Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
Perempuan Macam Apa
"Aku baik-baik saja, Ma. Nanti aku jelaskan langsung."
Karina menutup telepon setelah berjanji pulang ke Bandung. Dia mengakui putusan cerai sudah keluar, tetapi belum mengatakan soal Nathan atau kehamilan. Meilan menangis, Hendra mengambil alih telepon dan hanya meminta putrinya tidak menghadapi semuanya sendiri.
Tiga hari kemudian, setelah dokter mengizinkan penerbangan singkat dengan syarat ketat, Karina dan Nathan pergi ke Singapura. Jerry mengurus jadwal resmi, pengacara memeriksa dokumen, dan keduanya mendaftarkan perkawinan sesuai prosedur. Tidak ada pesta. Hanya tanda tangan, dua cincin, satu foto, dan tangan Nathan yang tidak melepaskan Karina.
Jerry menjemput di bandara dan memanggil Nathan "Aries" di depan petugas. Karina masih belum terbiasa pada nama itu. Di mobil, dia memeriksa map berulang kali: paspor, putusan cerai yang sudah final, terjemahan resmi, bukti status, dan surat dokter untuk perjalanan.
"Kalau berubah pikiran, bilang sebelum masuk," kata Nathan di depan gedung registrasi.
"Kamu yang seharusnya berubah pikiran."
"Nggak akan."
"Kamu bahkan belum memberi tahu ibumu."
"Aku menikahi kamu, bukan meminta Mami memilihkan istri."
Petugas memeriksa identitas dan memastikan mereka memahami akibat hukum. Karina menjawab setiap pertanyaan sendiri. Nathan tidak mengambil alih. Ketika diminta menyatakan persetujuan, suara Karina sempat bergetar, tetapi kata iya tetap keluar jelas.
Nathan memasangkan cincin dengan tangan yang justru lebih gemetar. Setelah dokumen ditandatangani, dia menempelkan kening ke kening Karina.
"Terima kasih sudah memilihku."
"Aku memilih perlindungan untuk anak-anak."
"Nggak apa-apa. Nanti kamu memilih aku juga."
Keyakinannya menyebalkan, tetapi Karina tidak menarik tangan saat Jerry mengambil foto mereka.
"Sekarang sah," bisiknya.
Karina masih merasa semuanya seperti mimpi. Mereka akan mencatatkannya kembali dan mengurus pemberkatan saat kondisi kandungan aman. Untuk sementara, foto registrasi hanya tersimpan di ponsel Nathan.
Sepulang ke Jakarta, Nathan menerima undangan minum dari Ko Steven. Dia mengira hanya makan malam, tetapi lounge itu dipenuhi rekan bisnis yang sengaja mendorong gelas ke arahnya.
Steven sudah menerima laporan Sam bahwa dana dua miliar nyaris utuh dan semua pengeluaran Karina tercatat untuk medis. Fakta itu mengurangi kecurigaan, tetapi tidak menjelaskan mengapa Nathan menghilang ke Singapura dua hari.
"Kamu mematikan lokasi," kata Steven.
"Aku bukan anak lima tahun."
"Justru anak lima tahun tidak bisa membuat skandal pernikahan."
Nathan menatapnya tajam, tetapi Steven hanya menduga. Dia belum tahu registrasi benar-benar terjadi.
Rekan bisnis mulai bersulang. Nathan minum sedikit untuk menghormati meja, lalu mengganti gelasnya dengan air. Steven sengaja meminta orang menambah minuman, ingin melihat apakah sepupunya masih mudah terpancing seperti dulu.
Nathan bertahan sampai seorang perempuan dikirim mendekat. Cara dia menyingkirkan tangan perempuan itu begitu cepat dan dingin hingga Steven akhirnya percaya ada seseorang yang benar-benar dijaga.
"Perempuan macam apa dia?" tanya Steven.
"Perempuan yang akan membuat Ko malu sudah menilainya sebelum bertemu."
"Sekali saja," kata Steven. "Rayakan kampanye sukses."
Nathan yang hampir tidak minum sejak tinggal bersama Karina menolak dua kali. Gelas ketiga akhirnya diterima karena semua orang mendesak. Ketika seorang perempuan bergaun pendek duduk terlalu dekat, dia langsung berdiri.
"Pergi."
"Santai, Nathan. Cuma menemani."
"Aku sudah punya istri."
Steven menatapnya tajam. Nathan tidak memberi penjelasan. Dia mengambil ponsel, tetapi kepalanya mulai berat.
Di apartemen, Karina melihat jam melewati tengah malam. Nathan biasanya mengirim kabar setiap dua jam. Trauma lama membuat pikirannya kembali ke alasan lembur Andri.
Dia menelepon.
Ko Steven yang menjawab. "Siapa?"
"Karina. Nathan di mana?"
"Mabuk. Kalau peduli, jemput sendiri."
Karina menatap obat di meja dan pergelangan kaki yang masih sedikit nyeri. "Saya sedang tidak bisa keluar malam. Tolong kirim alamat. Saya siapkan sup jahe."
Steven tertawa dingin. "Jadi kamu membiarkannya pulang sendiri?"
"Saya meminta Anda mengantarnya. Saya tidak akan mempertaruhkan kondisi saya hanya untuk membuktikan peduli."
Jawaban itu membuat Steven diam. Akhirnya dia sendiri membawa Nathan ke apartemen lantai enam.
Karina membuka pintu dengan pakaian rumah sederhana. Steven memandang unit sempit, wajah Karina yang biasa, dan perbedaan usia yang terlihat jelas.
"Saya teman Nathan," katanya.
"Masuk. Terima kasih sudah mengantar."
"Hubunganmu dengan dia?"
Karina sempat ragu. "Saya pacarnya."
Nathan yang setengah sadar mengangkat kepala. "Istri."
Steven membeku.
Karina menyuruh Nathan minum sup dan menaruh kompres di dahinya. Nathan menolak disentuh Steven, tetapi langsung diam saat Karina mengusap rambutnya.
"Kamu seharusnya tidak minum," tegur Karina.
"Aku cuma sedikit. Mereka curang."
"Anak dua puluh tahun memang gampang dikerjai."
Nathan membuka mata. "Suamimu. Bukan anak."
Steven yang berdiri di dekat pintu hampir menjatuhkan kunci mobil.
Karina menyuapi Nathan dua sendok sup. Pemuda itu tersenyum puas lalu sengaja menyandarkan kepala di bahunya. Karina hendak mendorong, tetapi ingat dia sedang pusing.
Steven melihat semuanya dengan perasaan rumit. Nathan yang selama ini menolak disentuh dan membenci diatur berubah menjadi seseorang yang patuh hanya karena satu tatapan Karina.
Mungkin bukan perempuan itu yang menyihir Nathan. Mungkin Nathan sendiri yang menyerahkan lehernya.
"Manja sekali," kata Steven.
"Dia sedang mabuk."
"Biasanya dia tidak membiarkan siapa pun mengurusnya."
Steven pulang menjelang pagi, tetapi kembali setelah Nathan bangun. Dia menuntut penjelasan. Nathan membuka foto registrasi Singapura di ponselnya.
"Kami sudah sah."
Steven merebut ponsel, membaca nama Aries Mah dan Karina Wijaya, lalu menatap perut Karina.
"Kamu menikah diam-diam dengan perempuan tiga puluh tahun yang baru cerai?"
"Jaga ucapan, Ko."
"Dan dia hamil?"
Nathan menaruh tangan di perut Karina. "Tiga. Sapa anak-anakmu kepada paman kedua."
Steven menutup mata. "Aku mengerti kenapa rekeningmu dibekukan."
Karina duduk lebih tegak. "Saya tidak meminta uang atau nama keluarganya. Semua keputusan ini kami ambil setelah berkonsultasi dengan dokter dan pengacara."
"Kamu tahu siapa dia?"
"Belum semuanya. Itu masalah kami."
Keberanian Karina membuat Steven menatapnya lebih lama. Kecurigaan belum hilang, tetapi dia tidak lagi melihat perempuan pasif yang memanfaatkan sepupunya.
"Keluarga belum boleh tahu," kata Nathan.
"Kamu menyuruhku menyimpan pernikahan dan tiga bayi?"
"Sampai kandungan aman."
Steven mengusap wajah. "Aku akan tutup mulut sementara. Tapi kalau kamu menyakiti dia atau bayi-bayi itu karena kebodohanmu, aku sendiri yang menyeretmu pulang."
Nathan tersenyum. "Berarti Ko setuju."
"Aku menyerah pada fakta. Bukan setuju."
Ponsel Nathan berdering. Nick bersuara keras dari seberang.
"Malam ini balapan. Jangan bilang setelah menikah diam-diam kamu jadi penakut."
Steven menatap Nathan. Karina juga mendengar.
Nathan menutup mikrofon dan menoleh kepadanya.
"Mau ikut?" tanyanya, dengan tantangan dan harapan menyala bersamaan di kedua mata gelapnya pada malam itu juga.