Lihat aku." Nathan menahan wajahnya. "Rumah sakit lima menit dari sini. Kamu akan baik-baik saja."

Mobil berhenti di pintu UGD rumah sakit swasta terdekat. Nathan turun sambil menggendongnya dan berteriak memanggil petugas.

Petugas keamanan mendorong brankar, sementara perawat memasang gelang identitas dan membawa Karina ke ruang triase. Nathan berjalan di sisi brankar sampai diminta berhenti di garis pembatas.

"Hubungan dengan pasien?" tanya petugas administrasi.

Nathan menatap pintu tempat Karina dibawa. "Pasangannya."

"Suami?"

Rahangnya menegang. Secara hukum, posisi itu masih dimiliki Andri.

"Orang yang bertanggung jawab malam ini," jawabnya.

Petugas menyerahkan formulir. Nathan mengisi nama, alamat, serta nomor Karina berdasarkan kartu identitas. Pada kolom kontak keluarga, pulpennya berhenti. Dia tidak tahu nomor orang tua Karina, tidak boleh menelepon Kevin, dan menolak menulis Andri.

Untuk pertama kalinya, dia menyadari betapa sedikit yang benar-benar dia ketahui tentang perempuan yang dikejarnya.

Seorang perawat keluar membawa kantong berisi pakaian Karina. "Kami akan ambil darah dan melakukan pemeriksaan awal. Dokter kandungan sedang dipanggil. Pasien bilang ada kemungkinan sangat kecil untuk hamil, tapi semua kemungkinan tetap diperiksa."

"Saya boleh masuk?"

"Tunggu sampai dokter mengizinkan."

Nathan duduk, lalu berdiri lagi. Bekas kuku Karina masih terlihat di punggung tangannya. Dia menempelkan tangan itu ke bibir, mencoba mengingat kapan terakhir kali dirinya setakut ini.

Ponselnya bergetar. Kevin mengirim pesan menanyakan apakah Nathan sudah sampai kos. Nathan menatap layar lama, kemudian membalas bahwa ada urusan mendadak.

Dia tidak tahu bahwa di balik pintu putih itu, hasil pemeriksaan pertama sedang mengubah seluruh hidup mereka untuk selamanya.

Tak ada satu pun jalan kembali ke malam sebelum mereka bertemu bagi mereka.

Brankar datang. Perawat menanyakan nama, usia, riwayat penyakit, dan kemungkinan hamil.

"Nggak mungkin," jawab Karina lemah. "Aku nggak bisa hamil."

Pintu UGD menutup di antara mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!