Episode 2

Bab 02 - Perempuan di Foto Lama

Ratna tidak menjawab pesan Bambang.

Ia mematikan kompor, lalu duduk di kursi kayu ruang tengah. Sayur bening yang baru matang dibiarkan begitu saja. Aroma bayam dan bawang putih menyebar sampai ruang depan, tetapi perutnya terasa kosong, seperti tidak ada tempat untuk makanan.

Foto-foto itu masih berserakan di meja.

Ia mengambil satu demi satu, mencoba mencari alasan yang masuk akal.

Mungkin kotak itu dikirim seseorang tanpa sepengetahuan Bambang.

Mungkin Sari hanya ingin mengembalikan barang lama.

Mungkin Bambang panik karena tidak ingin Ratna salah paham.

Mungkin.

Terlalu banyak mungkin.

Ratna menutup mata sebentar.

Selama ini ia selalu hidup dari kata mungkin. Mungkin Bambang lelah, jadi ia kasar. Mungkin Bambang lupa ulang tahunnya karena sibuk. Mungkin Bambang tidak pernah membantu pekerjaan rumah karena memang laki-laki desa seusianya tidak biasa begitu. Mungkin Bambang pulang pagi setiap tahun baru karena benar-benar ada urusan teman lama.

Mungkin, mungkin, mungkin.

Pada usia enam puluh, Ratna tiba-tiba merasa semua mungkin itu melelahkan.

Ponsel Bambang tergeletak di meja kecil dekat televisi.

Ratna baru sadar Bambang tadi pagi meninggalkannya ketika terburu-buru keluar. Biasanya ia tidak pernah menyentuh ponsel suaminya. Mereka bukan pasangan muda yang saling mengecek isi pesan. Setelah puluhan tahun menikah, kepercayaan bukan lagi sesuatu yang dibicarakan. Kepercayaan hanya seperti piring di rak dapur, selalu ada karena tak pernah ada yang menjatuhkan.

Tapi hari ini, piring itu retak.

Ratna menatap ponsel itu.

Layarnya menyala karena ada notifikasi masuk.

Sari H.

Ratna merasa napasnya berhenti sekejap.

Pesan itu muncul di layar terkunci.

Sari H: Paketnya sudah sampai? Jangan sampai dibuka Ratna, Bang.

Bang.

Ratna menggenggam ujung meja.

Tangannya gemetar, tetapi pikirannya justru menjadi sangat jernih.

Ia tahu PIN ponsel Bambang. Bukan karena pernah mengintip. Bambang sendiri yang dulu memberitahu ketika meminta Ratna membalas pesan tukang bangunan. Tanggal lahir Bambang, empat angka yang sama sejak bertahun-tahun lalu.

Ratna memasukkan PIN.

Ponsel terbuka.

WhatsApp Bambang dipenuhi grup RT, grup mancing, grup keluarga, dan satu percakapan yang disematkan paling atas.

Sari H.

Foto profilnya perempuan paruh baya dengan kerudung krem, wajah masih terawat, senyum tipis, matanya percaya diri. Ratna mengenalinya dari foto lama. Perempuan itu sudah tua, tentu saja. Tetapi garis wajahnya sama.

Ratna membuka percakapan itu.

Pesan terakhir masih di sana.

Sari: Paketnya sudah sampai? Jangan sampai dibuka Ratna, Bang.

Di atasnya, Bambang membalas beberapa jam lalu.

Bambang: Tenang. Dia tidak akan macam-macam. Ratna itu orangnya nurut.

Ratna membaca kalimat itu pelan.

Nurut.

Ia hampir tertawa, tetapi tenggorokannya sakit.

Ia menggulir layar ke atas. Tidak jauh, ada foto restoran. Dua gelas jus, dua piring steak, sepotong kue dengan lilin kecil. Caption dari Sari.

Sari: Tahun baru lagi sama kamu. Walau cuma sehari setahun, aku tetap bahagia.

Bambang: Maaf belum bisa lebih sering.

Sari: Aku sudah menunggu sejak muda. Menunggu setahun sekali juga tidak apa-apa, asal kamu tetap ingat aku.

Ratna meletakkan ponsel di meja, lalu mengambilnya lagi.

Jarinya bergerak pelan, terus menggulir.

Ada foto-foto lain. Bukan hanya tahun ini. Tahun lalu. Dua tahun lalu. Tiga tahun lalu. Mereka makan malam, duduk di taman hotel, berjalan di pusat kota, bahkan ada foto Bambang memakai kemeja yang Ratna sendiri setrika.

Ratna mengenali kemeja biru tua itu.

Ia membelinya di pasar kecamatan karena Bambang bilang ingin baju baru untuk reuni.

Reuni.

Ratna menutup mulut dengan punggung tangan.

Ia tidak menangis. Air matanya seperti tertahan di belakang mata, panas tetapi tidak jatuh.

Di percakapan itu, Sari sering menulis hal-hal manis.

Bang, kalau dulu kita jadi menikah, mungkin hidup kita beda.

Bang, aku tidak pernah benar-benar bisa melupakan kamu.

Bang, kapan kita bisa tidak sembunyi-sembunyi lagi?

Dan Bambang menjawab.

Sabar.

Tunggu waktu yang tepat.

Aku juga tidak bahagia di rumah.

Ratna membaca kalimat terakhir berkali-kali.

Aku juga tidak bahagia di rumah.

Rumah yang ia bangun dengan uang praktik sampai malam. Rumah yang lantainya ia pel setiap pagi. Rumah tempat anak-anak mereka tumbuh. Rumah tempat cucu-cucu berlari dan menumpahkan susu. Rumah yang ia jaga ketika Bambang sakit paru-paru dan harus dirawat di kota.

Bambang tidak bahagia di rumah.

Ratna berdiri.

Ia berjalan ke kamar, membuka lemari besi kecil tempat dokumen keluarga disimpan. Sertifikat rumah, akta nikah, Kartu Keluarga, akta lahir anak-anak, surat tanah, semua tersusun rapi karena ia yang mengurus. Bambang tidak pernah tahu letaknya sampai hal-hal kecil seperti fotokopi KTP pun selalu meminta padanya.

Ratna mencari nama Sari di ingatannya.

Sari Handayani.

Ia dulu bukan dari kampung ini. Keluarganya tinggal di kampung sebelah, dekat jalan lama menuju pasar. Setelah gagal menikah dengan Bambang, katanya ia bekerja di penginapan di kota, lalu menikah dengan sopir bus. Suaminya meninggal beberapa tahun lalu. Ia punya seorang anak perempuan.

Ratna ingat ibu mertua pernah menyebut nama itu dengan nada kasihan.

"Kasihan Sari. Cintanya sama Bambang dalam, tapi jodoh tidak ke mana. Untung Bambang dapat kamu, Rat. Kamu anaknya tenang."

Tenang.

Nurut.

Kata-kata itu dulu terdengar seperti pujian.

Sekarang terasa seperti tali yang mengikat leher.

Ponsel Bambang berdering lagi.

Sari menelepon.

Ratna menatap layar yang bergetar di meja.

Ia tidak mengangkat.

Telepon mati. Pesan baru masuk.

Sari: Bang, kok tidak jawab? Aku takut Ratna buka paketnya. Kalau dia tahu soal foto dan surat-surat itu, bagaimana?

Surat-surat?

Ratna kembali ke kotak besi.

Di bawah lapisan foto, ada beberapa amplop. Ia tadi belum memeriksa semuanya. Ia membuka amplop pertama. Isinya surat lama, tulisan tangan rapi, penuh panggilan sayang.

Amplop kedua berisi bukti transfer bertahun-tahun terakhir. Tidak besar di awal. Lima ratus ribu. Satu juta. Dua juta. Lalu semakin besar.

Amplop ketiga membuat Ratna berhenti.

Fotokopi kuitansi pembayaran booking kavling makam.

Nama pemesan: Bambang Santoso.

Nama pendamping makam: Sari Handayani.

Ratna membaca dua nama itu.

Bambang Santoso.

Sari Handayani.

Mereka tidak hanya makan bersama setiap tahun baru.

Mereka bahkan sudah merencanakan tempat berbaring bersama setelah mati.

Ratna merasa dunia di sekelilingnya menjadi hening.

Ia tidak mendengar suara motor lewat. Tidak mendengar azan dari musala. Tidak mendengar panci di dapur yang tutupnya bergetar karena air mendidih.

Yang ia dengar hanya detak jantungnya sendiri.

Pelan, tetapi keras.

Tiga puluh tujuh tahun.

Ia menemani Bambang dari toko kecil yang bangkrut, dari utang keluarga, dari anak-anak demam tengah malam, dari operasi paru-paru, dari masa ketika mereka hanya makan tahu tempe selama seminggu.

Dan Bambang menyiapkan makamnya bersama perempuan lain.

Pintu depan tiba-tiba diketuk.

"Bu Ratna!"

Suara Bu Rini.

Ratna cepat-cepat mengumpulkan foto dan surat ke dalam kotak, tetapi satu foto terjatuh ke lantai. Foto Bambang muda menggenggam tangan Sari.

Ratna memungutnya.

"Bu Ratna, ada di rumah?"

Ratna menarik napas panjang, menutup kotak besi, lalu berjalan ke pintu.

Ketika pintu terbuka, Bu Rini berdiri dengan kantong plastik berisi gula.

"Maaf, Bu. Tadi gula yang Ibu pesan ketinggalan di warung."

Ratna menerima kantong itu. "Terima kasih."

Bu Rini menatap wajahnya. "Bu Dokter pucat. Sakit?"

Ratna menggeleng. Bibirnya mencoba tersenyum.

"Tidak. Cuma agak lelah."

Bu Rini tidak langsung pergi. Matanya melirik ke dalam rumah, mungkin melihat meja yang masih berantakan, mungkin juga hanya kebiasaan tetangga yang ingin tahu.

"Pak Bambang belum pulang?"

"Belum."

"Oh. Katanya tadi siang saya lihat motornya ke arah pasar kota."

Ratna diam.

Pasar kota.

Di arah itu juga ada kantor pemasaran pemakaman swasta yang tertulis di kuitansi.

Bu Rini akhirnya pamit. Ratna menutup pintu, lalu bersandar di baliknya.

Ponsel Bambang kembali menyala.

Bambang: Aku pulang sebentar lagi. Paket jangan disentuh.

Ratna menatap pesan itu dari jauh.

Lalu untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mengetik balasan tanpa ragu.

Ratna: Pulanglah. Kita bicara.

Terpopuler

Comments

💞🖤Icha

💞🖤Icha

Kenapa baru mengetahui sudah lama...feeling istri seperti silet tajamnya...
Terlalu takut dan menurut bukan alasan..hanya diam membisu terlalu lama Ratna 🤨🤨

2026-07-19

0

Kamisa Bahar

Kamisa Bahar

salut dengan ibu dokter, tatap tenang walaupun hatinya hancur

2026-07-26

0

Ria Gazali Dapson

Ria Gazali Dapson

tega nian kao bang , ih ora sudi menyentuh diri mu , amit² , umur udh gaek

2026-07-25

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!