Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Panas terik matahari siang ini menyengat tanpa ampun, terlihat tanah lapangan berdebu dengan panas matahari yang menyengat.
Namun, meski panas dan berdebu tak membuat sebuah latihan tempur TNI menjadi terhenti.
Udara yang panas bergejolak, bercampur dengan keringat----dan aroma bubuk mesiu bercampur dengan debu yang berterbangan---menjadi saksi atas tangguhnya latihan yang di jalani para prajurit berseragam loreng hijau ini.
Setiap derap langkah kaki prajurit ini membuat debu-debu berterbangan, di bawah langit yang terik.
Meski cuaca sangat terik tak menyurutkan semangat latihan tempur para prajurit muda itu dengan perlengkapan tempur lengkap, dengan memegang senapan serbu, mengenakan helm baja, dan tas ransel berat di punggung masing-masing prajurit.
Namun, di tepi lapangan---Mayor Angga berdiri memantau jalannya latihan fisik bersama Mayor Bima, temannya yang malam itu mabuk bersama.
Keduanya mengenakan seragam dinas lapangan, TNI loreng malvin, dengan pangkat mayor yang tersemat di kerah baju keduanya---dan emblem kesatuan yang menempel di lengannya.
Angga memegang peluit sesekali di tiup dengan keras, guna memberi aba-aba pergantian formasi.
Meski suaranya tegas akan instruksi namun pikiran Angga tak disana, masih memikirkan kejadian tiga hari yang lalu---siapa wanita itu, yang telah di nodainya.
Pikirannya masih soal seprai putih dengan bercak darah di hotel bintang lima, bukannya hanya rasa bersalah teramat namun dadanya terasa sesak.
Kenapa hal ini bisa terjadi, padahal Angga juga pernah melakukan hubungan tubuh dengan wanita lain, namun kenapa kali ini Angga yang terus memikirkan Asri.
Setiap kali dirinya memejamkan mata, telinganya malah berdengung mendengarkan isak tangis lirih wanita yang mengenakan kemeja putih---yang di dalam penglihatannya saat mabuk adalah sosok bidadari.
Bima Aditya, yang sedang membuat formasi dan instruksi kepada dua Letnan----matanya tiba-tiba tertuju pada Angga yang berdiri melamun di tepi lapangan.
"Kenapa lagi nih bocah?" pikir Bima.
Bima memperhatikan Angga selama tiga hari ini, tampak lebih pendiam dan seperti gelisah---ada sesuatu yang di sembunyikannya.
Bima selaku sahabat sejak kecil di Yogyakarta, kini keduanya selalu bersama---sampai di club malam itu, posisi Bima saat itu ke kamar mandi untuk muntah---bahkan bermalam bersama LC.
Namun, saat kembali ke Bar----Angga sudah tak ada, entah kemana Angga.
Bima lalu menghampiri Angga, seraya menepuk pundak sahabatnya itu----karena merasa ada sesuatu yang tak beres telah menimpa sahabatnya ini.
Bima ikut mengarahkan barisan para prajurit yang tengah tiarap, pria itu berusaha bertanya pada Angga---agar suaranya tak di dengar prajurit lain, Bima merendahkan nada suaranya.
"Kemana saja kau tiga malam kemarin, ku cari kau tak ada?" tanya Bima langsung intinya.
Mendengar pertanyaan yang terlontar dari sahabatnya, seketika tubuh Angga menegang.
Angga secara refleks menoleh ke samping kiri, wajahnya waspada seolah memastikan tak ada prajurit bawahannya atau perwira atasan keduanya------tak mendengar percakapan mereka.
Di belakang keduanya, sang saka Merah Putih berkibar dengan gagah di atas tiang yang tinggi.
Terlihat sangat berlawanan dengan sebuah rahasia yang di sembunyikan----di antara kedua perwira muda ini.
Angga memajukan tubuhnya mendekatkan wajahnya ke telinga Bima, dengan berusaha berakting menunjuk ke arah barisan prajurit seolah-olah mereka tengah mendiskusikan taktik latihan.
"Kita akan bicara tapi jangan disini, ikut aku ke tenda setelah sesi ini selesai," bisik Angga dengan suara rendah.
Bima mengerutkan dahinya dengan heran, merasakan hal yang tak biasa dari sahabatnya ini.
Setelah waktu latihan selesai di gantikan waktu istirahat siang, Angga dan Bima langsung masuk ke balik tenda pleton.
Angga mau tak mau harus menceritakan semuanya kepada sang sahabat, dengan tangan bergetar melepas topi lorengnya.
"Malam itu aku melakukan kesalahan fatal Bim, di bawah pengaruh alkohol sialan itu! aku tanpa sengaja memperkosa seorang cewek," aku Angga dengan suara bergetar, seolah ketakutan.
Mendengar itu Bima terbelalak dengan napas tertahan di tenggorokannya, sampai mengumpat sumpah serapah dalam bahasa Jawa.
"Wedus, pantas ku cari kau tak ada di bar malam itu! terus tuh cewek siapa? dimana sekarang?" tanya Bima dengan melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.
Angga hanya menjawab dengan gelengan kepala, sembari meremas rambut cepaknya seolah frustasi.
"Nah itu dia, saat aku terbangun siang ini, dia sudah pergi tanpa meninggalkan jejak apa pun. Hanya ada... noda darah di selimutku."
"Tapi kenapa baru kali ini aku kepikiran dia terus ya. Padahal bukan hanya sekali aku tidur ama cewek," lanjutnya.
Mendengar detail itu, wajah Bima langsung pucat, dirinya menepuk jidatnya sendiri dengan keras.
"Lah gimana lah kau, bukannya kau sudah bertunangan dengan Alina! Kau tahu sendiri bagaimana watak ayahnya!" ujar Bima sembari menepuk jidatnya dengan keras.
"Ini dia masalahnya Bim, gimana reaksi Alina saat tahu kejadian ini. Pertunangan aku sama anaknya Jendral Fadhil Barenyah di batalkan. Matilah aku...karier militerku," sahut Angga yang menatap ke arah tanah berdebu.
Alina Barenyah selain anak dari Jendral Fadhil Barenyah, wanita itu juga berprofesi sebagai model internasional tingkat Asia.
Karirnya di kancah internasional mendunia, saat di atas panggung megah Victoria's Secret.
Alina memiliki kecantikan yang sangat unik dan berbeda dengan gadis Asia tenggara lainnya.
Wajahnya memiliki garis keturunan Tionghoa dan Indonesia, karena berasal dari Kalimantan.
Ayahnya---Letnan Fadhil Barenyah adalah seorang perwira tinggi di kesatuan mereka, sebenarnya pertunangan Angga, karena pria itu yang mengejar Alina.
Alina terpaksa menerima pinangan Angga.
"Yaudah, abis latihan kita bicara lagi di mes. Sekarang, pasang kembali topimu. Jangan biarkan anak buah melihat wajah panikmu ini...," bisik Bima di telinga Angga.
Namun, Alina selalu menolaknya karena memang selera Alina berbeda.
Di balik ini semua sebuah harga diri keluarga tengah di pertaruhkan disini, penyatuannya dengan Alina adalah sebuah jembatan emas mengantarkan karier militer Angga ke puncak tertinggi di markas militer.
Alina menolak Angga karena ada alasan tertentu, dirinya sudah memiliki kekasih orang asing---dengan penuh tekanan Alina terpaksa menerima perjodohannya bersama Angga.
Namun, apa alasan Alina menerima perjodohan ini meski penuh tekanan.
*
*
*
*