Bryen berusia 25 tahun seorang pria pemilik cafe sederhana, memiliki karyawan untuk membantu melayani seorang pelanggan, saat sibuk melayani pelanggan ia tidak sengaja menumbuhkan Kopi ke pakaian seorang perempuan sombong, angkuh dan dingin, yg lagi asik berbincang sama teman kantor nya, hingga ia kaget langsung beranjak
"HEI KAMU... HATI - HATI DONG! INI BAJU MAHAL, LIHAT.... BAJUKU JADI KOTOR!! PAKAI MATA ENGGAK!! ". Ucapnya sentak marah
" maaf nona, saya tidak sengaja, sini saya bersihin! ". Jawab brayen sambil mengelap gaun yang kena tumpahan kopi
" TIDAK USAH!! BISA SENDIRI, DASAR LAKI-LAKI!! ". Ucapnya dengan tatap kesel melangkah melewati, temannya pun mengikuti dengan ekpresi bingung
Ini pertama kalinya bagi bryen di marahin oleh seorang wanita.
kehidupan bryen sangat suka hidup biasa saja, walaupun sang ayah selalu menjodohkan dirinya dengan seorang wanita kenalan teman ayahnya, sampai kini sang ayah masih membahas perjodohan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon as2357zzjdj, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 BERUBAHAN AKAN MENJADI DEWASA!
Setelah selesai acara pernikahan mereka, terlihat Elina duduk di atas ranjang kasur yang masih mengenakan gaun pengantin, ia mulai gugup karena malam ini adalah malam pertama yang akan terjadi antara mereka. Tiba Brayen datang melangkah menghampiri
"Kamu tidak berganti pakaian untuk tidur? ". Tanya Brayen dengan nada polosnya.
Elina menoleh beranjak
" Tidak! Hari ini aku ingin mandi, bukan berganti pakaian, ok". Jawabnya tengil, melangkah jalan memsuki kamar mandi
Brayen hanya memperhatikannya dengan bingung sambil membuka kancing baju di pergelangan tangannya.
Di dalam kamar mandi terlihat Elina cukup kesel melihat polosnya brayen tidak peka. Kedua telapak tangan menyentuh meja dekat wastafel melihat dan menatap mata di kaca cermin.
"Ya ampun... dia pria aneh, lebih tidak aku paham dengan sikapnya itu. kandang bersikap kurang ajar. ehh... sekarang bak kayak orang polos dan bego....! ".Elina berkata berbicara diri sendiri dengan kesel.
Elina menyalakan air kera di wastafel menyuci kedua telapak tangan.
Di kamar terlihat brayen sudah mengganti pakaian ia sudah memakai baju tidur polos, langsung ia membaringkan tubuhnya yang lelah, dan capek. Kemudian beberapa menit, Elina keluar dari kamar mandi, ia memakai juba handuk tebal berwarna putih polos, sambil mengosongkan rambut yang basah sehabis mandi, Saat melihat di atas kasur. Seketika Elina menghela nafas panjang merasa kesel melihat brayen langsung tidur begitu saja.
"Bener-bener ya... tidak bertanggung jawab. iiiihhhh. nyebelin". Elina berkata dengan Ekpresi kesel saat handuk yang tadinya mengosongkan kepala rambut yang basah ingin sekali lempar ke arah brayen yang tidur lelap di sana, namun menurunkan niatnya itu, ia pun tidak jadi melakukan itu.
Terlihat brayen begitu lelap dan nyaman dengan tidur mendengkur keras, Sepertinya brayen benar-benar ke lelahan dan capek, ia tidak ingat tugas seorang suami.
******
******
Paginya brayen terbangun dari tidur, ia melangkah menuruni tangan yang masih mengenakan baju tidur belum ia ganti dengan rambut acak-acakan belum ia cuci muka.
Brayen melangkah menghampiri meja makan, tenggorokan terasa kering dan haus. Di meja makan sudah ada Beni yang sedang duduk sendirian sambil sarapan pagi dengan Isi rotinya
Melihat brayen datang, lirik kan mata Beni merasa tidak nyaman kehadiran brayen ada di rumah. ia meletakkan isi roti di piring beranjak melangkah.
Melihat sang kakak pergi begitu saja, brayen pun sadar
"Tenang kak. aku sama Elina akan tinggal di hotel. ok". Ucap Brayen
Beni terus melangkah jalan menaiki tangga
melihat sang kakak tidak merespon brayen merasa bodoh amat dengan sikapnya itu.
Kemudian, di kamar, Elina heran melihat brayen merapikan baju-baju kedalam tas koper.
"Kenapa kedalam koper? ". Tanya Elina bingung
" Kita tidak akan tinggal disini. Kita akan tinggal di hotel, ok". Jawabnya sambil memasuk baju kedalam koper
"Hah? ". Elina terkejut. " Ini kan rumah kamu, kenapa harus di hotel? ". Tanya Elina merasa heran
" Elina, Kak Beni, tidak suka aku berada di rumah ini, lebih baik kita yang mundur, jangan mengharapkan sesuatu yang akan menyakiti orang lain". Ujar Brayen sambil menatap Elina
Elina terdiam bingung, dengan jawaban brayen tidak dapat di mengerti. Tidak lama setelah membereskan baju kedalam koper kini mereka berdua di luar rumah depan halaman, brayen menyerahkan koper pada Joni untuk memasukkan kedalam bagasi,.
Terlihat Elina merasa heran dengan keluarga suaminya ini. Elina masuk kedalam mobil lebih dulu, di ikuti brayen masuk kedalam.
mobil yang mereka tumpangi pun jalan pergi meninggalkan rumah begitu saja. Di perjalanan menuju hotel, dari tadi Elina bertanya-tanya, rasa bingung dan heran tidak dapat di pahami yang ia rasakan.
"Sebenarnya.. ada apa? Brayen!! ". Tanya Elina kesel
" Untuk saat ini, aku tidak bisa mengatakan padamu, nanti akan aku cerita kan, ok. selain itu aku akan tetap berkerja di Cafe tidak mengurus perusahaan pengtingalan ayah ". Ujar Brayen
" Lah... tapi kan wasiat itu, sudah tertulis oleh ayah mu. tidak bisa di alihkan sembarang orang, dan tidak dapat di ubah, kecuali kalau kamu sudah tiada". Ucap Elina
"Iy.aku tahu. tapi aku lebih suka kehidupan sederhana ketimbang kekuasaan".
" Benar-benar tidak mengerti lagi aku ini, tapi ya sudah... aku tidak mau memikirkan itu". Ucap Elina kesel
Brayen menoleh melirik Elina, ia juga bingung harus menjelaskan apa pada istrinya ini, masalah yang ia alami cukup rumit dan tidak bisa di rubah. Satu-satunya jalan yaitu pergi dan menjauh itu lebih baik
Sesampainya di hotel Brayen, Elina melangkah memasuki hotel di ikuti Brayen di belakangnya, Joni yang membawa koper pun melangkah jalan untuk menaruh koper tersebut.
"Dengar". Ucap brayen
Elina berbalik menoleh
" Elina. aku tahu ini akan berat kedepannya, uang hasil kerja kamu, untuk diri mu sendiri. untuk hasil kerja aku, akan aku serahkan semuanya pada mu tanpa sisa. Maaf uang ku tidak banyak seperti kamu, karena aku berkerja di Cafe bukan seorang kantoran dapat gaji ratusan juta". Ucap Brayen dengan wajah murung
Melihat ekpresi Sang suami Elina pun mengerti, ia tidak akan banyak nuntut namun satu hal bergejolak penasaran soal keluarga Brayen yang masih bertanya-tanya. Sebenarnya ingin bertanya lagi tapi ia rasa sama saja jawabnya pasti nanti. Elina pun hanya memilih diam dan mengangguk saja.
********
Malamnya tiba, Brayen duduk di kursi depan meja sambil melamun, Tiba Elina datang, melihat sang suami melamun merasa heran, Baru kali ini Elina melihat Pria aneh selama ia kenal berubah berbeda tidak menjadi orang yang menyebalkan, melainkan terlihat dewasa dan memahami sesuatu.
Sebelum terjadinya meninggal Arga setiwangsa____Beberapa hari kebelakang terjadi____
Dimana ketika itu, Brayen melangkah jalan bergegas untuk menemui ayahnya di rumah sakit, ia dapat kabar kalau ayahnya pingsan di dalam ruang kantor, mendengar berita itu membuat brayen panik dan khawatir, ia terus mencari ruangan UGD yang di katakan Joni. Tidak lama brayen menemukan pintu tersebut, saat hendak masuk, tidak sengaja melihat Kak Beni dan Nenek Maharani, sedangkan berbicara dengan ayah yang terbaring lemas. Brayen memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka di sana. di balik celah pintu mengintip mereka.
"Kamu seharusnya membiarkan kesempatan untuk anak mu ini. Beni juga berhak untuk mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan". Ucap Maharani kesel
" Dia... sudah bikin diriku seperti ini. Kamu membuat ayahmu ini kecewa besar. Beni..., tanggung jawablah sendiri jangan pernah mengharapkan sesuatu, pada dasarnya kamu hanya anak tidak tau diri... ".
Tangan kanan Beni terlihat mengepal kesel ia merasa tidak pernah di anggap sebagai anak oleh ayahnya sendiri.
" Hentikan Arga!! kenapa kamu bicara seperti itu. ".
" Ibu selalu membela anak ini. yang sudah mencoreng nama baik keluarga kita. apa tidak malu hah... ibu sadar lah... anak ini sudah bikin keluarga kita hancur ".
Terlihat ekpresi beni tidak bisa menahan emosi mendengar ucapan ayahnya terus menekan.
Brayen yang mengintip dan menguping di balik celah pintu merasa bingung apa yang mereka bicarakan, Brayen merasa heran kenapa ayahnya sebegitu marah terhadap kak Beni sampai berkata kasar seperti itu.