Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.
Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.
Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Gaun, Kemeja, dan Tatapan yang Terkunci
Hari Minggu pagi yang seharusnya menjadi waktu suci bagi Alexa untuk membalas dendam jam tidurnya mendadak berubah menjadi medan perang. Di dalam kamar berornamen pastel pink, gulungan selimut tebal masih membungkus tubuh mungil itu rapat-rapat. Suara dengkur halus sesekali terdengar, menandakan betapa lelapnya sang penghuni kamar.
Brak! Brak! Brak!
"ALEXA PRAMUDYA! BANGUN, SAYANG! INI SUDAH JAM DELAPAN!"
Suara lengkingan Sarah menggema, disusul pintu kamar yang terdorong kasar. Sarah melangkah masuk dengan raut wajah panik luar biasa. Tanpa aba-aba, ia menyibak selimut tebal Alexa hingga terlempar ke ujung kasur.
"Aaaaa, Mamaaa! Dingin!" jerit Alexa heboh, matanya masih terpejam rapat seraya meraba-raba mencari selimutnya kembali. "Ini kan hari Minggu, Ma... Libur sekolah! Biarkan Alexa tidur sampai jam dua belas siang!"
"Tidur apa jam dua belas siang?! Calon tunanganmu sudah di jalan mau jemput kamu buat fitting baju!" seru Sarah gemas sambil menarik kedua tangan mungil Alexa agar terduduk.
Kata 'calon tunangan' seketika bekerja bagaikan sengatan listrik bertegangan tinggi. Mata bulat Alexa terbuka lebar sempurna.
"APA?! SI ES BATU MAU KE SINI?!" jerit Alexa dengan suara cemprengnya yang melengking naik dua oktaf. "Ma! Kenapa gak bilang dari kemarin sih?! Alexa belum mandi, rambut masih kaya sarang burung, muka masih penuh iler begini!"
"Makanya Mama panggil dari tadi, Botol Yakult-ku!" sahut Sarah geregetan. "Cepat mandi! Sepuluh menit lagi kalau Exel sampai dan kamu belum rapi, Mama potong uang jajanmu seminggu!"
Ancaman potong uang jajan selalu berhasil. Alexa melompat dari tempat tidur bagaikan dibakar api, hampir tersandung sudut kasurnya sendiri, lalu berlari serabutan menuju kamar mandi sambil mengoceh tidak jelas.
Sementara itu, di dalam mobil Rolls-Royce hitam yang melaju membelah jalanan pagi, Exel duduk tegap di kursi belakang. Kemeja kasual berwarna abu-abu gelap terpasang sempurna di tubuh tegapnya. Wajahnya datar, namun matanya beberapa kali melirik jam tangan mewahnya dengan ketidaksabaran yang kental.
Di balik kemudi, Achmad tertawa pelan seraya melirik spion tengah. "Santai, Pak CEO. Ini hari Minggu. Anak SMA jam segini biasanya baru mengumpulkan nyawa, bukan siap-siap meluncur ke butik."
"Dia yang tidak disiplin," pangkas Exel dingin. "Mama dan Papa yang memaksa gua menjemputnya langsung. Kalau bukan karena permintaan Mama tadi pagi di meja makan, gua tidak akan sudi membuang waktu jam segini."
"Alasan lu, Cel," goda Achmad santai. "Mengaku aja, lu sebenernya penasaran kan mau lihat calon tunangan lu pakai gaun pesta?"
Exel melempar pandangan membunuh ke arah kaca spion. "Diam atau lu gua suruh jalan kaki ke butik."
Sepuluh menit kemudian, mobil mewah itu berhenti di halaman rumah keluarga Pramudya. Belum sempat Achmad membukakan pintu untuk Exel, pintu depan rumah sudah terbuka lebar.
Alexa berlari-lari kecil keluar rumah dengan napas terengah-engah. Ia mengenakan dress kasual bunga-bunga kecil bernuansa kuning muda dengan rambut panjang yang dikuncir kuda terburu-buru. Wajahnya polos tanpa riasan tebal, hanya bedak tipis dan lip balm merah muda yang memoles bibirnya.
Begitu melihat Exel melangkah keluar dari mobil dengan postur tinggi tegap dan wibawa yang pekat, langkah Alexa mendadak melambat. Jantungnya berdegup kencang secara tidak wajar. Hih, kenapa si Om Es Batu ini kalau pakai baju kasual malah kelihatan makin ganteng sih? batin Alexa merutuki dirinya sendiri.
Exel berdiri kaku di samping pintu mobil yang terbuka. Matanya menatap gadis mungil yang berjalan mendekat dengannya. Ada sedikit warna kemerahan di pipi Alexa yang membuat gadis itu tampak makin segar dan menggemaskan. Namun, Exel segera menetralkan kembali tatapannya menjadi kaku.
"Kamu terlambat lima menit," tegur Exel datar begitu Alexa berdiri di depannya.
Alexa langsung bersedekap dada, memayunkan bibirnya. "Ini hari Minggu ya, Om Es Batu! Orang normal itu jam segini masih mimpi indah, bukannya dipaksa bangun kaya mau ikut ujian nasional!"
Achmad yang berdiri di dekat bagasi menepuk jidatnya sambil terkekeh pelan. "Pagi, Dek Alexa. Silakan masuk, sebelum Pak CEO kita ini membeku gara-gara angin pagi."
Alexa menjulurkan lidahnya tipis pada Exel, lalu melangkah masuk ke dalam mobil dengan heboh. Exel menghela napas panjang, lalu menyusul duduk di sampingnya.
Perjalanan menuju butik langganan keluarga Dirgantara—sebuah butik desainer ternama di kawasan elit Jakarta Selatan—terasa cukup riuh. Alexa tak berhenti berceloteh pada Achmad soal tugas sekolahnya, sementara Exel hanya diam mendengarkan dengan wajah tanpa ekspresi, walau diam-diam telinganya mencerna setiap kata yang keluar dari bibir cempreng itu.
Begitu sampai di butik, pemilik butik yang merupakan desainer langganan Maria Dirgantara langsung menyambut mereka dengan sangat ramah.
"Selamat datang, Tuan Exel dan Nona Alexa! Gaun dan jas rancangan khusus untuk acara pertunangan privat minggu depan sudah siap diuji coba!" panggil sang desainer penuh semangat.
Exel diarahkan ke ruang ganti pria di sebelah kiri, sementara Alexa dituntun oleh dua asisten butik menuju ruang ganti utama di sebelah kanan yang dibatasi oleh tirai beludru marun yang tebal.
Lima belas menit berlalu. Exel melangkah keluar terlebih dahulu. Pria itu kini mengenakan setelan jas buatan tangan berwarna navy gelap yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Kemeja putih bersih di dalam jas serta dasi bernuansa perak makin memancarkan aura dominan, tampan, dan sangat berkelas.
Achmad yang sedang duduk di sofa ruang tunggu langsung bersiul pelan. "Anjir, Cel... Lu kalau kaku gini makin mirip model majalah bisnis internasional. Ganteng parah."
Exel hanya merapikan lengan jasnya kaku, tidak terlalu menghiraukan pujian sahabatnya. Matanya justru tertuju pada tirai beludru marun di seberang ruangan yang mulai bergerak perlahan.
Srettt...
Tirai tersingkap lebar. Sang desainer tersenyum bangga seraya menampilkan hasil karyanya.
Di atas podium kecil di balik tirai, berdiri Alexa.
Seketika itu juga, suara gemericik air mancur buatan di dalam butik seolah meredup. Ruangan itu mendadak hening total.
Alexa mengenakan gaun malam off-shoulder berwarna rose gold lembut yang dirancang sangat anggun. Bagian atasnya dihiasi bordiran payet halus yang berkilau lembut diterpa cahaya lampu kristal, sementara bagian bawahnya mekar anggun menyentuh lantai. Rambut bergelombang Alexa yang biasanya dikuncir asal kini ditata ke samping, menyingkap leher jenjang dan tulang selangkanya yang indah. Pipi kemerahannya yang alami serta bibir tipisnya yang terpoles warna merah muda lembut membuat paras cantiknya bak bidadari porselen yang hidup.
Di seberangnya, mata cokelat gelap milik Exel terkunci sepenuhnya.
Exel membeku di tempatnya. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, napas sang CEO berdarah dingin itu tertahan. Tatapan matanya yang biasanya tajam dan kaku kini meredup, terpesona oleh keindahan tak terbantahkan dari gadis mungil di depannya. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Exel hanya menatap Alexa... tanpa berkedip satu detik pun.
Sementara itu, Alexa yang awalnya berniat mengejek Exel saat keluar ruang ganti, mendadak kehilangan seluruh kosa katanya. Matanya yang bulat terpaku pada sosok Exel yang berdiri tegap dalam balutan jas navy. Ketampanan Exel yang biasanya tertutupi oleh raut galaknya kini terpancar begitu kuat, membuat dada Alexa berdesir hebat. Alexa menahan napasnya, menatap Exel balik tanpa berkedip.
Waktu seolah terhenti untuk mereka berdua. Garis pandang mereka menyatu dalam sebuah tarikan magnetik yang sangat kuat di udara.
Dua detik... lima detik... delapan detik...
Achmad yang duduk di antara mereka melirik Exel, lalu melirik Alexa, sebelum akhirnya sebuah cengiran paling jahat terbit di wajahnya. Achmad sengaja berdeham sangat kencang.
"Ehem! Uhuk! Uhuk! Aduh, keselek udara segar nih gua!" goda Achmad dengan suara lantang yang memecah sihir di ruangan itu.
Seketika itu juga, Exel dan Alexa tersentak kaget seolah baru saja dibangunkan dari mimpi panjang.
Refleks, Exel langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dengan cepat, pura-pura sibuk merapikan kancing lengan jasnya. Wajah kaku sang CEO yang biasanya pucat kini menunjukkan rona merah samar di sekitar telinganya.
"E-ekhm... Gaunnya... biasa saja. Terlalu panjang untuk ukurannya yang pendek," gumam Exel kaku dengan suara serak, mencoba menutupi salah tingkahnya yang luar biasa.
Di atas podium, wajah Alexa seketika memerah padam bagaikan kepiting rebus. Ia salah tingkah setengah mati, tangannya refleks meremas gaun indah di pinggangnya seraya menghentakkan kaki mungilnya.
"Ih! Siapa juga yang minta pendapat Om Es Batu!" jerit Alexa heboh untuk menutupi rasa malunya yang membuncah. "Ini gaunnya cantik banget tahu! Dasar manusia gak punya selera seni!"
Achmad melompat berdiri dari sofa, menepuk-nepuk bahu Exel sambil tertawa terbahak-bahak tanpa beban. "Aduh, Cel, Cel... Tatapan lu tadi tuh ya, kalau ada kamera udah gua rekam buat bukti! Lu menatap dia kaya orang gak pernah lihat cewek seumur hidup! Sampai gak kedip begitu, hahahaha!"
"Achmad, diam," desis Exel tajam, namun rona merah di telinganya makin tidak bisa dibohongi.
"Gak usah gengsi, Pak CEO!" ledek Achmad makin menjadi-jadi, beralih menatap Alexa yang juga sedang salah tingkah merapikan gaunnya. "Dek Alexa juga sama aja tadi! Menatap Exel kaya menatap idol Korea yang keluar dari TV! Kompak banget kalian berdua salah tingkahnya!"
"PAMAN ACHMAD TEGA BANGET!" jerit Alexa heboh, menyembunyikan wajah panasnya di balik kedua telapak tangan mungilnya.
Sang desainer dan para asisten butik hanya bisa tertawa halus menyaksikan tingkah polos dan lucu dari dua calon tunangan tersebut.
Di balik pertengkaran dan gengsi setinggi langit yang mereka tunjukkan, di dalam sudut hati Exel dan Alexa yang paling dalam, sebuah percikan aneh telah menyala. Sebuah guncangan manis yang membuktikan bahwa dinding es dan benteng penolakan mereka... perlahan-lahan mulai goyah.