Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Rintik hujan terdengar memukul atap seng yang sudah berkarat malam itu.
Tes. Tes. Tes.
Air kotor mulai menetes dari langit-langit ke lantai kayu yang lapuk di sudut ruangan.
Bayu Rahaja duduk bersandar di dinding sambil memeluk kedua lututnya erat-erat.
Pandangannya kosong menatap foto dua orang paruh baya yang bingkainya sudah retak.
"Kenapa Bapak dan Ibu harus pergi secepat ini?" gumam Bayu dengan suara bergetar.
Ia mengusap wajahnya yang basah oleh campuran air mata dan sisa air hujan.
Baru tiga hari yang lalu kedua orang tuanya dimakamkan setelah kecelakaan beruntun di jalan tol.
Semua kerabat menatapnya dengan tatapan sinis dan berbisik-bisik saat pemakaman itu berlangsung.
"Anak itu memang pembawa sial sejak lahir ke dunia," ucap salah satu bibinya waktu itu yang masih terngiang di kepalanya.
"Ya, usahanya selalu bangkrut, dan sekarang dia membuat orang tuanya mati," sahut pamannya dengan nada membuang muka.
Bayu mengingat semua ucapan menyakitkan itu dan hanya bisa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
"Aku memang pembawa sial," batin Bayu menyalahkan dirinya sendiri.
Setiap kali ia mencoba memulai sesuatu dalam hidupnya, akhirnya selalu hancur berantakan tanpa sisa.
Kini ia sendirian di rumah peninggalan kakeknya yang terletak di pinggiran kota yang sepi.
Brak! Brak! Brak!
Suara gedoran keras di pintu depan membuat Bayu tersentak kaget dari lamunannya.
"Woi Bayu, cepat buka pintunya!" teriak seorang pria bersuara serak dari luar rumah.
"Aku tahu kamu bersembunyi di dalam, dasar anak sial!"
Bayu gemetar hebat saat mengenali suara parau yang sangat ditakutinya itu.
Itu adalah suara Bagas, rentenir lintah darat yang sering meminjamkan uang kepada almarhum ayahnya.
"Mas Bagas, tolong beri saya waktu beberapa hari lagi," teriak Bayu dari dalam ruangan dengan panik.
"Saya baru saja menguburkan orang tua saya, pikiran saya masih kacau."
Brak!
Pintu kayu yang sudah rapuh itu akhirnya jebol ditendang dari luar dengan kasar.
Bagas melangkah masuk bersama dua anak buahnya yang berbadan besar dan bertato.
Mereka membawa tongkat pemukul kasti dan menatap Bayu dengan tatapan garang bagai serigala lapar.
"Waktumu sudah habis, Bayu," kata Bagas santai sambil meludah ke lantai ruang tamu.
"Hutang bapakmu itu lima ratus juta, dan bunganya terus berjalan setiap hari tanpa henti."
Bayu menelan ludah dan memundurkan tubuhnya sambil merangkak hingga punggungnya mentok ke dinding.
"Saya benar-benar tidak punya uang sebanyak itu sekarang, Mas Bagas," ucap Bayu memelas sambil menyatukan kedua tangannya.
"Kalian bisa ambil sertifikat rumah ini kalau mau, tapi tolong jangan sakiti saya malam ini."
Bagas tertawa keras hingga perut buncitnya berguncang mendengar tawaran putus asa itu.
"Rumah reyot banyak rayap begini laku berapa kalau dijual, hah?" ejek Bagas sambil menunjuk atap yang bocor.
"Riko, kasih anak ini pelajaran biar dia tahu tata krama dalam berhutang."
Pria bertubuh gempal bernama Riko langsung maju sambil menyeringai dan menarik kerah baju Bayu dengan kasar.
"Ampun, Mas Riko, jangan pukul saya," mohon Bayu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Bugh!
Satu pukulan keras mendarat telak di perut Bayu hingga ia terlipat ke depan.
"Akh..." Bayu terbatuk keras dan memuntahkan air liur bercampur cairan lambung.
Rasa sakit yang luar biasa membuat pandangannya mulai berkunang-kunang dan napasnya sesak.
"Ini baru peringatan awal untukmu, Bayu," ancam Riko sambil menampar pipi pemuda itu dengan keras.
"Kalau besok pagi kamu tidak bawa uang seratus juta sebagai cicilan pertama, nyawamu melayang."
Bagas menyalakan sebatang rokok dengan santai dan menghembuskan asapnya tebal-tebal ke udara.
"Ayo kita pergi dari tempat kumuh yang bau tanah ini," perintah Bagas kepada kedua anak buahnya.
"Kita kembali besok pagi jam delapan tepat."
Ketiga preman itu berjalan keluar menembus hujan, membiarkan pintu depan terbuka lebar dan meninggalkan Bayu yang terkapar di lantai.
Bayu memegangi perutnya yang kram parah sambil berusaha merangkak bangun dengan sisa tenaganya.
"Sial... sial... kenapa selalu aku yang sial..." rutuk Bayu dalam hati sambil meneteskan air mata kemarahan.
"Kenapa hidupku selalu ditindas seperti ini oleh semua orang?"
Ia berjalan tertatih-tatih sambil berpegangan pada dinding menuju ruang penyimpanan di bagian paling belakang rumah.
Orang tuanya berpesan sebelum meninggal untuk segera mengamankan sebuah kotak kayu kecil di ruangan itu.
Lampu bohlam kuning di ruangan itu berkedip-kedip redup saat Bayu menekan saklarnya.
Debu tebal berterbangan ke hidungnya, menutupi tumpukan barang-barang rongsokan masa lalu.
Bayu menggeser sebuah lemari tua yang berat dan akhirnya menemukan kotak kayu berukir naga di baliknya.
Ia berlutut di lantai yang dingin dan membuka penutup kotak itu dengan tangan gemetar menahan sakit.
Di dalamnya tidak ada tumpukan uang atau perhiasan, melainkan hanya ada sebuah batu hitam kehijauan seukuran kepalan tangan orang dewasa.
"Hanya ini peninggalannya?" ucap Bayu merasa sangat kecewa hingga ingin melempar kotak itu.
"Benda pusaka apanya, ini cuma batu kali biasa yang tidak ada harganya sama sekali."
Ia mengambil batu dingin itu dengan tangan kanannya untuk memperhatikannya lebih dekat di bawah cahaya lampu.