Seorang gadis cantik yang bernama Ruby Sterling sedang duduk termenung di atas sebuah jembatan.
Dia sangat putus asa, kemana lagi dirinya harus mencari biaya pengobatan untuk Neneknya yang sedang berjuang menahan rasa sakit.
Ruby hanya tinggal dengan Neneknya, dia tidak punya keluarga atau kerabat. Di mana lagi dia harus meminta bantuan?
Dia bekerja sebagai Karyawan di sebuah Supermarket dengan gaji yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Ruby sangat bersedih, saat dia ingin menyerah, seseorang datang menghampirinya dan memberinya sebuah buku Novel.
"Ketulusan! Kerja sama! Menolong! Adalah kunci untuk kembali!"
Ruby menatapnya dengan bingung, orang itu pergi begitu saja setelah mangatakan kalimat yang tidak dia mengerti.
Orang itu berbalik dan kembali berkata "Jika kamu berhasil, maka semuanya akan baik-baik saja!"
Ruby hanya diam mematung, Siapa dia? Apa maksud dari perkataannya? Apa yang akan baik-baik saja? Apa yang harus dia lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Menimbun
Ruby memasuki kota, dan dia sedikit tercengang melihat betapa makmur dan canggih nya di seribu tahun masa depan.
Bahkan pasar yang dituju saja terlihat bukan pasar. Tempat itu seperti mall versi mininya, stan para penjual tersusun dengan rapi.
Ruby mencari toko peralatan untuk bertani dan berkebun. Alat-alat ini pasti sangat berguna untuk mereka bekerja di ladang.
Karena tidak ingin penjual banyak tanya, Ruby membeli di beberapa toko yang berbeda, dan meminta untuk melakukan pengiriman di alamat rumahnya yang ada di tengah Kota.
Ruby juga membeli berbagai macam bibit sayuran, buah dan rempah-rempah. Setelah semuanya beres, dia menuju toko grosir dan membeli banyak persediaan.
Tapi sebelum itu, Ruby terlebih dulu menyewa sebuah bangunan kosong untuk dua bulan. Semua barang-barang yang dia beli akan dikirim ke alamat tersebut.
"Haaahh.. Lelah sekali.!" gumam Ruby setelah duduk di sebuah warung pinggir jalan.
Ruby benar-benar dibuat terkesima, warung di pinggir jalan saja bentuknya seperti Restoran kecil yang lumayan mewah. Dia jadi penasaran, bagaimana dengan Restoran yang ada di Mall dan di hotel.
Ruby menikmati pesanannya, sambil menatap bangunan-bangunan yang tak jauh darinya. Semua bangunan tinggi-tinggi seperti di negeri dongeng.
"Sayang sekali, keindahan dan kemegahan ini akan berakhir!" gumam Ruby dalam hati. Dia sangat menyayangkan, Negara maju itu akan runtuh menjadi Negara mati penuh dengan darah.
Tiba-tiba Ruby tidak sengaja mendengar obrolan sekelompok remaja yang ada meja sebelah.
"Sial.. Tadi aku ke rumah sakit, antar nyokap cek rutin. Rumah sakitnya penuh dengan pasien.!" ucap Seorang pria berambut pirang.
"Lah.. Bukannya pasien memang ada di Rumah Sakit?" tanya teman yang duduk di sampingnya.
Si rambut pirang menatapnya dengan kesal, karena dia belum selesai berbicara. "Aku tau, tapi kali ini Rumah Sakit benar-benar ramai, Aku dan nyokap sampai berdesakan.!" jelasnya.
"Emang mereka sakit apa?" tanya temannya yang lain.
"Nah itu... Mereka semua sakitnya sama, flu batuk, dan tubuh mereka gatal-gatal. Aneh kan?" ucapnya dengan nada heran.
"Emang aneh sih. Kalau cuman beberapa tidak maslah, tapi kamu bilang semua yang ada di sana!"
"Makanya, aku dan nyokap langsung pulang setelah melakukan pemeriksaan. Kami takut mereka semua kena penyakit, atau semacam virus!" ujarnya dengan merinding.
Ruby tertegun, apa ini ada kaitannya dengan Virus Zombie? Apa itu semua gejala-gejala yang mulai muncul di permukaan? Lalu apa yang terjadi dengan orang-orang itu?
Karena masih penasaran, Ruby terus mendengar obrolan mereka. Ternyata para pasien sudah datang berobat beberapa minggu yang lalu.
Sakit mereka memang sembuh dengan cepat, tapi selang beberapa hari mereka mulai merasakan gejala-gejala itu. Sehingga mereka datang untuk melakukan pemeriksaan, sehingga Rumah Sakit jadi banyak pasien karena mereka datang bersamaan.
Ruby dibuat gelisah, kenapa gejalanya datang lebih awal? Apakah ini yang dinamakan efek kupu-kupu? Kalau begitu, dia tidak boleh bersantai lagi.
***
Ruby berada di kota selama sebulan. Setiap hari dia terus membeli banyak persediaan di berbagai tempat. Syukurnya tidak ada yang bertanya, karena hal seperti itu bukan urusan mereka.
Saat ini Ruby berkumpul dengan teman sekolahnya. Ngomong-ngomong, pemilik tubuh dulunya seorang siswa di salah satu sekolah militer.
Tapi setelah lulus pelantikan, dia mengajukan pengunduran diri yang sebenarnya tidaklah mudah, tapi karena Ayahnya turun tangan semuanya berjalan lancar.
Sedangkan teman-temannya, masih menjalankan dinas. Mereka mengambil cuti tahunan, dan mengajak Ruby untuk bertemu Kangen.
"Ruby. Hidupmu terlihat sangat makmur!" ucap Teman Ruby Yang bernama Sasa.
"Heheh ya harus dong. Menikmati harta orang tua, makan dan tidur!" balas Ruby dengan bercanda.
Tapi aslinya bukan begitu, Ruby akhirnya mendapat ingatan alasan pemilik tubuh mengundurkan diri, karena ternyata dia terus mimpi buruk.
"Gimana kabar Om dan tante?" tanya Teman Ruby yang bernama Klara. Diantara mereka berempat, dia sangat pendiam, tapi dia begitu perhatian.
"Sehat kok. Mereka sedang liburan di perkebunan!" balas Ruby dengan jujur. Karena mereka sekeluarga ke perkebunan memang untuk berlibur.
"Titip salam ya buat Om dan Tante. Kami nggak ada waktu, kita cuman Cuti selama tiga hari!" Sela Amelia. Dia yang paling muda diantara mereka.
Mereka bersahabat sejak kecil, kemana-mana selalu bersama. Saking kompaknya cita-cita mereka juga harus sama.
"Hmm.. Nanti aku sampaikan.!"
"Ruby. Bagaimana hubunganmu dengan Erik?" tanya Sasa.
Erik adalah mantan pacar pemilik tubuh. Mereka sudah bersama saat duduk di bangku SMA. Dan saat ini, dia sedang magang di Rumah Sakit.
"Kami sudah putus!" Jelas Ruby yang tampak biasa-biasa saja.
"Haahh. Kok bisa?" mereka bertiga sangat terkejut. Mereka adalah saksi, betapa serasi dan romantisnya mereka berdua.
Saat masih kelas 3 SMA, keduanya adalah couple favorit di sekolah. Banyak yang mendukung hubungan mereka, Ruby juga tidak mudah untuk mendapatkan cinta Erik.
"Kami putus baik-baik kok!" sahut Ruby.
"Bukan itu yang kami ingin tau,!" sentak Sasa "Apa alasan kalian putus? Tidak ada yang namanya putus baik-baik!"
"Kalian benaran putus?" sela Klara. Dia tak habis pikir, kedua bucin itu bisa putus juga.
Ruby terdiam, dia mengerti kebingungan mereka. "Sebenarnya Erik nggak suka kalau aku daftar Militer. Dia maunya aku kayak Ibuku!" jelas Ruby.
Ketiganya terdiam, mereka benar-benar tidak tahu jika Erik tidak menyukai kekasinya menjadi seorang Tentara. Tapi kenapa dia tidak mengatakannya lebih awal.?
"Jangan-jangan kamu mengundurkan diri karena itu?" tanya Klara seraya menebak. Jika benar, dia sangat kecewa.
"Ruby. Bukan itu alasannya kan?" sela Sasa dengan tatapan menyelidik. Masa karena cinta, dia melepaskan impiannya.
Ruby menghela nafas dan berkata. "Ya nggak lah.. Asal kalian tahu, kami sudah putus sebelum aku mengundurkan diri. Dan terakhir kali bertemu dengannya, dia sudah punya pacar baru!"
"Dasar laki-laki buaya. Pasti dia selingkuh, bukan nggak suka Kamu jadi tentara, tapi dia sedang cari alasan buat mutusin kamu!" kata Sasa dengan kesal.
"Benar. Aku tak menyangka, Erik jadi seperti itu.!" ucap Amel yang langsung hilang respek dengan pria tersebut.
Ruby menenangkan mereka, dan mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Dia malah memiliki kebebasan setelah putus dengan Erik.
Ruby juga meminta tidak menyalahkan Erik, karena pria itu bebas ingin memilih pasangan yang seperti apa.
"Jadi, siapa pacar barunya? Dia kerja di mana?"
"Aku nggak kenal. Tapi kayaknya mereka magang di Rumah Sakit yang sama!" jelas Ruby.
Mereka akhirnya paham, kenapa Erik lebih suka Ruby mengikuti jejak Ibunya yang seorang dokter. Ternyata, dia memang suka wanita yang satu profesi.
"Sudahlah.. Ada banyak pria tampan di luar sana!" sahut Klara.
"Benar!" Balas Ruby.
"Eh kalian tau tidak. Aku tidak sengaja mendengar obrolan Sersan Kepala dan Sersan Mayor tentang sebuah penyakit!"
Deg
.
.
.
.
next ka...
next ka...
next ka
next ka
next ka
next ka..
lebih seram dr cerita horror...next ka...
next ka