"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."
Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.
Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.
Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.
Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 Benteng Pembelaan
Keheningan malam di penthouse itu mendadak berubah menjadi sesuatu yang kaku dan mencekam.
Kata-kata Julian baru saja jatuh ke tengah ruangan seperti vonis yang tak menyisakan ruang untuk bernapas.
Drop out permanen.
Liora tenggelam dalam keheningan yang pekat di atas sofa kulit, seolah waktu lumpuh seketika. Jemarinya mendekap cangkir teh teramat erat, mengalirkan gemetar riuh yang tak mampu ia sembunyikan. Di dalam cangkir porselen itu, air hangat beriak gelisah, meratap lirih sebelum akhirnya meluap tenang, membasahi ibu jarinya bagai air mata yang jatuh dalam diam.
Namun, panas telah kehilangan kuasanya. Yang tersisa hanyalah hampa yang menggigil. Dingin itu merayap halus dari jemari, meniti urat nadi, hingga akhirnya mengunci seluruh raganya dalam beku yang pekat.
Selama ini, ia telah menghabiskan begitu banyak malam dengan mata sembap karena kurang tidur, membedah jurnal akademis hingga dini hari, mengejar tenggat tugas, dan menahan rindu pada ibunya di kampung halaman. Semua pengorbanan itu ia jalani demi satu impian sederhana: menyelesaikan pendidikan dengan sebaik mungkin dan membuat ibunya bangga.
Kini, seluruh perjuangan itu seolah hendak direnggut dalam satu malam.
Bukan karena kegagalannya.
Bukan karena kesalahan akademis.
Melainkan karena sebuah skandal politik korporasi yang bahkan tidak pernah ia kehendaki.
"Drop out?" Suara Ravian terdengar sangat rendah.
Tidak ada kepanikan di sana. Tidak pula ada ledakan amarah. Sebaliknya, ketenangan pria itu terasa jauh lebih mengerikan.
Wajah sang CEO berubah menjadi begitu tenang hingga menyisakan kesan dingin yang menusuk. Sepasang manik sewarna tanah basah miliknya mengeras sementara rahangnya mengatup rapat.
Ravian bangkit dari tempatnya dan berjalan mendekati Julian. Tanpa berkata apa-apa, ia mengambil map merah dari tangan sahabatnya.
Lembar demi lembar surat keputusan sementara dari Senat dan Rektorat Universitas Jagatara ia baca dengan saksama. Matanya bergerak cepat, setiap gerakannya menyimpan ketelitian seseorang yang sedang mencari celah untuk membalikkan keadaan.
"Dekan dan Rektor mengambil keputusan ini di bawah tekanan publik, Ravian," jelas Julian sembari membetulkan posisi kacamatanya. "Elara Arabelle menggunakan jaringan media milik ibunya untuk memanaskan isu tentang 'favoritisme akademis dan tindakan asusila di lingkungan kampus'. Bagi Senat, mengorbankan satu mahasiswi magang adalah jalan tercepat untuk menyelamatkan nama institusi dari cercaan publik."
"Mengorbankan?" Ravian terkekeh.
Bukan tawa yang mengandung humor. Hanya suara pendek dan getir yang justru membuat suasana ruangan semakin menyesakkan.
Jari-jarinya meremas tepi map itu hingga kertas di dalamnya ikut melengkung.
"Senat universitas berpikir mereka bisa menjadikan mahasiswi terbaik saya sebagai kambing hitam hanya karena mereka takut menghadapi media?"
Liora mencoba menelan sekat yang mendadak mengganjal di tenggorokannya.
"Pak Ravian..." suaranya nyaris tak terdengar.
"Kalau memang pimpinan universitas meminta saya mundur..." ia menarik napas yang terasa berat. "Mungkin lebih baik saya menerima keputusan itu daripada nama baik Bapak dan Evander Corp semakin hancur karena saya."
"Tutup mulutmu, Liora," titah itu memotong udara dengan tegas. Anehnya, tak ada kemarahan yang tertinggal di sana.
Ravian berbalik. Sepasang manik kelamnya langsung berlabuh pada netra Liora yang mulai digenangi air mata.
"Kamu tidak akan mundur satu langkah pun," ia menjeda sejenak, memastikan gadis itu benar-benar memahami setiap kata yang keluar dari bibirnya.
"Dan kamu tidak akan melepaskan statusmu sebagai mahasiswa."
Map merah itu kemudian dilemparkannya ke atas meja kaca.
Brak.
Suara benturannya menggema di ruang tamu yang sunyi.
Ravian kembali menatap Julian. "Julian, siapkan dua hal untuk besok pagi."
Diturunkannya kembali lengan kemeja putih yang sempat terlipat, mengancingkan mansetnya satu per satu. Gerakannya mengalir tenang, seolah-olah yang sedang ia persiapkan bukanlah perang hukum, melainkan agenda rapat biasa.
"Pertama, terbitkan gugatan hukum resmi atas nama pribadi saya terhadap Rektorat dan Dekan Fakultas Ekonomi atas dugaan penjatuhan sanksi sepihak tanpa melalui proses klarifikasi komite etik yang sah."
Julian mengangguk cepat. "Diterima. Lalu yang kedua?"
"Kedua, hubungi jajaran Dewan Yayasan Kampus Jagatara," senyum tipis muncul di sudut bibir Ravian. Senyum yang sama sekali tidak menunjukkan kehangatan.
"Dan ingatkan mereka siapa penyokong dana hibah terbesar untuk pembangunan gedung riset baru dan laboratorium digital mereka tahun ini."
Julian terdiam sesaat. Ia sudah memahami ke mana arah pembicaraan itu.
"Jika nama Liora Valeska Arwen sampai dicoret dari daftar mahasiswa aktif sebelum sidang komite etik resmi digelar..." Ravian menyandarkan tubuhnya sedikit ke belakang. "Seluruh dana kemitraan dan fasilitas dari Evander Corp untuk kampus itu saya tarik. Detik itu juga."
Hening.
Julian tersenyum kecil.
Ia mengenal pria di hadapannya terlalu baik untuk tidak memahami arti kalimat tersebut.
"Langkah yang berani."
"Dan saya rasa itu akan membuat pihak Rektorat berpikir ribuan kali sebelum menyentuh status Liora."
Liora hanya mampu menatap Ravian dengan mata cokelat yang membulat lebar.
"Bapak... mau mengancam yayasan kampus demi saya?"
Ravian menoleh. Tanpa tergesa, ia berjalan mendekati sofa.
"Saya tidak sedang mengancam, Little Miss Arwen," suaranya kali ini jauh lebih lembut.
Pria itu berhenti tepat di hadapan Liora, lalu berlutut hingga pandangan mereka berada pada ketinggian yang sama.
"Saya hanya sedang menegakkan aturan permainan yang adil," tangannya terangkat, menyentuh jemari Liora yang masih dingin.
"Mereka menggunakan kekuasaan untuk memojokkanmu," netra Ravian mengunci mata gadis itu. "Jadi, saya akan menggunakan seluruh kekuatan yang saya miliki untuk membentengimu."
Sesuatu yang tak kasat mata menyumbat tenggorokan Liora.
Tatapan hangat pria itu lumat-lumat meruntuhkan seluruh keangkuhan dinding pertahanannya. Di sisa malam ini, ia menyadari sepi tak lagi memeluknya sendirian.
Julian mengembuskan napas pelan, beralih merapikan jasnya.
"Saya kembali ke kantor malam ini untuk menyelesaikan draf gugatan dan menghubungi pihak yayasan," sudut matanya bergulir, berlabuh pada Liora.
"Kamu beristirahatlah, Ravian. Liora aman di sini."
Tak lama setelahnya, suara pintu utama terdengar tertutup.
Klik.
Kunci otomatis berbunyi dan Julian pergi.
Sunyi kembali mendekap seisi penthouse. Hanya bisik samar kota di balik jendela kaca yang setia menemani larut.
Langkah Ravian menuntunnya kembali pada Liora.
Diraihnya tangan gadis itu yang masih menyimpan beku, lalu dikurungnya dalam kehangatan sepasang telapak tangannya.
"Malam ini, tidurlah di kamar utama," suaranya melunak, nyaris seperti bisikan.
Ibu jarinya menari perlahan, menyeka sisa air mata yang masih menggantung di pipi Liora.
"Kamu aman," Ravian menenggelamkan tatapannya ke dalam netra gadis itu. "Jangan pikirkan apa pun lagi."
Liora membalas tatap pria di hadapannya.
Sang penguasa korporasi.
Sang pendidik.
Pria dengan begitu banyak mahkota yang bisa saja tanggal dari kepalanya.
Malam ini, seluruh kemegahan reputasi, takhta finansial, hingga relasi kuasa di menara gading akademisi rela ia pertaruhkan. Semua demi satu hal: memastikan Liora tidak lumat dihantam ketidakadilan yang tak pernah ia perbuat.
Rasa haru perlahan membanjiri rongga dada Liora. Mengalirkan hangat. Begitu hangat hingga mampu mengikis jalinan ketakutan yang sejak tadi membelenggunya.
Tepat ketika rasa aman itu mulai memeluknya...
Bzzzt.
Suara getaran ponsel terdengar dari dalam tasnya.
Liora menoleh. Ponsel pribadinya menyala di sana. Sebuah pesan masuk dari nomor asing. Nomor yang tidak tersimpan di kontaknya.
Jantung Liora berdegup liar, memburu dalam rongga dadanya.
Ia meraih benda pipih itu. Telapak tangannya yang semula hangat, kini kembali dirampas oleh dingin yang mencekam.
Hanya ada satu pesan.
Tidak ada nama pengirim.
Tidak ada foto profil.
Hanya barisan kalimat yang mampu menguapkan seluruh kehangatan di dadanya tanpa sisa.
"Kamu pikir Ravian bisa melindungimu dari yayasan? Besok pagi, ibu kandungmu di kampung halaman akan menerima salinan video CCTV itu. Kita lihat berapa lama ibumu sanggup menahan malu."
Semesta Liora mendadak beku. Darah seperti surut dari wajahnya, menyisakan pucat yang pasi.
Pegangannya melonggar hingga benda pipih itu nyaris terlepas dari genggamannya.
"Liora?" Ravian menyadari perubahan wajahnya.
Tak ada sahutan
Tubuhnya menjelma batu. Tangan yang sejak tadi digenggam Ravian mendadak menegang kaku.
Ancaman itu bukan lagi tentang dirinya.
Bukan tentang universitas.
Bukan pula tentang reputasi Evander Corp.
Mereka telah menemukan satu-satunya titik dalam hidup Liora yang tidak pernah ingin disentuh siapa pun.
Ibunya.
Orang yang selama ini menjadi alasan Liora bertahan dari segala kesulitan.
Orang yang rela mengorbankan begitu banyak hal agar putrinya bisa mengejar pendidikan.
Dan sekarang, seseorang sedang mengarahkan pisau tepat ke sana.
Ke tempat yang paling rapuh.
Ke satu-satunya benteng yang bahkan tidak mampu Liora lindungi dengan kekuatannya sendiri.
Malam itu, tatapan Liora kehilangan seluruh keberaniannya. Ia menatap layar ponsel dengan napas tersendat. Perlahan, ia mengangkat wajah kepada Ravian, menyiratkan ketakutan yang jauh lebih dalam daripada sebelumnya.
Sebab ia baru menyadari satu hal.
Musuh mereka tidak berniat menghancurkannya.
Mereka berniat menghancurkan alasan Liora untuk tetap berdiri.