Episode 3

Bab 03 - Kavling Makam

Bambang tidak langsung pulang.

Ratna menunggu dari sore sampai magrib, dari magrib sampai isya. Nasi di magic com sudah dua kali ia aduk agar tidak kering. Sayur bening di panci sudah dingin. Tempe goreng yang tadi renyah berubah lembek.

Ia tidak makan.

Ponsel Bambang dibawanya ke kamar. Kotak besi disimpan di atas meja rias, tidak lagi disembunyikan. Ratna duduk di tepi ranjang, memandangi benda itu seperti memandangi seseorang yang datang membawa kabar kematian.

Mungkin memang begitu.

Hari ini ada sesuatu yang mati.

Bukan Bambang. Bukan Sari. Bukan pernikahan mereka di mata hukum.

Yang mati adalah kepercayaan Ratna.

Pukul sembilan lewat, Bambang mengirim pesan.

Bambang: Aku ada urusan. Pulang agak malam. Jangan tidur dulu kalau mau bicara.

Ratna membaca pesan itu tanpa ekspresi.

Ia ingin menelepon. Ia ingin bertanya, "Urusan apa? Dengan siapa? Di mana?"

Tapi ia menahan diri.

Puluhan tahun menjadi dokter membuatnya terbiasa menunggu gejala jelas sebelum memberi diagnosis. Sakit kepala bisa karena kurang tidur, tekanan darah, atau tumor. Demam bisa karena infeksi ringan atau sesuatu yang lebih berat. Kalau hanya menebak, orang bisa salah obat.

Malam ini ia tidak ingin salah obat.

Ia ingin bukti.

Ratna mengambil kuitansi kavling makam dari amplop. Di bagian bawah ada nomor telepon kantor pemasaran.

Jarinya berhenti di atas layar ponsel pribadinya.

Malam sudah larut. Tidak pantas menelepon kantor saat ini.

Tapi ada akun WhatsApp bisnis tertera di kuitansi.

Ratna menyimpan nomor itu dengan nama "Makam". Lalu ia mengirim pesan.

Ratna: Selamat malam. Maaf mengganggu. Saya ingin menanyakan pembayaran kavling makam atas nama Bambang Santoso. Apakah masih bisa dibantu?

Ia tidak berharap dibalas.

Namun beberapa menit kemudian, tanda centang berubah biru.

Makam Nirwana: Selamat malam, Ibu. Untuk pengecekan data, mohon nama lengkap dan nomor pemesanan.

Ratna mengetik nomor yang tertera di kuitansi.

Balasan datang cepat.

Makam Nirwana: Baik, Ibu. Data ditemukan. Kavling pasangan Blok Melati B-17 dan B-18. Atas nama Bapak Bambang Santoso dan Ibu Sari Handayani.

Ratna menutup mata.

Pasangan.

Kata itu lebih tajam dari pisau dapur.

Ia membalas.

Ratna: Saya istri sah Bambang Santoso. Nama saya Ratna Wulandari. Saya ingin tahu status pembayaran.

Beberapa detik tidak ada jawaban.

Lalu pesan masuk.

Makam Nirwana: Mohon maaf, Ibu. Untuk data detail kami hanya bisa berikan kepada pemesan atau kontak pendamping yang terdaftar.

Ratna menatap layar.

Kontak pendamping yang terdaftar.

Sari.

Ia mengetik lagi.

Ratna: Apakah kontak pendampingnya Sari Handayani?

Makam Nirwana: Betul, Ibu. Mohon maaf, apakah Ibu Sari ingin melakukan perubahan data?

Ratna hampir menjatuhkan ponsel.

Mereka mengira ia Sari.

Barangkali karena nomor Bambang sudah menghubungi sebelumnya. Barangkali karena di data mereka, perempuan yang berhak bertanya memang Sari.

Istri sahnya tidak ada di mana pun.

Ratna menatap foto pernikahannya dan Bambang yang tergantung di dinding kamar. Foto itu diambil hampir empat puluh tahun lalu. Ratna memakai kebaya putih sederhana, Bambang memakai jas pinjaman dari pamannya. Senyum mereka kaku. Waktu itu Ratna tidak terlalu mengenal Bambang, tetapi ia percaya pernikahan adalah jalan yang akan mereka pelajari bersama.

Ternyata ia belajar sendirian.

Ponsel di tangannya bergetar lagi.

Makam Nirwana: Bapak Bambang sempat menghubungi siang tadi untuk konfirmasi pelunasan tahap berikutnya. Apakah ada yang ingin dibantu, Ibu Sari?

Ratna menatap kalimat itu.

Siang tadi.

Jadi Bu Rini benar. Bambang pergi ke arah pasar kota bukan tanpa alasan.

Ratna mengetik pelan.

Ratna: Tidak. Terima kasih.

Ia menghapus nama kontak itu setelah menutup percakapan, tetapi tangkapan layar sudah ia simpan.

Pukul sepuluh lewat, suara motor Bambang akhirnya terdengar di halaman.

Ratna tidak bergerak dari kamar.

Pintu depan dibuka. Bambang masuk sambil batuk kecil, seperti biasa ketika ingin memberi tanda bahwa ia pulang. Dulu Ratna akan segera keluar, bertanya sudah makan atau belum. Malam ini ia tetap duduk.

"Rat?" panggil Bambang.

Tidak ada jawaban.

Langkahnya mendekat ke kamar.

Begitu Bambang membuka pintu, wajahnya berubah.

Matanya langsung tertuju pada kotak besi di atas meja rias.

"Kamu buka paketku?"

Suara itu bukan suara orang lelah. Itu suara orang tertangkap.

Ratna menatap suaminya.

Bambang masih memakai jaket cokelat. Rambutnya agak berantakan. Di lehernya ada bau parfum asing, samar tetapi jelas. Bukan minyak kayu putih, bukan sabun mandi rumah mereka.

"Iya," jawab Ratna.

Bambang melangkah cepat ke meja, mengambil kotak itu, membuka isinya dengan panik. Foto-foto diperiksa, amplop dihitung, seolah Ratna adalah pencuri yang mungkin mengambil sesuatu.

"Kenapa kamu buka? Aku sudah bilang jangan dibuka!"

Ratna berdiri pelan. "Karena kamu bilang jangan dibuka."

"Itu barang lama!"

"Kuitansi makam juga barang lama?"

Bambang terdiam.

Ratna mengambil ponselnya, membuka tangkapan layar dari Makam Nirwana, lalu memperlihatkannya.

"Blok Melati B-17 dan B-18. Atas nama Bambang Santoso dan Sari Handayani. Kavling pasangan."

Wajah Bambang memucat, lalu memerah.

"Kamu menghubungi mereka?"

"Aku istrimu. Aku berhak tahu kenapa suamiku menyiapkan makam dengan perempuan lain."

"Itu tidak seperti yang kamu pikir."

Ratna hampir tersenyum.

Kalimat itu ternyata benar-benar ada. Kalimat yang sering ia dengar di sinetron, di cerita pasien, di rumah tangga orang lain. Ia tidak pernah menyangka suatu hari Bambang akan mengucapkannya di kamar mereka.

"Lalu seperti apa?" tanyanya.

Bambang mengusap wajah. "Sari itu... dia tidak punya siapa-siapa. Suaminya sudah meninggal. Anaknya jauh. Dia takut nanti kalau meninggal tidak ada yang mengurus."

"Jadi kamu mengurus makamnya?"

"Aku hanya membantu."

"Dengan membeli dua kavling berdampingan?"

Bambang membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Ratna melanjutkan, suaranya tetap pelan. "Dan makan malam tahun baru setiap tahun? Itu juga membantu?"

"Ratna."

"Kemeja biru yang aku setrika untuk reuni. Itu dipakai makan malam dengannya?"

Bambang menegang. "Kamu baca pesan?"

"Aku baca cukup banyak."

"Kamu keterlaluan. Itu ponselku."

Ratna menatapnya lama.

"Pernikahan kita juga hidupku, Bang."

Bambang terdiam lagi.

Untuk beberapa detik, hanya suara jam dinding terdengar. Tik. Tik. Tik.

Ratna menunggu. Mungkin masih ada penjelasan yang bisa menyelamatkan sesuatu. Mungkin Bambang akan meminta maaf. Mungkin ia akan berkata semuanya kesalahan besar dan berhenti.

Bambang justru berkata, "Kamu jangan membesar-besarkan. Di usia kita, orang butuh teman bicara. Aku dan Sari hanya saling menguatkan."

Ratna mengulang pelan, "Saling menguatkan."

"Iya."

"Selama sepuluh tahun?"

Bambang kaget. "Siapa bilang sepuluh tahun?"

Ratna membuka salah satu foto restoran paling lama yang ia temukan di chat. "Tanggalnya ada. Kamu pikir aku tidak bisa menghitung?"

Bambang membuang muka.

Ratna merasakan lututnya sedikit lemas, tetapi ia tidak duduk. Ia ingin berdiri ketika mendengar semua ini. Ia tidak mau terlihat seperti perempuan yang sedang meminta belas kasihan.

"Aku ini apa bagimu?" tanya Ratna.

Bambang tampak kesal. "Kamu istriku. Ibu dari anak-anakku. Tidak ada yang berubah."

"Tidak ada yang berubah?"

"Aku tetap pulang ke rumah. Aku tetap memberi uang."

Ratna tertawa pendek.

"Uang apa, Bang? Uang belanja yang bahkan tidak cukup kalau klinik tidak jalan? Uang rokokmu saja kadang dari laci dapur."

Wajah Bambang mengeras. "Jangan mulai menghina."

"Aku tidak menghina. Aku mengingatkan."

"Kamu selalu begini. Diam-diam menyimpan semua, lalu keluar seperti orang paling benar."

Ratna menatap suaminya seolah baru pertama kali melihatnya.

Selama ini Bambang jarang marah besar, tetapi kalau tersudut, ia selalu membalikkan keadaan. Ratna dulu memilih diam karena tidak suka ribut. Malam ini, diam terasa seperti ikut membantu kebohongan.

"Aku mau bertemu Sari," kata Ratna.

Bambang langsung menoleh. "Untuk apa?"

"Untuk mendengar dari mulutnya. Kalau kalian hanya saling menguatkan, tidak perlu takut."

"Jangan bikin malu."

"Malu pada siapa?"

"Pada orang-orang."

Ratna mengangguk pelan. "Jadi kamu tahu ini memalukan."

Bambang kehilangan kata.

Ratna berjalan ke lemari, mengambil satu map kosong, lalu memasukkan fotokopi kuitansi, tangkapan layar yang sudah ia cetak dari printer klinik kecil, dan beberapa foto lama yang paling jelas.

Bambang melihatnya dengan curiga.

"Mau kamu bawa ke mana itu?"

"Besok aku akan menemui Melati."

"Jangan libatkan anak-anak."

Ratna berhenti.

Ia berbalik.

"Saat kamu memakai uang rumah untuk Sari, kamu sudah melibatkan anak-anak. Saat kamu membuat ibunya terlihat bodoh selama bertahun-tahun, kamu sudah melibatkan mereka. Saat kamu menyiapkan makam dengan perempuan lain, kamu sudah mengubur aku hidup-hidup di depan keluarga ini."

Bambang menatapnya, tercengang.

Mungkin Bambang tidak pernah mendengar Ratna bicara sepanjang itu tanpa gemetar.

Ratna sendiri juga hampir tidak mengenali suaranya.

Tapi ia tidak menyesal.

"Besok aku bertemu Melati," ulangnya. "Setelah itu, Dimas dan Raka juga harus tahu."

"Ratna, jangan gila."

Ratna memegang map itu di depan dadanya.

"Aku justru baru waras malam ini."

Terpopuler

Comments

💞🖤Icha

💞🖤Icha

Bom waktu lgs meledak...suami penghianat gk akan pernah bahagia...jgn pernah diam Ratna...penipu ulung bisa merahasiakan bertahun-tahun...

2026-07-19

1

Ritaulii

Ritaulii

sakit sekali rasanya,,setelah sekian tahun waktu kita terasa terbuang percuma ,,🤭

2026-07-18

1

Thewie

Thewie

bagus itu buk dokter, udah mau mati pun gak sadar diri suamimu

2026-07-15

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!