Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.
Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
BAB 24 — WANITA DARI MASA LALU
Satu bulan berlalu.
Hubungan Nadira dan Arga perlahan membaik.
Tidak ada lagi pertengkaran besar.
Arga juga semakin tegas menjaga batas antara keluarganya dan rumah tangganya.
Nadira mulai merasa semuanya akan kembali tenang.
Namun pagi itu, tanpa sepengetahuan Nadira dan Arga, Bu Ratih sedang menunggu seseorang.
Sebuah mobil berhenti di depan rumah.
Seorang wanita cantik turun dari dalamnya.
Rambut panjangnya terurai rapi. Penampilannya sederhana, tetapi terlihat sangat anggun.
Bu Ratih langsung menghampirinya.
“Livia.”
Wanita itu tersenyum.
“Halo, Bu Ratih.”
“Masuklah.”
Livia berjalan masuk.
Ia melihat sekeliling rumah.
“Sudah lama saya tidak datang ke sini.”
Bu Ratih tersenyum.
“Banyak yang berubah.”
“Termasuk Arga?”
Bu Ratih mengangguk.
“Sayangnya.”
Livia terdiam.
“Dia bahagia?”
Bu Ratih tidak langsung menjawab.
“Entahlah.”
Kemudian matanya mengarah ke lantai atas.
“Sejak menikah, Arga memang terlihat berbeda.”
Livia tersenyum tipis.
“Bukankah itu wajar?”
“Tidak kalau dengan orang yang salah.”
Livia terdiam.
Bu Ratih kemudian menggenggam tangannya.
“Ibu ingin kamu tinggal di sini sebentar.”
“Untuk apa?”
“Temani Ibu.”
Livia terlihat ragu.
“Saya tidak mau membuat masalah.”
“Kamu tidak akan membuat masalah.”
Bu Ratih tersenyum.
“Yang membuat masalah adalah orang yang datang setelahmu.”
Menjelang siang, Nadira turun dari kamar.
Ia terkejut melihat seorang wanita asing sedang duduk bersama Bu Ratih.
“Bu?”
Bu Ratih menoleh.
“Oh, Nadira.”
Nadira tersenyum sopan.
“Siapa?”
Sebelum Bu Ratih menjawab, wanita itu berdiri.
“Saya Livia.”
Nadira mengangguk.
“Halo.”
Livia tersenyum.
“Halo, Nadira.”
Nadira tidak terlalu memikirkannya.
Ia mengira Livia adalah teman Bu Ratih.
Namun Bu Ratih justru berkata,
“Livia dulu sering datang ke rumah ini.”
Nadira mengangguk.
“Oh.”
“Dia juga sangat dekat dengan Arga.”
Nadira mulai diam.
Livia terlihat tidak nyaman.
“Bu…”
“Apa?”
“Tidak perlu dibicarakan.”
Bu Ratih justru tersenyum.
“Kenapa? Nadira juga harus tahu.”
Nadira menatap Livia.
“Kalian teman?”
Bu Ratih menjawab lebih dulu.
“Bukan hanya teman.”
Nadira mengerutkan kening.
“Livia adalah mantan kekasih Arga.”
Ruangan mendadak sunyi.
Nadira tidak berkata apa-apa.
Livia terlihat semakin canggung.
“Sebenarnya saya tidak ingin datang untuk—”
“Livia dulu sangat cocok dengan Arga,” potong Bu Ratih.
Nadira menatap mertuanya.
“Bu…”
“Ibu hanya mengatakan kenyataan.”
Bu Ratih kemudian melihat Livia dari atas sampai bawah.
“Lihat saja. Cantik, mandiri, pandai membawa diri.”
Nadira tersenyum tipis.
“Lalu?”
Bu Ratih menatap Nadira.
“Ibu hanya ingin menunjukkan perbedaannya.”
Livia langsung berkata,
“Bu, jangan seperti ini.”
Namun Bu Ratih tidak berhenti.
“Dulu Arga selalu membawa Livia ke mana-mana. Mereka juga punya banyak kesamaan.”
Nadira mengangguk pelan.
“Bagus.”
Bu Ratih tampak sedikit kecewa karena Nadira tidak terpancing.
Kemudian ia berkata,
“Kalau dibandingkan denganmu, tentu…”
Nadira memotong.
“Bu, saya tidak tertarik dibandingkan dengan siapa pun.”
Livia menatap Nadira.
Untuk pertama kalinya, ia tersenyum tulus.
“Saya juga tidak ingin dibandingkan.”
Bu Ratih menghela napas.
“Kau terlalu sensitif.”
Tiba-tiba suara mobil terdengar dari halaman.
Arga pulang.
Bu Ratih tersenyum.
“Ah, kebetulan.”
Nadira menatap pintu.
Beberapa detik kemudian Arga masuk.
Ia melepas jam tangannya sambil berkata,
“Nadira, kamu di mana?”
Namun langkahnya langsung terhenti ketika melihat wanita di ruang tamu.
Wajah Arga berubah.
“Livia?”
Livia berdiri.
“Hai, Arga.”
Arga menatap ibunya.
“Ibu…”
Bu Ratih tersenyum seolah tidak melakukan kesalahan apa pun.
“Kenapa? Ibu mengundang tamu.”
Arga tidak menjawab.
Ia justru melihat Nadira.
Nadira tersenyum kecil.
“Sepertinya Ibu punya kejutan untukmu.”
Arga menghela napas.
Ia sudah bisa menebak ke mana arah semua ini.
Dan kali ini, ia tahu satu hal.
Ia harus menghentikannya sebelum Nadira kembali terluka.