Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8: Anak Susuan, Saudara Sesusuan
Seminggu setelah dapur mulai mencatat resep, pipi Sena tak lagi sekosong mangkuk terbalik.
Aku menimbangnya di klinik setiap tiga hari. Kenaikannya belum besar, tetapi ia jarang muntah. Aku menyusuinya sesuai tanda lapar, menepuk punggung sampai bersendawa, dan memijat perutnya searah jarum jam jika kembung.
"Tangan Mbak Laras cocok pegang bayi," kata perawat.
"Karena saya juga punya bayi."
Jawaban itu membuat dadaku ngilu. Kabar dari Nala belum datang lagi.
Sore Jumat, pengajian kecil diadakan di musala kompleks. Aku duduk paling belakang bersama Sena agar mudah keluar jika ia rewel. Setelah kajian, seorang ibu sepuh menghampiri.
"Ini anak yang kamu susui?"
"Iya, Bu."
"Sudah berulang kali sampai kenyang?"
Aku mengangguk. Ia tersenyum dan menyentuh kaki Sena.
"Berarti dia anak susuanmu. Kalau putrimu nanti datang, mereka saudara sesusuan. Catat baik-baik supaya saat dewasa hubungan mahramnya jelas."
Aku tahu aturan itu, tetapi mendengarnya diucapkan membuat hubungan kami terasa memiliki nama.
Anak susuan.
Sena bukan sekadar pekerjaan yang harus kuberi makan. Tubuhku telah menjadi jalan hidupnya. Nala dan Sena terikat sebagai saudara meski belum pernah bertemu.
"Nama putrimu siapa?" tanya ibu itu.
"Nala."
"Semoga kelak mereka rukun seperti saudara kandung."
Bu Sari, yang duduk di dekat kami, ikut menjelaskan dengan tenang. "Hubungan itu antara kamu dan Sena, lalu Sena dengan anak-anakmu. Bukan berarti kamu jadi saudara Pak Bram. Banyak orang suka keliru kalau cuma dengar setengah."
Aku mengangguk. "Saya akan minta catatan tertulis. Nala masih di kampung, jadi semua harus jelas sebelum dia tinggal bersama saya."
"Bagus. Agama memberi aturan supaya anak terlindungi, bukan supaya orang bebas bergosip."
Ucapan itu membuat beberapa perempuan yang semula berbisik menunduk. Ratna tidak hadir, tetapi aku tahu kabar tentang pengajian akan sampai kepadanya sebelum malam.
Aku tidak keberatan. Kali ini kabar yang dibawa adalah fakta.
Dalam perjalanan pulang, Sena tertidur di bahuku. Aku mencium rambut halusnya.
"Dengar, Le? Kamu punya adik bernama Nala. Jangan rebut makanannya nanti."
Ia mendengus dalam tidur.
Malam hari Bram datang seperti biasa. Kunjungannya selalu singkat dan hampir pada jam yang sama. Ia memeriksa suhu kamar, melihat catatan minum, lalu berdiri di sisi ranjang tanpa banyak bicara.
Malam pertama ia membawa termometer baru. Malam kedua ia mengganti baterai kipas portabel. Malam ketiga ia hanya berdiri di pintu karena Sena sudah tidur di dadaku.
Ia selalu mengaku sedang memeriksa anaknya, tetapi pertanyaan yang diajukan mulai meluas.
"Kamu sudah makan?"
"Dapur aman?"
"Ada kabar dari kampung?"
Aku menjawab seperlunya. Ia pun tak pernah bertahan lebih dari sepuluh menit. Justru keteraturan itu membuatku hafal bunyi langkahnya di tangga.
"Beratnya naik dua ratus gram," kataku.
"Bagus."
"Hari ini orang pengajian mengingatkan soal hubungan susuan. Saya mau memastikan dicatat di berkas keluarga. Sena anak susuan saya, dan dia saudara sesusuan Nala."
Bram mengangguk. "Besok saya minta Hendra catat."
"Bapak nggak keberatan?"
"Kenapa harus keberatan?"
"Sebagian orang mungkin menganggap saya terlalu jauh mengakuinya."
Tatapannya jatuh pada Sena. "Orang-orang itu tidak membuatnya berhenti menangis. Kamu yang membuatnya makan."
Kalimat pendek itu menghangatkan sesuatu dalam dadaku.
Sena bergerak. Kelopak matanya terbuka sedikit. Ia melihatku, lalu mengangkat kedua tangan.
"M-ma."
Aku membeku.
Suara itu mungkin hanya ocehan bayi. Namun Sena mengulanginya sambil menatapku.
"Ma... ma."
Air mataku langsung naik. Aku mengangkatnya dan menempelkan pipinya ke pipiku.
"Iya. Mama di sini."
Di belakangku, Bram menarik napas pelan.
***
Aku, Bram, pernah mendengar Sena mengeluarkan bunyi serupa. Tidak pernah sejelas malam ini, dan tidak pernah ditujukan kepada seseorang.
Setiap malam aku datang dengan alasan memeriksa catatan. Sebenarnya Hendra bisa mengirim foto laporan. Klinik pun menimbang Sena berkala.
Namun setelah seharian mendengar perintah, mesin kendaraan, dan laporan anggota, kamar Laras adalah satu-satunya tempat di kompleks yang terasa sunyi tanpa terasa kosong.
Di sana ada aroma minyak telon, kain bersih, dan kadang sisa bawang dari dapur. Ada suara Laras bersenandung pelan. Ada Sena yang tidak lagi menangis sampai biru.
Aku mulai menunggu jam kunjungan itu, lalu membenci diri sendiri karena menunggunya.
Laras memeluknya seolah satu kata kecil itu adalah hadiah paling mahal di dunia. Aku seharusnya bahagia karena Sena akhirnya memiliki sosok ibu.
Aku memang bahagia.
Namun di bawah rasa itu ada takut yang lama kukunci. Semua orang yang disayangi anak ini pergi terlalu cepat.
"Ibunya Sena pergi waktu dia belum genap tiga bulan," kataku.
Laras menoleh. "Karena sakit?"
Aku tak bisa memberi jawaban sebenarnya. "Tubuhnya tidak pernah pulih setelah melahirkan."
Itu bagian yang boleh diceritakan, meski bukan seluruhnya.
"Maaf," katanya. "Saya nggak bermaksud membuka luka."
"Kamu nggak salah."
Sena menguap, lalu kembali menyandarkan kepala pada dada Laras. Pemandangan itu terlalu menyerupai rumah yang tak pernah berani kubayangkan.
Aku pamit sebelum diamku berubah mencurigakan.
Di kantor, kubuka laci meja paling bawah. Sebuah foto lama tersimpan di dalam amplop cokelat. Ratih berdiri di samping seorang lelaki yang wajahnya sengaja tertutup bayangan. Di belakang foto ada tanggal dan satu kalimat pendek yang tidak boleh dibaca siapa pun.
Jaga Sena sampai waktunya tiba.
Aku menatap foto itu, lalu teringat Laras menyebut dirinya mama tanpa ragu.
"Dia sudah punya ibu," bisikku. "Tapi aku belum tahu berapa lama Tuhan membiarkannya tinggal."
Kumasukkan foto kembali. Kunci laci berputar dengan bunyi klik.
Rahasia itu harus tetap tertutup.
***
Pagi berikutnya, Hendra datang membawa formulir catatan keluarga. Ia menulis hubungan susuan secara resmi dan menjelaskan bahwa catatan itu penting untuk masa depan kedua anak.
Aku membubuhkan tanda tangan.
Di kolom nama anak lain, tertulis Nala.
Aku menyentuh nama putriku, lalu nama Sena di baris atasnya.
Dua anak yang sama-sama kehilangan ayah dan ibu dalam bentuk berbeda. Dua anak yang belum pernah bertemu, tetapi sudah diikat oleh air susu.
"Kalian berdua anakku," bisikku. "Entah bagaimana caranya, Mama akan menjaga kalian."
Dari luar kamar, terdengar langkah Bram berhenti sesaat.
Lalu bunyi kunci dari arah kantornya terbayang kembali di kepalaku, meski aku tidak tahu rahasia apa yang baru saja ia tutup rapat.
Aku hanya tahu setiap kali nama Ratih disebut tepat di hadapannya, mata Bram menjadi lebih gelap. Bukan seperti duda yang merindukan istri, melainkan seperti prajurit yang masih berjaga sendirian di depan sebuah pintu. Di balik pintu itulah seluruh masa lalu Sena disembunyikan rapat, dan aku belum punya hak untuk mengetuknya sekarang.