[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]
Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan Di Bawah Gudang 2
Di bawah cahaya lampu minyak di ruang bawah tanah yang berbau amis, Simon merendahkan kuda-kudanya. Dengan satu hentakan eksplosif, ia menerjang maju ke edie.
"Teknik Pedang Silang!"
[ Teknik Pedang Silang +1 ]
CLANG!
Bilah baja standar milik Simon berbenturan keras dengan pedang hitam milik Edie.
Getaran hebat merambat hingga ke pangkal lengan Simon, membuat tulang-tulangnya terasa berderit.
"Ughh!" Simon mendesah.
"Hanya segini kekuatanmu? Lemah sekali!" ejek Edie dengan seringai lebar.
Ia mendorong pedangnya, memaksa Simon untuk menggeritkan gigi dan mundur beberapa langkah guna menetralkan tekanan yang luar biasa berat tersebut.
"Keluarkan seluruh kekuatanmu, Simon! Atau kau akan mati hahaha!" raung Edie sembari mengayunkan pedang hitamnya secara membabi buta.
Simon meliuk bagaikan ular, kadang dia menangkis serangan Edie kadang juga ia selalu menghindari tebasan horizontal milik Edie yang membelah udara dengan suara siulan tajam.
"Berhenti! Apa kau hanya bisa melarikan diri? Ayo hadapi aku!" teriak Edie provokatif.
Simon tidak terpancing.
Dulu dia pernah dikejar-kejar penagih utang, ia tahu bahwa bertarung dengan amarah hanya akan mempercepat kematian.
Ia meraih sebatang lilin yang masih menyala di lantai dan melemparkannya ke arah wajah Edie.
Dengan santainya, Edie membelah lilin itu menjadi dua di udara.
"Pecundang! Hanya bisa menggunakan hal sampah seperti ini!" maki Edie.
Simon menstabilkan napasnya. 'Kekuatannya berada di level yang berbeda. Setiap serangannya terasa seperti dihantam palu raksasa. Jika aku terus melayaninya secara langsung, pedangku akan patah sebelum aku bisa melukainya,' pikir Simon.
Ia harus mengandalkan kecerdasan dan strategi, bukan kekuatan murni.
"Teknik Pedang Silang!" Simon kembali menyerang, mencoba mencari celah.
[ Teknik Pedang Silang +2 ]
Namun, serangan itu kembali ditangkis dengan mudah oleh pedang hitam Edie yang memancarkan kabut korosif.
"Percuma saja, Simon! Kau tidak akan bisa mengalahkanku. Kau hanyalah Ksatria Magang yang bahkan belum membangkitkan Benih Ksatria dan Qi pertempuran sejati!" seru Edie sembari mengangkat pedangnya dengan angkuh.
"Lihatlah! Meskipun aku juga Magang Ksatria sepertimu, pedang di tanganku ini adalah Artefak dari Ksatria Gelap!"
"Ksatria Gelap?" Simon menyipitkan mata merahnya, memandang pedang hitam di tangan Edie.
"Ya! Salah satu dari tujuh Ksatria Legendaris, Ksatria Gelap Flint! Kakakku sangat baik memberikan artefak ini kepadaku untuk menjalankan misi suci Dewi Sunyi!" bangga Edie.
"Tentu aku sebagai adik tidak akan mengecewakannya! Jadi Simon, cepat matilah di tanganku!" Kata Edie.
"Kalau aku bilang tidak mau? Kamu mau apa?" Simon berkata dengan ejekan.
"Tidak, kamu tidak punya pilihan lagi!, pilihannmu hanyalah mati di tanganku!" Edie menyerang Simon lagi.
Ksatria legendaris?
Nama itu memicu kilasan ingatan di benak Simon. 'Tujuh Ksatria Legendaris... puncak dari jalur Ksatria! pikir Simon.
Berdasarkan pengetahuan yang ia serap dari pendahulunya, ketujuh orang ini adalah monster yang mampu menghancurkan seluruh kerajaan seorang diri.
Namun, mereka seharusnya sudah mati sejak 500 tahun yang lalu. Di era sekarang, bahkan menemukan Ksatria Formal saja sulit, apalagi Ksatria Legendaris?
Simon tidak menyangka bahwa pedang di tangan Edie adalah peralatan dari ksatria legendaris.
Setelah menghindarinya serangan Edie yang ke sekian kali, Simon akhirnya mendapatkan ide licik di pikirannya.
Ia tidak butuh cahaya ia punya keunggulan lain.
Dengan gerakan cepat, Simon membanting lampu penerang utama dan menendang sisa lilin di sekitar mereka hingga padam total.
"Mau membuatku buta, ya?" Edie tertawa meremehkan di tengah kegelapan.
"Percuma saja! Perbedaan kekuatan kita terlalu besar!"
Edie melepaskan gelombang hitam dari pedangnya yang memborbardir secara acak.
Namun, Simon memperhatikannya dengan tenang.
Di tengah kegelapan total, penglihatannya berubah menjadi samar-samar kehijauan, memungkinkannya melihat lokasi tubuh Edie yang bergerak di tengah kegelapan.
[ Pernafasan Ular Hitam +3 ]
Simon melesat secepat kilat. "Teknik Pedang Silang!"
[ Teknik Pedang Silang +1 ]
Edie menangkis secara instan berdasarkan suara, namun Simon sudah mengantisipasi hal itu.
Tangan kirinya bergerak cepat merogoh belati tersembunyi.
Srat!
"Apa?! Bagaimana mungkin!" Edie kaget saat merasakan perih yang tajam menggores pipinya.
Simon mundur dengan satu tendangan ke dada Edie.
"Walaupun kau cukup kuat, di bawah kegelapan buta ini, kau tampak tak berdaya," kata Simon dengan suara dingin yang membekukan.
"Berisik!" raung Edie panik.
Ia menebas pedangnya secara membabi buta ke segala arah, mencoba mengira-ngira posisi Simon.
Simon kembali bergerak dalam ritme napas yang sunyi.
[ Pernafasan Ular Hitam +1 ]
Jlep! Belati Simon menusuk lutut Edie.
"ARKHHH!"
"Teknik Pedang Silang!" Simon memanfaatkan momen itu untuk menyayat punggung Edie yang terbuka.
[ Teknik Pedang Silang +2 ]
Simon terus menyerang secara bertubi-tubi, memanfaatkan kebutaan musuhnya dengan efisiensi nan mematikan.
[ Pernafasan Ular Hitam +3 ]
[ Teknik Pedang Silang +3 ]
[ Pernafasan Ular Hitam +3 ]
[ Teknik Pedang Silang +3 ]
"CUKUP!!!" teriak Edie dengan wajah gila.
Karena merasa terdesak, ia melepaskan gelombang hitam secara masif ke segala arah tanpa peduli pada struktur ruangan.
BOOM!
Salah satu gelombang itu menghantam Simon, membuatnya terlempar ke dinding batu.
"Sial..." gumam Simon sembari memuntahkan seteguk darah.
Ia menatap Edie yang kini benar-benar kehilangan kewarasan, terus-menerus menyepam gelombang hitam yang menghancurkan pilar-pilar penyangga ruangan bawah tanah.
"Matiii!! Simon matiii!!" raung Edie.
Simon menundukkan kepalanya, menggunakan bagian baju besi lengannya untuk menahan reruntuhan kecil.
Ruangan itu mulai bergetar hebat, kerikil batu berjatuhan dari langit-langit. Simon segera melarikan diri ke arah tangga kayu.
Tuk, tuk, tuk!
Edie yang mendengar suara itu menoleh ke arah tangga.
"Jangan lari kau, Simon! Hadapi aku!" teriak Edie sembari mengejar.
"Mati!!"
Tepat saat tangan Edie hampir menggapai kaki Simon di ujung tangga, langit-langit gudang itu runtuh sepenuhnya.
CRASHHH!
Debu tebal membumbung tinggi. Setengah badan Edie tertimbun puing bangunan yang sangat berat.
Hanya menyisakan kepala dan kedua tangannya yang meronta di antara bebatuan.
"Uhuk!- uhuk!" Batuk Edie sambil memuntahkan darah.
Ketiak ia melihat ke atas pupil mata Edie menyusut saat melihat siluet Simon yang disinari cahaya bulan menyinarinya di balik runtuhan.
Simon berdiri di atas puing, menatap Edie di bawah dengan dingin.
"Simon... kita bisa membicarakan ini!" seru Edie dengan nada panik yang memilukan.
"Menarik. Apa yang mau kau bicarakan, Edie?" tanya Simon sambil tersenyum.
"Aku... aku tidak akan mengganggumu lagi setelah ini. Jadi, bisakah kau membantuku keluar dari sini?" mohon Edie.
Simon menatap tubuh yang terjepit itu, lalu tertawa yang tidak mengandung kehangatan sedikit pun.
"Hahahaha... Kau pikir aku anak kecil yang bisa dipermainkan seperti itu? Di dunia asalku, penipu sepertimulah alasan mengapa aku berakhir di sini," desis Simon sembari mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
"Selamat tinggal!" Bisik Simon.
"Tunggu! Tunggu! Jangan bunuh akuu—!"
CRACK!
Simon menghunus pedangnya tepat ke ubun-ubun Edie hingga tembus ke tanah di bawah puing tersebut.
Ruangan itu kembali sunyi, menyisakan Simon yang berdiri tegak di tengah reruntuhan.