Indonesia
NovelToon NovelToon
Pewaris Dalam Sangkar Emas

Pewaris Dalam Sangkar Emas

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:21.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.

​Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.

​Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 29

***

Aroma amis darah yang pekat mendadak menguasai udara steril di dalam kamar utama Mansion Elard. Pendar redup lampu tidur bernuansa keemasan di atas nakas tak sanggup menyembunyikan pemandangan mengerikan di samping tempat tidur: Kenzo berlutut kaku dengan tubuh bagian atas bertelanjang dada, bersimbah darah yang merembes deras dari puluhan jejak sabetan pecut bermata besi di punggungnya.

Kenzo menatap Alana dengan mata memerah yang digenangi air mata. Napasnya terengah-engah kaku, bergetar menahan kejang otot dan sensasi terbakar yang merobek saraf-saraf tubuhnya.

"Alana..." bisik Kenzo parau, suaranya hampir habis tersisa hembusan angin. "Aku... aku pulang..."

Alana mematung di atas ranjang. Manik matanya yang biasanya redup tanpa ekspresi mendadak bergetar tipis. Tatapannya meluncur dari wajah pucat pasi suaminya turun ke arah kemeja abu-abu yang koyak, lalu hinggap pada genangan merah pekat yang mulai menetes menyentuh lantai marmer putih.

Untuk pertama kalinya dalam lima bulan terakhir, benteng mati rasa yang melapisi jiwa Alana retak secara samar. Ada getaran ganjil yang merayap di dadanya—sebuah rasa kemanusiaan dan kepiluan yang tak sanggup ia tepuk sendirian.

Tanpa mengeluarkannya sepatah kata pun, Alana menyibak selimut tebalnya. Dengan gerakan perlahan, ia menurunkan kedua kakinya ke lantai, menyangga perutnya yang kini membuncit halus di usia kandungan dua puluh minggu.

Alana berlutut di hadapan Kenzo. Jemari tangannya yang dingin melayang di udara, ragu untuk menyentuh pundak Kenzo yang gemetar hebat.

"Apa yang terjadi... Mas?" bisik Alana pelan. Suaranya tidak lagi sepenuhnya datar, ada sedikit getaran parau yang menyelinap di sana. "Darah ini... kenapa punggungmu seperti ini?"

Kenzo menyunggingkan senyuman tipis yang amat rapuh di tengah rintihan sakitnya. Pria tegap yang diagungkan sebagai penguasa bursa saham itu menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Alana... Ini tidak sakit. Ini... tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit yang kuberikan padamu selama ini..."

Alana tidak menjawab. Ia berdiri perlahan, melangkah menuju kamar mandi utama tanpa memanggil pelayan atau dokter mansion. Beberapa menit kemudian, Alana kembali dengan membawa mangkuk porselen berisi air hangat, handuk halus, serta kotak P3K berukuran besar yang tersimpan di lemari.

Alana meletakkan peralatan itu di lantai marmer, lalu duduk bersimpuh tepat di belakang punggung Kenzo.

Saat matanya menangkap secara dekat jalur-jalur daging yang terkelupas dan lelehan darah yang masih hangat di punggung suaminya, napas Alana tertahan di tenggorokan. Tangan dinginnya meraih handuk, mencelupkannya ke dalam air hangat, lalu memerasnya perlahan.

Srettt.

Sentuhan pertama kain hangat itu menyentuh tepi luka di bahu kanan Kenzo.

"Nghhh...!" Kenzo merintih rendah, rahangnya mengatup rapat hingga buku-buku jarinya yang mencengkeram lantai marmer memutih pasi. Tubuh kokoh itu berguncang menahan perih yang menyengat sarafnya.

"Tahan, Mas..." ujar Alana lirih. Jemari tangannya bergerak dengan sangat telaten, menyapu lelehan darah pekat yang mengering di kulit Kenzo. Setiap gerakannya begitu lembut, penuh kehati-hatian yang tak pernah Kenzo duga sebelumnya.

Alana mengambil cairan antiseptik, menuangkannya ke atas kapas, lalu mengusap jalur-jalur sabetan pecut itu satu per satu. Uap air hangat dan aroma obat-obatan bercampur dengan bau darah di dalam kamar yang sunyi.

Kenzo memejamkan matanya rapat-rapat, meratapi kontras yang begitu nyata di antara mereka: punggungnya hancur oleh kebiadaban keluarganya sendiri, namun jemari wanita yang pernah ia hancurkan jiwanya kini justru mengobatinya dengan kelembutan yang tak terhingga.

"Kenapa kamu melakukan ini sendiri, Alana...?" bisik Kenzo parau, menahan napas saat rasa perih antiseptik membakar kulitnya. "Kenapa kamu tidak memanggil dokter mansion? Kenapa kamu tidak membiarkan aku terpuruk dalam darahku sendiri?"

Alana tetap fokus mengoleskan salep steril di sepanjang luka robek Kenzo. Matanya tetap kering tanpa setetes air mata pun, namun sorot matanya tak lagi membeku sedingin biasanya.

"Dokter atau pelayan hanya akan melapor pada Kakek Hendra," sahut Alana pelan, suaranya terdengar jernih di tengah deru angin malam di luar jendela. "Lagipula... jika Mas Kenzo pingsan atau membusuk karena luka ini, tidak ada lagi yang membentengi saya dan anak ini di rumah ini."

Deg.

Kenzo tersentak pelan mendengar jawaban Alana. Pria itu perlahan memutar tubuhnya, membelakangi luka di punggungnya demi menatap lurus mata istrinya.

Dengan sisa kekuatan dari tubuhnya yang bersimbah peluh dan darah, Kenzo memajukan tubuhnya. Kedua tangannya yang bergetar hebat terulur, merengkuh pinggang kurus Alana dengan erat. Kenzo menyandarkan dahinya tepat di lipatan dada Alana, membenamkan wajahnya di sana seraya terisak pelan.

"Maafkan aku, Alana... demi Tuhan, maafkan aku..." isak Kenzo pecah, bahunya berguncang hebat oleh tangisan penyesalan yang mendalam. "Aku yang membawa siksaan ini ke dalam hidupmu... Aku yang membiarkan keluarga sialan itu menindasmu... Hukuman cambuk malam ini adalah bayaran atas semua dosa-dosaku padamu..."

Alana merasakan kehangatan air mata Kenzo menembus kain gaun santainya. Tangan Alana yang memegang kapas terhenti di udara. Ia tidak memeluk Kenzo kembali, namun ia juga tidak mendorong tubuh suaminya pergi.

"Kakek dan Ayahmu yang melakukan cambukan ini, kan?" tanya Alana pelan, jemari tangannya perlahan terangkat, menyentuh rambut hitam Kenzo yang basah oleh keringat dingin.

Kenzo mengangguk pelan di dalam dekapan Alana. "Mereka menuntutku menceraikanmu... Mereka menolak anak perempuan di dalam rahimmu... Tapi aku menolaknya, Alana. Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun merebut putri kita!"

Kenzo menarik kepalanya sedikit, menatap wajah porselen Alana dengan iris mata hitamnya yang dipenuhi ketetapan hati yang mutlak.

Tangan kanan Kenzo yang bergetar dan bernoda bekas darah bergerak turun. Pria tegap itu meletakkan telapak tangannya yang hangat tepat di atas permukaan perut Alana yang membuncit halus di usia 20 minggu—merasakan denyut kehidupan kecil yang tengah bersembunyi di dalam sana.

"Aku bersumpah, Alana..." ujar Kenzo dengan nada suara yang dalam, berat, dan sarat akan penyesalan yang membakar batinnya. "Aku akan melepaskan takhta Elard Corp. Aku akan membuang semua saham, kekayaan, dan nama besar keluarga ini... Aku akan membawamu dan anak kita pergi dari rumah neraka ini. Tolong... berikan aku kesempatan untuk menjadi pelindungmu yang sesungguhnya..."

Alana menatap telapak tangan Kenzo yang menempel di perutnya. Rasa hangat dari sentuhan pria itu merayap perlahan, menembus kulitnya, seolah menyapa janin mungil yang bergetar halus di dalam rahimnya.

Alana menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang amat dalam usai kebisuan berbulan-bulan.

Alana memegang jemari tangan Kenzo yang berada di perutnya, menahannya di sana agar tidak bergeser. Manik mata Alana menatap lurus ke dalam iris mata Kenzo dengan keberanian dan kejernihan yang belum pernah terlihat sebelumnya.

"Mas Kenzo..." suara Alana menggema jernih, tegas, dan penuh dengan dorongan jiwa yang membangkang. "Jika Mas memang ingin melepaskan semua kemewahan dan takhta Elard Corp demi kami... maka lakukanlah."

Kenzo terpaku, napasnya tertahan mendengar ketegasan dalam suara istrinya.

Alana mendekatkan wajahnya sedikit, menatap suaminya tanpa kedipan ragu.

"Saya... saya tidak pernah butuh rumah megah ini," lanjut Alana dengan suara yang lantang dan tegar. "Saya tidak pernah butuh gaun-gaun mahal atau julukan Nyonya Muda Elard yang menyiksa ini. Jika Mas Kenzo berani keluar dan pergi dari keluarga ini bersama saya dan calon anak kita... maka saya berjanji, saya akan bertahan. Saya akan melahirkan anak ini dan berjuang bersamamu di luar sana."

Kata-kata 'saya akan bertahan' dan 'berjuang bersamamu' menghantam dada Kenzo bagaikan gumpalan cahaya di tengah kegelapan total.

Air mata Kenzo menetes makin deras. Pria tegap itu tersenyum dalam tangisnya, merasa seluruh luka cambuk di punggungnya yang terbakar seketika tak lagi berarti di hadapan pernyataan tegar dari istrinya.

"Terima kasih, Alana... Terima kasih..." bisik Kenzo parau, menempelkan dahinya ke dahi Alana. "Kita akan keluar dari neraka ini bersama-sama... Aku bersumpah."

Di dalam kamar utama Mansion Elard yang dibalut keheningan malam dan aroma amis darah, benteng es di dalam jiwa Alana akhirnya runtuh. Di atas lantai marmer yang dingin, di antara sisa-sisa pengorbanan darah dan derita masa lalu, sebuah janin berusia lima bulan menjadi saksi awal dari ikatan baru yang akan membawa mereka keluar dari kungkungan dinasti Elard selamanya.

Bersambung...

1
imel
makasih buat cerita kerennya😍
Mia Camelia
puas 😊 akhirnya happy ending.
thor sklian dong bikin cerita nya Kalila x lucas 🤭😂
Gita ayu Puspitasari
cerita Lukas sama Kalila dong kak
Anonim
crazy up thor
merry
mereka Alana dan kenzo bnr bnr membangun rumh tangga yg manis tnp ada kebohongan,, keegoisan dan sm sm berjuang dan berakhir indah,,,
Heresnanaa_: 😚❤️❤️🫶
total 1 replies
merry
asal Damai, tenang saling suport mky mslh berat pun terasa ringan,,, kejayaan di kejar gk bkln hbs di msa tua yg plg penting menikmati msa tua dengan tenang
aku
penisirin sama mantan kluarga alana tor kyk mana 😖
aku
oke, bikin pengalaman, baca novel mending malam aja 😌😌 gk siang2 gini 😭😭😭
Heresnanaa_: kenapa kak ?😭
total 1 replies
merry
ya tamat hrs ya jgn dulu🤭🤭🤭soalnya blm liat aki aki itu nyesel ap lg ank ken kembar cwo lg blm liat lila yg polos lucu gemes pintar ngoceh gt,,, blm minta maaf sm Alana jg atas perbuatan y,, blm lg di mutiara itu blm tau x gmn dulu Alana yg dijual orgtua ya
Gita ayu Puspitasari
ada extra part ga kak, trs kbr kakek Kenzo gmn
merry
akhirnya bhgia mrk tnp di gangu sm aki aki,, moga al hamil lg ank cwo 🤭🤭🤭
guest1053527528
Akhirx thor semoga bahagia selalu dan sukses thor mereka
merry
pengen suatu saat di Muti Muti itu tau kenyataan pahit bhwa al tdk seperti pikiran picik ya klo untuk orgtua kn dh tau y krn mrk tukang bhong,, moga Helena ksh tau
merry
syukur bgtt y tu nenk sihir dh sdr trs aku aku gk gangguin usha mrk justru tnp kenzo perusahaan kebanggaan mrk mulai runtuh, gantian tu aki aki yg sujud sm ken dan al
Mia Camelia
kapan lahirannya thor🤭🤭🤭
aku sih berharap baby nya berubah jadi cowo🤣🤣🤣
guest1053527528
ngitundoong hehehe
Mia Camelia
suka banget ngliat mereka berdua bahagia😍😍😍
Heresnanaa_: kann, author aja happ kaliii🤭😚
total 1 replies
merry
moga berkembang kue y Alana dan pyn tko kua jg,,
merry
yg plg penting komunikasi semua mslh yg terasa berat pun psti jdi ringan,, cm takut dech ush klian tu atau al y bkln diganggu sm aki aki tua bangka dan nenek lampir,, cb pindah ajj keluar kota gt alana
Gita ayu Puspitasari
tambah dong kak🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!