"Tolong... tolong saya... ada yang mengejar saya..." bisik Elara dengan suara parau dan napas yang membakar kulit dada pria itu.
Detik berikutnya, dua pria yang mengejar Elara mendobrak keluar dari semak-semak. Mereka menghentikan langkah seketika saat melihat pemandangan di depan mereka. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat membuka mulut untuk meminta maaf atau melarikan diri, Haidar—sang bos mafia yang memimpin wilayah tersebut—beralih pandang. Mata tajamnya yang sedingin es menatap kedua pria pengganggu itu. Tanpa rasa ragu atau sepatah kata pun, Haidar mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan menembak pergelangan kaki pria terdepan.
DOR!
Suara dentuman senjata api memecah keheningan hutan. Pria yang tertembak itu menjerit histeris, terhuyung jatuh ke tanah sambil memegang kakinya yang hancur, sebelum akhirnya merangkak mundur bersama temannya dengan wajah pucat pasi sambil terus membungkuk dan berteriak meminta maaf hysterical kepada Haidar. Mereka tahu betul siapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARAPAN DI BALIK DUKA
Dekapan erat Haidar dan usapan lembut jemarinya di punggung Elara perlahan-lahan meredakan histeria yang membakar dada gadis itu. Tangisan Elara yang tadinya keras berganti menjadi isakan-isakan kecil yang pilu. Tubuhnya yang lemas tersandar sepenuhnya pada dada bidang Haidar, mencari sisa kekuatan dari satu-satunya pria yang menjadi tempatnya bersandar.
Haidar menangkup kedua pipi Elara, mengusap sisa-sisa air mata yang membasahi wajah pucat calon istrinya dengan ibu jari. Pria itu menatap lurus ke dalam manik mata Elara dengan ketajaman yang sarat akan penyesalan sekaligus keteguhan mutlak.
"Dengar aku, Elara," bisik Haidar dengan suara rendah, parau, namun sangat mantap. "Demi bernapasnya diriku, ini adalah kali terakhir aku membiarkanmu terluka."
Elara menatap Haidar dengan tatapan sayu, bibirnya yang kering sedikit bergetar.
"Aku berjanji padamu... aku akan menjaga dan melindungi dirimu lebih dari nyawaku sendiri," lanjut Haidar seraya mengecup dahi Elara dengan penuh kehangatan yang mendalam. "Tidak ada lagi orang yang bisa mencelakaimu. Siapa pun mereka, tidak akan pernah ada yang bisa menyentuhmu lagi."
Kata-kata itu bagai penawar dingin yang perlahan menenangkan gejolak di hati Elara. Meski rasa hampa akibat kehilangan calon buah hati mereka belum sepenuhnya sirna, rasa aman dalam pelukan Haidar membantunya kembali bernapas. Elara mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya kembali di dada Haidar, membiarkan pria itu mendekapnya erat di tengah sunyinya kamar perawatan.
Elara menarik napas panjang, membiarkan udara dingin rumah sakit mengisi paru-parunya. Ia memejamkan mata sejenak, mengusap sisa air mata di pipinya, dan berusaha keras menetralkan gemuruh pikiran yang membelenggu jiwanya. Perasaannya masih hancur, namun ia menolak untuk runtuh sepenuhnya.
Ia menatap Haidar yang masih menggenggam jemarinya dengan raut wajah penuh penyesalan. Lusa adalah hari pernikahan mereka—hari di mana mereka akan mengikat janji suci di hadapan Tuhan dan keluarga. Elara menyadari, membiarkan dirinya larut dalam kesedihan tanpa akhir hanya akan menambah luka bagi mereka berdua.
"Haidar..." panggil Elara lembut, membalas genggaman tangan pria itu. Sebuah senyum tipis—meski masih terbayang kepedihan—perlahan terukir di bibirnya yang pucat. "Kita harus tetap melangkah. Lusa adalah hari bahagia kita."
Haidar menatap Elara dengan tatapan tak percaya sekaligus kagum akan ketabahan wanita di hadapannya.
Elara mengelus tangan Haidar, menyalurkan kehangatan yang tersisa. "Aku percaya, Tuhan hanya menunda. Jika saatnya tiba nanti, setelah kita resmi menikah, Tuhan pasti akan menitipkan malaikat kecil lagi untuk kita. Kita harus menyambut hari lusa dengan bahagia, demi masa depan kita."
Haidar membawa tangan Elara ke bibirnya, mengecupnya lama seraya memejamkan mata. Rasa hormat dan cintanya pada Elara kian membumbung tinggi, menguatkan tekad sang bos mafia untuk menjadi pelindung sejati bagi wanita luar biasa ini.
Haidar menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Elara yang kini memancarkan binar ketabahan. Senyum tipis yang terukir di wajah pucat calon istrinya itu justru terasa begitu mengagumkan di mata Haidar—sebuah bukti betapa kuatnya jiwa wanita yang dipihnya ini.
Haidar mendekatkan wajahnya, mengecup lembut kening Elara dengan durasi yang lama, menyalurkan seluruh sisa kasih sayang, penyesalan, dan komitmen yang tak tergoyahkan.
"Dia pasti akan ada kembali di dalam perutmu, Elara," ucap Haidar dengan suara rendah nan hangat, menguatkan dan memantapkan keyakinan calon istrinya itu. "Tuhan hanya mengambilnya sejenak untuk menguji kita, dan Dia pasti akan mengembalikannya di waktu yang lebih indah."
Tangannya yang kokoh perlahan turun, mengusap lembut jemari Elara yang bertaut dengan jemarinya. Tidak ada lagi keraguan di antara mereka. Duka hebat yang baru saja menerpa bukannya menghancurkan hubungan mereka, melainkan makin merekatkan dua hati yang kini siap melangkah ke pelaminan.
"Terima kasih sudah bertahan untukku," bisik Haidar lagi, menatap Elara dengan tatapan penuh rasa syukur. "Lusa, aku akan menjadikanmu satu-satunya ratu di hidupku. Dan tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa merenggut kebahagiaanmu lagi."
Elara mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya di bahu tegap Haidar. Di dalam ruang perawatan yang sunyi itu, bayang-bayang duka perlahan tergeser oleh rakitan harapan baru yang siap mereka sambut bersama.