Indonesia
NovelToon NovelToon
Di Bawah Kuasa Mantan Suami

Di Bawah Kuasa Mantan Suami

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: lala_syalala

Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa

Tiga tahun lalu, Safira Angela memilih berpisah dari Gavin Alvaro Abraham dengan alasan palsu yaitu dia mengaku telah berselingkuh. Padahal, itu hanyalah kebohongan yang terpaksa dibuatnya agar Gavin dan keluarga besar Abraham tidak terseret dalam masalah pelik yang sedang menimpa keluarganya.

Setelah resmi bercerai, Safira pun memilih menghilang demi melindungi pria yang sangat-sangat dia cintai.

Namun, takdir berkata lain. Tiga tahun kemudian, perusahaan tempat Safira bekerja diakuisisi oleh Abraham Group.

Mengetahui keberadaan sang mantan istri, Gavin langsung memerintahkan agar Safira dimutasi ke kantor pusat.

Di sana, Safira terpaksa bekerja di bawah pengawasan langsung mantan suaminya yang kini telah berubah menjadi CEO dingin, penuh kebencian, dan menyimpan dendam mendalam akibat masa lalu.

BAGAIMANA KELANJUTAN CERITANYA????
JANGAN LUPA DI BACA YAAAAAA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari Tahu

"Safira..." panggil Gavin, suaranya tidak lagi dingin atau penuh kebencian. Suara itu terdengar begitu serak, hancur, dan sarat akan kepedihan yang mendalam.

Safira yang baru saja berhasil memutar kunci pintu menghentikan gerakannya. Ia tidak berani membalikkan tubuhnya, karena ia tahu air mata yang sejak tadi ia tahan kini sudah menetes membasahi pipinya yang kuyu.

"Mengapa..." Gavin melangkah satu maju, tangannya terangkat, hampir saja menyentuh bahu Safira yang bergetar kecil karena tangis yang diredam.

"Mengapa kamu memilih hidup seperti ini, Safira? Jika kamu mencampakkanku demi kebebasan dan pria lain... mengapa akhir dari pilihanmu justru semenjijikkan dan semenyedihkan ini?" tanya Gavin dengan suara yang begitu putus asa dan begitu menyayat hati.

Pertanyaan Gavin yang sarat akan kesalahpahaman masa lalu itu terasa seperti tikaman belati tepat di jantung Safira. Safira memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan air matanya mengalir semakin deras di dalam kegelapan malam gang sempit itu.

Ia ingin berteriak, ingin mengatakan bahwa tidak pernah ada pria lain, tidak pernah ada kebebasan yang ia cari. Semua ini ia lakukan demi melindunginya, demi membayar utang darah keluarganya agar Gavin tidak ikut terseret ke dalam kehancuran.

Namun, Safira memilih untuk tetap bungkam. Rahasia itu harus tetap terkunci rapat, demi keselamatan Gavin dan demi kedamaian yang sudah ia bangun dengan susah payah di atas puing-puing penderitaannya sendiri.

"Ini adalah pilihan hidup saya, Tuan Gavin." jawab Safira setelah berhasil menguasai suaranya, meskipun getaran kesedihan tidak dapat disembunyikan.

Ia membuka pintu tripleks itu lebar-lebar, menampilkan interior dalam ruangan yang hanya berisi sebuah kasur lantai tipis dan lemari pakaian plastik kecil.

"Mewah atau menyedihkan, ini adalah dunia saya yang sekarang. Tempat di mana saya tidak perlu lagi berpura-pura menjadi orang lain. Terima kasih atas tumpangannya sekali lagi. Selamat malam, Tuan Gavin." lirihnya mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh.

Sebelum Gavin sempat membalas atau melangkah masuk, Safira dengan cepat melangkah ke dalam dan menutup pintu kayu tersebut, menguncinya dari dalam dengan suara klik yang final.

Gavin berdiri mematung di depan pintu hijau yang tertutup rapat itu. Angin malam yang berembus kencang menerpa wajah tampannya, membawa sensasi dingin yang menusuk hingga ke tulang.

Pria itu mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat hingga kuku-kukunya memutih. Hatinya bergejolak hebat antara amarah atas sikap keras kepala Safira dan rasa hancur melihat kerapuhan mantan istrinya.

Malam itu, di depan kontrakan petak yang kumuh, Gavin sadar bahwa dinding es di antara mereka tidak akan pernah bisa hancur dengan mudah, dan ada kebenaran besar yang selama ini sengaja disembunyikan dari jangkauan matanya.

Langkah kaki Gavin Alvaro Abraham terasa begitu berat saat meninggalkan gang sempit berlantai paving blok tersebut. Angin malam yang berembus kencang di kawasan semi-industri itu menerpa wajahnya, namun hawa dingin tersebut tidak mampu mendinginkan kepala dan dadanya yang tengah bergejolak hebat.

Di dalam benaknya, bayangan pintu tripleks hijau yang terkelupas, dinding batako tanpa plester, serta sekilas penampakan kasur lantai tipis di dalam kontrakan petak milik Safira terus berputar seperti pita kaset rusak yang menyiksa.

Begitu masuk ke dalam kabin mobil sport hitamnya, Gavin tidak langsung menyalakan mesin. Ia mencengkeram setir kemudi dengan kedua tangannya yang gemetar hebat, lalu memukulkan tinjunya ke arah tengah kemudi hingga suara klakson sempat memekik pendek membelah kesunyian malam.

"Sialan!" umpat Gavin dengan suara bariton yang bergetar menahan amarah dan kehancuran.

Dunia yang ia pijak selama tiga tahun ini serasa dijungkirbalikkan dalam semalam. Selama ini, ia menghibur hatinya yang terluka dengan dugaannya sendiri bahwa Safira sedang bersenang-senang di luar sana setelah mencampakkannya. Ia membayangkan Safira hidup bergelimang harta bersama pria lain yang tertulis di dalam surat sialan itu.

Namun, realita yang baru saja dihamparkan di depan matanya justru menunjukkan pemandangan yang bertolak belakang.

Wanita yang dahulu sangat ia ratukan, kini merangkak di titik terendah kehidupan, menahan lapar hingga lambungnya meradang, dan tidur di tempat yang bahkan lebih buruk dari kandang hewan peliharaan kaum elit.

Hati Gavin begitu tidak tenang. Dadanya sesak, dan detak jantungnya berpacu cepat didorong oleh rasa bersalah yang teramat pekat, bercampur dengan rasa penasaran yang membakar seluruh logikanya. Ada sesuatu yang salah di sini. Ada benang merah yang terputus yang tidak ia ketahui.

Tanpa membuang waktu lagi, Gavin meraih ponsel pintarnya di dasbor mobil. Ia mencari kontak asisten pribadinya dan langsung menekan tombol panggilan.

Di seberang sana, panggilan tersebut hanya berdering dua kali sebelum suara Dimas yang terdengar siap siaga langsung menyahut, meskipun waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari.

Dimas: [Ya, Tuan Gavin. Ada yang bisa saya bantu?] tanya Dimas dengan nada suara profesional.

^^^Gavin: [Dimas, cari tahu semuanya.] perintah Gavin tanpa basa-basi. Suaranya terdengar sangat rendah, serak, namun sarat akan intimidasi dan urgensi yang mutlak.^^^

Dimas di seberang telepon sempat terdiam selama satu detik, mencoba mencerna perintah tiba-tiba dari atasannya.

Dimas: [Maaf, Tuan. Maksud Anda... informasi mengenai apa?]

^^^Gavin: [Safira.] desis Gavin, rahangnya kembali mengeras sempurna saat melafalkan nama itu.^^^

^^^Gavin: [Aku ingin kamu mencari tahu seluruh rekam jejak kehidupan Safira Angela selama tiga tahun terakhir ini, sejak hari di mana dia pergi meninggalkan mansion.]^^^

Gavin memundurkan punggungnya, bersandar pada jok kulit mobil seraya memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri.

^^^Gavin: [Aku tidak mau ada satu pun detail yang terlewat. Cari tahu di mana saja dia tinggal, pekerjaan apa saja yang dia ambil sebelum masuk ke perusahaan yang kita akuisisi, ke mana perginya seluruh tabungan dan perhiasan yang dia bawa, dan...]^^^

Gavin menggantung kalimatnya, dadanya berdenyut perih sebelum melanjutkan dengan nada mendingin,

^^^Gavin: [...cari tahu dengan siapa dia berhubungan selama tiga tahun ini. Apakah ada pria lain di sekitarnya.]^^^

Dimas yang mendengar perintah tersebut langsung memahami seberapa serius situasi malam ini. Sejak kepulangan Safira ke dalam lingkup Abraham Group sebagai staf biasa, Dimas memang sudah menduga bahwa badai masa lalu ini akan kembali memuncak.

Dimas: [Baik, Tuan Gavin. Saya akan segera menggerakkan tim investigasi internal dan jaringan informan kita untuk memeriksa seluruh catatan sipil, transaksi perbankan, hingga lingkungan tempat tinggal Staf Safira selama tiga tahun ini.] jawab Dimas dengan nada yang teratur dan tegas.

^^^Gavin: [ku minta laporan awal sudah ada di mejaku besok pagi sebelum jam kantor dimulai, Dimas. Gunakan semua sumber daya yang kita miliki. Aku tidak peduli berapa biaya yang harus dikeluarkan.] titah Gavin dingin.^^^

Dimas: [Dimengerti, Tuan. Saya akan mengusahakan yang terbaik.]

.

.

Cerita Belum Selesai.....

1
Ida Haryono
lanjut thor gmn gavin bs selembut itu dg istri cibtanya....aku jadi sendu nich apkh pasangan kita bs spt itu he..he....
Ani Kurniati
bagus
𝐈'𝐦𝐄𝐥𝐥𝐢𝐞𝐍𝐨𝐭𝐋𝐢𝐞🔮
Hah? Gimana-gimana?
Ida Haryono
asyiik ya indehoylah terus tapi jgn sd safira sakit ya.....
Ida Haryono
lanjut thor kisah ini bagus dan cinta sehati nrk terjalin kembali mudah2an cita2 Gavin bersama Safura berjalan peniuh kasih d cinta....🤣
Raji Hamizan
nona muda dong jgn nyonya
Ida Haryono
lanjut thor....cerita ini berbeda dgn yg lain2nya .....agk complicated dgn alur csrita msg2 perannya....nggak sabar endingnya....🤣👍
Inooy
aq koq janggal denger Safira memanggil Dimas BAPAK..cukuplah PAK aj g perlu BAPAK
Ghaitsa Adzra Serintia
keren
Ade Chubi
kasihan Safira😭
Paw_chan🐾
bagus
imoe nawar
👍
ILALANG
banyak yang menyalahkan Gavin tanpa melihat tiga tahun yang lalu dimana Gavin dan keluarganya menanggung aib
ILALANG
ini bukan salah Gavin 100% karena yg dia tau kalau mantan istrinya ini sudah menhianatinya diceraikan tanpa alasan dan bahkan tidak ada kabar selama 3 tahun,kalau ada yang bilang kenapa Gavin ga mencari tau penyebabnya itu dikarenakan dia udah sakit hati duluan dan merasa istrinya tidak menginginkannya lagi dan juga merasa dia ditinggal tanpa alasan yang jelas,ingat mereka ini suami istri bukan orang yg masih pacaran,justru dengan Safira menceraikan Gavin malah manjadi aib bagi keluara Abraham,karena orang akan merasa masa seorang Gavin ditinggal cerai sama istrinya,dan itu juga sangat melukai hati Gavin dan merasa tidak memiliki harga dir.
Kalau Safira ya dia memang kasihan karna menanggung beban sendirian tapi ingat dia sendiri yang memilih jalan ini jadi harusnya dia lebih sadar diri ketika Gavin balas dendam
Ade Chubi
duh kasihan Shafira 😭
Ade Chubi
baru mampir baca ,sedih 😭
semangat Shafira💪💪
Hadi Mulyono
ceritanya bagus bahasanya jg Alus .jarang ada kesalahan penulisan .keluarga harmonis suami yg setia penyayang 👍
Hadi Mulyono
kaya raya ganteng setia kayaknya cuma Gavin deh ..jaman sekarang 1001 🤣🤣
Hadi Mulyono
nah gitu ga in satt set
Hadi Mulyono
baca.. air mata ga diem
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!