Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cafe XX2
Pas baru duduk, Vina langsung berbicara dengan semangat. "Aku mau kentang goreng ah, kayaknya enak banget nih sudah lama ngga makan kentang."
"Iya ya... aku juga lagi kepengen banget nih, ikut deh," sahutku cepet sambil ngangguk setuju.
Belum lama kita ngobrol, pelayan datang deket meja kita sambil bawa buku pesanan. Tanpa nunggu lama, Bagus langsung buka suara. "Ini mas, pesennya kentang goreng tiga, burger tiga, terus kopi latte tiga ya. Itu semua buat kita bertiga."
"Siap, Pak. Ada lagi nggak?" tanya pelayan itu ramah.
"Udah cukup dulu deh, makasih mas," jawab Bagus.
Pelayan itu langsung nyatet pesanan kita, terus senyum pamit buat nganter ke dapur. Sambil nunggu makanan dateng, kita bertiga ngobrol seru banget, ketawa-ketiwi gak berhenti. Lama-lama rasa deg-degan tadi pelan-pelan ilang, ganti sama rasa nyaman. Yah, mungkin emang cuma kebetulan aja kafenya mirip, batin aku. Di sini suasananya hangat, gak dingin kayak dulu. Pasti aman kok.
Aku sampe bengong memikirkan hal itu, tanpa ku sadari sosok pria di depan ku dari tadi lagi menatapku sambil sesekali tersebyum sendiri. Pas aku sadar, aku langsung bertanya ketus.
"Apaan sih lu, Bagus? Senyum-senyum sendiri gitu."
Bagus cuma geleng dikit sambil senyum makin lebar. "Lu cantik, El."
Denger itu, Vina langsung protes sebelah. "Yaelah, gue juga cantik dong! Angel doang yang dipuji-puji nih."
Aku langsung senyum ke Vina, terus puji balik tulus. "Iyaaa Vin, kamu juga cantik banget tau!"
Vina langsung nyenggol pelan bahu Bagus sambil ketawa. "Nah, kayaknya ada yang suka sama Angel nih nih nih..."
Bagus cuma senyum-senyum malu, nggak bantah nggak ngaku juga. Aku jadi malu sendiri, langsung buru-buru mengalihkan pembicaraan sambil dorong piring mereka pelan.
"Udah ah, makan dulu tuh sebelum dingin. Buruan habisin!"
Mereka berdua cuma ketawa liat aku yang berusaha nutupin muka yang mulai merah. Kita pun makan bareng, suasananya asik banget, hangat, bener-bener lupa sama segala beban pikiran tadi.
Sambil kunyah kentang goreng itu pelan-pelan, aku diam-diam ngerasa sesuatu. Sebenernya aku tau, Bagus emang suka sama aku. Tatapannya, caranya perhatiin aku, cara dia senyum pas ngomong sama aku — semuanya udah keliatan jelas banget. Tapi entah kenapa, di lubuk hati yang paling dalem, ada rasa ragu yang nggak bisa kuabaikan.
Kayaknya dia tipe pria yang gampang banget deket sama cewek, gampang ngomong manis, gampang bikin cewek ngerasa spesial... terus ganti sasaran begitu bosan. Gitu deh kesanku. Kayaknya dia itu playboy yang jago banget mainin perasaan cewek tanpa dia sendiri sadari.
Kalau iya, aku nggak mau jatuh ke dalam permainan kayak gitu, batin aku. Aku udah cukup banyak hal yang harus dipikirin, aku nggak butuh hati yang harus aku jaga-jaga dari orang yang belum tentu serius.
Jadi pas dia liat aku lagi, aku cuma senyum tipis, nggak berlebihan, nggak kasih harapan yang nggak perlu. Terus aku pura-pura fokus ke makananku, biar dia juga paham kalau aku nggak gampang tergoda cuma karena kata-kata manis dan tatapan yang bikin deg-degan.
"Kok diem lagi sih El?" tanya Vina sambil nyender santai di kursi. "Lagi mikirin apa nih?"
"Enggak kok, cuma lagi mikir... kayaknya aku harus lebih hati-hati sama orang deh," jawabku pelan, sambil sesekali melirik Bagus yang lagi minum kopinya.
Bagus cuma senyum tipis, tapi matanya nunjukkan kalau dia nangkep maksud ucapanku itu. Entah dia ngerti atau pura-pura nggak ngerti, tapi setidaknya aku udah kasih sinyal. Aku nggak mau main-main soal perasaan. Siapa pun dia.
"Apaan sih?" tanya Vina bingung sambil berhenti mengunyah, matanya melirik ke arahku lalu ke Bagus. "Maksudnya hati-hati sama orang gimana? Ada yang bikin nggak nyaman ya?"
Bagus yang tadinya senyum-senyum, langsung ikut diam dan menatapku penasaran. "Iya El, kenapa tiba-tiba ngomong gitu? Ada yang salah dari aku ya?"
Aku buru-buru geleng-geleng kepala, berusaha biar nggak bikin mereka tersinggung. "Eh bukan gitu maksudnya... bukan kalian ya. Cuma... aku kan lagi banyak pikiran akhir-akhir ini. Jadi pengen bilang ke diri sendiri aja, harus lebih teliti kenal orang sebelum terlalu percaya gitu."
Vina mengangguk pelan sambil kembali makan kentangnya. "Oalah... kirain apa. Iya sih bener juga sih. Emang sekarang harus hati-hati sama orang, nggak semua yang kelihatan baik itu beneran baik."
Bagus cuma diam mendengarkan, tapi tatapannya masih tertuju padaku seolah mau bilang sesuatu tapi tertahan di tenggorokan. "Bener juga kata El. Dunia ini emang nggak sesederhana yang kelihatan," ucapnya pelan.
Aku cuma tersenyum tipis, berharap mereka nggak mengerti ucapanku tadi. Padahal sebenernya iya, itu buat dia. Aku cuma nggak mau bilang langsung aja.
Kentang gorengku sudah habis tak bersisa, tetapi burgernya sengaja tidak kumakan. Aku berniat membawanya pulang untuk Ibu di rumah. Setelah cukup lama kami duduk di kafe itu sambil berbincang, kami pun berdiri dan berfoto bertiga sebagai kenang-kenangan. Vina dan Bagus sudah membayar pesanan masing-masing dan keluar lebih dulu. Aku berada di urutan terakhir karena hendak meminta pelayan membungkus burgernya untuk dibawa pulang.
Setelah urusan pembungkusan selesai dan bungkusan itu sudah berada di tanganku, aku bersiap untuk berbalik badan. Namun belum sempat aku melangkah, tiba-tiba terdengar suara dehem berat tepat di sebelahku.
"ekhem...."
Suara pria itu terdengar begitu dekat, rendah, dan membuatku terpaku di tempat. Perlahan aku menoleh, dan saat mataku melihat sosok yang berdiri di sampingku, seluruh tubuhku terasa kaku seketika.
Benar saja, sosok yang berdiri di hadapanku itu tidak lain adalah pria yang dulu pernah kutemui, sosok yang penuh misteri, dingin, dan berkuasa. Ia berdiri tegak di sana, menatapku dengan tatapan yang sama seperti dulu, tajam dan seolah mampu membaca apa yang sedang kupikirkan. Jantungku seketika berdegup kencang, namun aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang. Aku memutuskan untuk mengabaikannya saja, berpura-pura tidak mengenalnya sama sekali.
Dengan wajah datar dan langkah yang sengaja kubuat biasa saja, aku berjalan melewatinya tanpa menoleh sedikit pun. Seolah-olah ia hanyalah orang asing yang tidak kukenal, bukan siapa-siapa bagiku. Aku terus melangkah menuju pintu keluar, tanganku mencengkeram erat bungkusan makanan itu, berusaha menyembunyikan betapa gugupnya diriku saat itu.
Namun sebelum aku sempat melangkah keluar, suaranya kembali terdengar dari belakangku, memanggil namaku dengan nada rendah yang berat dan jelas.
"Angela."
Langkah kakiku terhenti seketika. Bukan pertanyaan, bukan sapaan biasa. Ia memanggil namaku dengan pasti, seolah ia sudah mengetahuinya sejak lama.
Ia melangkah mendekat ke arahku, perlahan namun pasti. Setiap langkah kakinya terdengar berat di lantai kafe itu, seakan membuat udara di sekitar kami menjadi semakin berat. Aku hanya berdiri terpaku di tempat, tubuhku terasa kaku dan tak mampu bergerak sedikit pun. Rasa takut dan gugup menyelimuti seluruh tubuhku, hingga tanganku yang memegang bungkusan makanan itu mulai gemetar hebat. Kakinya terasa seperti tertanam di lantai, seolah ada kekuatan yang menahanku agar tidak bisa pergi dari sana.
Ia berhenti tepat di hadapanku, berdiri tegak dengan tubuh yang tinggi, menatapku lekat-lekat tanpa berkedip sedikit pun. Tatapannya begitu dalam, dingin, dan mengintimidasi, membuatku semakin menunduk tak berani menatap matanya. Napasku terasa tertahan di tenggorokan, aku sama sekali tidak tahu harus berkata apa atau harus melakukan apa di hadapannya.
Belum sempat pria itu mengucapkan sesuatu, terdengar suara panggilan Vina dari luar pintu kafe.
"El! Ayo buruan!"
Suara itu terdengar jelas dan tegas, memecah keheningan yang mencekam di antara kami. Beruntunglah panggilan itu terdengar tepat pada waktunya. Seketika itu juga, langkah pria yang hendak berbicara kepadaku terhenti. Ia menoleh sejenak ke arah pintu, lalu kembali menatapku, namun niatnya seakan tertahan begitu saja.
Aku langsung mengambil kesempatan itu untuk segera beranjak. Dengan langkah yang sedikit terburu-buru namun tetap berusaha tenang, aku berjalan melewatinya tanpa menoleh sedikit pun, dan segera keluar dari kafe menuju tempat Vina dan Bagus menunggu. Jantungku masih berdegup kencang, namun rasa lega mulai menyusup masuk ke dalam hatiku.
Aku segera masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Vina.
"Sudah, El?" tanya Vina sambil menatapku.
"Sudah, Vin. Ayo pulang," jawabku singkat, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang sedang melanda.
Sepanjang perjalanan pulang, aku sama sekali tidak bisa tenang. Pikiranku terus dipenuhi oleh satu pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawabannya. Dari mana ia tahu namaku? Kita tidak pernah saling berkenalan, tidak pernah ada percakapan di mana aku menyebutkan namaku. Lalu bagaimana ia bisa memanggil namaku dengan begitu yakin dan tepat?
Semakin kupikirkan, semakin hatiku merasa gelisah. Siapa sebenarnya pria itu? Mengapa ia mengetahui namaku? Dan mengapa ia seakan terus muncul di tempat-tempat yang sama denganku? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar terus di kepalaku tanpa henti, membuatku tak mampu menikmati perjalanan pulang yang seharusnya menyenangkan itu. Aku hanya diam menatap ke luar jendela, membiarkan Vina dan Bagus berbincang di depan, sementara pikiranku jauh melayang memikirkan sosok misterius itu.