Indonesia
NovelToon NovelToon
Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Selingkuh / Pelakor jahat / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 06 - Amarah Anak-Anak

Raka tiba hampir pukul sepuluh malam.

Suara mobil travel berhenti di depan gang terdengar jelas karena rumah sudah terlalu hening. Dimas duduk di ruang tengah dengan rahang mengeras. Bambang merokok di teras sejak magrib, masuk hanya untuk mengambil gelas kopi, lalu keluar lagi tanpa bicara. Ratna tetap di kursinya, memegang tasbih kecil pemberian almarhum ibunya, bukan untuk berdoa panjang, hanya agar tangannya tidak gemetar.

Ketika Raka masuk, udara di rumah langsung berubah.

Raka Santoso, anak kedua Ratna, berusia tiga puluh lima. Tubuhnya tinggi, kulitnya gelap karena kerja lapangan, tangannya kasar. Ia jarang pulang karena proyek jembatan membawanya dari satu kota ke kota lain. Dari tiga anak Ratna, Raka yang paling keras, paling tidak suka basa-basi, dan paling sering berkata hal-hal yang membuat keluarga tersentak.

Begitu melihat ibunya, ia langsung mendekat.

"Ibu."

Ratna berdiri.

Raka menatap wajahnya beberapa detik. "Ibu tidak tidur?"

"Belum."

"Mana Bapak?"

"Di teras."

Raka menoleh ke arah teras, lalu melihat Dimas.

"Mas, apa yang terjadi?"

Dimas menunjuk map di meja. "Lihat sendiri."

Raka membuka map. Ia tidak duduk. Ia membaca sambil berdiri, halaman demi halaman. Semakin lama, napasnya semakin berat.

Saat sampai pada bukti rumah untuk Sari dan kavling makam, tangannya meremas kertas sampai hampir kusut.

"Bajingan," katanya pelan.

"Raka," tegur Ratna.

Raka menatap ibunya. "Maaf, Bu. Tapi memang itu kata yang paling sopan."

Dimas menghela napas. "Aku sudah tanya Bapak. Dia tidak mau jelaskan."

Raka meletakkan map di meja, lalu berjalan ke teras.

Ratna segera mengikuti. Dimas ikut berdiri.

Di teras, Bambang duduk di kursi plastik, rokok terselip di jari. Ketika melihat Raka, ia tampak sedikit gugup, tetapi masih berusaha menjaga wibawa.

"Baru pulang?"

Raka berdiri di depannya.

"Pak, benar Bapak selingkuh dengan Sari?"

Bambang langsung berdiri. "Jaga bicaramu."

"Jawab."

"Kamu anak. Jangan kurang ajar pada orang tua."

"Kalau orang tua kelakuannya benar, aku hormat."

Bambang mengangkat tangan seolah hendak menampar.

Raka tidak bergerak sedikit pun.

Ratna berseru, "Bambang!"

Tangan Bambang berhenti di udara.

Raka tertawa pendek. "Tampar aku, Pak. Biar sekalian besok satu kampung tahu."

"Kamu menantang bapakmu?"

"Aku tanya, Bapak menyiapkan makam dengan Sari?"

Bambang membuang muka.

"Rumah itu juga untuk dia?"

"Dia butuh tempat tinggal."

Raka memejamkan mata, lalu membukanya lagi. "Ibu juga butuh suami yang waras."

"Raka!" Dimas menegur, tetapi suaranya tidak sungguh-sungguh.

Bambang menunjuk Raka. "Kamu pikir kamu siapa? Pulang-pulang menghakimi orang tua. Aku yang membesarkan kamu."

Raka maju setengah langkah. "Ibu yang membesarkan aku. Ibu yang bawa aku ke Puskesmas waktu demam. Ibu yang bayar sekolahku dari uang klinik. Bapak? Bapak kebanyakan duduk di warung kopi sambil cerita masa muda."

Wajah Bambang memerah.

"Aku tetap bapakmu."

"Dan Ibu tetap istrimu. Kenapa Bapak bisa lupa?"

Kalimat itu membuat Bambang terdiam.

Dari rumah sebelah terdengar suara pintu dibuka. Mungkin tetangga mulai mendengar. Ratna sadar suara mereka terlalu keras.

"Masuk," kata Ratna.

Raka masih menatap ayahnya.

"Masuk," ulang Ratna lebih tegas.

Akhirnya mereka kembali ke ruang tengah.

Di sana, Ratna meletakkan semua bukti di tengah meja. Bambang duduk di kursi paling ujung, wajahnya tertutup amarah. Dimas duduk di sisi lain. Raka berdiri di belakang Ratna, seolah siap menjadi pagar.

"Aku ingin penjelasan," kata Ratna.

Bambang tertawa sinis. "Kalian sudah memutuskan aku salah. Penjelasan apa lagi?"

"Kalau tidak salah, jelaskan."

"Sari itu cinta pertamaku."

Ruang tengah membeku.

Dimas menatap ayahnya dengan jijik. Raka mengepalkan tangan. Ratna menahan napas.

Bambang seperti sudah lelah berbohong. Atau mungkin ia merasa terpojok, lalu memilih menyerang.

"Aku dan dia dulu hampir menikah. Tapi orang tua kami tidak setuju. Aku menikah dengan Ratna karena keluarga bilang Ratna lebih cocok. Anak baik, sekolah tinggi, bisa membantu hidup. Aku menjalani pernikahan ini. Aku tidak pernah meninggalkan rumah."

Ratna bertanya pelan, "Tidak pernah meninggalkan rumah?"

"Aku tetap di sini, kan?"

"Tubuhmu di sini. Hatimu setiap tahun baru di hotel bersamanya."

Bambang menatap lantai.

Dimas berkata, "Pak, Ibu bukan pembantu rumah yang penting Bapak pulang tidur."

Bambang membentak, "Diam kamu!"

Raka langsung maju. "Jangan bentak Mas Dimas. Jawab saja."

Bambang menggebrak meja. "Aku juga manusia! Aku juga punya perasaan! Kalian pikir aku bahagia seumur hidup dengan perempuan yang dingin seperti ibumu?"

Ratna merasakan sesuatu menusuk dadanya, tetapi wajahnya tetap tenang.

Dingin.

Ia yang memasak setiap hari. Ia yang memijat kaki Bambang ketika pegal. Ia yang menunggu di ruang operasi. Ia yang tidak pernah menolak ketika Bambang menginginkan apa pun dalam rumah tangga. Sekarang ia disebut dingin.

Raka berkata dengan suara rendah, "Pak, hati-hati."

Bambang seperti tidak mendengar.

"Sari mengerti aku. Dia tidak pernah menuntut. Dia selalu mendengarkan. Dengan dia, aku merasa dihargai."

Dimas tertawa pahit. "Karena dia tidak mencuci bajumu, Pak. Tidak mengurus obatmu. Tidak menghitung belanja dapur. Tentu saja dia bisa mendengarkan sambil tersenyum."

Bambang menatap Dimas penuh amarah.

Ratna bertanya, "Jadi kamu ingin apa?"

Bambang menatapnya.

"Apa maksudmu?"

"Kamu ingin tetap dengan Sari?"

Bambang tidak menjawab.

"Kamu ingin bercerai denganku?"

Kali ini Bambang langsung berkata, "Kamu jangan mengancam."

"Aku bertanya."

"Di usia kita begini, untuk apa cerai?"

Raka tersenyum dingin. "Oh. Jadi selingkuh boleh, cerai jangan? Enak sekali."

Bambang membentak, "Aku tidak bicara denganmu!"

Ratna mengangkat tangan, menghentikan Raka.

"Kalau tidak ingin cerai, kamu akan berhenti menemui Sari?"

Bambang diam.

"Kamu akan batalkan rumah itu?"

Diam.

"Kamu akan batalkan kavling makam itu?"

Bambang mengangkat wajah. "Makam itu sudah dibayar sebagian."

Ratna menatapnya.

Dimas memukul dahinya sendiri. "Ya Allah, Pak. Yang Bapak pikirkan uang muka makam?"

Raka tertawa tanpa humor. "Ibu, jangan dengar lagi. Cerai saja. Aku yang urus. Ibu tinggal sama aku."

Bambang langsung menunjuk Raka. "Kamu jangan sok pahlawan. Kamu kerja pindah-pindah. Istrimu juga punya anak. Mau bawa ibumu ke mana? Ke proyek?"

"Aku bisa sewa rumah."

"Dengan uang apa?"

"Dengan uang halal. Bukan uang buat beli rumah selingkuhan."

Bambang berdiri lagi, tetapi kali ini Dimas ikut berdiri.

"Pak, cukup."

Suara Dimas tidak sekeras Raka, tetapi tegas.

"Kalau Bapak mau tetap dengan Sari, bilang. Kalau Bapak mau memperbaiki rumah tangga, putuskan dia, batalkan rumah, batalkan makam, dan minta maaf pada Ibu."

Bambang menatap kedua anak laki-lakinya. Mungkin ia baru sadar malam itu bahwa wibawanya tidak lagi sekuat dulu.

Melati menelepon Dimas berkali-kali. Ponsel Dimas bergetar di meja, tetapi ia tidak mengangkat.

Ratna berkata, "Aku sudah bertemu Melati. Dia menyuruhku jangan gegabah."

Dimas tampak tidak nyaman.

Raka mendengus. "Tentu saja."

"Raka," kata Ratna.

"Bu, Melati paling takut kehilangan rumah orang tua. Kalau Ibu cerai, dia pikir dia tidak punya tempat pulang."

Ratna tidak membantah.

Bambang menangkap celah itu. "Kamu dengar? Anak perempuanmu saja lebih waras. Dia tahu keluarga tidak boleh dihancurkan karena cemburu orang tua."

Ratna menatapnya lama.

"Cemburu?"

"Apa lagi?"

"Aku marah bukan karena aku cemburu pada Sari. Aku marah karena kamu membuatku terlihat seperti orang bodoh di rumahku sendiri."

Bambang hendak menjawab, tetapi Ratna melanjutkan.

"Kamu boleh merasa hidupmu tidak bahagia. Kamu boleh menyesal tidak menikah dengan Sari. Tapi kamu tidak berhak memakai hidupku untuk menutupi penyesalanmu."

Ruang tengah sunyi.

Untuk pertama kalinya malam itu, Bambang tidak punya jawaban.

Ratna mengambil semua bukti dan memasukkannya kembali ke map.

"Besok aku akan bertemu Sari."

Bambang langsung berkata, "Tidak perlu."

"Perlu."

"Aku melarang."

Ratna menatapnya.

"Kamu bukan lagi orang yang bisa melarangku."

Raka tersenyum tipis, bangga sekaligus sedih.

Dimas menunduk, seperti baru menyadari bahwa ibunya yang tenang selama ini bisa bicara setegas itu.

Bambang berdiri kaku di tengah ruangan.

Di luar, tetangga mungkin masih menguping. Di grup WA RT, mungkin besok akan ada cerita baru.

Ratna tidak peduli.

Malam itu, untuk pertama kalinya, ia lebih takut kehilangan dirinya sendiri daripada kehilangan nama baik keluarga.

1
Buk Diah
karya yg bagus. dr cerita, alur dan bahasa yg dipakai. banyak juga pelajaran yang bisa diambil dari karya ini❤️❤️
Fris
Lucu banget. Ternyata ada ya penulis yang gak hapal latar belakang tokoh & latar yang dia buat sendiri. Tokoh utama pindah rumah, tapi tetangga-tetangga dari rumah lama ada di situ. Padahal tetangganya gak pindah rumah & jaraknya 15 menit. Jarak yang cukup jauh untuk latar belakang lokasi yang bukan kota besar. Anak dari tokoh utama pada awal cerita digambarkan sedang hamil anak kedua & sering menitipkan anaknya. Tetiba tokoh utama bilang anaknya belum punya anak di salah satu dialog. Curiga ini cerita buatan AI. Soalnya bahasanya AI banget di beberapa bagian. Dan penulisnya lupa total latar belakang tokoh & lokasi padahal tokoh & lokasinya kebanyakan itu-itu aja. Kalo tokoh & lokasi baru atau jarang muncul sih jarang ya. Dan ini bukan sekali 2 kali tapi sering. Banyak juga yang bahas dikomen.
Fris
Gak jelas nih. Latar di rumah baru, tapi tetiba ada Bu Rini & tetangga-tetangga di rumah lama. Katanya Melati sering nitipin anaknya & lagi hamil anak ke2. Sekarang jadi belum punya anak. Aneh. Kalo jadi penulis harus inget latar belakang tokoh & latar belakang tempat. Manggatoon juga dilolosin aja yang begini
Hilma Abubakar
😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Elshanum
jadi gemes 🤣🤭
Hariyanti
cerita yg bagus Thor 🥰🙏 penuh pesan moral utk belajar lebih baik ttg hidup 🙏🙏🙏
Hilma Abubakar
Yook bingung barengan.
hi hi hi.
Hariyanti
😭😭😭😭😭😭😭
Hariyanti
aku suka part ini🤗 kereen banget buat yg mau belajar ttg hidup itu punya batas👍👍👍
Hariyanti
warisan yang terbaik adalah ilmu
Hariyanti
keren......👍👍👍 hubungan darah yg dibalut batas yg tegas.tapi itu terjadi karena orang tua yg kaya.gimana kalau kondisi orang tua yg tak mampu 🤔🤔🤔......... mungkin harus bikin batas versi lain yg tidak menggunakan istilah berbakti sebagai senjata pamungkas.karena byk orang tua yg menggunakan senjata itu untuk menekan anaknya.
Hariyanti
aku salut dgn prinsip dan mental Bu Ratna 👍👍👍👍mampu menjaga harga diri sendiri dari kepungan parasit berkedok anak dan keluarga.karena byk orang yang takut hilang validasi yg beralibi keluarga.
Hariyanti
sudah resmi bercerai kah.....🤔
Hariyanti
ada yaa anak iri dgn kehidupan ibunya sendiri 🤔🤔🤔 padahal anak perempuan yg sdh menikah tanggung jawab suaminya 😏😏
Hariyanti
lah .....sudah satu rumah😏😏😏
Hariyanti
kok bisa ya 🤭🤭🤭 status masih dlm proses tp sdh mengembangkan diri.tp utk budaya barat itu bukan masalah 🤔🤔yg jadi masalah ini backgroundnya budaya timur🤭🤭
Hariyanti
kalo usia senja mencari cinta🤔 apa yang dicari sihhhhh🤔🤔🤔
Hariyanti
asli....! kyknya author pelupa yaaa🤭kan katanya melati suka nitipin anak ke Bu Ratna, tapi mendadak LG planning anak buat masa depan

🤔🤔🤔
Hariyanti
kok aneh sih🤔🤔 ktnya sdh pindah ke perumahan tp tetangga lama masih tetap bisa kepoin urusan Bu Ratna 🤔🤔 mungkin author lupa dgn konsep lingkungan yg sdh dibuat🤭🤭
Lina Ina
bagus bu rini banyak membantu bu ratna...kelurga mcm apa bila tahu adik ada calon suami kaya semua seperti semut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!