Indonesia
NovelToon NovelToon
Kurebut Pacarmu

Kurebut Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: gadis bucin

Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.

​Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.

​Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Utang Masa Lalu

Kata-kata Kakek Subroto menggantung di udara taman yang dingin. Cahaya lampu taman yang kekuningan menegaskan senyum kemenangan di wajah pria tua itu.

Cassandra berdiri membeku di balik punggung Narendra. Surat penetapan hukum yang dipegang oleh pria bersetelan hitam itu seolah merenggut seluruh pasokan udara dari paru-parunya.

"Utang... ibuku?" bisik Cassandra dengan suara bergetar rapuh.

Narendra merebut dokumen resmi tersebut dengan gerakan cepat. Matanya menyapu setiap baris kalimat legalitas yang tertulis di atas kertas tebal berstempel kejaksaan itu.

Wajah Narendra berubah makin tegang di bawah siraman lampu taman. Tanda tangan almarhum ayah Cassandra dan cap jempol ibunya memang tertera jelas di lembar lembar terakhir.

"Kakek merekayasa bunga utang ini selama sepuluh tahun," tuduh Narendra dengan nada dingin yang sarat kemarahan. "Kakek sengaja membiarkan utang ini menumpuk supaya bisa menyandera ibu Cassandra hari ini!"

Kakek Subroto terkekeh pelan, melipat kedua tangannya di balik punggung jas mewahnya. "Itu disebut strategi bisnis legal, cucuku. Ayah Cassandra meminjam dana besar dari konsorsium Kakek sebelum dia meninggal."

Ia melangkah satu tindak mendekati kedua remaja itu. "Jika utang bernilai puluhan miliar ini tidak dilunasi malam ini juga, seluruh aset ibumu akan disita—termasuk rumah tempat kalian tinggal saat ini."

Dada Cassandra terasa dihantam batu besar yang amat berat. Harapan untuk hidup tenang bersama ibunya setelah mengamankan sertifikat tanah mendadak sirna dalam hitungan detik.

Narendra memeras lembaran dokumen di tangannya, lalu menatap kakeknya dengan sorot mata yang menyala penuh dendam. "Berapa banyak yang Kakek minta?"

"Kakek tidak minta uang kalian, Narendra," jawab Kakek Subroto seraya menyunggingkan senyum misterius.

"Kakek hanya minta kamu kembali ke rumah ini dan menandatangani surat penyerahan hak waris seluruh sistem peretasan yang kamu buat."

"Jangan, Ren!" potong Cassandra seraya menarik lengan jas Narendra kencang. "Jangan korbankan masa depan lu cuma gara-gara masalah keluarga gue!"

Narendra berpaling menatap Cassandra, lalu mengusap jemari cewek itu dengan sangat lembut. "Gue enggak bakal biarkan lu sama ibu lu kehilangan rumah, Cas."

"Tapi Kakek lu bakal mengontrol hidup lu selamanya!" seru Cassandra dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

Kakek Subroto melirik jam tangan emasnya dengan santai. "Kakek berikan waktu sampai besok sore di sekolah. Jika kamu belum menandatangani dokumen penyerahan itu, penyitaan rumah ibumu akan langsung dieksekusi oleh juru sita."

Pria tua itu berbalik arah, melangkah santai kembali menuju aula pesta yang penuh alunan musik biola. Dua pria bersetelan hitam mengiringi langkahnya, meninggalkan Cassandra dan Narendra dalam keheningan taman yang menyiksa.

Keesokan Harinya.

Suasana SMA Garuda berjalan seperti biasa di bawah teriknya matahari siang. Suara canda tawa murid-murid di lapangan basket dan aroma gorengan dari kantin menghiasi jam istirahat kedua.

Di sudut koridor lantai dua dekat kelas XI IPA 2, Cassandra dan Narendra duduk berdua di atas bangku kayu panjang.

Dua botol jus apel dingin tergeletak tak tersentuh di antara mereka. Cassandra menyandarkan kepalanya di bahu Narendra, menatap lurus ke arah lapangan basket yang ramai.

"Gue ngerasa bersalah banget sama lu, Ren," bisik Cassandra pelan. "Gara-gara gue, lu jadi terjebak sama kemauan Kakek lu."

Narendra merangkul bahu Cassandra erat, mengusap lengan cewek itu untuk memberikan rasa hangat. "Ini bukan salah lu, Cas. Kakek gue memang penguasa licik yang selalu memanfaatkan celah."

Ia memiringkan kepalanya, menatap wajah Cassandra yang tampak lelah. "Gue udah janji bakal mendampingi lu sebagai mitra yang jujur. Masalah lu adalah masalah gue juga."

"Tapi lu beneran mau tanda tangan dokumen penyerahan hak waris itu nanti sore?" tanya Cassandra khawatir.

Narendra menyunggingkan senyum miring yang sangat familiar bagi Cassandra. "Gue memang bakal datang ke rumah Kakek nanti sore, tapi bukan buat menyerahkan diri."

Cassandra mendongak kaget. "Maksud lu?"

Narendra merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan sebuah flashdisk transparan berukuran amat kecil. "Semalam gue meretas server keuangan konsorsium Kakek. Gue menemukan rekaman transaksi rahasia yang membuktikan kalau utang ayah lu sebenarnya sudah dilunasi delapan tahun lalu oleh asuransi."

Cassandra membelalakkan matanya gembira. "Beneran, Ren?! Berarti utang itu fiktif?!"

"100% fiktif dan ilegal," tegas Narendra mantap. "Gue cuma perlu mengunggah berkas penipuan ini ke server Kejaksaan Agung sore nanti saat Kakek menyodorkan dokumen itu."

Cassandra tersenyum cerah, memeluk leher Narendra dengan penuh rasa lega. "Lu emang cowok paling jenius yang pernah gue kenal!"

Narendra tertawa kecil, membalas pelukan Cassandra di tengah koridor sekolah yang mulai sepi.

Namun, kegembiraan mereka mendadak terhenti ketika bel tanda masuk kelas berbunyi nyaring dari arah pengeras suara sekolah.

TET! TET! TET!

Ponsel Cassandra di saku roknya bergetar kencang, menandakan sebuah panggilan telepon masuk dari ibunya.

Cassandra mengangkat panggilan tersebut seraya menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo, Ibu?"

Suara di ujung telepon bukanlah suara lembut ibunya, melainkan suara berat seorang pria yang asing dan napas ibunya yang terengah-engah seperti sedang ditahan.

"Pilihan yang buruk untuk percaya pada rekaman fiktif itu, Cassandra," ucap suara pria di telepon dengan dingin.

"Saat ini ibumu sudah ada di dalam mobil kami menuju gedung tua pelabuhan. Dan jika kamu memberitahu Narendra atau melapor ke polisi, ibumu tidak akan pernah pulang selamanya."

1
Ros Mawa Tyy
👍👍👍
gadis bucin: terima kasih 🤗🙏🏻
total 1 replies
gadis bucin
Teman-teman, silakan mampir dan baca karyaku. Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. 🤗❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!