Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.
Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.
Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"
Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.
Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....
Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16. Tuduhan di Atas Lumpur
..."Fitnah tumbuh di tempat gelap, maka kami buka semua pintu, dan biarkan semua orang melihat dengan mata mereka sendiri."...
Fajar hari ke 21 datang dengan bau asap dapur yang untuk pertama kalinya dalam tiga hari terasa seperti harapan, karena dua gerobak beras yang dibawa Jing yue dari kota kabupaten semalam akhirnya bisa dibongkar dan dimasak oleh para murid Emei yang sejak subuh sudah menyalakan tungku besar di atas bukit dan mengantrekan warga Desa Qinghe dengan mangkuk tanah liat di tangan.
Anak-anak yang kemarin masih menangis karena lapar kini duduk melingkar sambil meniup bubur panas, para ibu mengusap kepala mereka dengan mata basah, dan para lelaki tua yang biasanya keras kepala kini menunduk memberi hormat kepada Jing yue setiap kali dia lewat membawa karung, seakan baru sadar bahwa sekte yang selama ini mereka anggap lemah ternyata mau kotor tangannya demi orang lain.
Jing yue sendiri tidak makan banyak, dia hanya meneguk semangkuk air beras dan terus berjalan dari satu tenda ke tenda lain untuk memastikan tidak ada yang demam, tidak ada luka yang bernanah, dan tidak ada anak yang ditinggal sendirian, karena setelah kehilangan gudang semalam dia bersumpah tidak akan membiarkan satu orang pun terlewat lagi.
Sekitar tengah hari, ketika matahari akhirnya berhasil menembus awan dan mengeringkan sedikit lumpur di tanah, terdengar suara lonceng kuda dan teriakan dari arah jalan setapak, dan semua orang menoleh ke bawah bukit di mana terlihat rombongan sepuluh orang berseragam pengadilan daerah datang bersama tiga gerobak berisi beras, minyak, dan obat-obatan yang jelas-jelas adalah bantuan resmi dari pemerintah.
Warga langsung bersorak, beberapa bahkan berlutut di lumpur, karena mereka mengira bantuan itu datang karena doa mereka didengar, tetapi sorakan itu berhenti mendadak ketika di belakang rombongan pengadilan muncul lima orang berjubah abu-abu dengan lambang pedang melintang di dada, dan lambang itu milik Sekte Pedang Langit dari Gunung Yandang, sekte yang selama ini bersaing dengan Emei untuk mendapat pengaruh di wilayah selatan.
Pemimpin rombongan itu adalah seorang pria berusia empat puluh tahun bernama Lei Feng, wakil ketua Sekte Pedang Langit, dan dia tidak turun dari kudanya, dia hanya duduk di atas pelana sambil menatap perkemahan Emei dengan senyum yang tidak sampai ke matanya, lalu dengan suara lantang dia berkata "kami datang untuk mengawasi pembagian bantuan agar tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab".
Kata-kata "tidak bertanggung jawab" itu diucapkan sambil matanya menatap lurus ke arah Jing yue, dan seketika itu juga suasana yang tadinya hangat berubah menjadi dingin, karena semua orang tahu bahwa di dunia persilatan, tuduhan seperti itu jarang diucapkan tanpa maksud.
Petugas dari pengadilan, seorang pejabat gemuk bernama Tuan Zhou, turun dan menyerahkan daftar bantuan kepada Tetua Pertama Emei, lalu dia berbisik "sebenarnya bantuan ini sudah disetujui sejak seminggu lalu, tetapi baru bisa dikirim sekarang karena jalan tertutup", dan dia juga berbisik "Lei Feng yang memaksa ikut dengan alasan ingin memastikan bantuan sampai ke tangan rakyat".
Jing yue maju, memberi hormat dengan sopan, dan berkata "Emei menyambut bantuan itu dengan terima kasih, dan bahwa semua beras akan dicatat dan dibagikan di depan umum agar tidak ada fitnah", tetapi Lei Feng malah tertawa dan berkata "pencatatan di atas kertas tidak ada artinya kalau di lapangan beras itu masuk ke perut murid Emei terlebih dahulu sebelum ke mulut rakyat".
Tuduhan itu jatuh seperti batu ke tengah danau, membuat semua murid Emei mengepalkan tangan dan beberapa warga yang sudah makan bubur Emei pagi tadi langsung berdiri untuk membela, namun Jing yue mengangkat tangannya agar tidak ada yang bicara, karena dia tahu kalau perkelahian pecah di depan pejabat maka nama Emei akan hancur lebih cepat daripada banjir.
"Baik," kata Jingyue dengan suara yang tenang meskipun di dalam dadanya jantungnya berdegup kencang, "kalau Tuan Lei Feng tidak percaya, maka mulai hari ini pembagian bantuan akan diawasi langsung oleh utusan dari pengadilan dan oleh Tuan Lei Feng sendiri, dan setiap karung yang keluar akan ditimbang di depan semua orang."
Lei Feng menyipitkan mata, jelas tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu, lalu dia turun dari kuda dan berkata "saya akan tinggal di perkemahan selama tiga hari untuk melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Emei bekerja, dan kalau saya menemukan satu butir beras pun yang diselewengkan maka saya akan melaporkan langsung ke ibu kota bahwa Emei tidak layak lagi disebut sekte resmi".
Malam itu rapat darurat diadakan di tenda utama, dan Tetua Kedua sangat marah, dia berkata "ini jelas-jelas usaha Pedang Langit untuk menjatuhkan Emei di depan pemerintah, karena dua bulan lalu Emei menolak permintaan Pedang Langit untuk bekerja sama menguasai jalur perdagangan sungai".
Tetua Ketiga khawatir bahwa dengan adanya pengawasan ketat maka pekerjaan mereka akan terhambat, karena setiap kali ingin menolong orang harus menunggu cap dan tanda tangan, sementara orang di bawah terus kelaparan.
Jing yue mendengarkan semua itu sambil menulis di bukunya, lalu dia menutup bukunya dan berkata "kita tidak akan melawan dengan kemarahan, kita akan melawan dengan keterbukaan, mulai besok semua dapur, semua gudang sementara, semua catatan akan dibuka, dan siapa pun boleh datang melihat".
"Tuduhan hanya bisa hidup di tempat gelap," katanya, "jadi kita nyalakan semua lampu."
Keesokan harinya, benar saja, Lei Feng datang sejak ayam berkokok, membawa dua muridnya dan duduk di dekat dapur sambil mencatat setiap mangkuk yang keluar, dan setiap kali ada warga yang mengambil dua kali dia langsung menegur dengan suara keras seakan ingin menunjukkan bahwa dia lebih peduli daripada Emei.
Jing yue tidak membantah, dia hanya menyuruh muridnya membuat papan besar di tengah perkemahan dan menulis di sana jumlah beras masuk, jumlah beras keluar, jumlah orang yang makan, dan sisa, lalu papan itu diperbarui tiga kali sehari di depan semua orang.
Hari pertama berjalan tegang, hari kedua mulai ada warga yang berani bercanda dengan murid Pedang Langit, dan di hari ketiga, ketika hujan turun lagi dan jalan ke desa tetangga putus, tiba-tiba datang seorang utusan dari desa itu dengan wajah pucat membawa berita bahwa ada dua puluh orang terjebak di atap sekolah dan tidak ada perahu yang bisa menjangkau.
Lei Feng langsung berkata "itu bukan urusan kami karena bantuan hanya untuk Desa Qinghe...", tetapi sebelum dia selesai bicara Jing yue sudah memerintahkan lima murid terbaik dan dua perahu untuk berangkat, dan dia sendiri ikut maju meskipun Tetua melarang karena arus terlalu berbahaya.
Mereka bertarung dengan arus selama dua jam, beberapa kali perahu hampir terbalik, dan ketika akhirnya mereka sampai di sekolah itu mereka menemukan dua puluh orang, termasuk sepuluh anak, menggigil di atas genteng, dan proses evakuasi memakan waktu sampai senja.
Ketika mereka kembali ke perkemahan dengan tubuh basah kuyup dan dua puluh orang selamat di belakang, semua warga bertepuk tangan, bahkan beberapa murid Pedang Langit ikut membantu menurunkan orang tua, dan Lei Feng berdiri di pinggir dengan wajah yang tidak bisa ditebak.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Lei Feng datang ke tenda Jing yue tanpa pengawal, dia duduk, menerima secangkir teh, dan setelah lama diam dia berkata "saya sudah melihat semuanya, bahwa tidak ada beras yang hilang, tidak ada murid Emei yang makan lebih dulu, dan bahwa cara Emei bekerja membuat saya malu".
Jing yue tidak menyela, dia hanya mendengarkan, dan Lei Feng melanjutkan bahwa dua bulan lalu dia membenci Emei karena Emei menolak kerja sama, tetapi sekarang dia mengerti bahwa Emei menolak bukan karena sombong, melainkan karena Emei tidak mau rakyat dijadikan alat tawar.
"Besok saya pulang," kata Lei Feng, "dan saya akan menulis laporan ke pengadilan bahwa Emei adalah satu-satunya sekte yang benar-benar turun ke lumpur, bukan hanya bicara di atas kertas."
Jing yue mengangguk dan berterima kasih, lalu dia menawarkan Lei Feng untuk membawa beberapa karung beras tambahan ke desa tetangga, dan tawaran itu membuat Lei Feng terdiam lama sebelum akhirnya dia menerima dengan satu syarat, bahwa nama Emei juga harus ditulis di karung itu.
Tiga hari kemudian, ketika rombongan Pedang Langit pergi, mereka tidak lagi membawa wajah sinis, dan warga Qinghe mengantar mereka sampai ke ujung jalan sambil melempar bunga liar, dan di papan besar di tengah perkemahan tertulis dengan tinta besar: "Hari ini tidak ada yang lapar."
Malamnya Jing yue duduk di dekat api bersama Bai Ling dan anak kecil yang sudah mulai memanggilnya "kakak", dan dia menulis di bukunya bahwa hari ini dia belajar bahwa musuh paling berbahaya bukan orang yang menyerang dengan pedang, melainkan orang yang menyerang dengan kata-kata, dan cara mengalahkannya bukan dengan berteriak balik, melainkan dengan membuka semua pintu.
Dia juga menulis bahwa hari ini dia hampir kehilangan kesabaran, tetapi dia ingat ajaran Shaolin tentang tanah, bahwa tanah tidak pernah membalas ketika diinjak, dia hanya diam dan terus menumbuhkan.
Sebelum tidur, Tetua Pertama datang dan berkata bahwa laporan dari kota sudah sampai, bahwa pejabat Tuan Zhou memuji kerja Emei, dan bahwa kemungkinan besar istana akan menambah bantuan lagi bulan depan.
Jing yue hanya tersenyum lelah, lalu menatap ke arah sungai yang kini sudah sedikit surut, dan dia berbisik bahwa air boleh naik, tuduhan boleh datang, tapi selama masih ada orang yang mau percaya pada kebenaran yang dikerjakan, maka Emei akan tetap berdiri.
Di kejauhan terdengar lolongan anjing, pertanda malam aman, dan di dalam tenda lilin padam terakhir, meninggalkan gelap yang hangat karena di dalamnya ada napas orang-orang yang akhirnya bisa tidur tanpa takut.