Indonesia
NovelToon NovelToon
MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAJU BARU ALASAN BARU

Beberapa hari setelah pertemuan di kafe, Anyara kembali menghadapi rutinitas biasa—memasak, mencuci, mendengarkan omelan Ratih, dan menunggu Juned pulang dengan alasan yang semakin lama semakin terdengar seperti hafalan.

Pagi itu, saat merapikan lemari pakaian, Anyara menyadari betapa sedikitnya koleksi bajunya dibanding lemari Ratih yang penuh sesak. Ia menghela napas, lalu memberanikan diri mengetik pesan ke Juned yang sedang di kantor.

"Mas, aku boleh minta uang buat beli baju? Yang kemarin udah aku pakai terus, mulai kusam."

Balasan datang setelah cukup lama.

"Bulan ini lagi tanggung, Ra. Ada kebutuhan ibu buat renovasi kamar mandinya. Bulan depan aja ya."

Anyara menatap layar itu lama. Renovasi kamar mandi Ratih—yang sebenarnya masih bagus, hanya ingin diganti keramiknya karena "kurang mewah" menurut Ratih—selalu lebih diprioritaskan dibanding kebutuhannya sendiri yang jauh lebih sederhana.

"Iya, Mas, nggak apa-apa," balasnya singkat, meski dadanya terasa sesak.

Siang itu, ponselnya berbunyi lagi—Hans.

"Mbak Anyara, kabar baik? Saya kebetulan lagi di daerah sana, mau lewat gang minimarket. Mau titip apa nggak?"

Anyara tersenyum kecil membaca pesan itu, meski ia tahu seharusnya tidak membalas terlalu sering.

"Nggak usah, Pak, terima kasih. Lagi nggak butuh apa-apa."

"Yakin? Kemarin kayaknya Mbak sempat lihat sepatu di etalase kafe deh, pas kita lewat. Kalau mau, saya beliin aja."

Anyara terkejut Hans memperhatikan hal sekecil itu—sesuatu yang bahkan tidak ia sadari sendiri kalau memperhatikannya.

"Nggak usah, Pak, saya nggak enak. Lagian itu bukan hal penting."

"Buat saya penting. Anggap aja hadiah kecil, nggak usah dipikir macem-macem."

Anyara menatap layar itu cukup lama, hatinya bergejolak antara rasa senang dan rasa bersalah yang aneh. Akhirnya ia mengetik balasan.

"Terima kasih niatnya, Pak. Tapi saya nggak bisa terima. Saya masih istri orang, harus jaga diri."

Balasan Hans datang tidak lama kemudian, nadanya terasa lebih pelan.

"Saya ngerti, Mbak. Maaf kalau kelewatan. Saya cuma pengen liat Mbak seneng aja, itu aja."

Anyara tidak membalas lagi, hanya menyimpan ponselnya, merasakan campuran perasaan yang sulit ia jelaskan sendiri—tersanjung, tapi juga was-was, seolah ia sedang berjalan di atas garis yang mulai kabur batasnya.

Sore harinya, Juned pulang membawa kotak sepatu—bukan untuk Anyara, melainkan untuk Ratih.

"Bu, ini sepatu yang kemarin Ibu minta. Sesuai warna kesukaan Ibu kan?" ucap Juned, menyerahkan kotak itu dengan wajah sumringah.

Ratih membuka kotaknya dengan antusias, mengeluarkan sepasang sepatu kulit yang jelas tidak murah. "Wah, bagus banget, Nak! Cocok buat pengajian minggu depan."

Anyara yang sedang menata meja makan hanya melirik sekilas, lalu kembali ke pekerjaannya. Ia tidak berkomentar apa-apa, meski dalam hati bertanya-tanya—kalau untuk sepatu Ratih saja uangnya ada, kenapa untuk baju kerjanya sendiri selalu terasa begitu sulit didapat.

"Anyara," panggil Ratih tiba-tiba, "coba lihat, bagus nggak sepatunya?"

"Bagus, Bu," jawab Anyara singkat, tanpa nada apa pun.

"Kamu ini kok kayak nggak niat jawabnya. Iri ya sama sepatu Ibu?" tanya Ratih, setengah bercanda setengah menyindir.

"Nggak kok, Bu. Saya seneng kalau Ibu seneng," jawab Anyara, meski suaranya terdengar datar.

Juned yang mendengar itu hanya diam, tidak membela, tidak juga menyadari ada sesuatu yang salah dalam situasi itu. Ia lebih sibuk memuji-muji pilihan warna sepatu ibunya, seolah tidak ada hal lain yang lebih penting untuk diperhatikan di rumah itu.

Malam harinya, setelah semua orang tidur, Anyara duduk sendirian di teras belakang, memandangi ponselnya. Pesan dari Hans tadi siang masih tersimpan, belum ia balas lebih lanjut.

Ia mengetik pesan baru, ragu-ragu sebelum akhirnya mengirimnya.

"Pak Hans, maaf kalau tadi saya kedengeran ketus. Bukan maksud saya begitu."

Balasan datang cepat, seolah Hans juga belum tidur.

"Nggak apa-apa, Mbak. Saya yang harusnya minta maaf, kelewatan tadi. Mbak nggak salah kok."

"Terima kasih udah ngerti, Pak."

"Mbak Anyara, boleh saya jujur?"

Anyara menatap layar itu, jantungnya berdebar tanpa alasan yang jelas. "Boleh, Pak."

"Saya seneng bisa kenal Mbak. Bukan cuma karena kejadian di gang itu. Tapi karena cara Mbak bicara, cara Mbak mikirin orang lain, itu jarang saya temuin. Saya nggak maksud macem-macem, cuma pengen Mbak tau aja."

Anyara menatap layar itu lama, tidak tahu harus membalas apa. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, tapi bersamaan dengan itu, ada juga rasa takut—takut pada perasaannya sendiri yang mulai sulit ia kendalikan, takut pada posisi yang ia tahu betul salah untuk dimasuki.

"Terima kasih, Pak. Tapi saya rasa kita cukup temenan aja ya. Saya masih punya suami."

"Iya, Mbak. Saya ngerti dan hormatin itu. Saya nggak akan macem-macem, janji. Saya cuma seneng ada temen ngobrol yang enak aja."

Anyara tersenyum tipis membaca balasan itu, meski dalam hati ia tahu, batas antara "teman ngobrol yang enak" dan sesuatu yang lebih dalam sudah mulai terasa semakin tipis—dan ia tidak sepenuhnya yakin, apakah dirinya sendiri masih ingin mempertahankan batas itu atau tidak.

Ia mengunci ponselnya, menatap langit malam yang berbintang sedikit, lalu masuk ke kamar tempat Juned sudah tidur pulas, tidak menyadari sama sekali apa yang sedang bergejolak di hati istrinya sendiri—sama seperti Anyara yang juga belum sepenuhnya menyadari, betapa jauh jarak yang sudah terbentang di antara mereka berdua.

1
Heny
Apa anyana gk punya tlp orang kantor bisa di tanya kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!