Seorang pelayan yang dihina dan dikhianati bangkit sebagai CEO konglomerat misterius demi membalas dendam, namun takdir penyesalan dan pengorbanan mengubah rasa benci tersebut menjadi perjuangan cinta sejati yang mendewasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang atoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Pembongkaran Kasus Korupsi
Pagi itu, Grand Auditorium di lantai tiga Menara Adhitama dipenuhi oleh ratusan jurnalis dari berbagai media massa nasional maupun internasional.
Kilatan lampu kilat dari puluhan kamera berkedip tak henti-hentinya, menciptakan atmosfer ketegangan yang pekat. Berita mengenai konferensi pers darurat yang digelar oleh Adhitama Group telah menjadi topik terpanas sejak subuh, memicu berbagai spekulasi di kalangan pengamat ekonomi dan publik.
Di atas panggung utama, Rendy Adhitama duduk di poros tengah meja panjang dengan keanggunan seorang penguasa sejati. Ia mengenakan setelan jas navy yang dijahit khusus, memancarkan aura wibawa yang dingin dan dominan.
Di samping kirinya duduk Pak Irwan, sementara di sebelah kanannya berdiri Siska yang mengenakan seragam asisten yang rapi, memegang berkas-berkas penting dengan jemari yang tenang meski tatapan ratusan pasang mata tertuju pada panggung.
Rendy memajukan tubuhnya mendekati mikrofon. Keheningan seketika melingkupi seluruh ruangan yang tadinya bising oleh bisik-bisik penasaran.
"Selamat pagi, Rekan-rekan Media," suara Rendy mengalun berat, tenang, namun memiliki daya tekan yang luar biasa.
"Hari ini, Adhitama Group menggelar konferensi pers untuk meluruskan berbagai isu serta membeberkan fakta terkait kejahatan korporasi yang merugikan iklim investasi nasional."
Dengan isyarat tangan dari Rendy, layar proyektor raksasa berukuran puluhan meter di belakang panggung menyala. Seketika itu pula, puluhan dokumen keuangan, salinan transaksi rekening lepas pantai (offshore account), hingga rekaman aliran dana ilegal terpampang dengan sangat jelas.
"Selama dua tahun terakhir, Pratama Karya di bawah kepemimpinan Saudara Danang dan Pak Winarto telah melakukan tindakan penggelapan pajak berskala besar, pemalsuan dokumen investasi kelautan, serta pemindahan aset perusahaan secara ilegal," lanjut Rendy, jari-jemarinya bertaut di atas meja.
"Mereka secara sengaja memanipulasi laporan audit untuk menyedot dana masyarakat dan memeras perusahaan mitranya."
Suara jepretan kamera makin menjadi-jadi. Para wartawan berebut mengambil gambar bukti-bukti autentik yang terpampang di layar. Angka-angka yang tertera di sana mencapai ratusan miliar rupiah—sebuah skandal keuangan masif yang belum pernah terungkap sebelumnya.
Pak Irwan kemudian mengambil alih mikrofon untuk memaparkan rincian teknis dari setiap transaksi haram tersebut. Siska, yang menyaksikan semua itu dari samping meja, memejamkan mata sejenak. Ia mengingat betapa Danang dulu selalu membanggakan kejayaan bisnisnya yang ternyata dibangun di atas fondasi busuk kebohongan dan perampokan.
Di barisan belakang audiens, pintu ruang konferensi pers mendadak terbuka secara kasar. Danang dan ayahnya, Pak Winarto, melangkah masuk dengan raut wajah yang memerah padam oleh kemurkaan dan panik. Mereka berniat mengacaukan acara tersebut setelah melihat siaran langsung di televisi.
"Bohong! Ini semua fitnah!" teriak Danang histeris dari ujung lorong auditorium, menarik perhatian seluruh wartawan yang langsung mengarahkan kamera ke arahnya.
"Rendy Adhitama mencemarkan nama baik keluarga kami! Dia sengaja memalsukan dokumen-dokumen itu untuk menghancurkan bisnis saya!"
Namun, Rendy bahkan tidak berkedip. Ia hanya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kemenangan dingin.
"Saya tidak perlu memalsukan apa pun, Danang," ujar Rendy pelan melalui mikrofon, suaranya terdengar jernih di seluruh penjuru ruangan.
"Karena kebenaran selalu punya jalannya sendiri untuk menagih janji."
Tepat saat Rendy menyelesaikan kalimatnya, pintu samping auditorium terbuka lebar. Langkah-langkah kaki tegap bergema membelah ruang konferensi. Delapan orang petugas kepolisian berseragam lengkap bersama jajaran penyidik dari Kejaksaan Agung melangkah masuk dengan raut wajah tanpa kompromi.
Para wartawan memberi jalan saat tim kepolisian berjalan lurus mendekati Danang dan Pak Winarto yang membeku di tempat.
"Saudara Danang dan Saudara Winarto," perwira polisi di barisan depan mengeluarkan surat perintah resmi berstempel emas.
"Berdasarkan bukti-bukti penggelapan pajak, pencucian uang, dan penipuan investasi yang dilaporkan serta diverifikasi oleh pihak berwenang, Anda berdua resmi kami tahan."
Klek! Klek!
Bunyi sepasang borgol besi yang dingin mengunci kedua pergelangan tangan Danang dan ayahnya berdekut nyaring di tengah keheningan auditorium.
Wajah Danang seketika pucat pasi bagaikan mayat. Matanya yang melotot penuh ketakutan menatap Rendy yang masih duduk tenang di atas panggung, lalu beralih menatap Siska yang menatapnya dengan pandangan hampa.
Kehancuran total yang pernah ia rancang untuk orang lain kini berbalik menelan dirinya dan seluruh masa depannya tanpa sisa.