Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Pagi ini yang menyapu pelataran depan rumah minimalis, dengan deru mesin mobil perlahan terdengar menjauh----hal yang menandakan jika Putri akan ke sekolah yayasan miliknya.
Kini, di rumah Asri sendirian---dirinya hanya menghabiskan waktu menulis soal artikel budaya Indonesia dengan menggunakan bahasa Italia dan Inggris.
Di dalam kamar Asri nampak tak fokus untuk menulis artikelnya, mengenai kebudayaan Ternate, Maluku.
Wanita ini duduk di meja belajar dengan layar laptop di depannya, tubuh atasnya terbalut kaos lengan pendek warna hijau citron atau hijau kekuningan dengan gambar boneka labubu di bagian depannya.
Bawahnya mengenakan celana kulot longgar bahan rayon warna biru tua, sementara rambutnya di biarkan tergerai panjang.
Ada hal yang membuatnya tak fokus, yakni percakapannya dengan Alina kemarin---dirinya masih berpikir, apa mungkin dirinya akan menikah dengan Angga.
"Nggak mungkin ah, lebih baik aku ke luar negeri ajalah...daripada larut terus menerus akan trauma yang aku alami."
Asri mencoba fokus, untuk melupakan percakapannya bersama Alina---saat kemarin di Kopi Kenanga.
Sesaat dirinya larut akan pikirannya, lalu terbuyar tatkala suara bel berbunyi.
Ting Nong...Ting Nong...
Suara bel rumah berbunyi membuat Asri menghentikan aktivitasnya.
Lalu berfikir jika itu tukang paket.
"Alhamdulilah keperluan aku akhirnya sampai, untuk keperluan selama di UK," ucap Asri.
Asri sangat antusias karena dirinya mengira jika tukang paket yang datang, kakinya dengan segera menuruni anak tangga lalu membuka pintu.
Tangannya meraih gagang pintu, dengan senyuman karena mengira jika barangnya sudah sampai---tapi senyuman itu sirna saat dirinya melihat seseorang yang amat di hindarinya.
Angga Pratama.
Meski Asri mendapatkan nomer telepon milik Angga, namun wanita ini memilih tak menghubunginya saja---karena tak mau keadaan semakin kacau.
Di depannya Angga tampil dengan gagah dan tampan, dalam balutan seragam dinas lapangan TNI---loreng-loreng Malvinas.
Kedua tangan Angga di belakang seolah menyembunyikan rapat-rapat buket bunga segar yang di bungkus kertas coklat---yang akan di berikan kepada Asri.
"Ka-kamu...kamu ngapain mau kesini lagi?" tanya Asri dengan suara yang sok jual mahal, tetapi hatinya sudah merasakan debaran aneh.
Angga menatap Asri yang sepertinya belum bisa memaafkan atas malam yang menjijikan itu, masih menatapnya dengan rasa trauma.
"Mbak Asri, bisa kita bicara sebentar di dalam?" tawar Angga dengan nada suara penuh permohonan.
Wanita ini yang mendengar tawaran Angga hanya memejamkan mata, lalu menarik napas dalam---seolah berusaha menepis debaran aneh di hatinya.
"Silahkan masuk, tapi pintu gerbang dan pintu utama saya buka...," kata Asri.
Asri melakukan ini hanya antisipasi, takut kejadian yang sama terjadi lagi menimpa dirinya---untuk Angga yang suka kesini, meski jarang---Putri tak mengetahuinya soal ini.
Setelah meyakinkan dirinya sendiri untuk melawan rasa trauma sekaligus hatinya yang berdebar, mempersilahkan sang perwira masuk ke dalam ruang tamu.
Suasana ruang tamu yang terkesan klasik seolah menyisakan keheningan yang mendalam, kini keduanya duduk saling berhadapan satu sama lain.
Seolah menyisakan jarak yang cukup jauh, namun keduanya masih bisa berdekat.
Angga perlahan mengeluarkan buket bunga dari balik punggung tegapnya, dan meletakkannya dengan sangat hati-hati di atas meja---tepat di depan mereka.
"Ini buat kamu, Asri...sebagai pertemuan terakhir kita," tutur Angga dengan nada lirih.
Deg.
Mendengar itu hati Asri mencelos, seolah seperti di remas---bukannya seharusnya Asri senang saat pria yang melecehkannya akan menjauh selamanya.
Hal aneh justru di rasakan Asri.
Asri hanya diam menunduk tanpa mau menatap Angga yang duduk di depannya.
"Kok gua ngerasa berat yaa, saat dia mau menjauh dari gua," pikir Asri yang masih enggan menatap Angga.
Angga yang melihat itu malah beranggapan, jika Asri masih sangat membencinya akibat malam-malam terkutuk itu.
Malam dimana Angga mengambil kesucian wanita di depannya ini dengan paksa, sisa dekapan hangat Angga yang memeluknya waktu itu---masih terasa nyaman dan terbayang oleh Asri.
"Saya tahu...saya salah As. Tapi saya berusaha menebusnya, tolong jangan hantui saya lagi akan rasa bersalah ini," tuturnya tepat di depan Asri.
Asri langsung menatap Angga, dan air mata tumpah dari pelupuk matanya membasahi pipinya.
"Saya akan pergi Mas...kamu nggak usah khawatir soal itu, saya akan menjauhi kamu dan pergi keluar negeri. Soal itu saya---" ucapan Asri terhenti dengan tenggorakan yang tercekat.
Menyadari bahwa kehadiran dirinya di dunia ini tidak lebih dari sekadar ancaman yang membuat wanita berprestasi ini menderita, mengirimkan rasa perih yang teramat sangat besar di dalam dada Angga.
"Saya juga akan pergi dari hidup kamu...saya akan pindah tugas, saya akan tunggu kamu kirim saya kabar jika trauma kamu sudah sembuh," ujar Angga menatap Asri dengan tatapan sayu.
Angga bernafas lega karena kehadirannya tak membuat Asri histeris ketakutan, rupanya gadis ini sudah tenang.
"Tolong, semua masalah sudah selesai diantara kita....saya berjanji... saya tidak akan pernah lagi melangkahkan kaki ke dalam kehidupanmu untuk mengacaukan mimpimu ke Eropa karena saya tahu dosa besar saya sama kamu."
Angga bicara dengan nada suara yang parau menahan getar, dan entah kenapa hatinya terasa pedih bercampur dengan berat---saat mau meninggalkan Asri.
Padahal Angga juga sudah biasanya di tinggalkan oleh Alina, Alina keluar negeri untuk sesi modeling atau Angga tugas ke tempat lain saat dulu keduanya belum resmi bertunangan.
Namun, kali ini hati Angga terasa pedih yang sangat mendalam.
Angga menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewibawaannya sebagai seorang perwira menengah demi memberikan perlindungan terakhir yang bisa ia tawarkan bagi korban kejahatannya sendiri.
"Saya akan selalu siap berada di barisan terdepan untuk membantumu, Asri. Mulai detik ini... saya akan menganggap kamu sebagai adik perempuan saya sendiri," kata Angga dengan menatap Asri.
Air mata Asri sudah mengalir dengan deras, saat kata 'adik' terucap sangat mendalam----sungguh hubungan yang unik.
Pertama Angga mengambil mahkotanya dengan paksa, lalu menganggapnya sebagai seorang adik---kali ini Asri tak mengeluarkan sepatah katapun karena hatinya yang bimbang.
Angga menatap Asri dengan linangan air mata, ingin sekali dirinya menghapus air mata itu dengan lembut---namun dirinya sadar posisi jika harus memiliki batasan.
Angga bangkit berdiri dan pamit, seolah tak sanggup lebih lama menatap Asri dengan derai air mata.
"Kita benar-benar berpisah, Mas. harusnya aku senang...tapi kenapa hati aku kaya di tusuk dan terasa berat," aku Asri bicara dalam hatinya.