Indonesia
NovelToon NovelToon
Belenggu Cinta Sang CEO

Belenggu Cinta Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Gastor Gaming

Anindya (22 tahun) terpaksa menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Vane (28 tahun), CEO kejam dari Vane Group, demi membayar biaya pengobatan adiknya. Adrian hanya memanfaatkan pernikahan ini untuk membalas dendam pada keluarga Anindya yang ia tuduh memfitnah keluarganya di masa lalu.

Adrian bersikap dingin, arogan, dan menetapkan batasan ketat: tidak boleh ada rasa cinta. Namun, saat rahasia masa lalu yang sebenarnya perlahan terkuak dan musuh bisnis Adrian mulai menargetkan Anindya, Adrian sadar bahwa wanita yang ia benci telah menjadi pelindung jiwa dan takdir hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gastor Gaming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Kembaran

Maafkan aku, Adrian...ucap wanita itu dengan suara lembut yang menusuk kalbu. Clara yang lugu sudah mati dua tahun lalu.

 Aku adalah kakaknya... kembaran yang selama ini kalian kira sudah tiada.

​Angin malam di atas helipad berhembus kencang, mengibarkan gaun merah menyala yang dikenakan wanita itu.

Adrian terpaku di tempatnya, cengkeraman tangannya pada pistol taktis perlahan mengendur akibat rasa terkejut yang luar biasa.

​Kembaran... Clara? bisik Anindya dengan lidah kelu, menatap wajah wanita itu yang benar-benar identik dengan mendiang Clara.

Bagaimana mungkin? Clara tidak pernah bercerita kalau dia punya saudara kembar!

​Tentu saja dia tidak pernah bercerita, Nyonya Anindya, wanita bergaun merah itu tertawa pelan, suara tawanya terdengar sangat dingin dan penuh misteri. Karena sejak kami lahir, Kakek Alexander yang terhormat ini memisahkan kami berdua.

​Alexander Vane, yang masih mengerang kesakitan di lantai sambil memegang pergelangan tangannya yang buntung, menengadah dengan mata membelalak penuh ketakutan.

Clarissa?! Kau... kau Clarissa?!

​Selamat malam, Kakek, sapa Clarissa seraya mengarahk an laras senapannya tepat ke dahi Alexander. Senang melihatmu bersimbah darah seperti ini. Sangat cocok dengan semua dosa yang sudah kau perbuat.

​Clarissa... gumam Adrian, mencoba mengingat kembali potongan masa lalunya. Nama itu... nama yang pernah kutemukan di dokumen rahasia ayahku sepuluh tahun lalu.

​Ya, Adrian. Aku adalah rahasia terbesar keluarga Vane yang disembunyikan di fasilitas militer luar negeri, ujar Clarissa tanpa melepaskan pandangannya dari Alexander.

Kakek menyimpanku sebagai cadangan organ jika tubuh Clara mengalami kegagalan. Aku dibesarkan sebagai senjata, bukan sebagai manusia.

​Lalu kenapa kau menembak Kakek? desak Sarah seraya melangkah perlahan mengover posisi Anindya. Jika kau membalas dendam, bukankah seharusnya kau bekerja sama dengan tim kepolisian?!

​Kepolisian? Clarissa terkekeh sinis, matanya melirik Sarah penuh penghinaan.

Polisi hanya menangkap iblis tua ini dan mengurungnya di penjara mewah. Itu tidak cukup untuk membayar nyawa adikku, Clara!

​Apa maksudmu, Clarissa? tanya Anindya dengan suara bergetar. Apa yang sebenarnya terjadi pada Clara dua tahun lalu?

​Clara tidak meninggal karena penyakit racun itu, Anindya!" jerit Clarissa, suaranya mendadak melengking penuh kepedihan yang mendalam.

Clara dibunuh! Dia dibunuh secara perlahan oleh Kakek dan Ibu Suri setelah dia tahu bahwa dirinya mengandung anak dari eksperimen keji keluarga ini!

​Adrian tersentak hebat. Jadi rumor tentang kehamilan Clara itu... benar?

​Sangat benar, Adrian! tegasa Clarissa dengan mata memerah menahan tangis.

Dua tahun lalu, saat kalian semua berpikir Clara dirawat di rumah sakit, dia sebenarnya disekap di laboratorium bawah tanah.

 Aku berhasil menembus tempat itu, tapi aku terlambat. Clara meninggal di tanganku setelah melahirkan... dan aku mengambil alih identitasnya sejak saat itu!

​Anindya memegang dadanya yang berdegup kencang. Tunggu... jika kau yang menyamar sebagai Clara selama dua tahun terakhir ini... berarti sampel darah Bombay Phenotype yang menyelamatkan nyawa Adrian kemarin...

​Itu adalah darah milikku, potong Clarissa seraya menatap Adrian dengan pandangan yang sulit diartikan.

Darah yang mengalir di tubuhmu saat ini adalah darahku, Adrian. Kita sekarang terikat secara biologis lebih dalam dari sekadar sepupu.

​Mengapa kau menyelamatkanku, Clarissa? tanya Adrian seraya melangkah satu titik ke depan, mengabaikan rasa nyeri yang makin menusuk di perutnya.

Jika kau benci keluarga Vane, mengapa kau tidak membiarkanku mati di ruang operasi?

​Karena mati terlalu mudah untukmu, Adrian, jawab Clarissa dingin. Dan karena kau masih punya satu peran penting yang harus kau selesaikan dalam rencanaku.

​Rencana apa?! bentak Adrian dengan rahang mengeras.

​Clarissa perlahan menggeser laras senapannya dari Alexander, lalu menembaknya tepat ke arah dada Adrian.

​DOR!

​Adrian! jerit Anindya histeris.

​Namun peluru itu tidak menembus dada Adrian, melainkan menghantam tepat pada pistol di tangan Adrian hingga senjata itu terlempar jauh ke kegelapan luar helipad.

Benturan keras itu membuat tubuh Adrian yang lemas terhuyung jatuh berlutut di atas lantai beton.

​Adrian! Anindya langsung berlutut di samping suaminya, merangkul bahu Adrian yang bersimbah keringat dingin. Kau tidak apa-apa?!

​Aku... aku baik-baik saja, Anindya... ringis Adrian, memegang tangannya yang kebas akibat benturan peluru.

​Jangan bergerak, Clarissa! teriak Sarah seraya mencabut pistol cadangan dari balik pinggangnya dan mengarahkannya lurus ke kepala Clarissa. Menyerah lah! Heli pad ini sudah dikepung oleh tim keamanan gedung!

​Clarissa bahkan tidak menoleh ke arah Sarah. Ia tersenyum tipis, merogoh remote kendali kecil dari saku gaun merahnya. Kau pikir aku datang ke sini sendirian, Agen Sarah?

​Bzzzt! Bzzzt!

​Tiba-tiba, suara baling-baling helikopter kedua yang berukuran jauh lebih besar dan tanpa lampu navigasi muncul dari balik kegelapan awan malam, melayang tepat di atas heli pad. Dua buah tali baja diluncurkan turun dari pintu helikopter misterius itu.

​Apa lagi ini?! seru Dokter Kenzie yang ketakutan setengah mati di dekat pintu atap.

​Alexander Vane boleh saja kehilangan pergelangan tangannya, ucap Clarissa seraya mengaitkan satu tali baja ke sabuk khusus di balik gaunnya, tapi hukumannya belum selesai.

 Dia akan menghabiskan sisa hidupnya di laboratorium pribadi milikku untuk merasakan apa yang dirasakan Clara.

​Dengan gerak cepat dan terlatih, Clarissa menarik tubuh Alexander yang lemas dan mengaitkan tali baja kedua ke tubuh pria tua itu. Alexander meraung ketakutan saat tubuhnya mulai terangkat dari lantai heli pad.

​Clarissa! Ampuni aku! Jangan bawa aku! jerit Alexander histeris saat tubuhnya tergantung di udara.

​Clarissa menatap turun ke arah Adrian dan Anindya yang masih berlutut di lantai heli pad. Angin dari helikopter di atas bertiup sangat kencang, membuat suasana makin mencekam.

​Ingat kata-kataku, Adrian Vane, ujar Clarissa dengan suara nyaring menembus gemuruh angin. Vane Group sudah mati malam ini. Tapi perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.

​Apa mau mu sebenarnya, Clarissa?! teriak Anindya penuh amarah, berdiri membusungkan dadanya melindung Adrian. Biarkan kami hidup tenang! Kami tidak ada hubungannya dengan dendam masa lalumu!

​Clarissa menatap perut Anindya dengan senyuman misterius yang amat dingin. Kau memang tidak ada hubungannya, Anindya. Tapi bayi di dalam kandunganmu itu... adalah kunci utama dari seluruh warisan rahasia yang dicari oleh sindikat internasional.

​Anindya membelalakkan matanya. Warisan rahasia?!

​Sampai jumpa dalam sembilan bulan, Nyonya Vane, bisik Clarissa seraya menekan tombol pada remote di tangannya.

​Wush!

​Kedua tali baja itu ditarik cepat ke atas, membawa Clarissa dan Alexander terbang membumbung tinggi masuk ke dalam helikopter misterius yang langsung melesat menembus kegelapan awan malam kota.

​Clarissa! teriak Adrian, mencoba berdiri namun tubuhnya akhirnya ambruk di atas dada Anindya.

​Adrian! Buka matamu! Adrian! jerit Anindya histeris saat melihat perban perut Adrian kini memerah sepenuhnya oleh pendarahan hebat.

​Nyonya! Tuan Adrian kehabisan darah lagi! seru Sarah panik seraya menekan luka di perut Adrian.

Dokter Kenzie! Panggil tim medis darurat ke atap sekarang juga!

​Darah... darahnya merembes terlalu banyak! jerit Dokter Kenzie yang memeriksa denyut nadi Adrian.

Denyut nadinya melemah drastis! Kita butuh transfusi darah murni Bombay Phenotype lagi dalam waktu sepuluh menit!

​Anindya membeku, matanya menatap tajam pada darah Adrian yang membasahi tangannya. Tidak... tidak mungkin... donor Clarissa tadi adalah donor terakhir yang tersisa...

​Bagaimana ini, Dokter?! suara Sarah pecah oleh tangisan. Stok darah di seluruh kota sudah habis! Jika tidak ada donor cocok dalam sepuluh menit, Tuan Adrian akan...

​Brak!

​Pintu atap darurat kembali didobrak keras dari bawah. Seorang pria paruh baya bertopi hitam dengan setelan jas lusuh yang basah oleh air hujan melangkah keluar dengan napas terengah-engah.

​Pria itu memegang sebuah tas pendingin medis vintage bersimbol naga emas.

​Siapa kau?!bentak Sarah seraya mengarahkan pistolnya pada pria misterius itu.

​Pria bertopi hitam itu mengangkat pandangannya, menatap lurus ke arah Anindya dengan mata yang sangat mirip dengan mata ayah Anindya yang telah lama meninggal.

​Turunkan senjatamu, Nyonya, ucap pria paruh baya itu dengan suara parau yang bergetar. Aku membawa darah yang cocok untuk suami putriku.

​Anindya melotot tak percaya, jantungnya seakan berhenti berdetak. Ayah...?

1
Om Udik
lanjut🙏
Om Udik
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!