Pernikahan Anne Avantie Anderson dan pria yang dicintainya batal secara sepihak setelah keluarga sang kekasih menolak hubungan mereka. Di tengah keputusasaan, Anne mengikuti rencana adik sepupunya untuk membuat Davin datang menjemputnya. Ia sengaja pergi ke sebuah bar dalam keadaan mabuk, berharap pria yang masih dicintainya itu akan membawanya pulang dan kembali melanjutkan pernikahan mereka.
Namun, malam yang seharusnya menjadi jalan untuk menyelamatkan hubungannya justru berubah menjadi awal dari kehancuran hidupnya.
Anne terjebak dalam rencana adik sepupunya sendiri dan mendapati dirinya harus menghabiskan malam bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa selama ini dirinya telah menjadi korban dari kejahatan dan tipu daya sang adik sepupu.
Fitnah, kesalahpahaman, dan berbagai masalah yang menimpanya perlahan berubah menjadi aib yang membuat Anne memilih meninggalkan kota dan memutus semua hal yang mengingatkannya pada malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Tuan Viktor
Max mengantar Anne menuju ruang
HRD, untuk menandatangani kontrak kerja juga mengambil kartu id nya.
Namun setibanya di sana seseorang berkata, "maaf, silahkan datang ke ruangan presdir, Tuan Viktor sendiri yang ingin menyerahkan kontrak kerja itu pada nona Anne."
Anne pun langsung menoleh ke arah Max.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi." balas Max, keduanya pun pergi dari sana.
Anne merasa gugup, mendengar jika ia harus menghadap pria itu maka ia akan segera melihat sosok misterius yang tak tersentuh itu, entah jantungnya kini jadi berdebar-debar, imajinasi menyeramkan tentang pria itu kini sedang menguasainya.
"Apa semua karyawan baru harus menemui presdir?" tanya Anne pada Max mereka berjalan menuju ruangan pria itu, kebetulan ruangannya ada di lantai paling atas sehingga ia perlu memasuki lift kembali.
Max menggeleng, "mungkin baru-baru ini." jawabnya.
Sontak saja Anne terkejut, ia jadi semakin gugup.
Kenapa ia mendapat perlakuan seperti
ini? Mereka memasuki lift, sampai akhirnya tiba di depan ruangan presdir, pintu secara otomatis terbuka, nampaknya di dalam sana Viktor sudah menunggunya.
Anne terhenyak, dia seperti akan keluar
panggung untuk kontes saat pintu itu terbuka mendadak, dan lebih lagi dia terkejut melihat seseorang yang tengah menatap ke monitor, perawakannya tinggi, kekar, dia masih muda dan juga tampan jauh dari imajinasinya semula ketika dia adalah pria tua.
Viktor menggunakan gerakan jarinya mengusir Max.
Pria itu paham, dia segera mundur dari sebelah gadis itu.
"Max!" bisik Anne gelisah.
"Tidak apa. Aku menunggu di luar." Max meninggalkan senyum untuk Anne dia lantas pergi dari ruangan itu dan pintu secara otomatis tertutup kembali, membuat Anne kaget dan merasakan kepengapan di ruangan yang luas dan di penuhi beragam berkas.
Viktor menaikan wajahnya menatap gadis itu, menyedot etensi Anne dengan gerakan alisnya supaya dia mendekat ke arahnya, gadis itu terhenyak saat sadar pria itu tengah memerintahnya, dia telah salah mengartikan jika pria yang baru saja ia pandangi adalah sebuah manekin.
Sebab ia hampir tersedot oleh pesonanya.
Anne segera tertunduk berjalan menuju
kursi di seberang meja pria itu, tatapan pekat pria itu begitu menusuk membuat jantungnya bertalu-talu.
Viktor menatap sekali lagi berkas gadis itu di layarnya, lantas menatapnya lagi dari atas hingga ke bawah.
Sebait kisah kelam langsung melintas dalam ingatan.
"Kamu telah di terima bergabung dengan Montesano Corporation." ucap pria itu saat Anne baru saja akan mendudukan bokongnya.
Namun mendengar itu ia tak jadi kecewa, senyum manis di bibirnya langsung tersungging.
"Baca dan tanda tangani." Viktor melempar sebuah map ke hadapan Anne.
Anne merasa girang dalam hati, dia membuka berkas itu dan langsung menuju ke bagian finance, bahwa ia akan mendapatkan kenaikan gaji setelah tiga bulan bekerja, betapa senyumnya terus mengembang.
Anne segera meraih pulpen di sebelah map itu dan membubuhi tanda tangannya di sana.
"Terimakasih, tuan."
Viktor tak berekspresi dan berbicara lagi, hanya tatapan dingin yang sedari tadi dia
berikan, ini semua membuat Anne hampir mati membeku.
Tidak lama pintu di belakangnya terbuka lagi secara otomatis membuat Anne sadar bahwa sudah saatnya ia pergi.
Dia segera membangkitkan kakinya yang terasa tremor lalu menunduk untuk pergi dari sana.
Dia pun bertemu dengan Max yang masih menunggunya di luar, senyumnya dia lengkungkan meski berada di ruangan itu tadi ia merasa seperti berada di ruangan uji coba.
"Terimakasih banyak Max, berkatmu aku
jadi bisa di terima kerja disini." Anne tidak tahan untuk meluapkan rasa gembiranya.
Pria itu tersenyum senang, "kalau begitu selamat ya!" ujarnya.
Anne mengangguk.
Keduanya kembali berjalan, Max juga mengantar ke ruangan kerja Anne berada, barulah ia kemudian ke ruangannya sendiri.
Anne mengisi tempat duduknya di salah satu bilik divisi marketing.
Di saat itu rekan kerjanya langsung menyambutnya.
"Kamu Anne?" seseorang datang menyapanya.
Gadis itu menoleh dan mengangguk, bagaimana mereka bisa mengetahui namanya? Dia menoleh ke bawah rupanya mereka melihat dari ID cardnya yang telah terpasang.
"Senang bertemu denganmu, selamat datang di divisi pemasaran ya." sahut yang lainnya lagi.
"Senang bertemu dengan kalian juga. Terimakasih atas ucapannya." balas Anne
dengan ramah.
Ketika itu salah satu senior di sana pun
menimbrung, "ku dengar kamu di rekrut oleh Max, apakah kamu memiliki hubungan spesial dengannya?" singgungnya.
Anne terhenyak namun ia segera menjawab, "tidak, um... Dia adalah kakakku." Jawaban ini terdengar lebih pantas untuk menunjukkan kedekatan itu.
Lagipula sejauh ini ia dan Max memang tidak terikat perasaan apapun, sehingga ia selalu menganggap Max adalah kakaknya begitupun Max yang juga menyayangi Anne seperti adik juga keluarganya.
Meski sebetulnya ia tak nyaman ketika ada orang yang menanyakan kedekatannya seperti ini, ini adalah privasi yang tak penting orang tahu.
Wanita itu mengangguk, namun tetap merasa curiga dengan kedekatan mereka.
"Karena Max tidak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun, jadi melihat kau di rekrut olehnya aku jadi curiga." Anne terkesiap, ia juga tak menyangka jika Max tak pernah menyempatkan diri untuk mencari kekasih, apakah karena ia terlalu sibuk mengurus ayahnya, ia jadi merasa bersalah.
"Ah, tidak-tidak. Tidak ada yang perlu di curigai, kami saudara, barang kali Max terlalu sibuk sehingga tidak punya waktu untuk kencan." balas Anne dengan senyum canggung.
"Jika kau saudaranya, berikan aku nomor pribadinya." ucapnya.
Anne terkesiap, ada perasaan sedikit tak rela, tapi demi menjaga kenyamanan ia juga tidak boleh egois.
"Baik,"
Wanita itu tersenyum, dan Anne mengetik nomor itu sambil berfikir.
"Thanks, ternyata kamu baik mulai sekarang kita berteman." wanita itu menepuk bahu Anne dengan ramah lalu pergi.
Anne pun mengangguk dia lalu memutar
tubuhnya menatap monitor di depannya untuk memulai pekerjaan hari ini, begitupun seluruh karyawan yang ada di ruangan ini.
Wanita yang duduk di sebelahnya menyenggol kursinya hingga Anne menoleh.
"Jangan dekat-dekat dengan wanita tadi."
bisiknya dengan pelan.
Anne mengerutkan keningnya penuh
tanya.
"Memangnya kenapa?" Anne membalas
dengan berbisik.
Setidaknya ia belum banyak tahu tentang kondisi di sini.
"Dia menyukai Max, tapi berulang kali di
tolak olehnya. Jadi kamu harus hati-hati." Anne bergeming lalu berucap, "untung saja ku berikan nomor palsu tadi."
Wanita itu seketika membulatkan matanya kaget, dalam hati ia bergumam, 'masalah baru sedang mengintaimu anak baru.'
Waktu menunjukkan pukul lima, semua karyawan yang telah menyelesaikan pekerjaannya bergegas pulang.
Termasuk Anne yang kini buru-buru, beberapa saat yang lalu dia mendapatkan pesan dari Max jika dia telah menunggunya di bawah.
Sore ini ia ingin segera mengunjungi ayahnya, ingin berbicara pada dokter kenapa sampai empat tahun ini ayahnya tak juga terbangun.
Ia juga sangat rindu padanya, selama ini ada banyak hal yang ia lakukan sendiri, ia rindu ketika ayahnya dulu selalu ada untuknya menjadi temannya ketika ia kesepian dan bahkan tak akan membiarkan ia bekerja keras sendiri seperti saat ini.
Meski sebetulnya kini Anne senang, karena ternyata ia mampu menjalani semua ketakutan yang dulu dia bayangkan ketika berani bekerja sendiri, kemana-mana sendiri, bahkan menghidupi tiga anak sekaligus, meski ia harus bekerja sangat keras.
Dia berdiri di depan pintu menunggu lift
terbuka, jarinya menekan berkali-kali tombol di sana tapi tidak juga terbuka, ia sedang buru-buru kini.
Di saat yang sama pintu lift khusus terbuka.
Ia berlari masuk kesana tanpa berpikir panjang.
Ketika itu seorang pengawal mendorong
bahunya sambil memberi peringatan, "hei, keluarlah ini adalah lift khusus presdir. Karyawan biasa tidak boleh menggunakannya!"
Anne tercengang atas kesalahannya, namun sebelum dia menjawab seseorang lain di dalam lift itu memberi instruksi melalui lirikan matanya agar membiarkan wanita ini tetap berada disini.
Akhirnya pengawal itu diam lalu melepas tangannya yang berusaha mengusirnya.
Pintu lift itu pun tertutup sehingga ruang
persegi itu menjadi terasa pengap, dan gelap.
Ketika merasa ada yang aneh setelah ia diizinkan menggunakan lift ini, Anne menatap ke belakang dan jantungnya berdegup kencang saat ia melihat sepasang mata hitam sedang memancar di sana.
Dengan cepat juga dia segera membalikan wajahnya.
Ternyata sosok itu adalah dia, pria yang tadi pagi dia temui.
Udara menjadi terasa pengap, hingga membuat ia sulit untuk bernafas, pria itu bagaikan malaikat kematian yang telah
menyedot seluruh oksigen di ruangan sempit ini.
Anne menatap pantulan mereka dalam
cermin, pria itu memiliki tubuh tinggi yang tegap, sepasang mata hitam cemerlang miliknya sedang menatapnya melalui pantulan itu hingga keduanya kini saling memandang, Anne menjadi gugup dia tertunduk dengan kaki yang bergetar.
Aura yang di pancarkan dari tatapan itu seperti membawa kabut hitam yang gelap, sedang manik matanya sangat jernih dan tajam bagaikan singa jantan yang ingin menerkamnya hidup-hidup.
Dalam hati Anne hanya bisa melangitkan
doa-doanya berharap keselamatan selama ia berada disini bersamanya.
la begitu menantikan lift akan segera terbuka membawanya ke lantai dasar tapi rasanya perjalanan ini cukup lamban, padahal dia hanya tinggal menunggu beberapa lantai lagi terlewati.
Di saat yang sama ia merasakan udara semakin gelap, dia melihat Viktor yang berdiri di belakangnya sedang berjalan mendekatinya.