Episode 5

Bab 05 - Rumah untuk Sari

Dimas datang menjelang asar.

Ia mengendarai mobil tua miliknya, berhenti di depan rumah dengan suara rem yang agak berdecit. Dari balik jendela, Ratna melihat anak sulungnya turun sambil menelepon seseorang. Wajah Dimas tegang, tetapi masih terlihat berusaha santai.

"Iya, Yun. Aku di rumah Ibu dulu. Nanti aku kabari."

Ia menutup telepon, lalu masuk tanpa mengetuk.

"Bu?"

"Di sini."

Ratna sudah menunggu di ruang tengah. Di meja, kotak besi dan map bukti tersusun rapi. Ia sengaja tidak menyembunyikan apa pun. Hari ini, anak-anaknya harus melihat semuanya dengan mata terbuka.

Dimas duduk di kursi seberang. Usianya tiga puluh delapan, tubuhnya sedikit gemuk karena bertahun-tahun mengurus toko bahan bangunan kecil bersama istrinya, Yuni. Ia bukan anak yang buruk. Ia sering mengantar Ratna ke kota jika ada urusan bank. Tapi Dimas juga anak yang selalu menghitung sebelum bicara.

Melati sudah meneleponnya. Ia datang dengan dugaan soal foto lama Bambang, lalu langsung pucat ketika Ratna mendorong map bukti ke hadapannya.

Dimas membuka isinya. Cara wajahnya berubah hampir sama dengan Melati. Bingung, pucat, lalu keras. Ia membaca bukti transfer, chat yang dicetak, dan kuitansi kavling makam.

"Bapak gila," gumamnya.

Ratna tidak menyahut.

Dimas membuka lembar berikutnya. Ada satu dokumen yang Ratna baru temukan pagi tadi, setelah memeriksa ulang kotak besi dan ponsel Bambang. Bukan sekadar kuitansi. Itu fotokopi perjanjian jual beli rumah kecil di pinggir kota.

Nama pembeli tertulis jelas.

Sari Handayani.

Di bagian pembayaran, ada tanda tangan Bambang Santoso sebagai pihak yang menyerahkan uang muka.

Dimas menatap kertas itu lebih lama daripada yang lain. Rumah kecil untuk Sari. Uang muka seratus lima puluh juta. Tanda tangan Bambang di bagian pembayaran.

Dimas menarik napas tajam.

"Aku belum tahu totalnya."

"Bu, ini bukan uang kecil."

"Aku tahu."

Dimas berdiri. Ia berjalan bolak-balik di ruang tengah.

"Uang dari mana? Bapak tidak punya penghasilan sebesar itu. Pensiun juga tidak. Toko dulu sudah lama tutup. Selama ini uang rumah kebanyakan dari klinik Ibu."

Ratna mendengarkan.

Ada perbedaan yang jelas antara Melati dan Dimas. Melati pertama-tama memikirkan malu, tempat tinggal, dan kehamilannya. Dimas langsung memikirkan uang.

Ratna tidak tahu harus lega atau sedih.

Kemungkinan langsung berputar di kepala Dimas: tabungan, tanah sawah, BPKB motor, mobil lama, apa pun yang bisa dijual diam-diam. Ratna menjawab satu per satu bahwa dokumen utama aman. Dimas mengusap wajah, seperti orang baru sadar pengkhianatan juga punya angka.

Angka membuat luka itu lebih sulit disangkal. Selama masih berupa foto, orang bisa menyebutnya salah paham, masa lalu, atau godaan sementara. Tetapi uang muka rumah punya tanggal, tanda tangan, dan niat yang tidak bisa dipoles dengan alasan lupa.

Ratna bertanya pelan, "Kamu marah karena Bapak berkhianat atau karena uangnya?"

Dimas berhenti berjalan.

Ia menatap ibunya, tampak tersinggung. "Bu, maksud Ibu apa?"

"Aku hanya bertanya."

"Tentu aku marah karena Bapak berkhianat. Tapi uang juga penting. Kalau dia pakai harta bersama untuk perempuan itu, Ibu dirugikan. Kita semua dirugikan."

"Kita semua?"

Dimas menyadari kata-katanya. Ia duduk lagi, suaranya turun.

"Maksudku, Ibu. Ibu yang paling dirugikan."

Ratna mengangguk.

Ia ingin percaya. Ia ingin memeluk anaknya dan menangis. Tetapi setelah pembicaraan dengan Melati, sesuatu dalam dirinya lebih berhati-hati.

Ratna ingin tahu dari mana uang itu. Dimas sempat menyebut rekening, kenalan bank, dan kemungkinan menelusuri transaksi, lalu berhenti sendiri karena sadar data orang tidak bisa dibuka sembarangan.

Ratna tersenyum tipis. Mereka tidak perlu melanggar apa pun. Mereka akan bertanya langsung kepada Bambang.

Dimas tertawa pendek, pahit. "Bapak pasti mengelak."

"Maka Raka harus pulang."

Wajah Dimas berubah lagi.

"Bu, kalau Raka tahu, dia pasti langsung ribut."

"Aku tahu."

"Dia bisa pukul Bapak."

"Kalau semua orang takut Raka marah, berarti selama ini semua orang juga tahu Bapak salah."

Dimas tidak bisa menjawab.

Ratna mengambil ponsel dan menelepon Raka. Nada sambung berbunyi cukup lama. Raka sedang bekerja di proyek jembatan di luar kota, sering sulit dihubungi.

Ketika akhirnya tersambung, Ratna hanya memintanya pulang malam itu. Raka langsung bertanya apakah ibunya sakit. Bukan. Klinik bermasalah? Bukan. Bambang yang bermasalah.

Di ujung sana hening.

"Apa dia bikin Ibu nangis?"

Ratna hampir tidak mampu menjawab. Kalimat itu sederhana, tetapi justru menyentuh tempat yang paling sakit. Ia hanya menyuruh Raka pulang dulu, dan anak itu langsung berangkat.

Telepon ditutup.

Dimas menatap ibunya. "Bu, aku benar-benar takut ini jadi besar."

"Ini sudah besar, Dimas."

"Tapi kalau sampai tetangga tahu..."

"Tetangga akan tahu cepat atau lambat. Di kampung ini, ayam bertelur saja masuk grup WA."

Dimas menghela napas. "Aku bukan takut omongan tetangga saja. Aku takut Ibu nanti menyesal. Kalau Ibu cerai, prosesnya panjang. Harta bersama harus dibagi. Kalau rumah ini atas nama Bapak atau atas nama berdua, bisa rumit. Kalau Bapak keras kepala, sidang bisa berkali-kali. Biaya pengacara juga tidak murah."

"Kamu terdengar seperti Melati."

"Karena kami realistis."

Ratna menatapnya.

Dimas buru-buru berkata, "Bukan berarti Ibu harus diam. Tapi kita harus strategi. Jangan langsung bilang cerai. Kumpulkan bukti dulu. Pastikan uang yang dipakai untuk Sari bisa ditarik atau diganti."

Ratna menangkap kata "strategi".

Ada bagian dari Dimas yang mencintainya, ia tahu. Tetapi ada juga bagian yang menghitung, bagian yang lahir dari hidup pas-pasan dan keluarga kecil yang selalu butuh uang.

"Kalau Bapak mengembalikan uang itu, menurutmu semua selesai?"

"Tidak," jawab Dimas cepat. "Tapi itu langkah pertama."

"Langkah pertama untuk apa?"

Dimas diam.

Ratna menunggu.

Akhirnya Dimas berkata, "Untuk memastikan Ibu tidak rugi."

"Aku sudah rugi tiga puluh tujuh tahun, Dim."

Dimas menunduk.

Kalimat itu menggantung di ruangan.

Pintu depan tiba-tiba terbuka.

Bambang masuk. Ia tampaknya tidak menyangka Dimas sudah ada. Langkahnya berhenti di ambang ruang tengah.

"Oh, kamu di sini."

Dimas berdiri. Matanya merah.

"Pak, ini apa?"

Ia mengangkat fotokopi perjanjian jual beli rumah.

Bambang melihat sekilas, lalu wajahnya langsung berubah.

"Kamu bongkar-bongkar barangku juga?"

Dimas menatap ayahnya seolah tidak percaya. "Bapak belikan rumah untuk Sari?"

"Jaga mulutmu."

"Aku tanya, Bapak belikan rumah untuk Sari?"

Bambang melempar tas kecilnya ke kursi. "Itu urusan orang tua. Anak tidak usah ikut campur."

Dimas tertawa kasar. "Urusan orang tua? Uang dari mana, Pak? Dari langit? Dari hasil Ibu buka klinik sampai malam?"

"Kamu jangan kurang ajar!"

"Yang kurang ajar siapa?"

Suara Dimas naik. Ratna melihat tangan anaknya mengepal.

Bambang menunjuk wajah Dimas. "Aku masih bapakmu."

"Justru karena Bapak bapakku, aku malu."

Wajah Bambang mengeras.

Ratna berdiri di antara mereka.

"Cukup."

Dimas masih bernapas cepat. Bambang juga.

Ratna menatap suaminya. "Malam ini Raka pulang."

Bambang langsung berkata, "Untuk apa?"

"Kita bicara sebagai keluarga."

"Tidak perlu. Ini masalah suami istri."

Ratna menatapnya dingin. "Saat kamu memakai uang keluarga, membeli rumah untuk perempuan lain, menyiapkan makam dengan dia, masalah ini bukan hanya suami istri lagi."

Bambang melirik Dimas, lalu berkata dengan nada menekan, "Kalau kamu hormat pada bapakmu, kamu pulang sekarang. Jangan ikut memperkeruh."

Dimas hampir maju, tetapi Ratna menahan lengannya.

"Dimas tetap di sini," kata Ratna.

Bambang menoleh tajam. "Ratna."

Ratna tidak menunduk.

"Kamu sudah terlalu lama bicara dengan Sari. Sekarang giliran kami bicara."

Bambang menatap Ratna seperti baru melihat sisi dirinya yang tidak pernah ia hitung.

Dulu, Ratna selalu menghindari pertengkaran. Kalau suara Bambang naik, suara Ratna turun. Kalau Bambang marah, Ratna masuk dapur. Kalau anak-anak mulai gelisah, Ratna yang menenangkan.

Hari itu, ia tidak bergerak ke dapur.

Dimas melihat perubahan itu dengan jelas. Rasa marahnya pada ayah bercampur dengan rasa bersalah yang sulit ia telan. Selama ini ia juga menikmati ketenangan ibunya. Ia pulang ke rumah dan selalu menemukan makanan, tempat tidur, handuk bersih, nasihat pendek. Ia tidak pernah bertanya berapa banyak luka yang harus ditelan agar rumah tetap terasa seperti rumah.

Sekarang rumah itu tidak lagi bisa pura-pura utuh.

Terpopuler

Comments

Darma

Darma

aku padamu Bu Ratna💪💪

2026-07-18

1

Ritaulii

Ritaulii

suka sama sikap Bu ratna👍

2026-07-18

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!