Episode 4

Bab 04 - Nasihat Melati

Melati datang ke rumah ibunya keesokan siang dengan wajah panik.

Ia tidak datang sendiri. Suaminya, Rizal, mengantar sampai depan pagar, tetapi tidak ikut masuk. Di jok belakang mobil, anak perempuan mereka tertidur dengan botol susu masih menempel di tangan.

"Mas, tunggu sebentar saja," kata Melati sambil membuka pintu mobil.

Rizal mengangguk. "Jangan lama-lama. Nanti aku harus buka toko."

Ratna melihat dari teras.

Melati berjalan cepat, sandal hak pendeknya berbunyi di lantai semen halaman. Usianya tiga puluh empat, sedang hamil anak kedua, wajahnya lebih bulat dari biasanya. Ia masih memakai seragam toko kecil mereka di dekat stadion kota.

"Ibu kenapa? Semalam Ibu cuma bilang penting. Aku sampai tidak bisa tidur."

Ratna membuka pintu lebih lebar. "Masuk dulu."

Melati masuk, tetapi tubuhnya tidak bisa diam. Ia duduk di ruang tengah, lalu berdiri lagi, lalu duduk. Matanya menangkap kotak besi di meja.

"Itu apa?"

Ratna tidak menjawab langsung. Ia mengambil map, lalu menyerahkannya kepada Melati.

"Baca."

Melati membuka map dengan cepat.

Pada foto pertama, dahinya berkerut.

"Ini Bapak waktu muda?"

Ratna mengangguk.

"Yang perempuan ini siapa?"

"Sari Handayani."

Melati masih bingung beberapa detik. Lalu wajahnya berubah.

"Sari yang dulu itu?"

Ratna tidak heran Melati tahu. Nama Sari pernah beberapa kali terdengar dalam keluarga, biasanya sebagai cerita masa muda Bambang. Cinta pertama yang tidak jadi. Cerita seperti itu dulu terdengar ringan, bahkan kadang jadi bahan candaan saat Lebaran.

Melati melihat foto berikutnya, struk restoran, bukti transfer, lalu kuitansi kavling makam.

Tangannya berhenti di lembar terakhir.

"Kavling makam?"

Suaranya mengecil.

"Iya."

"Atas nama Bapak dan Sari?"

"Iya."

Melati menatap ibunya. "Ini salah paham, kan?"

Ratna duduk di seberangnya. "Kamu pikir salah pahamnya di bagian mana?"

Melati membuka mulut, lalu menutupnya.

Ia membaca ulang bukti itu dengan wajah semakin pucat. Setelah beberapa menit, ia meletakkan semuanya di meja.

"Bapak tahu Ibu sudah tahu?"

"Tahu."

"Dia bilang apa?"

"Dia bilang Sari tidak punya siapa-siapa. Dia hanya membantu."

Melati memejamkan mata.

"Ya Allah..."

Ratna menunggu amarah keluar dari mulut anaknya. Ia membayangkan Melati akan memaki Bambang, menangis, lalu memeluknya. Melati memang sering keras kepala, tetapi ia anak perempuan satu-satunya. Ratna pikir, setidaknya sesama perempuan, Melati akan mengerti perasaan ibunya.

Melati justru berkata pelan, "Bu, jangan gegabah."

Ratna menatapnya.

"Apa maksudmu?"

Melati menelan ludah. "Maksudku... ini memang salah. Bapak salah. Tapi Ibu jangan langsung berpikir macam-macam. Jangan langsung minta cerai atau bikin ribut."

Kata cerai belum keluar dari mulut Ratna.

Tetapi Melati sudah lebih dulu takut.

"Kenapa?" tanya Ratna.

Melati mengusap perutnya. "Ibu sudah enam puluh. Kalau Ibu cerai, Ibu mau tinggal di mana? Di klinik terus? Rumah ini atas nama siapa? Tanahnya bagaimana? Nanti kalau Bapak keras kepala, urusannya panjang. Sidang di Pengadilan Agama tidak sebentar, Bu."

Ratna diam.

Melati melanjutkan cepat, seolah takut ibunya salah paham.

"Aku bukan membela Bapak. Sungguh bukan. Tapi kita harus realistis. Ibu pikir hidup sendiri di usia begini gampang? Dimas punya keluarga. Raka sering keluar kota. Aku juga punya rumah tangga sendiri. Aku sedang hamil. Kalau Ibu tinggal bersamaku, rumah kecil. Mertuaku juga sering datang."

Ratna menatap wajah anaknya.

Setiap kalimat Melati seperti jarum. Tidak menusuk dalam sekali, tetapi banyak. Bertubi-tubi.

"Jadi menurutmu aku harus diam?" tanya Ratna.

"Bukan diam. Tapi pikirkan baik-baik."

"Aku sudah tiga puluh tujuh tahun berpikir baik-baik."

Melati menggigit bibir. "Bu, aku tahu Ibu sakit hati. Aku juga marah. Tapi Bapak tetap Bapak. Kalau Ibu bongkar ini ke semua orang, keluarga kita malu. Tetangga pasti ramai. Grup WA RT itu mulutnya lebih cepat dari toa masjid."

Ratna hampir tersenyum pahit.

Malu.

Lagi-lagi malu.

Bambang takut malu. Melati takut malu. Semua orang takut malu.

Tidak ada yang bertanya Ratna menanggung malu macam apa ketika tahu suaminya menyiapkan makam dengan perempuan lain.

"Melati," kata Ratna pelan, "kamu lihat ini."

Ia menunjuk kuitansi makam.

"Bapakmu ingin dikubur di samping Sari. Bukan di samping aku."

Mata Melati memerah. "Aku tahu."

"Tidak. Kamu belum tahu. Kamu hanya membaca kertasnya. Aku yang tidur satu ranjang dengannya puluhan tahun. Aku yang mencuci bajunya. Aku yang merawatnya waktu dia operasi. Aku yang membesarkan kalian saat dia sibuk dengan urusan sendiri. Lalu di akhir hidupnya, tempat di sampingnya sudah dia berikan ke perempuan lain."

Melati menunduk.

Ratna bertanya, "Kalau Rizal melakukan itu padamu, apa kamu akan diam?"

Melati langsung mengangkat wajah. "Mas Rizal tidak mungkin."

"Aku dulu juga berpikir begitu tentang bapakmu."

Melati terdiam.

Dari luar, terdengar klakson pendek. Rizal mungkin memberi tanda.

Melati menoleh ke jendela, lalu kembali menatap ibunya.

"Bu, setidaknya jangan sekarang. Jangan waktu aku sedang hamil. Aku tidak kuat kalau keluarga ribut. Mertuaku pasti banyak tanya. Nanti mereka pikir keluargaku berantakan."

Ratna menatap perut Melati.

Seumur hidup, setiap kali anak-anak berkata tidak kuat, Ratna yang menguatkan diri. Saat Dimas butuh biaya kuliah, Ratna membuka praktik sampai malam. Saat Raka menikah, Ratna menjual gelang pemberian ibunya. Saat Melati melahirkan anak pertama, Ratna bolak-balik dari kampung ke kota untuk membantu meski lututnya sudah sering nyeri.

Sekarang pun, yang pertama dipikirkan Melati adalah dirinya sendiri.

Ratna tidak marah. Belum.

Ia hanya merasa lelah.

"Aku memanggilmu karena kamu anakku," kata Ratna. "Bukan karena aku meminta izin."

Melati tersentak. "Ibu..."

"Dimas dan Raka juga harus tahu."

"Jangan!" Melati hampir berdiri. "Kalau Mas Raka tahu, dia pasti meledak. Dia paling keras. Nanti Bapak dihajar. Nanti urusan makin besar."

"Urusan ini memang besar."

"Tapi bisa diselesaikan pelan-pelan."

"Sari menunggu pelan-pelan selama sepuluh tahun. Bapakmu membohongiku pelan-pelan selama sepuluh tahun. Aku tidak mau mati pelan-pelan juga."

Melati menutup mulutnya.

Untuk sesaat, ia tampak seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat ibunya bukan sebagai ibu. Melainkan sebagai perempuan.

Perempuan yang bisa terluka.

Perempuan yang bisa muak.

Perempuan yang bisa pergi.

Melati duduk kembali. Suaranya lebih rendah.

"Ibu mau apa?"

Ratna menjawab jujur, "Aku belum tahu."

"Kalau Bapak minta maaf?"

"Aku belum tahu."

"Kalau Bapak janji meninggalkan Sari?"

Ratna menatap kotak besi.

"Aku juga belum tahu."

Melati menghela napas panjang. "Bu, orang seusia Ibu... maaf, maksudku, kalau cerai, nanti orang bilang apa? Mereka pasti bilang Ibu tidak sabar. Mereka pasti bilang sudah tua masih cemburu. Mereka pasti bilang laki-laki memang begitu, yang penting pulang."

Ratna bertanya, "Dan kamu akan bilang apa?"

Melati tidak langsung menjawab.

Diamnya lebih jujur daripada kata-kata.

Ratna mengangguk pelan.

"Baik."

"Bu, bukan begitu..."

"Tidak apa-apa. Aku sudah dengar cukup."

Melati menangis. Air matanya jatuh, mungkin karena sedih, mungkin karena takut. Ia meraih tangan Ratna.

"Aku sayang Ibu. Aku cuma tidak mau Ibu susah."

Ratna membiarkan tangannya digenggam.

"Aku juga sayang kamu. Tapi sayang tidak boleh selalu berarti aku yang menelan semuanya."

Klakson di luar berbunyi lagi.

Melati menghapus air mata cepat-cepat. "Aku harus pulang. Nanti aku telepon Mas Dimas dulu. Jangan Ibu yang bicara. Biar aku pelan-pelan."

"Tidak perlu."

"Bu..."

"Aku akan bicara sendiri."

Melati menatap ibunya dengan panik.

Ratna berdiri, merapikan map, lalu memasukkannya kembali ke tas.

"Kamu pulanglah. Jaga kandunganmu."

"Ibu jangan lakukan apa-apa sebelum aku telepon lagi."

Ratna tidak menjawab.

Melati keluar dengan langkah berat. Di depan pagar, ia sempat menoleh. Ratna berdiri di ambang pintu, wajahnya tenang. Terlalu tenang sampai Melati merasa lebih takut.

Setelah mobil Rizal pergi, Ratna mengambil ponsel.

Ia membuka kontak Dimas.

Jarinya sempat berhenti.

Lalu ia menekan tombol panggil.

Ketika suara anak sulungnya terdengar, Ratna berkata, "Dimas, pulanglah sore ini. Ada yang harus Ibu tunjukkan."

Di ujung telepon, Dimas tertawa canggung.

"Ada apa, Bu? Serius sekali."

Ratna menatap kotak besi di meja.

"Tentang bapakmu."

Terpopuler

Comments

💞🖤Icha

💞🖤Icha

Seharusnya jgn tau dl anak"...liat bgimn respon suami...dari kebohongannya..

2026-07-20

0

Sunti Sumiwati

Sunti Sumiwati

setiap bab hrs instal ?

2026-07-17

0

Sunti Sumiwati

Sunti Sumiwati

kalau aku dukung Ibu dr. Ratna

2026-07-17

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!