Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. RENCANA BULAN MADU
Pagi hari di vila menyapa dengan suasana yang jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Udara dingin lereng Gunung Merapi masih terasa menusuk, tetapi di dalam kamar utama, kehangatan dan keheningan yang mendamaikan melingkupi Abiyasa dan Nadira.
Badai fitnah di kampus UG* telah resmi mereda sepenuhnya. Klarifikasi resmi dari pihak Rektorat dan Kepolisian yang membersihkan nama baik Nadira—sekaligus penahanan Vanya dan Dito atas tuduhan perundungan siber dan pencemaran nama baik—telah dipublikasikan kemarin sore. Seluruh civitas akademika UG* kini tahu pasti bahwa Nadira Kirana bukan sekadar mahasiswi biasa, melainkan istri sah dari konglomerat pimpinan Mahendra Group.
Nadira perlahan terbangun dari tidurnya. Kelopak matanya terbuka, dan senyuman manis seketika terkembang saat menyadari kedua lengan kekar Abiyasa masih melingkar erat di pinggangnya. Kepala Nadira bersandar nyaman di dada bidang Abiyasa, mendengarkan detak jantung suaminya yang berirama konstan.
Jemari mungil Nadira terangkat, mengusap pelan rahang tegas Abiyasa yang sedikit dipenuhi samar-samar bayangan rambut halus.
"Mas... Abi..." panggil Nadira pelan, suaranya parau khas bangun tidur.
Iris mata cokelat gelap Abiyasa terbuka perlahan. Begitu pandangan mereka beradu, sebuah sunggingan senyum hangat—senyuman yang kini diperuntukkan khusus bagi istri kecilnya—terukir di bibir sang CEO.
"Selamat pagi, Nyonya Mahendra," bisik Abiyasa dengan suara baritonnya yang berat dan serak.
Pria itu menundukkan kepala, mendaratkan sebuah kecupan hangat yang lama di dahi Nadira. "Bagaimana tidurmu? Masih cemas?"
Nadira menggeleng pelan seraya tersenyum tulus. Ia menyusupkan wajah mewahnya lebih dalam ke dada tegap Abiyasa. "Nggak sama sekali, Mas. Sejak Mas Abi memeluk aku kemarin malam, semua rasa takutku udah hilang."
Abiyasa mengencangkan dekapannya, mengelus punggung mulus Nadira di balik piyama sutranya. "Bagus. Karena mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang berani mengganggu kedamaianmu."
Pria itu bergeser sedikit, menopang kepalanya dengan sebelah tangan seraya menatap wajah polos istrinya yang merona di bawah pendar cahaya pagi yang menembus tirai.
"Nadira," panggil Abiyasa pelan.
"Ya, Mas Abi?"
"Semester awal kuliahmu akan memasuki libur jeda tengah semester bulan depan, bukan?" tanya Abiyasa tenang.
Nadira mengangguk heran. "Iya, Mas. Ada libur sekitar dua minggu setelah ujian tengah semester. Kenapa emangnya, Mas?"
Abiyasa mengusap lembut helai rambut Nadira yang menutupi dahinya, lalu mendaratkan kecupan singkat di ujung hidung istrinya. "Saya ingin membawa istri saya pergi honeymoon."
DEG!
Mata bulat Nadira seketika membelalak lebar. Pipi mulusnya terbakar panas seraya menatap Abiyasa tak percaya. "M-Mas Abi... beneran?! Honeymoon?!"
"Tentu saja beneran," sahut Abiyasa santai dengan sudut lipatan bibir yang terangkat tipis.
"Sejak kita menikah, kita belum pernah melakukan perjalanan bulan madu yang sesungguhnya. Dulu saya terlalu sibuk dengan urusan kantor, dan kamu sibuk dengan persiapan ujian sekolah. Sekarang adalah waktu yang paling tepat."
"Tapi... tapi pekerjaan Mas Abi di Jakarta gimana?" tanya Nadira polos, masih berusaha mencerna kejutan manis pagi itu. "Mas Abi kan CEO Mahendra Group, masa mau ninggalin kantor dua minggu?"
Abiyasa terkekeh rendah—sebuah tawa halus yang menggetarkan dada tegap tempat Nadira bersandar. "Hendra bisa menghandle semua urusan operasional harian. Lagipula, kepentingan dan kebahagiaan istri saya berada jauh di atas urusan rapat mana pun."
Nadira tak mampu menahan senyuman bahagianya yang kian mekar. Ia memiringkan tubuhnya, melingkarkan kedua lengan kecilnya di leher tegap Abiyasa. "Mas Abi mau bawa aku ke mana?"
"Kamu bebas memilih, Nyonya Mahendra," tutur Abiyasa penuh ketulusan, menatap lurus ke dalam iris mata bening Nadira. "Sebutkan satu tempat di dunia ini yang paling ingin kamu kunjungi, dan saya akan membawamu ke sana."
Nadira menimbang-nimbang sejenak, pikirannya menerawang membayangkan pelbagai destinasi impian yang sering ia lihat di majalah seni dan film romantis.
"Emm... kalau ke Swiss gimana, Mas?" puji Nadira dengan binar mata berbinar-binar. "Aku pengen banget lihat pegunungan es Alpen, terus jalan-jalan di pinggir danau Lucerne sambil bawa buku sketsa lukisku! Kayaknya indah banget!"
Abiyasa menyunggingkan senyum hangat paling menawan yang pernah ia miliki. Tangannya mengusap lembut rahang rapi Nadira. "Pilihan yang sangat indah. Swiss, danau Lucerne, dan pegunungan Alpen."
"Beneran boleh, Mas Abi?!" jerit Nadira gembira.
"Apa pun untukmu, Sayang," bisik Abiyasa mantap. "Saya akan menyewa vila pribadi di tepi danau Lucerne dan menyiapkan jet pribadi untuk penerbangan kita bulan depan."
"Aaaaa! Mas Abi terbaik!" seru Nadira tak sanggup menahan euforianya. Gadis itu langsung menghambur maju, memeluk leher tegap Abiyasa erat-erat dan mendaratkan berkali-kali kecupan manis di pipi, dahi, dan rahang suaminya.
Abiyasa tertawa renyah menerima serangan kebahagiaan dari istrinya. Pria itu memutar posisi tubuh mereka dalam satu gerakan cepat, mengungkung tubuh mungil Nadira di bawah bayang-bayang tegapnya di atas kasur empuk.
"Tunggu dulu, Nyonya Mahendra," bisik Abiyasa dengan suara bariton yang mendadak berubah sangat rendah, serak, dan berbahaya. Pendar mata cokelat gelapnya berkilat penuh gairah dan kehangatan yang intim. "Kamu tidak bisa memberikan hadiah kecupan seperti itu lalu kabur begitu saja."
Pipi Nadira seketika merona merah padam melihat tatapan intensitas suaminya dari jarak yang hanya berjarak dua sentimeter. "M-Mas Abi... ini kan udah pagi... Nanti Pak Maman nungguin sarapan..."
"Pak Maman tahu tugasnya untuk tidak mengganggu kita," pangkas Abiyasa tenang, jemari kokohnya menyusup ke balik tengkuk Nadira, merapatkan jarak di antara wajah mereka. "Dan pagi ini... saya hanya ingin menikmati hadiah dari istri saya."
Tanpa memberi kesempatan bagi Nadira untuk membalas, Abiyasa menundukkan kepalanya dan menyapu bibir manis Nadira dalam sebuah ciuman yang sangat dalam, hangat, dan penuh dengan kerinduan yang meluap-luap.
Nadira memejamkan matanya rapat-rapat, membalas kecupan suaminya dengan kepolosan cintanya yang murni. Jemari kecilnya menyusup ke dalam rambut hitam Abiyasa, meremasnya lembut seraya menyerap setiap kehangatan dan rasa kepemilikan mutlak yang dialirkan oleh suaminya.
Di bawah naungan sinar matahari pagi yang hangat, bayang-badai masa lalu telah sepenuhnya musnah. Yang tersisa hanyalah rencana masa depan yang penuh warna, di mana dua insan yang semula disatukan oleh perjodohan tanpa cinta di atas selembar kertas kini bersiap mengarungi lembaran bulan madu terindah dalam hidup mereka.