Indonesia
NovelToon NovelToon
Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Dokter / Tamat
Popularitas:408.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.

Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16

Rapat darurat Mahendra Health Group dimulai pukul sembilan pagi.

Dimas duduk di kursi utama, tetapi untuk pertama kali kursi itu terasa tidak mengikuti tubuhnya. Di depannya, layar besar menampilkan grafik penjualan produk utama perusahaan: Neurovan. Obat pendukung terapi migrain dan inflamasi saraf yang membuat Mahendra Health Group naik dari perusahaan kecil menjadi pemain nasional.

Produk itu juga yang membuat investor percaya kepada Dimas.

Sekarang, di sudut kanan slide, ada satu kalimat yang membuat seluruh ruang rapat dingin.

Lisensi formula dasar berakhir dalam 29 hari.

Direktur legal membuka berkas. "Kami sudah menghubungi pihak pemegang hak melalui kuasa hukum Ibu Naira Salsabila Atmadja. Jawabannya tetap sama. Tidak ada perpanjangan."

Salah satu komisaris langsung berkata, "Kenapa baru sekarang kita tahu pemegang haknya istri Pak Dimas?"

Ruangan hening.

Dimas menatap meja.

Rendi yang duduk di belakang tampak pucat.

Direktur legal berdeham. "Dalam dokumen awal, lisensi diberikan melalui entitas PT Langit Pusaka. Beneficial owner tidak tercatat di ringkasan yang biasa dibaca direksi."

"Tapi Pak Dimas tahu?"

Semua mata mengarah kepadanya.

Dimas mengangkat wajah.

Ia bisa berbohong. Ia bisa berkata tidak tahu sama sekali. Itu sebagian benar. Ia tidak tahu Naira pemilik akhirnya.

Tapi ia tahu rumah itu bukan miliknya.

Ia tahu formula itu datang dari sumber misterius yang tidak pernah ia usut.

Ia tahu terlalu banyak kenyamanan yang ia terima tanpa bertanya.

"Saya tidak tahu detail kepemilikan," katanya. "Tapi saya bertanggung jawab."

Kalimat itu membuat ruang rapat sedikit bergerak.

Bukan karena mereka puas.

Karena mereka takut.

Investor utama, Pak Handoko, mengetuk meja. "Tanggung jawab tidak cukup. Kalau lisensi tidak diperpanjang, produksi berhenti. Kalau produksi berhenti, valuasi jatuh. Kalau valuasi jatuh, kredit sindikasi ikut bermasalah."

"Saya akan bicara dengan Naira," kata Dimas.

Handoko tertawa pendek. "Sebagai suami atau sebagai CEO?"

Dimas tidak menjawab.

Pertanyaan itu terlalu telanjang.

Selama ini ia memakai keduanya sesuai kebutuhan. Saat butuh obat, Naira istri. Saat butuh citra, Naira pendamping. Saat butuh sumber daya, Naira seperti akses yang tidak perlu diberi nama.

Sekarang semua peran itu menolak dipakai.

Direktur operasional berkata, "Ada opsi reverse engineering?"

Direktur legal langsung menggeleng. "Berisiko gugatan pelanggaran paten. Selain itu, formula stabilisasinya tidak lengkap di dokumen kita."

"Maksudnya?"

"Kita hanya punya bagian produksi. Bagian koreksi senyawa ada pada pemegang hak."

Handoko menatap Dimas. "Dengan kata lain, kita selama ini menjual produk yang separuh nyawanya ada di tangan mantan istri Anda."

Mantan.

Secara hukum belum, tapi ruangan ini sudah memakai kata itu.

Dimas merasa pelipisnya berdenyut.

Rapat selesai tanpa solusi.

Begitu keluar, Rendi mengejar. "Pak, saya bisa coba hubungi Bu Naira lewat Maya."

"Tidak."

"Tapi..."

"Aku yang hubungi."

Dimas masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintu.

Ia membuka kontak Naira. Jarinyanya ragu di tombol panggil.

Sebelum ia menekan, pintu terbuka.

Clara masuk.

"Mas."

Dimas mengerutkan kening. "Aku sedang rapat internal."

"Rendi bilang rapat sudah selesai."

Ia membawa paper bag kecil berisi obat dan kopi. Dulu Dimas akan merasa diperhatikan. Hari ini ia hanya melihat bagaimana Clara bisa melewati sekretarisnya tanpa ditahan.

"Aku dengar soal paten," kata Clara hati-hati.

Dimas menatapnya. "Dari siapa?"

Clara terdiam sepersekian detik. "Orang-orang membicarakannya."

"Ini rapat tertutup."

"Mas, aku tidak bermaksud..."

Dimas memejamkan mata.

Kalimat itu lagi.

Clara mendekat. "Aku cuma khawatir. Kalau Naira memakai paten itu untuk menekanmu, kamu tidak bisa diam. Kita bisa cari ahli lain. Banyak peneliti hebat. Jangan biarkan dia menghancurkan perusahaan hanya karena sakit hati."

"Paten itu miliknya."

"Tapi kamu yang membesarkan produk."

"Dengan sesuatu yang bukan milikku."

Clara menatap Dimas seperti tidak mengenalnya.

"Mas sekarang membela dia?"

Dimas menatap Clara. "Aku sedang melihat fakta."

"Fakta atau rasa bersalah?"

Pertanyaan itu membuat ruangan dingin.

Dimas berdiri. "Clara, aku butuh sendiri."

Wajah Clara memucat. "Aku datang untuk membantu."

"Aku tahu. Tapi aku tidak butuh."

Clara menggenggam paper bag sampai kertasnya berkerut. Ia meletakkannya di meja dengan gerakan pelan.

"Kalau begitu aku pulang."

Dimas tidak menahan.

Setelah pintu tertutup, Clara berdiri di koridor beberapa detik. Matanya tidak lagi basah. Wajahnya tenang, tetapi rahangnya kaku.

Ia mengambil ponsel.

Nomor yang ia hubungi tidak tersimpan dengan nama, hanya huruf C.

"Saya ingin bertemu," katanya pelan. "Soal Dr. Naira dan paten itu."

Di sisi lain kota, Naira duduk di kantor Maya bersama tim legal Atmadja.

Di meja ada daftar lisensi, masa berlaku, potensi gugatan, dan klausul penghentian.

Maya berkata, "Mahendra bisa mencoba menekan lewat opini publik. Mereka mungkin akan membangun narasi bahwa Ibu menghancurkan perusahaan dan nasib karyawan."

"Siapkan jawaban."

"Sudah. Kita tekankan pemegang hak menawarkan transisi terbatas untuk pasien yang sedang memakai obat, bukan untuk keuntungan korporasi."

Naira mengangguk. "Pasien tidak boleh jadi korban."

Surya yang duduk di ujung meja menatap putrinya.

"Bahkan untuk perusahaan yang menyakitimu?"

"Pasien bukan perusahaan."

Surya tersenyum tipis. "Itu suara ibumu."

Naira menunduk sebentar.

Ponselnya bergetar.

Dimas.

Semua orang di ruangan melihat layar itu, lalu pura-pura tidak melihat.

Naira mengangkat.

"Ya."

Di ujung sana, Dimas terdengar lelah. "Aku ingin bicara soal transisi lisensi."

"Hubungi Maya."

"Naira, tolong. Sebagai..."

Ia berhenti.

Naira menunggu.

Sebagai apa?

Istri?

Mantan?

Orang yang pernah ia remehkan?

Dimas menarik napas. "Sebagai pemegang tanggung jawab perusahaan, aku meminta waktu bertemu."

Itu kalimat pertama yang terdengar benar hari itu.

Naira menjawab, "Kirim agenda tertulis."

"Kamu akan mempertimbangkan?"

"Aku akan membaca."

"Terima kasih."

Naira memutus telepon.

Surya mengangkat alis. "Kamu memberi ruang?"

"Untuk perusahaan, bukan untuk pernikahan."

Maya mencatat.

Bagas masuk dengan wajah serius.

"Non, ada kabar. Seseorang mencoba masuk ke sistem laboratorium lama di rumah Mahendra."

Naira berdiri.

"Siapa?"

"Akses memakai kartu lama atas nama Clara Larasati."

Ruangan menjadi hening.

Naira mengambil tasnya.

"Kita ke sana sekarang."

Di rumah Mahendra, Dimas belum tahu apa yang terjadi di bawah rumahnya.

Ia masih duduk di ruang kerja, menatap agenda rapat yang diminta Naira. Ia menulis poin-poin profesional seperti yang diminta: transisi pasien, stok obat yang sudah beredar, kewajiban ke BPOM, dan perlindungan karyawan.

Setelah selesai, ia membaca ulang.

Baru kali itu ia berbicara kepada Naira tanpa memakai posisi suami.

Rasanya aneh.

Rasanya lebih sulit.

Pintu diketuk. Vina masuk tanpa menunggu jawaban.

"Mas, Kak Clara tadi ke sini. Katanya mau cari dokumen perusahaan di arsip lama. Aku kasih kartu akses Rendi yang tertinggal."

Dimas langsung berdiri. "Kamu apa?"

Vina kaget. "Lho, dia kan bantu kamu."

Dimas meraih jasnya.

"Vina, rumah ini bukan milik kita. Dan apa pun yang ada di bawahnya bukan milik Clara."

Untuk pertama kali, Vina tidak membalas.

Dimas berlari keluar, tapi perasaan buruk sudah lebih dulu sampai.

Di mobil, ia menelepon Clara.

Tidak diangkat.

Ia menelepon Rendi.

Tidak diangkat.

Setiap nada tunggu membuat pelipisnya semakin sakit. Dimas menekan gas lebih dalam sampai sopir harus mengingatkan bahwa jalan licin setelah hujan.

"Pak, kita hampir sampai."

Dimas menatap gerbang rumah yang mulai terlihat.

Di depan sana, dua mobil hitam sudah terparkir.

Mobil Naira.

Dan satu mobil patroli polisi.

Dimas merasakan perutnya jatuh.

Untuk pertama kali, ia berharap Clara benar-benar hanya menangis, bukan berbuat sesuatu yang tidak bisa ia bela.

Harapan itu terasa lemah bahkan sebelum mobil berhenti.

Dimas turun tanpa menunggu sopir membukakan pintu. Dari dalam rumah, ia mendengar suara Bu Ratna meninggi dan suara Maya yang datar. Lalu ia melihat Bagas berdiri di dekat pintu dapur belakang.

Bagas menatapnya singkat.

Tidak marah.

Lebih buruk.

Seolah sudah menduga Dimas akan datang terlambat.

Dimas melewati Bagas tanpa bicara.

Di dalam rumah, namanya dipanggil Clara dengan suara gemetar, tapi Dimas tidak lagi langsung percaya seperti dulu, tidak lagi.

1
say't
busyet nih clara sdh tdr sm siapa ja y 🤪 kok berani skl
Sumiyatun Martoyo
iya. ini sudah dilewati
say't
kalo aq jd naira aq racun ni 3 org menjijikkn 🤪
Tuti irfan
seru cerita nya , ak suka ceritanya TDK melulu tentang romansa Ceo penuh intrik dan misteri 😍😍👍👍👍
Katherina Ajawaila
mending pakai topeng langsung aja Dimas, cabut 5 hurup
Katherina Ajawaila
makin seru aja thour, cara dan ibunya sama ja penjahat berkedok mana ada ibu mau membunuh anak nya sendiri. dasar pelakor ngk mutu
Debbie Teguh
seru banget!
Katherina Ajawaila
Clara kamu itu ibarat anak ayam yg BB aru netes jgn sombong di pites juga modar. Dimas mau di andalan, Domas aja parasit yg ngumpet di kaki rok Naira 🫣
Katherina Ajawaila
maka nya jd Suami harus bisa adil kalau sdh brani melangkah kedepan, dasar nya aja kere, mau sombong kacang lupa kulit nya, kalau smua di tarik sm Naira, jadi apa parasit
Katherina Ajawaila
kere tapi belagu, biasa parasit
Ken L
kenapa cerita diulang2 ya...supaya kelihatan isi bab ceritanya penuh?
Abie Mas
raka love naira
Heni Setiyaningsih
heran ya,pemili perusahaan kok gk mau beli rumah sendiri,gk malu apa numpang dirumah calon mantan istri 🤭
Wahyu Kasep
jalan ceritanya bagus menarik tegang tapi sepi pembaca gak ada yang komentar
Nengs
bagus cerita wlpun harus benar2 paham
yuqana
bagus banget novelnya 😍😍😍🥰🥰🥰
Dewa Nara
astagaaaaa... pengulangan lagiiiii
Dewa Nara
kok ada pengulangan lagi 🤭
Dewa Nara
ada pengulangan alinea Thor
Dewa Nara
wah ceritanya bukan hanya masalah rumah tangga nih 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!