Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Episode 1

Bab 01 - Paket yang Tidak Boleh Dibuka

Siang itu, klinik kecil Bu Ratna tidak terlalu ramai.

Hanya ada dua pasien lansia yang menunggu obat hipertensi, satu anak kecil yang baru selesai diperiksa batuknya, dan suara kipas angin tua yang berputar pelan di sudut ruangan.

Ratna Wulandari melepas stetoskop dari lehernya, lalu menulis dosis obat di kertas resep.

"Diminum setelah makan, ya, Bu. Jangan lupa kontrol lagi minggu depan."

Perempuan tua di depannya mengangguk. "Iya, Dok. Kalau Bu Dokter yang bilang, saya nurut."

Ratna tersenyum kecil.

Di Kampung Cempaka, orang lebih sering memanggilnya Bu Dokter daripada Bu Ratna. Padahal usianya sudah enam puluh. Rambutnya sudah banyak putihnya, meski ia selalu memotong pendek agar mudah diatur. Punggungnya masih tegak. Tangannya masih cekatan. Kalau ada anak jatuh dari sepeda, ibu hamil mual berat, atau bapak-bapak mendadak pusing setelah makan kambing, mereka selalu datang ke kliniknya dulu sebelum ke Puskesmas.

Ponselnya bergetar di atas meja.

Ratna melirik layar.

Bambang.

Suaminya jarang mengirim pesan di jam seperti ini. Kalau pun mengirim, biasanya cuma singkat, menyuruh beli sesuatu atau bertanya makan siang.

Ia membuka WhatsApp.

Bambang: Ambil paketku di warung Bu Rini. Kodenya 3921.

Ratna membalas singkat.

Ratna: Iya. Nanti setelah klinik sepi.

Ia hendak meletakkan ponsel, tetapi pesan baru masuk lagi.

Bambang: Jangan dibuka. Itu punyaku.

Ratna menatap kalimat itu agak lama.

Jangan dibuka.

Ia hampir tertawa. Selama tiga puluh tujuh tahun menikah, paket di rumah selalu ia yang buka. Paket sabun, minyak angin, sandal cucu, baju koko Bambang, alat pancing murah yang diam-diam dibeli suaminya, semuanya Ratna yang terima, Ratna yang buka, Ratna yang bereskan kardusnya.

Bambang bahkan tidak pernah peduli kardus bekas itu nanti disimpan di mana.

Kalau kardus sudah banyak, Ratna ikat rapi, lalu dijual ke tukang rongsok. Uangnya ia pakai beli gula atau telur.

Sekarang, untuk pertama kalinya, Bambang mengingatkan dua kali.

Jangan dibuka.

Ratna tidak langsung curiga. Ia hanya merasa aneh.

Sore menjelang, setelah pasien terakhir pulang, ia menutup klinik setengah hari. Klinik itu berada di samping rumah, hanya dipisahkan halaman kecil dan pohon mangga tua. Ratna mengunci lemari obat, mencuci tangan, lalu mengambil motor matik tuanya.

Warung Bu Rini hanya lima menit dari rumah.

Di depan warung, beberapa ibu sedang membeli sayur, sambil membicarakan undangan pengajian malam Jumat. Seperti biasa, begitu Ratna datang, kepala mereka menoleh.

"Bu Dokter, ambil paket?" tanya Bu Rini dari balik etalase.

"Iya. Atas nama Bambang Santoso."

Bu Rini mencari di tumpukan paket J&T, Shopee Express, dan kardus kecil yang disusun sampai hampir menutup rak rokok.

"Ini, Bu. Ada tiga. Dua atas nama Bu Ratna, satu atas nama Pak Bambang."

Ratna menerima semuanya. Dua paketnya ringan, ia tahu pasti isinya dari Melati, anak perempuannya. Melati sering mengirim sabun cuci, vitamin, atau popok untuk anaknya kalau kebetulan menitip cucu.

Paket Bambang berbeda.

Tidak terlalu besar. Dibungkus plastik hitam. Di labelnya tidak ada nama toko. Hanya alamat rumah mereka dan nomor telepon Bambang.

"Dari mana, Bu?" Bu Rini ikut melirik.

Ratna tersenyum biasa. "Mungkin alat pancing."

Ibu-ibu di depan warung tertawa kecil. Mereka tahu Pak Bambang suka memancing, walau lebih sering pulang membawa cerita daripada ikan.

Ratna memasukkan paket ke keranjang motor. Dalam perjalanan pulang, pesan Bambang kembali masuk.

Bambang: Sudah diambil?

Ratna berhenti sebentar di pinggir jalan, di bawah pohon jambu milik Pak RT.

Ratna: Sudah.

Bambang: Simpan saja di kamar. Jangan dibuka. Aku pulang agak malam.

Ratna menatap layar lagi.

Ada sesuatu yang ganjil di dadanya. Bukan sakit. Bukan sesak. Hanya perasaan kecil yang mengusik, seperti duri halus tertinggal di ujung jari.

Sesampainya di rumah, Ratna membuka dua paket miliknya. Benar, isinya sabun cair, kapas, dan obat gosok untuk cucunya. Ia menata semuanya di lemari.

Paket hitam milik Bambang ia letakkan di meja ruang tengah.

Ia pergi ke dapur, menanak nasi, memotong tempe, membuat sayur bening. Tangannya bergerak seperti biasa, tetapi matanya beberapa kali melirik ke meja.

Jangan dibuka.

Kalimat itu seperti duduk di sana, di atas plastik hitam, menunggu ditantang.

Ratna bukan perempuan yang suka mencari masalah. Sejak muda ia terbiasa mengalah. Ketika orang tuanya menyuruhnya pulang dari kota dan meninggalkan pekerjaan di RSUD karena Bambang butuh istri yang tinggal dekat keluarga, ia pulang. Ketika Bambang berkata dua anak laki-laki mereka butuh rumah masing-masing, Ratna bekerja lebih keras. Ketika cucu-cucu lahir, ia membantu mengasuh meski klinik masih harus dibuka.

Ia bukan perempuan yang suka membongkar rahasia.

Tapi Bambang tidak pernah punya rahasia dari paket.

Ratna berdiri di depan meja.

"Kalau isinya alat pancing, kenapa takut?" gumamnya pelan.

Rumah sepi. Hanya suara kompor dan kipas angin.

Ia mengambil gunting dari laci.

Tangannya sempat berhenti di atas plastik hitam.

Ia merasa seperti sedang melakukan sesuatu yang salah. Padahal itu rumahnya. Meja itu mejanya. Paket itu dikirim ke alamat rumah yang ia rawat puluhan tahun. Bambang adalah suaminya.

Kenapa ia harus merasa seperti pencuri?

Ratna menghela napas, lalu menggunting ujung plastik.

Di dalamnya ada kotak kardus kecil yang dibalut bubble wrap. Ia membuka pelan. Lapis demi lapis. Setelah bubble wrap terlepas, tampak sebuah kotak besi tua berwarna hitam kusam.

Kotak itu bukan barang baru.

Permukaannya lecet. Engselnya berkarat. Bentuknya seperti kotak penyimpanan zaman dulu, jenis yang biasa dipakai orang untuk menyimpan surat, foto, atau perhiasan kecil.

Ratna menatap kotak itu lama.

Jantungnya mulai berdetak lebih keras.

Ia membuka tutupnya.

Foto-foto lama tumpah ke meja.

Kertasnya menguning. Beberapa sudutnya terlipat. Di foto pertama, seorang pemuda berdiri di depan pohon besar, memakai kemeja putih lengan pendek. Rambutnya tebal. Senyumnya lebar.

Ratna mengenali wajah itu.

Bambang.

Suaminya ketika muda.

Di sebelah Bambang berdiri seorang perempuan muda dengan rambut panjang sebahu. Perempuan itu tertawa ke kamera, tangannya menggenggam tangan Bambang. Bukan sekadar teman. Bukan sekadar kenalan.

Ratna mengambil foto kedua.

Bambang dan perempuan itu duduk di tepi sungai. Bahu mereka saling menempel. Di belakang foto, ada tulisan tangan.

B dan S, 1984. Kalau bukan sekarang, nanti kita tetap akan bersama.

Jari Ratna menegang.

S.

Sari.

Nama itu muncul dari ingatan lama, seperti pintu berdebu yang tiba-tiba terbuka.

Sari Handayani.

Perempuan yang dulu pernah disebut-sebut ibu mertua Ratna. Cinta pertama Bambang. Perempuan yang katanya tidak direstui keluarga karena terlalu miskin, lalu pergi merantau ke kota.

Ratna dulu tidak pernah cemburu. Untuk apa cemburu pada masa lalu? Ia menikah dengan Bambang. Ia melahirkan anak-anak Bambang. Ia menemani Bambang dari hidup susah sampai mereka punya rumah, punya sawah kecil, punya klinik.

Masa lalu seharusnya tinggal masa lalu.

Tapi foto-foto itu tidak terasa seperti masa lalu.

Beberapa foto tampak baru dicetak ulang. Ada amplop kecil di dasar kotak. Ratna membuka amplop itu.

Di dalamnya ada struk restoran.

Tanggalnya malam tahun baru, enam bulan lalu.

Dua pax.

Restoran hotel di Bandung.

Ratna menatap tanggal itu.

Malam tahun baru, Bambang bilang ada acara reuni teman lama. Ia pulang keesokan paginya, membawa bau parfum yang bukan miliknya. Ratna tidak bertanya. Ia pikir orang tua juga butuh bertemu teman.

Ponselnya tiba-tiba bergetar.

Bambang menelepon.

Ratna melihat nama suaminya di layar. Tangannya dingin.

Ia tidak mengangkat.

Telepon berhenti, lalu pesan masuk.

Bambang: Paketku aman?

Ratna menatap foto-foto di meja.

Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun menikah, ia tidak tahu harus membalas apa.

Ia merapikan foto-foto itu bukan untuk menyembunyikan lagi, melainkan agar tidak ada satu pun tercecer. Aneh, bahkan di saat seperti itu, tangannya masih bekerja rapi. Mungkin karena kalau tangannya berhenti, hatinya akan mulai pecah.

Di dapur, nasi sudah matang.

Ratna menatap magic com, lalu menutupnya kembali.

Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu apakah masih ingin menunggu suaminya makan.

Terpopuler

Comments

💞🖤Icha

💞🖤Icha

Aq mau juga dbpinang Miliarder...😄😄🤭🤭 serru

2026-07-19

0

Wirly Pena

Wirly Pena

Semangat thor, karya yang bagus 👍

halo temen2, dukung dan baca " aku istrimu, bukan babu mu "

terimakasih 🙏

2026-08-26

0

Ritaulii

Ritaulii

lanjut

2026-07-18

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!