Akira Yoshikawa, pengurung diri yang menghabiskan waktunya selama 4 tahun untuk menamatkan sebuah game yang hanya dimainkan oleh satu orang, dan orang itu adalah dirinya. Namun, setelah ia menamatkan game itu, hal mustahil mulai terjadi, Benua, Monster dan Raja Iblis yang ada di game semuanya menjadi nyata, bahkan beberapa orang dipilih menjadi Pahlawan untuk melawan para Monster, termasuk Akira, dan mereka yang dipilih sebagai pahlawan akan mendapatkan sebuah sistem.
Berbeda dengan Pahlawan yang lain, Akira ditakdirkan sebagai seseorang yang dapat menyelamatkan manusia dengan persentase tertinggi, walau dia tau, terkadang dia tidak menyadari, betapa kuat dirinya di hadapan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laten Kishi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan
Tanggal 14 Bulan Maret.
Pukul 8:00 Pagi Hari.
Akira berada di kamarnya berkeringat banyak karena berolahraga, ia sedang berdiri sambil memegang handuk yang tergantung di pundaknya, terfokus melihat sistem yang sedang menampilkan status dirinya.
“Walau aku terhitung sebagai Mage, aku tetap harus melatih fisikku, sudah lama juga aku tidak menggerakan tubuh,” pikir Akira sambil mengelap keringatnya dengan handuk.
Ding... Dong...
Suara bel rumah berbunyi membuat Akira menaruh handuknya di kursi, lalu keluar dari kamar dan turun ke bawah untuk melihat siapa yang membunyikan bel.
Saat sampai di pintu depan, ia membuka pintunya dan melihat Amamiya berdiri membawa tas tipis hitam yang lebar di tangannya.
“Ada apa pagi pagi begini?” tanya Akira.
“Maaf mengganggu, ada hal penting yang harus saya sampaikan.”
Mendengar perkataan Amamiya Akira teringat sesuatu.
“Apa mengenai invasi?”
“Benar.”
“Kalau begitu masuk dan tunggu di ruang tamu."
“Baik, terimakasih," ucap Amamiya sambil sedikit menunduk.
Amamiya berjalan masuk mengikuti Akira, kemudian Akira pergi ke belakang halaman rumah untuk memanggil Lumina yang sedang berlatih, karena ia merasa Lumina harus dengar tentang ini, sedangkan Amamiya duduk di sofa ruang tamu dan menaruh tasnya di samping ia duduk, menunggu mereka berdua.
Tak lama mereka berdua kembali lalu duduk saling berhadapan dengan Amamiya.
“Jadi, apa sepenting itu?” tanya Akira.
“Benar, yang pertama, saya ingin mengumumkan rencana peletakan para Pahlawan yang berada dibawah dukungan pemerintah, termasuk kalian berdua, oleh karena itu—”
Amamiya mengambil tasnya yang ia taruh di samping, mengeluarkan laptop, kemudian meletakkannya di meja, laptop itu dinyalakan dan menunjukan sebuah peta, kemudian ia memperlihatkan layar laptop kepada Akira dan Lumina.
“Apa ini?” ucap Lumina dengan wajah penasaran.
“Ini adalah peta yang menunjukkan letak portal invasi, dan yang seperti kalian lihat, ada 8 titik yang ditandai, itu adalah letak portal yang akan muncul di invasi selanjutnya.”
“Apa ini benar?” tanya Akira tak percaya dengan apa yang ditunjukan Amamiya.
“Anda tidak perlu khawatir, titik ini 100% akurat, karena kami menggunakan item sihir rank S, lalu kalian berdua akan mencegah portal ini."
Amamiya menunjukan salah satu titik di peta yang ada di laptop kepada mereka berdua.
Akira melihat titik yang ditunjukan Amamiya dengan seksama, seperti tak asing dengan tempat yang ditunjukan Amamiya.
“Jika anda merasa tak asing dengan tempat ini, karena tempat ini dekat dengan tempat kita saat ini," ucap Amamiya.
"Pantas saja," pikir Akira.
“Selain itu, karena kami belum tau sepenuhnya mengenai kemampuan kalian berdua, kami memilih portal ini untuk kalian, karena portal ini paling aman dibandingkan portal lainnya."
"Bagaimana kau tau kalau itu aman?" tanya Akira.
“Karena kami punya salah satu item sihir yang bisa mendeteksi Mana di lokasi, selain itu tenang saja, karena saya dan Kato juga akan membantu kalian, walau begini kami berada di Rank B."
Setelah Akira mendengarkan semua perkataan Amamiya, ia terpikirkan akan sesuatu.
“Berbeda dengan di game, karena bumi punya banyak negara, invasi jadi meluas dan semakin sulit untuk berpindah satu tempat ke tempat lain, seandainya saja ada hal 'itu'.”
“Itu saja yang ingin saya sampaikan, apa ada hal yang ingin kalian berdua tanyakan mengenai hal ini?” tanya Amamiya.
“Tidak.” jawab Akira.
“Kalau begitu besok pagi jam 7 saya akan menjemput kalian berdua, lalu kami juga ada sedikit hadiah untuk kalian besok, lalu terimakasih juga atas waktunya, saya pamit permisi dahulu.” Amamiya berdiri kemudian sedikit menunduk lalu pergi keluar.
Disisi lain Akira masih terdiam duduk sedang memikirkan sesuatu.
“Sepertinya aku harus bersiap siap, jadi, yang pertama, aku harus mengecek hadiah dari retakan portal yang kemarin belum sempat ku cek, Inventory."
Ding...
[Set Pakaian Raja Pahlawan Rank (F?)]
“Kenapa ada tanda tanya? Sudahlah, yang lebih penting aku harus mengecek dulu efek dari pakaian ini.”
Akira mengangkat tangannya dan memencet sistem di depannya dengan jari telunjuk.
[Set Pakaian Raja Pahlawan Rank (F?)
Efek:
[Seluruh Status Akan meningkat sebesar 5%]
[Skill Bifurcation Akan meningkat sebesar 15%]
[(Terkunci) Syarat membuka efek:????]
[(Terkunci) Syarat membuka efek:????]
[(Terkunci) Syarat membuka efek:????]
[(Terkunci) Syarat membuka efek:????]
[(Terkunci) Syarat membuka efek:????]
[(Terkunci) Syarat membuka efek:????]]
"Apa-apaan ini! banyak yang terkunci, selain itu aku masih belum paham dengan skill Bifurcation."
Setelah itu Akira menghembuskan nafas panjang karena efeknya tidak sesuai dengan yang dia harapkan.
"Ya... setidaknya ada satu yang bagus." pikirnya.
......................
Tanggal 15 Bulan Maret.
Pukul 7:00 Pagi Hari.
Akira bersama Lumina berdiri di depan rumah sedang menunggu Amamiya, terlihat Lumina memakai pakaian kasual, sedangkan Akira menggunakan Set Pakaian Raja Pahlawan yang ia dapat.
Set pakaian itu seperti setelan jas hitam dengan mantel panjang berwarna hitam yang disampirkan di bahu, membuat Akira terlihat berbeda dari biasanya yang selalu memakai kaos sederhana.
“Karena Aku butuh efek peningkatan statusnya, mau tidak mau aku harus memakainya,” pikir Akira dengan pasrah dan malu, namun mukanya tetap datar dan kalem untuk menyembunyikan apa yang ia rasakan.
Lumina yang berada di sebelah Akira menatap Akira dengan seksama kemudian berbicara.
“Itu terlihat cocok denganmu Akira.”
"Hmm, cara bicaranya sudah berubah, baguslah," pikir Akira.
“Ya, terima kasih,” ucap Akira.
Dari kejauhan terdengar suara mobil, tidak lama mobil itu berhenti tepat di depan mereka berdua, lalu terlihat Amamiya keluar dari mobil itu dan menuju ke pintu belakang mobil.
“Maaf telah membuat kalian menunggu," ucap Amamiya dengan sedikit menunduk sambil membukakan pintu mobil untuk Akira dan Lumina.
“Tidak masalah," ucap Akira.
Akira pun berjalan ke arah pintu mobil yang dibukakan, saat ia berjalan dan bersebelahan dengan Amamiya, Amamiya berbicara pelan sambil memejamkan matanya.
"Itu pakaian yang bagus."
Akira pun masuk tanpa sempat menjawab Amamiya dan di susul dengan Lumina, setelah pintu mobil ditutup, Amamiya menyusul masuk ke kursi pengemudi.
"Rasanya... aku mau mengganti pakaian ini saja," pikir Akira karena malu.
Beberapa Waktu Berlalu...
Dalam perjalanan, gedung putih besar yang sebelumnya pernah mereka datangi terlihat.
Akira yang melihat dari jendela dengan tangan bersidekap sudah bisa menebak mereka akan dibawa ke sana kembali, namun ada sesuatu yang membuatnya penasaran, kemudian ia pun bertanya.
"Sebenarnya gedung apa itu?"
Amamiya yang masih mengendarai mobil menjawab,
"Itu adalah gedung Government Containment Facility atau disingkat GCF, gedung itu bukan gedung biasa, gedung itu dibuat dengan item sihir yang bisa menahan serangan monster dan menahan kekuatan pahlawan."
"Ternyata masih banyak item sihir yang tidak kuketahui," pikir Akira yang masih menatap gedung GCF dari jendela mobil.
Setelah sampai di depan gedung, mereka berdua diantar oleh Amamiya ke suatu tempat di dalam gedung.
Setelah berjalan cukup lama, mereka sampai di sebuah tempat dengan pengamanan yang ketat, dijaga oleh para tentara bersenjata, di hadapan mereka sekarang terlihat ruangan yang ditutup oleh pintu besar besi yang terlihat sangat kuat dan canggih.
Amamiya membuka pintu itu dengan sesuatu seperti kartu yang bisa di scan di pinggir pintu.
WSSHHH!
Pintu dihadapan mereka seketika terbuka dengan suara mesin berat yang terdengar dan sebuah asap yang seolah keluar dari ruangan itu.
Amamiya masuk berjalan ke arah pintu yang sudah terbuka kemudian kepalanya sedikit menengok ke belakang dan berbicara.
"Silahkan masuk."
Ia melihat kembali ke depan dan berjalan diikuti oleh Akira dan Lumina, Setelah mereka masuk, mereka mengamati ruangan itu yang sepanjang jalan ke depan penuh akan perlengkapan.
Lumina sedikit takjub dengan apa yang dilihatnya, sedangkan Akira hanya diam tak menunjukkan ekspresi sambil mengamati sekitarnya.
"Sepertinya dia mau memberi kita perlengkapan disini, padahal tadinya aku berniat memintanya," pikir Akira.
Amamiya yang ada dihadapan mereka berdua berjalan ke arah salah satu senjata di ruangan itu, senjata itu berupa sebuah pedang yang tersarung, ia mengambilnya dan membawa pedang itu ke depan Lumina, setelah itu ia mengeluarkan pedang itu dari sarungnya, menunjukan sebuah bilah pedang yang terlihat sangat tajam dan mengkilap.
“Ini adalah pedang Rank C, saat digunakan, pedang ini memiliki efek Meningkatkan STR pengguna sebesar 10%,” ucap Amamiya.
Ia menyarungkan pedang itu kembali dan menyerahkannya kepada Lumina sambil berkata,
“Ini sebagai hadiah dari kami, karena sebelumnya pedang anda yang kami sita kurang bagus, jadi kami tidak mengembalikannya kepada anda, sebagai gantinya anda menerima pedang ini.”
“Eh, Baiklah, terimakasih banyak,” ucap Lumina dengan sedikit menunduk lalu dengan ragu mengambil pedang itu dari tangan Amamiya.
“Bukan hanya itu—” Amamiya menuju salah satu kotak yang sedikit besar di ruangan itu lalu membawanya ke Lumina.
Ia membuka kotaknya dan didalam kotak itu terdapat sebuah jubah berwarna putih dengan motif garis keemasan.
"Ini juga terimalah, jubah ini dapat meningkatkan Status DEX penggunanya sebesar 5% dan DEF sebesar 2%.”
"Aku tidak tau harus membalas apa, tapi, sekali lagi terimakasih banyak." Lumina dengan rasa terima kasih menerima jubah itu.
"Tidak apa-apa santai saja," ucap Amamiya.
Setelah itu Amamiya menatap ke arah Akira dan berkata,
“Saya belum tahu Keahlian anda, apa anda berkenan memberi tau?”
“Bisa dibilang aku Mage." jawab Akira.
“Kalau begitu, kami hanya punya satu perlengkapan yang cocok untuk anda, tapi ada masalah dengan perlengkapan ini."
"Masalah?" pikir Akira.
Amamiya berjalan ke suatu tempat di ruangan itu dan mengambil sebuah kotak seukuran dua telapak tangan, dia membawanya ke hadapan Akira, lalu membukanya dan menampilkan sebuah kalung yang terdapat 8 buah bentuk prisma berwarna biru muda.
“Entah kenapa kami tidak bisa membaca efek pada Kalung ini, tapi aku yakin ini kalung yang kuat, jadi terimalah kalung ini.”
Akira tanpa segan mengambil kalung itu dari kotak yang dipegang Lumina dan berkata,
"Terimakasih."
Tak lama setelah itu Lumina langsung mempersiapkan diri, begitu juga Amamiya yang membawa dua buah belati, Akira yang tak sempat mengecek kalung yang diberikan Amamiya, langsung dipakai tanpa pikir panjang.
Kemudian mereka bertiga keluar dari gedung GCF dan menaiki mobil, bersiap menuju ke lokasi titik portal berada.
Akira duduk dengan tangan bersidekap di kursi penumpang bersebelahan dengan Lumina, sedangkan Amamiya yang berada di kursi pengemudi terlihat sedang menelpon seseorang.
“Semua sudah siap, kami akan segera pergi ke tempat titik portal berada.”
Setelah itu Amamiya mematikan telponnya, menaruh ponselnya di dasbor mobil, lalu mulai menyalakan mobilnya dan berangkat.
Beberapa Waktu Berlalu...
Hingga beberapa menit lagi sampai, sepanjang perjalanan Akira hanya diam saja menatap keluar dari jendela mobil sebelum suara sistem mengalihkan perhatiannya.
Ding...
[Sistem akan memberi saran pada anda]
[Saran:Jangan terlalu terpaku pada Game]
“Saran? Entah kenapa… aku merasakan firasat buruk…”