Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Hati Berubah Arah

Ketika Hati Berubah Arah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Fina Indri

Almeera Naela Al Rashid selalu hidup semaunya. Keras kepala dan tidak bisa diatur. Namun, benteng keangkuhannya runtuh saat lelaki yang paling ia percaya berbalik arah dan memilih perempuan lain.

Kehilangan itu menjadi tamparan keras. Almeera sadar, ia sudah terlalu jauh melangkah dan melupakan Rabb-nya.

Memilih jalan hijrah ternyata penuh liku. Di saat Almeera berjuang melepas luka masa lalu dan memperbaiki salatnya, takdir mempertemukannya dengan seorang lelaki yang kehadirannya sama sekali tidak terduga.

Bukan sekadar obat patah hati, lelaki itu perlahan menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya. Apakah ini jawaban atas doa-doanya setelah memilih pulang, atau sekadar persinggahan lain dalam takdirnya?

Sebab bagi Almeera, tidak semua kehilangan adalah akhir. Terkadang, patah hati adalah cara Allah mengubah arah langkahnya menuju tempat yang seharusnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fina Indri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ada yang Berbeda

Keesokan harinya, aktivitas Almeera kembali berputar seperti biasa.

Sejak pagi hingga siang, waktunya habis tersita di area kampus. Begitu dosen kelas terakhir merampungkan materi dan mengucap salam, Almeera menjadi orang pertama yang beres-beres. Ia memasukkan diktat kuliah dan alat tulisnya ke dalam tas dengan gerakan cepat.

Di tengah kesibukannya, ponsel di dalam tas bergetar pendek. Almeera meraba benda itu, lalu menyalakan layarnya. Sebaris pesan dari Kaizan langsung menyapa pandangannya.

“Ketemu di kafe biasa?”

Seketika, lengkungan senyum manis terbit di bibir Almeera. Rasa lelah setelah seharian mendengarkan penjelasan dosen menguap begitu saja.

“Boleh. Aku baru aja selesai kelas sekarang,” ketik Almeera antusias.

“Oke. Aku tunggu,” balas Kaizan di seberang sana.

Almeera kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Setelah berpamitan singkat kepada teman temannya yang masih sibuk merapikan buku, ia melangkah riang menuju kafe yang menjadi tempat langganan mereka menghabiskan waktu bersama.

Hanya butuh waktu beberapa menit berjalan kaki bagi Almeera untuk sampai di lokasi. Begitu mendorong pintu masuk kafe, matanya langsung menyisir seisi ruangan. Ia dengan mudah menemukan sosok Kaizan yang sedang duduk sendirian di meja pojok dekat jendela.

Biasanya, setiap kali Almeera datang, Kaizan akan langsung mendongak dan menyambutnya dengan senyuman paling hangat. Namun sore ini, pemandangan itu tidak ada. Lelaki itu hanya diam menatap keluar jendela, larut dalam lamunannya sendiri.

Almeera sempat bingung, namun tetap melangkah menghampiri meja mereka.

"Maaf ya kalau lama," ucap Almeera seraya menarik kursi di hadapan kekasihnya.

Kaizan tersentak kecil, lalu mengalihkan pandangannya pada Almeera. "Nggak apa apa," jawabnya pendek.

Almeera duduk, lalu menyandarkan punggungnya. Sepasang matanya meneliti raut wajah lelaki di depannya itu lekat lekat selama beberapa detik. Ada perasaan yang janggal. Aura di sekitar Kaizan terasa begitu aneh.

"Kamu kenapa, sih?" tanya Almeera menyelidik.

"Nggak kenapa kenapa," sahut Kaizan, nadanya terdengar datar.

Almeera mencondongkan tubuhnya ke depan. "Serius? Jangan bohong."

"Iya, Meera," jawab Kaizan lagi, kali ini dengan helaan napas pendek.

Almeera mengerutkan dahi, merasa tidak puas dengan jawaban klise itu. "Kamu kelihatan capek banget hari ini."

"Memang lagi capek," aku Kaizan jujur.

"Karena tugas kuliah yang menumpuk?" tebak Almeera mencoba mencairkan suasana.

"Bukan cuma itu," jawab Kaizan misterius.

Pandangan Almeera mengunci manik mata Kaizan. "Terus karena apa?"

Kaizan membuang muka, enggan membalas tatapan Almeera. "Nanti aja."

Dada Almeera mulai digayuti rasa tidak nyaman. Sikap Kaizan benar-benar membingungkan. Biasanya, sekecil apa pun masalah yang sedang dihadapi lelaki itu bahkan urusan ban motor bocor sekalipun Kaizan pasti akan langsung mengeluh dan bercerita padanya tanpa diminta.

Untuk mengalihkan kecanggungan yang mulai menjalar, Almeera meraih buku menu di atas meja. "Kamu mau makan apa? Biar sekalian aku pesankan."

"Terserah kamu aja," jawab Kaizan tanpa minat.

Almeera langsung meletakkan kembali buku menu itu ke meja, menatap Kaizan tidak percaya. "Kok terserah aku? Biasanya kan kamu yang paling pemilih kalau soal makanan."

"Ya lagi pengin terserah kamu aja," potong Kaizan, suaranya terdengar lelah.

Almeera menghela napas panjang, mencoba menahan kekesalannya. "Kamu aneh banget tahu nggak, hari ini."

Kaizan memilih kembali bungkam.

Beruntung, keheningan yang mencekat itu terputus saat seorang pelayan kafe berjalan mendekat ke meja mereka.

"Selamat sore. Mbak sama Masnya mau pesan apa hari ini?" tanya pelayan itu ramah sembari menyiapkan catatan.

"Saya pesan menu yang biasa ya, Mbak," jawab Almeera ramah.

Pelayan itu mengangguk, lalu beralih menatap Kaizan. "Kalau Masnya mau pesan apa?"

"Saya samakan saja dengan dia," jawab Kaizan singkat tanpa melihat si pelayan.

"Baik, mohon ditunggu sebentar ya, Kak," ucap pelayan itu sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan meja mereka.

Setelah pelayan itu menjauh, atmosfer di antara mereka kembali mendingin. Suasana kafe yang biasanya terasa hangat kini mendadak terasa mencekik. Almeera memutar mutar sedotan di dalam gelas kosongnya yang belum diisi, matanya tidak lepas dari gerak gerik Kaizan yang tampak tidak tenang.

"Kamu lagi marah ya sama aku?" tanya Almeera akhirnya, menyuarakan ketakutan kecil yang sejak tadi mengusik hatinya.

Kaizan langsung menoleh, menggeleng cepat. "Nggak, Meera. Sama sekali nggak."

"Terus kenapa dari tadi kamu ketus dan diam terus?" cecar Almeera lagi.

Kaizan memijat pelipisnya pelan. "Aku cuma lagi banyak pikiran aja."

"Kalau memang ada masalah, cerita dong sama aku. Siapa tahu aku bisa bantu," ucap Almeera melunakkan suaranya, mencoba menenangkan.

Kaizan menatap Almeera dalam dalam, ada sorot bersalah yang kilat melintas di matanya sebelum akhirnya meredup kembali. "Nanti aku cerita."

"Kapan?" tagih Almeera tidak sabaran.

"Nanti, Meera. Ada waktunya," jawab Kaizan final.

Almeera terpaksa mengatupkan bibirnya rapat rapat. Jawaban menggantung itu sama sekali tidak membuat hatinya tenang. Justru, rasa cemasnya semakin beranak pinak di dalam kepala.

Tidak lama kemudian, pesanan makanan mereka datang. Almeera tidak ingin merusak sore ini. Ia memaksakan diri untuk tersenyum dan mencoba mencairkan keheningan dengan menceritakan kejadian kejadian lucu yang dialaminya di kelas tadi.

"Terus ya, dosennya langsung melotot ke arah aku!" cerita Almeera bersemangat, diakhiri dengan tawa yang agak dipaksakan.

Kaizan hanya menanggapi dengan senyuman tipis yang tidak sampai ke mata. "Terus?" tanyanya formal.

"Terus... ya aku langsung pura pura nggak tahu aja, ngumpet di balik punggung temanku," jawab Almeera, intensitas suaranya mulai menurun.

Kaizan terkekeh kecil, sangat pelan. "Dasar kamu."

"Nah, akhirnya ketawa juga kan!" seru Almeera, berharap keceriaan Kaizan telah kembali.

Namun, tawa kecil itu langsung hilang dalam sekejap. Kaizan kembali melempar pandangannya ke arah jalanan di luar jendela, tenggelam lagi dalam dunianya sendiri.

Perlahan, sisa senyuman di wajah Almeera luntur total. Antusiasmenya patah.

"Kamu benar benar nggak mau cerita ya?" tanya Almeera, nadanya kini terdengar kecewa.

"Aku nggak apa apa, Meera," ulang Kaizan dengan kalimat yang sama.

Almeera mengangguk pelan, menyerah. "Oke. Kalau kamu bilangnya begitu."

Sisa waktu makan sore itu mereka lalui dalam keheningan yang pekat. Hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring. Beberapa menit kemudian, Almeera menyudahi makannya dan meletakkan sendoknya dengan pelan.

"Setelah dari sini, kita jalan jalan ke taman yuk? Mumpung sorenya lagi bagus," ajak Almeera memecah kesunyian.

Kaizan mendongak, menatapnya datar. "Aku nggak bisa, Meera."

Almeera mengerutkan keningnya dalam dalam. Rasa kecewanya kini mulai bercampur aduk dengan rasa kesal. "Kenapa lagi?"

"Aku ada urusan setelah ini."

"Urusan apa? Nggak biasanya kamu sepadat ini."

Kaizan terdiam sejenak, tampak menimbang sesuatu di dalam kepalanya sebelum menjawab, "Urusan pribadi."

Almeera memaku pandangannya pada wajah lelaki di hadapannya itu. Dadanya mulai terasa sesak. "Sejak kapan kamu punya urusan pribadi yang bahkan nggak bisa kamu ceritakan sedikit pun ke aku, Kaizan?"

"Nggak ada yang aku sembunyikan dari kamu," bela Kaizan, suaranya mulai terdengar tegas.

"Tapi sikap kamu dari tadi jelas jelas menunjukkan kalau kamu lagi menyembunyikan sesuatu dari aku!" balas Almeera, suaranya agak meninggi karena tidak bisa lagi membendung rasa sesak di dadanya.

Kaizan menghela napas panjang, tampak frustrasi. "Meera, tolong jangan berpikir macam macam dulu bisa, nggak?"

Almeera membuang muka, matanya terasa panas. "Aku cuma tanya."

"Iya, aku tahu," sahut Kaizan, suaranya kembali melunak.

Almeera memilih untuk mengunci mulutnya. Sore itu, meski mereka duduk di satu meja yang sama dan saling berhadapan, rasanya ada benteng tak kasatmata yang memisahkan mereka. Biasanya, waktu beberapa jam akan terasa berlalu hanya dalam hitungan detik jika dilewatkan bersama Kaizan. Namun hari ini, setiap detik yang berdetak justru terasa berjalan begitu lambat dan menyiksa.

Begitu makanan mereka tandas, Kaizan langsung merogoh kantong dan mengambil ponselnya tanpa berlama lama lagi. "Ayo, aku antar kamu pulang sekarang."

"Nggak usah repot repot. Aku bisa naik ojek online sendiri," tolak Almeera ketus, hatinya telanjur dongkol.

"Aku antar," ulang Kaizan, nadanya penuh penekanan yang tidak menerima penolakan.

Almeera akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah. "Oke."

Mereka pun melangkah keluar dari kafe menuju tempat mobil Kaizan terparkir.

Sepanjang perjalanan pulang membelah jalanan kota, Almeera sempat mencoba mencairkan suasana dengan melempar satu dua pertanyaan ringan. Namun, Kaizan hanya merespons dengan jawaban seadanya; ya, tidak, atau sekadar anggukan kepala hambar. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada kemudi.

Begitu mobil berhenti tepat di depan pagar rumah Almeera, Almeera memegang tuas pintu mobil, namun tidak langsung membukanya. Ia menoleh ke samping.

"Kaizan," panggil Almeera lirih.

"Iya?" sahut Kaizan tanpa menoleh, matanya masih menatap lurus ke arah setir mobil.

"Kamu benar-benar nggak punya masalah kan sama aku?" tanya Almeera sekali lagi, meminta kepastian untuk hatinya yang cemas.

Kaizan akhirnya menoleh, menatap Almeera lurus lurus. "Nggak ada, Meera."

Almeera mengangguk pelan, mencoba memercayai ucapan itu meski hatinya berteriak sebaliknya. "Kalau ada apa apa, tolong bilang sama aku ya."

"Iya," jawab Kaizan pendek.

Almeera akhirnya membuka pintu dan turun dari mobil. Namun sebelum benar benar menutup pintu mobil itu kembali, ia menyempatkan diri menatap wajah Kaizan untuk yang terakhir kalinya sore itu. "Hati hati di jalan."

"Iya. Kamu juga langsung masuk," sahut Kaizan.

Pintu mobil tertutup. Mobil milik Kaizan perlahan mulai melaju, bergerak meninggalkan area perumahan rumah Almeera hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan.

Almeera masih bergeming di depan pagar rumahnya, menatap lurus ke arah jalan kosong itu dengan perasaan campur aduk. Entah mengapa, ada firasat buruk yang tertinggal di dadanya. Ia sendiri tidak tahu apa penyebab pastinya.

Namun untuk pertama kalinya selama mereka menjalin hubungan, Almeera bisa merasakan ada sebuah jarak yang membentang di antara mereka. Jarak yang sebelumnya tidak pernah ada, sedekat apa pun mereka duduk bersama.

Dan celakanya, semakin keras Almeera mencoba meyakinkan hatinya bahwa semua akan baik baik saja, semakin kuat pula alarm di kepalanya berbunyi bahwa ada rahasia besar yang sedang disimpan rapat rapat oleh Kaizan darinya.

Sayangnya, Almeera belum tahu rahasia apa itu.

Ia juga sama sekali tidak menyadari, bahwa jawaban dari segala tanya dan gelisah di hatinya sore ini akan datang menghantam hidupnya dalam waktu yang sangat dekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!