Berawal dari Kesialan Hidup, membuat Kevin Sanjaya Bangkit dengan bantuan Meteorit dan buku pemberian Kakeknya "Kitab Medis Surgawi"
Beberapa hal dari hidupnya seketika berubah, tiga wanita cantik, Asosiasi Super Power Nasional, bahkan mendapat Cacing Emas Gu Legendaris untuk memperkuat tubuhnya.
Namun, perjalanan Kevin Massi Panjang. Dan, kali ini dia menjadi target organisasi terkuat dunia 'Demonic' dalam memperebutkan 5 Artifak Medis Legendaris, yang di percaya bisa membuat pemiliknya hidup abadi.
Apa saja yang akan di lewati Kevin Sanjaya, di season 2 kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenjiro Dominic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Kevin Terjebak!
"Kau tidak perlu sampai terkejut seperti itu. Menguasai tujuh puluh dua jurus pamungkas Sekte Buddha sebenarnya tidak sesulit yang kau bayangkan."
Kevin berbicara dengan santai.
"Sudah, bangun. Selama beberapa hari ke depan, jangan melakukan pertarungan apa pun. Tulangmu baru saja mulai menyatu. Kalau dipaksakan, tulang itu bisa patah lagi."
"Aku sudah sembuh?"
Tuan X terperangah.
Dia mencoba bangkit dari lantai. Tak disangka, tubuhnya yang sebelumnya hampir lumpuh kini sudah bisa digerakkan kembali. Bahkan dia berhasil berdiri tanpa kesulitan!
Memang masih terasa sakit, tetapi setidaknya dia sudah bisa berdiri.
Tuan X menatap Kevin dengan campuran rasa kagum dan hormat.
Kemampuan medis Kevin benar-benar luar biasa!
Tulang-tulangnya telah hancur, tetapi dalam waktu singkat Kevin sudah mampu membuatnya kembali berdiri.
"Kalau kau masih bisa berjalan, ayo kita keluar dari sini. Udara di tempat ini buruk. Kalau terlalu lama berada di sini, kita bisa mati kehabisan udara."
Kevin melirik ponselnya, lalu bertanya santai, "Siapa namamu?"
"Tuan Muda, namaku Heriyanto Lembayun. Tapi kau bisa memanggilku Heri."
Heri berdiri dengan hormat di belakang Kevin.
"Baiklah, Heri."
Kevin menunjuk pintu baja besar di hadapan mereka.
"Kau tadi tahu bagaimana cara masuk. Berarti kau juga tahu jalan keluarnya, kan?"
Heri tersenyum pahit.
"Pintu ini terbuat dari baja padat setebal hampir tiga puluh sentimeter dan dikunci dari luar. Mustahil bagi kita untuk membukanya dari dalam. Pintu ini hanya bisa dibuka dari luar."
Awalnya, dialah yang sengaja membawa Kevin ke tempat ini dan menguncinya di dalam.
Namun, siapa sangka kekuatan Kevin ternyata jauh melampaui perkiraannya. Bukan hanya gagal membunuh Kevin, dirinya sendiri hampir tewas.
Sekarang, dia malah ikut terjebak di sini.
"Tempat ini benar-benar seperti benteng. Bahkan tidak ada sinyal telepon."
Kevin melihat ponselnya, lalu berkata, "Tapi kau pasti punya cara untuk menghubungi walikota, kan? Suruh dia membuka pintunya."
"Tentu."
Heri mengangguk.
"Di bawah papan lantai di sudut sana ada sebuah tombol. Kalau kutekan, Walikota akan tahu dan membuka pintu."
Dia segera berjalan ke sudut ruangan dan menekan tombol tersebut.
Di luar ruangan, Walikota melihat lampu peringatan yang berkedip, tetapi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kepanikan.
Sebaliknya, seringai dingin justru muncul di wajahnya.
"Aku adalah seorang Walikota, tetapi kalian malah berani memanipulasi dan mengancamku."
Matanya dipenuhi kebencian.
"Kali ini, aku akan memastikan kalian berdua tetap terkurung di dalam sana!"
"Dalam sepuluh menit, oksigen di dalam ruangan akan habis. Saat itu, kalian berdua pasti mati!"
"Setelah ini, tidak akan ada seorang pun yang bisa mengendalikan hidupku lagi!"
Walikota mendengus dingin.
"Masih ada satu orang bernama Tian yang harus kuselesaikan."
Setelah berkata demikian, dia berbalik dan pergi sambil menelepon kantor polisi.
Sementara itu, Albert Wijaya, bergegas keluar dari persembunyiannya. Ia mengambil ponsel dan menelepon mentri Negara Nusantara.
"Pak Menteri, ada masalah. Saya baru saja melihat Walikota pergi, tetapi saya tidak melihat Tuan Kevin keluar. Menurut Anda, apakah sesuatu telah terjadi kepadanya?"
Ekspresi Mentri pertahanan Nusantara langsung berubah serius.
"Sepertinya Walikota memang sedang merencanakan sesuatu."
Dia segera berdiri.
"Robin, kumpulkan tim keamanan dan ikut denganku. Kita harus mencari tahu apa yang telah dilakukan Walikota terhadap Tuan Kevin."
"Baik!"
Di kantornya, senyum Walikota masih belum menghilang.
Dia mengangkat telepon dan berkata dengan santai,
"Kepala Willy, terjadi sebuah pelanggaran keamanan di Kantor Walikota. Bisakah kau mengirim beberapa orang untuk memeriksanya?"
Mendengar suara Walikota, Willy Bantah langsung merasa gugup.
Terakhir kali sekertaris Walikota meneleponnya, sebuah insiden besar terjadi dan hampir membuatnya kehilangan jabatan sebagai kepala kepolisian.
Namun kali ini...
Yang menelepon adalah Walikota langsung!
Willy Bantah segera merasa lega.
"Tenang saja, Pak Walikota. Saya akan segera datang."
Setelah menutup telepon, Kepala Kepolisian segera memanggil wakilnya. Bersama sejumlah anggota tim, mereka bergegas menuju kantor Walikota.
Sementara itu, Walikota masih bersenandung dengan santai.
Dia sangat menikmati perasaan menjadi penguasa di wilayahnya sendiri.
Begitu kedua orang itu mati, semuanya akan berjalan sesuai rencananya.
Bagaimanapun, Tuan X bukanlah orang baik. Kematian mereka bahkan bisa dijadikan alasan yang sempurna.
Walikota sama sekali tidak mengkhawatirkan keselamatan mereka.
Tidak mungkin mereka bisa melarikan diri.
Tanpa dirinya membuka pintu, bahkan ahli paling hebat sekalipun tidak akan mampu menembus baja setebal itu.
Sebelum berhasil keluar, mereka pasti sudah mati kehabisan oksigen.
Tepat saat itu—
Brak!
Pintu kantor Walikota tiba-tiba terbuka dengan keras.
Albert Wijaya menerobos masuk dengan wajah penuh amarah.
Dia berjalan cepat ke meja Walikota dan menghantam permukaannya dengan telapak tangan.
"Kamu! Apa yang telah kau lakukan terhadap Tuan Kevin?"
"Tuan Kevin?"
Mata Walikota sempat menunjukkan sedikit keterkejutan.
Namun, dia segera kembali tenang.
"Yang kau maksud Kevin Sanjaya?"
Walikota tersenyum.
"Memang benar aku mengundangnya datang hari ini. Kami hanya ingin membicarakan acara wawancara dan rencana menjadikannya duta citra Kota Jaya."
"Namun percakapan kami sangat singkat. Setelah itu, Tuan Kevin menerima sebuah telepon dan pergi."
Dia mengangkat bahu.
"Apa ada urusan yang ingin kau bicarakan dengannya?"
"Jangan pura-pura bodoh....!"
Albert Wijaya menatapnya dengan tajam.
"Kau pikir aku tidak tahu apa yang terjadi?"
"Kalau sesuatu terjadi pada Tuan Kevin, kau selesai!"
Albert Wijaya sangat yakin Kevin belum meninggalkan tempat ini.
Jika Kevin benar-benar pergi, dia pasti akan menemuinya terlebih dahulu. Bagaimanapun, Kevin sendiri telah mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin dibicarakannya dengan Walikota.
Selain itu, Albert Wijaya terus mengawasi gerbang kantor dan sama sekali tidak melihat Kevin keluar.
Mendengar tuduhan itu, wajah Walikota langsung berubah muram.
"Albert Wijaya, jaga ucapanmu!"
"Tuan Kevin adalah tokoh terkenal di Kota Jaya. Apa alasanku mencelakainya?"
"Kalau kau terus memfitnahku tanpa bukti, jangan salahkan aku jika aku menuntutmu atas pencemaran nama baik!"
"Kau sudah keterlaluan!"
Albert Wijaya gemetar karena marah.
Dia mengibaskan lengan bajunya, lalu duduk dengan tegas.
Kali ini, dia memutuskan untuk tetap berada di sini dan mengawasi Walikota.
Dia harus menemukan apa pun yang sedang direncanakan pria itu.
Walikota memandang Albert Wijaya dengan seringai dingin dalam hati.
Aku adalah WaliKota, sedangkan kau hanya seorang yang sedikit Kaya. Atas dasar apa kau berani menantangku?
Sementara itu, di Divisi Langit Biro Super Nasional, Jesika tiba-tiba menatap ponselnya dengan terkejut.
"Nona Amel, sinyal ponsel Kevin tiba-tiba menghilang."
Dia menoleh kepada Nona Amel.
"Menurutmu, apakah sesuatu terjadi padanya?"
Kevin sebelumnya telah memberinya dua miliar dan juga menunjukkan dirinya sebagai orang yang sangat bermoral.
Karena itu, Jesika memiliki kesan yang sangat baik terhadap Kevin.
Nona Amel sedikit mengernyit.
"Periksa komputer. Cari lokasi terakhir sinyal ponselnya dan lihat berapa lama sinyal itu bertahan."
Jesika segera melakukan pemeriksaan.
Beberapa saat kemudian, dia berkata dengan yakin,
"Lokasi terakhirnya berada di kompleks kantor Walikota di Kota Jaya."
"Sinyalnya sudah menghilang selama sepuluh menit."
Ekspresi Nona Amel langsung berubah serius.
"Jesika, kita harus pergi ke Kota Jaya."
Dia berdiri.
"Telah terjadi sesuatu pada Kevin."
"Nona Amel, bukankah Anda terlalu cepat mengambil kesimpulan?"
Jesika tampak tidak mengerti.
"Mungkin saja ponselnya berada di tempat yang tidak memiliki sinyal."
Dia benar-benar bingung.
Apa yang terjadi pada Nona Amel?
Biasanya, hal sepele seperti ini sama sekali tidak akan membuatnya peduli.
Namun sekarang, hanya karena Kevin tidak dapat dihubungi selama sepuluh menit, dia langsung ingin melakukan penyelidikan sendiri.
Mungkinkah Nona Amel memiliki perasaan khusus terhadap Kevin?
"Di tempat seperti kompleks kantor Walikota, mustahil tidak ada sinyal."
Tatapan Nona Amel menjadi tajam.
"Jadi, sesuatu pasti telah terjadi pada Kevin."
"Aku harus pergi menyelamatkannya."
Dia kemudian berkata dengan tenang,
"Jesika, siapkan telepon satelit untuk Kevin."
"Kita berangkat sekarang."
bibirmu berjenggot?