Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Mewah dan Motor Bebek
Malam beranjak makin pekat ketika sebuah motor bebek tua melaju pelan membelah jalanan komplek perumahan kelas atas. Suara mesinnya yang agak kasar terdengar kontras dengan kesunyian lingkungan yang dipenuhi rumah-rumah berarsitektur megah.
Arka menghentikan motor bebek itu tepat di depan pintu gerbang besi tempa yang menjulang tinggi. Di belakangnya, Maya turun dari boncengan, merapikan gaun putihnya yang sempat tertiup angin malam sepanjang perjalanan dari kantor notaris.
"Ini rumah orang tuaku," kata Maya sambil memutar kunci pada gembok gerbang utama. Suaranya terdengar letih, namun ada kehangatan yang terpancar dari matanya saat menatap bangunan tua bergaya kolonial di balik halaman rumput yang luas. "Sejak ayah dan ibuku meninggal dua tahun lalu, praktis cuma aku yang tinggal di sini. Beberapa asisten rumah tangga sudah dirumahkan karena Paman Gunawan membekukan seluruh dana operasional keluarga."
Arka mendorong motor bebeknya masuk ke dalam halaman, memarkirnya di samping selasar yang ternaungi atap ukiran kayu. Ia melepas helm retaknya, membiarkan rambut hitam tebalnya tertiup angin. Matanya menyapu sekeliling halaman dengan cermat. Meskipun tampak sedikit tidak terawat karena kekurangan tenaga kerja, struktur bangunan rumah ini sangat kokoh dan memancarkan kemewahan klasik yang otentik.
"Rumah yang indah," puji Arka tulus sambil mengambil koper kain tua milik Maya yang sempat ia bawakan dari dalam taksi tadi sore.
Maya tersenyum tipis, sebuah senyuman kecil yang sarat akan beban di pundaknya. Ia menuntun Arka melangkah masuk melewati pintu kayu jati berukir yang tebal. Suasana bagian dalam rumah terasa begitu luas dan sepi. Lampu gantung kristal di ruang tamu menyala redup, memancarkan cahaya kekuningan di atas lantai marmer yang mengkilap.
"Ini kamar kamu," ujar Maya sambil membukakan pintu sebuah kamar tamu yang terletak di lantai bawah, tidak jauh dari area ruang tengah. "Kamar ini cukup luas dan punya kamar mandi dalam. Pakaian kotor atau kebutuhan harianmu bisa kamu letakkan di lemari itu."
Arka melangkah masuk ke dalam kamar tersebut. Sebagai seorang pria yang terbiasa tidur di penthouse mewah serba otomatis di pusat kota, kamar tamu ini sangat sederhana baginya. Namun, kebersihan tempat tidur bertirai putih dan aroma wangi bunga melati yang menguar dari sudut ruangan membuat tempat ini terasa sangat nyaman.
"Terima kasih, Maya," ucap Arka seraya meletakkan kopernya di samping lemari kayu.
Maya menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu, menyilangkan kedua tangannya di dada. Wajah cantiknya kembali dinaungi rasa cemas yang mendalam saat memikirkan hari-hari yang akan datang.
"Arka," panggil Maya pelan. "Uang lima ratus juta di cek yang aku berikan tadi siang... itu adalah sisa tabungan pribadi terakhirku yang bisa aku cairkan tanpa sepengetahuan Paman Gunawan. Aku janji, uang itu sepenuhnya hak kamu atas bantuanmu hari ini."
Arka berbalik, menatap Maya yang berdiri di ambang pintu. "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan uang itu. Tabunganmu harusnya kamu pakai untuk kebutuhanmu sendiri."
"Tidak," potong Maya tegas. "Aku memegang prinsip bisnis. Kamu sudah mempertaruhkan nama baikmu dan membiarkan dirimu dihina oleh keluarga Gunawan demi membantuku menyerahkan Buku Nikah tepat waktu. Kamu berhak atas imbalan itu."
Maya menghela napas panjang, merapikan helai rambut yang jatuh di pipinya. "Tapi aku harus memperingatkanmu. Paman Gunawan tidak akan tinggal diam setelah kekalahannya sore ini di kantor notaris. Minggu depan adalah Rapat Umum Pemegang Saham sekaligus acara makan malam tahunan Wibowo Group. Paman pasti akan memakai kesempatan itu untuk menyudutkanku dan menjatuhkan mental kita di depan seluruh investor."
Arka menyandarkan punggungnya di sudut meja kayu, mengamati ekspresi khawatir di wajah istrinya. "Kenapa kamu begitu yakin dia akan menyerang kita di acara itu?"
"Karena di mata mereka, kamu hanyalah seorang buruh harian lepas yang gajinya seratus lima puluh ribu rupiah sehari," jawab Maya penuh penyesalan. "Paman Gunawan dan Rian sengaja ingin memamerkan perbedaan status sosial kita di depan media dan mitra bisnis. Mereka mau membuktikan kalau aku sudah membuat keputusan bodoh dengan menikahi pria biasa."
Maya menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa bersalah yang kembali menyeruak di dadanya. "Kalau kamu merasa keberatan atau takut dipermalukan di depan orang banyak, kamu boleh tidak ikut ke acara itu. Aku bisa pergi sendiri."
Arka menatap wanita di depannya dalam-dalam. Ada ketabahan yang luar biasa pada diri Maya, namun di balik itu semua, ia hanyalah seorang gadis muda yang berjuang sendirian melawan serigala-serigala berjas di dunia bisnis.
"Kenapa aku harus takut?" suara Arka terdengar sangat tenang, memecah kesunyian kamar. "Kita sudah menikah secara sah di mata hukum dan agama. Ke mana pun istriku pergi menghadapi musuhnya, aku akan selalu berdiri di sampingmu."
Maya mengangkat kepalanya, tersentak oleh nada bicara Arka yang begitu mantap. Tidak ada sedikit pun keraguan atau rasa minder dari pancaran mata pria berkaus oblong tersebut. Rasa hangat yang misterius kembali menjalar di dada Maya.
"Tapi di sana akan hadir banyak pengusaha sukses," gumam Maya pelan. "Bahkan kabar burung menyebutkan bahwa pimpinan tertinggi Nusantara Group konsorsium bisnis paling berpengaruh di negeri ini—juga diundang ke acara tersebut."
Arka menahan senyum tipis yang hampir terukir di sudut bibirnya saat mendengar nama perusahaannya sendiri disebut oleh Maya.
"Kalau begitu," kata Arka santai, "siapa tahu CEO Nusantara Group itu justru orang yang bijaksana dan berdiri di pihak kita?"
Maya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecele. "Kamu ini terlalu polos, Arka. Di dunia bisnis kelas atas, orang-orang seperti CEO Nusantara Group cuma peduli pada angka dan keuntungan. Mana mau dia peduli pada masalah internal keluarga seperti kita."
Maya melangkah mundur, siap kembali ke kamarnya di lantai atas. "Sudahlah, kamu istirahatlah. Besok pagi aku harus bangun cepat untuk menyiapkan berkas-berkas audit perusahaan."
"Selamat malam, Maya," jawab Arka lembut.
"Selamat malam, Arka."
Pintu kamar tamu tertutup pelan. Begitu langkah kaki Maya terdengar menaiki tangga menuju lantai dua, raut wajah santai pada diri Arka menghilang seketika.
Arka merogoh saku celana jeansnya, mengeluarkan sebuah ponsel genggam berwarna hitam polos berteknologi tinggi yang tidak dijual di pasaran umum. Ia membuka kunci layar, lalu mengetik sebuah pesan singkat dengan jemarinya yang panjang.
[Pak Wijaya. Siapkan akuisisi sepuluh persen saham Wibowo Group dari pasar sekunder sebelum acara makan malam minggu depan. Balikkan seluruh kepemilikan saham itu atas nama istri saya, Maya Wibowo. Lakukan secara senyap.]
Hanya dalam waktu tiga detik, balasan muncul di layarnya:
[Siap, Pak CEO. Perintah dilaksanakan segera.]
Arka mematikan layar ponselnya, melemparkannya ke atas kasur, lalu berjalan menuju jendela kamar yang mengarah ke halaman depan. Ia menatap bayangan pohon-pohon besar di bawah sinar bulan.
Di mata dunia, ia hanyalah seorang pria berkaus lusuh yang baru saja dibeli seharga lima ratus juta rupiah di tepi jalan. Namun malam ini, permainan baru saja dimulai. Paman Gunawan dan orang-orang yang telah menindas Maya tidak akan pernah menyangka panggung yang mereka siapkan minggu depan akan menjadi tempat kehancuran mereka sendiri.
itu.