"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," ucap Sean halus, sambil menepuk pelan jemari Aura yang berada di atas pangkuan.
Aura mengangguk pelan, memberikan senyuman terbaiknya. "Jangan lama-lama ya, Sean."
Sean berdiri dan melangkah menjauhi meja makan melingkar itu, menghilang di antara kerumunan alumni yang sedang asyik mengobrol. Aura kembali menyesap minuman dinginnya, mencoba menikmati suasana. Namun, jarum jam seolah berputar lambat. Lima menit berlalu, lalu sepuluh menit, hingga tak terasa hampir 15 menit Sean tak kunjung kembali ke meja mereka.
Rasa khawatir dan curiga mulai merayapi pikiran Aura. Dengan menghela nafas panjang, ia berpamitan singkat pada teman-teman seangkatannya lalu berdiri untuk menyusul kekasihnya. Langkah kakinya yang beralaskan gaun anggun dan sepatu hak tinggi mengayun perlahan menyusuri lorong katering yang agak remang-remang menuju area toilet.
Namun, sebelum langkahnya benar-benar sampai di depan pintu toilet pria, langkah Aura terhenti seketika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titah Dari Lantai Tertinggi
Suasana dingin dan intimidatif menyelimuti lobi utama saat Arsenio Pratama berdiri tegak di depan lift pribadinya yang baru saja meluncur naik. Wajah sang CEO tampak sangat datar, namun sorot matanya yang pekat memancarkan ketegasan yang mampu membuat siapa pun menahan napas.
"Pak Arsen, mohon maaf atas kelalaian petugas lobi—" manajer operasional lobi mencoba bersuara dengan nada bergetar dan pelipis bersimbah keringat dingin.
Arsen mengangkat satu tangannya sedikit, seketika membungkam kalimat sang manajer tanpa perlu memotongnya dengan kata-kata. Ia beralih menatap asisten pribadinya, David, yang berdiri sigap di belakangnya.
"Cari tahu siapa yang baru saja menggunakan lift itu," perintah Arsen dengan suara berat, dalam, dan tanpa nada kompromi. "Panggil dia ke ruang kerja saya sekarang juga."
"Baik, Pak Arsen. Segera saya laksanakan," jawab David mantap sembari membungkuk hormat.
Tanpa membuang waktu lagi, Arsen melangkah masuk ke dalam lift khusus berikutnya yang baru saja tiba di lantai dasar bersama wakil direktur. Pintu emas itu meluncur naik secara eksklusif membawa sang pemilik gedung langsung menuju lantai paling atas.
Sementara itu, Aura yang tidak menyadari bahwa dirinya baru saja memicu kehebohan kecil di hari pertamanya, telah tiba di lantai empat dengan selamat dan tepat waktu. Ia melangkah anggun keluar dari lift, menyapa beberapa staf divisi analisis data dengan senyum manisnya yang hangat. Ia bahkan sudah duduk rapi di kubikel kerjanya yang baru, mulai merapikan peralatan tulis dan dokumen sambutan dari perusahaan.
Namun, baru beberapa menit Aura menyesuaikan diri dengan suasana kubikel kerjanya, suara langkah kaki terburu-buru terdengar mendekat. David, asisten pribadi sang CEO, berdiri di ambang pintu divisi analisis data bersama kepala divisi.
"Nona Aura Kirana?" panggil kepala divisi dengan raut wajah campur aduk antara cemas dan bingung.
Aura berdiri anggun dari kursinya, merapikan blazer abu-abu gelapnya. "Iya, Pak?"
"Ikut saya sekarang," ujar David tegas namun tetap sopan. "Pak Arsenio Pratama menunggu Anda di ruang kerja beliau lantai paling atas."
Aura yang belum sepenuhnya memahami situasi hanya bisa mengerutkan dahi halus. Sebelum ia sempat melangkah mengekor di belakang David, sebuah suara melengking berselubung nada cemooh terdengar dari kubikel sebelah.
Maya, salah satu senior di divisi analisis data yang sejak awal memperhatikan kehadiran Aura dengan tatapan tak suka, menyandarkan tubuhnya di tepi meja. Maya melipat tangan di dada, melemparkan senyum sinis yang begitu kentara ke arah Aura.
"Mampus... Makanya jadi anak baru jangan sok tahu," bisik Maya cukup keras agar terdengar oleh staf lain di sekitarnya. "Pake segala naik ke lift khusus CEO. Kena semprot deh kamu nanti sama Pak Arsen!"
Aura menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh ke arah Maya, namun alih-alih panik atau terpancing emosi, Aura justru membalas tatapan itu dengan wajah sangat tenang dan anggun. Ia tak membuang energi untuk melayani bisikan sinis tersebut, melainkan hanya mengulas senyum tipis yang dingin sebelum kembali berbalik mengikuti langkah David menuju area lift khusus.
Gengsi dan ketenangan Aura membuat Maya menahan kekesalan karena gagal melihat reaksi takut dari sang junior.
David memandu Aura masuk ke dalam lift emas yang sama, lalu menekan tombol lantai paling atas. Selama beberapa detik dalam keheningan lift yang meluncur cepat, Aura baru menyadari kekeliruannya. Lift bernuansa emas yang ia naiki tadi pagi ternyata adalah area privat yang hanya boleh diakses oleh pemilik A&P Group—Arsenio Pratama.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai eksekutif. Karpet tebal bernuansa gelap dan dinding kayu berkelas menyambut langkah kaki mereka. Suasana di lantai ini begitu hening, megah, dan sarat akan dominasi.
David mengetuk pintu kayu jati berukuran raksasa di ujung koridor secara teratur, lalu membukanya perlahan.
"Pak Arsen, Nona Aura Kirana sudah berada di sini," ujar David sopan.
Dari dalam ruangan yang sangat luas itu, suara berat dan dingin yang begitu berwibawa memotong keheningan. "Suruh dia masuk. Kamu boleh tinggalkan kami."
Aura membasahi bibirnya yang terasa sedikit kering. Ia merapikan blazer abu-abu gelapnya, menghembuskan napas pelan untuk menetralkan degup jantungnya, lalu melangkah mantap memasuki ruangan megah sang CEO—siap berhadapan kembali dengan sosok pria yang memegang penuh kendali atas nasibnya di tempat ini.