Bagi Aera, rumahnya telah berubah menjadi labirin yang dingin dan mematikan. Setelah kematian misterius ibu kandungnya, kehidupan Aera dijungkirbalikkan oleh kehadiran Belva, ibu tiri yang penuh pesona namun manipulatif. Hanya dalam waktu singkat, Reno-ayah Aera yang dulunya penyayang-berubah total. Pria itu menjadi kasar, dipenuhi kebencian tak mendasar, hingga puncaknya tega mengusir Aera dari rumah. Aera dibuang, diasingkan, dan sengaja dilupakan. Namun, di balik pengusiran itu, Aera menolak untuk tunduk. Bergerak dari kegelapan, ia mulai mengumpulkan kepingan teka-teki yang sengaja disembunyikan di dalam rumahnya. Penyelidikan rahasia itu menuntun Aera pada fakta yang mengerikan-kecelakaan maut ibunya bertahun-tahun lalu adalah sebuah pembunuhan berencana. Dan dalang di balik konspirasi berdarah itu adalah Belva. Ibu tirinya tidak hanya menginginkan posisi sebagai nyonya rumah, dia menginginkan seluruh harta warisan berlimpah milik Reno. Menyingkirkan ibu kandung Aera adalah langkah pertama, memanipulasi Reno dan mengusir Aera adalah langkah kedua. Kini, permainan psikologis yang berbahaya dimulai. Aera tidak lagi menangis karena dilupakan. Dia akan kembali menyusup ke rumah itu, bukan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai ancaman terbesar yang siap membongkar kedok berdarah sang ibu tiri-sebelum nyawa ayahnya menjadi korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
In the hospital
"Gimana, Paman, keadaan gadis itu?" tanya Leo kepada pamannya yang merupakan seorang dokter spesialis bedah, dr. Anjas Patibara.
Langkah kaki Leo sedari tadi tidak bisa diam, mondar-mandir di depan ruang perawatan intensif. Kecemasan tergambar jelas di wajahnya. Jaket jins yang ia kenakan bahkan masih menyisakan sedikit noda tanah akibat insiden beberapa jam yang lalu.
Dokter Anjas tidak langsung menjawab. Ia melepaskan stetoskop yang melingkar di lehernya, lalu menatap keponakannya itu dengan tatapan menyelidik.
“Leo, siapa gadis itu sebenarnya? Apakah dia kekasihmu? Paman baru pertama kali melihatmu secemas ini sampai membawa seorang perempuan ke rumah sakit tengah malam begini."
Leo yang mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari pamannya itu seketika langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“Bukan, Paman! Leo sama sekali enggak kenal sama gadis itu. Tadi Leo enggak sengaja menabraknya di dekat persimpangan jalan lingkar luar."
Dokter Anjas Patibara menghela napas panjang. Sebagai seorang paman sekaligus dokter senior di rumah sakit ini, ia mengangguk paham. Ketegangan di wajahnya sedikit mereda, digantikan oleh ekspresi profesional yang serius.
Anjas menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkan nya secara perlahan, "Gini Leo, paman mau berbicara sama kamu, ini penting."
"Apa? katakanlah!"
"Ikut keruangan paman sekarang."
Leo mau tidak mau iya mengikuti langkah sang paman ke dalam ruangan khusus milik sang paman.
Di ruangan yang dingin, hanya ada dua laki-laki yang sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing mereka adalah Leo dan Anjas—paman sekaligus Dokter.
"Apa yang ingin paman katakan?" Tanya Leo penasaran.
"Gini, Leo," suara Anjas terdengar pelan tapi tegas, matanya menatap sepupunya dengan penuh kekhawatiran. "Waktu paman memeriksa tubuh gadis itu, ternyata banyak sekali memar... seperti habis dipukul. Apakah kamu yang melakukan ini, Leo?"
Leo terkejut mendengar tuduhan itu. Matanya membulat sejenak, lalu cepat-cepat menggeleng.
“Tidak, paman! Bukan aku. Mana mungkin aku berani memukul seorang perempuan?" jawabnya dengan nada jujur, suaranya terdengar tegas tapi ada sedikit gemetar karena ketegangan.
Anjas menatap Leo sebentar, lalu mengangguk. Ada kepercayaan yang dalam di matanya.
“Paman sangat percaya sama kamu, Leo. Mana mungkin sepupu paman, yang selama ini paman kenal, berani melakukan hal keji seperti itu? Kau tahu sendiri, bisa-bisa kau kena tembak mati oleh ayahmu, Mbayu, kalau sampai nekat seperti itu."
Leo menarik napas panjang, sedikit lega karena pamannya mempercayainya. Ketegangan yang sempat mengikat dadanya perlahan mulai mengurai, berganti dengan rasa hangat yang langka ketika ia tahu ia tidak sendirian menghadapi situasi pelik ini.
"Terus paman apalagi?" tanya Leo, suaranya parau menuntut kepastian yang lebih dalam tentang kondisi gadis misterius itu.
Dokter Anjas tidak segera menjawab. Ia membalik lembar rekam medis fisik yang baru saja dicetak, menatap grafik dan catatan klinis dengan raut wajah yang kian memberat.
"Luka memarnya sangat banyak, Leo... termasuk di punggung dan wajahnya. Untuk beberapa minggu ke depan, gadis itu sebisa mungkin jangan banyak pikiran, apalagi banyak bergerak, karena ada beberapa robekan di tangan kanannya," ucap Anjas dengan suara lembut tapi penuh kekhawatiran. Ia menatap keponakannya lurus-lurus, seolah ingin menanamkan tingkat keseriusan situasi ini ke dalam benak anak muda itu.
Anjas menghela napas panjang, meletakkan papan jalan medisnya di atas meja besi yang dingin.
"Paman sangat prihatin dengan kondisi gadis itu. Siapapun yang melakukan kekerasan padanya... dia benar-benar kejam."
Leo menunduk, tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Matanya mulai berkaca-kaca, dada terasa sesak.
"Paman..." suaranya serak, penuh rasa sakit yang tak bisa ia bendung.
Anjas menepuk bahu Leo, memberi sedikit kekuatan. "Tenang, Leo. Yang penting sekarang kita fokus buat jagain dia."
Leo menarik napas panjang, lalu mencoba menenangkan dirinya. "Terus... bagaimana soal kakinya?" tanyanya hati-hati.
Anjas menggeleng, wajahnya sedikit lega. "Kondisi lukanya tergolong ringan dan tidak parah. Cukup bersihkan dan obati secara berkala agar proses pengeringan luka bisa lebih cepat."
Leo menutup matanya sejenak, mencoba meredam rasa khawatir yang hampir membuatnya panik.
...----------------...
"HUAAA... EUMGHHH!"
Aera sedang meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku di atas ranjang rumah sakit, menguap lebar-lebar tanpa mempedulikan citra dirinya sama sekali. Namun, ketenangannya langsung hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.
BRAKKK...
Pintu kamar rawat inap itu didorong dengan begitu kasar dari luar hingga membentur dinding pembatas. Suara dentuman keras itu bergema memekakkan telinga di dalam ruangan yang semula sunyi senyap.
"EHHH... AYAM COPOT! Astaga, bikin kaget aja sih lo!" pekik Aera spontan. Tangannya langsung bergerak cepat memegangi dadanya yang berdegup kencang akibat syok, sementara matanya melotot tajam ke arah pelaku yang baru saja merusak ketenangannya.
Leo yang mendengar teriakan histeris dari Aera langsung mengerutkan dahinya dalam-dalam. Bukannya merasa bersalah karena telah mengejutkan pasien, pemuda itu justru menatap Aera dengan pandangan heran yang terkesan tanpa dosa. "Kenapa?" tanya Leo datar.
"Kinipi," ejek Aera dengan nada mencibir, menirukan ucapan Leo dengan wajah yang sengaja dibuat menyebalkan. Ia benar-benar habis kesabaran menghadapi sikap cowok di depannya ini.
"Lo kalau mau masuk biasakan ucap salam dulu, Assalamualaikum kek apa gitu. Bikin jantungan aja," cetusnya dengan ketus sambil bersedekap dada, membuang muka ke arah lain.
Leo yang mendengar ucapan panjang lebar dari Aera langsung memutarkan bola matanya acuh. Karakter gadis ini berubah begitu cepat beberapa jam lalu dia tampak begitu rapuh dan ketakutan, tapi sekarang lidah tajamnya sudah kembali berfungsi dengan baik.
"Berisik!" balas Leo singkat, menolak untuk memperpanjang perdebatan tidak bermutu itu.
Suasana di antara keduanya sempat hening selama beberapa saat. Leo melangkah menuju sofa tunggal di sudut ruangan, lalu mengempaskan tubuhnya di sana dengan gaya yang terkesan sangat santai. Namun, keheningan itu tidak bertahan lama ketika Aera tiba-tiba mengubah raut wajahnya menjadi agak ragu-ragu.
"Gue boleh pinjem HP lo nggak?" tanya Aera tiba-tiba, memecah kecanggungan.
Leo yang lagi duduk santai langsung mengernyitkan sebelah alisnya. Sorot matanya yang tajam menatap Aera penuh selidik. "Buat apa?"
"Mau nelepon Oma," jawab Aera cepat, berusaha memberikan alasan yang paling masuk akal agar pemuda berwajah dingin itu luluh. Ia memamerkan senyum cengiran tipis yang dipaksakan. "HP gue nggak ada pulsanya. Hehe. Udah, sini... gue pinjem bentar doang."
Leo terdiam sesaat. Tangannya bergerak masuk ke dalam saku jaket jins, meraba benda pipih berlogo apel kroak miliknya. Ada keraguan yang melintas di benak Leo. Mengingat apa yang baru saja dikatakan oleh pamannya, dr. Anjas, mengenai luka-luka di tubuh Aera dan kemungkinan situasi berbahaya yang sedang mengintainya, membiarkan gadis ini menghubungi dunia luar bisa jadi adalah hal yang berisiko.
Namun, melihat binar penuh harap sekaligus gurat kesedihan yang tersembunyi di balik mata bulat Aera saat menyebut kata Oma, pertahanan Leo runtuh juga.
Ia mengeluarkan ponselnya, membuka kunci layar, lalu melangkah mendekati ranjang.
"Jangan lama-lama. Dan jangan coba-coba telepon nomor yang aneh," ancam Leo dengan nada suara yang dibuat sekeras mungkin, meski tangannya menyerahkan ponsel itu dengan sangat hati-hati.
"Iya, iya! Dasar pelit," gerutu Aera sambil merebut ponsel tersebut dari tangan Leo.
Aera segera mengetikkan sederet nomor yang tampaknya sudah sangat dihafalnya di luar kepala. Tombol call ditekan. Ia menempelkan ponsel pintar milik Leo ke telinga kirinya, sementara tangan kanannya yang terbalut perban tipis meremas ujung selimut rumah sakit. Leo memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah gadis itu dengan saksama.
Nada sambung pertama... kedua... ketiga...
"Halo? Oma...?" Suara Aera yang semula ketus kini berubah drastis menjadi sangat lembut, bergetar menahan kerinduan yang begitu membuncah.
Leo memilih untuk mundur beberapa langkah, memberikan ruang privasi bagi Aera, namun ia tetap berada di dalam kamar untuk memastikan keadaan tetap terkendali. Dari jarak dua meter, Leo bisa mendengar suara samar seorang wanita tua dari seberang telepon yang terdengar sangat cemas.
"Aera? Kamu di mana, Nak? Kenapa nomor kamu nggak bisa dihubungi? Kamu baik-baik saja, kan? Rumah... rumah kosong, Ra. Mereka nyariin kamu," rentetan pertanyaan dari seberang telepon membuat napas Aera mendadak tercekat.
Mendengar kata 'mereka', cengkeraman Aera pada selimut kian mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata yang sejak tadi ditahannya mulai menggenang di pelupuk mata. Namun, dengan sekuat tenaga, ia mencoba tertawa kecil untuk menyembunyikan rasa takutnya.
"Aera nggak apa-apa, Oma. Oma jangan khawatir, ya. Aera sekarang... lagi di tempat temen. Handphone Aera kemarin jatuh terus rusak, makanya ini pinjem nomor temen Aera," bohong Aera, suaranya sedikit serak menahan tangis. Ia menatap ke arah Leo sekejap, seolah meminta maaf karena telah melabeli pemuda asing itu sebagai temannya.
"Oma sehat-sehat di sana, ya? Jangan mikirin Aera. Aera pasti bakal baik-baik aja di sini. Nanti kalau semuanya udah tenang, Aera bakal pulang buat peluk Oma," lanjutnya dengan bulir air mata yang akhirnya lolos membasahi pipinya yang lebam.
Setelah percakapan singkat yang menguras emosi itu, Aera perlahan menurunkan ponsel dari telinganya. Ia menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan, lalu menatap layar ponsel yang perlahan meredup. Ruangan itu kembali diselimuti oleh keheningan yang menyesakkan.
Leo berjalan mendekat, mengambil kembali ponselnya dari genggaman lemah Aera. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana bahu gadis itu bergetar kecil. Topeng gadis cerewet dan menyebalkan yang beberapa menit lalu dipamerkan Aera kini telah runtuh sepenuhnya, menyisakan sosok rapuh yang dipenuhi luka fisik dan batin.
"Oma lo... nggak tahu kalau lo di rumah sakit?" tanya Leo pelan, menurunkan egonya dan mencoba berbicara dengan nada yang lebih manusiawi.
Aera menyeka air matanya kasar dengan punggung tangan yang tidak diperban. Ia menggelengkan kepala perlahan. "Gue nggak mau bikin Oma jantungan. Dia udah tua, jantungnya nggak kuat kalau harus denger cucunya habis ditabrak orang di jalan... ditambah fakta kalau gue di usir dari rumah."
Leo menyipitkan matanya. Kalimat terakhir Aera menarik perhatiannya. "Diusir?"
Aera tersenyum pahit, tatapannya kosong menatap lurus ke depan. "Rumah? Bagi sebagian orang, rumah itu tempat pulang yang paling hangat. Tapi buat gue... tempat itu nggak lebih dari neraka yang dipenuhi orang-orang kejam. Nggak ada pelukan hangat di sana." Kata-kata Aera terdengar begitu dingin dan penuh keputusasaan. Leo merasakan dadanya seperti dihantam sesuatu yang sangat berat.
"Nama lo siapa?" tanyanya kemudian, ekspresinya serius.
"Gue?" Aera menunjuk dirinya sendiri, sedikit terkejut karena setelah obrolan berat tadi, Leo justru menanyakan namanya.
"Nama gue Aera. Aera Jelita."
Leo terdiam sejenak, mengulang nama itu di dalam hatinya. Aera. Nama yang terdengar indah, namun ironisnya harus menanggung beban hidup yang begitu kontras dengan artinya yang bersih.
Rasa bersalah kembali mencubit ulu hati Leo. Orang di depannya ini adalah korban dari kecerobohannya di jalanan, seseorang yang sudah hancur oleh keluarganya sendiri, dan kini fisiknya ikut terluka karenanya.
"Gue Leo," ucap cowok itu, mengulurkan tangannya yang langsung disambut ragu-ragu oleh Aera. Genggaman tangan mereka terasa dingin, seolah menyalurkan luka yang sama-sama tersimpan rapat.
Leo menarik napas dalam-dalam, menatap lekat sepasang mata kosong milik Aera. "Mulai hari ini, lo nggak usah mikirin soal biaya rumah sakit, obat, atau ke mana lo harus pergi setelah keluar dari sini. Gue yang bakal tanggung jawab. Semuanya."
Aera mengerjapkan matanya yang masih basah, tidak menyangka bahwa orang asing yang menabraknya justru menawarkan tempat bersandar di saat dunianya sendiri runtuh. "Lo... nggak perlu kasihan sama gue, Leo."
"Ini bukan cuma soal kasihan," potong Leo cepat, suaranya terdengar tegas namun ada ketulusan yang terselip di sana. "Ini soal gue yang nggak mau jadi salah satu dari bagian 'neraka' yang lo maksud tadi."
Aera tertegun. Kata-kata Leo barusan seperti hantaman ombak yang memecah keheningan di kamar rawat itu. Selama ini, hidup Aera hanya dipenuhi oleh tuntutan, makian, dan dinding dingin sebuah rumah yang terasa seperti penjara.
Baginya, manusia adalah makhluk egois yang hanya peduli pada keuntungan mereka sendiri. Namun, cowok di hadapannya ini—seorang asing yang beberapa jam lalu hampir merenggut nyawanya di jalanan justru menawarkan sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya—perlindungan.
"Gue nggak butuh belas kasihan, Leo," lirih Aera lagi, suaranya parau. Ia memalingkan wajah, enggan memperlihatkan kerapuhannya yang semakin telanjang.
"Gue bisa urus diri gue sendiri. Begitu luka ini sembuh, gue bakal pergi."
Leo mendengus pelan, bukan karena mengejek, melainkan karena gemas melihat keras kepala gadis itu. Ia melangkah mendekati ranjang, menarik sebuah kursi besi di dekat sana, lalu duduk dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Pergi ke mana?" tanya Leo menantang. Matanya menatap tajam, menembus pertahanan Aera. "Lo baru aja bilang kalau lo diusir. Oma lo nggak tahu apa-apa, dan lo nggak mau bikin dia jantungan. Terus, lo mau menggelandang di jalanan dengan kaki diperban kayak gitu? Jangan konyol, Aera."
Aera menggigit bibir bawahnya erat-heavy. Air mata yang sempat mengering kini kembali menggenang di pelupuk matanya.
Pertanyaan Leo tepat sasaran. Benar, ia tidak punya tujuan. Tas ranselnya yang berisi beberapa helai pakaian dan sedikit uang tabungan entah berada di mana sekarang—mungkin hancur atau tertinggal di lokasi kecelakaan.
Melihat bahu Aera yang bergetar kecil, ego Leo yang biasanya setinggi langit perlahan runtuh sepenuhnya. Ia mengembuskan napas panjang, melunakkan tatapannya.
"Gue yang salah di sini," kata Leo dengan nada yang jauh lebih lembut, sangat berbeda dengan sosoknya yang angkuh saat pertama kali masuk ke kamar ini.
"Gue yang mengendarai motor ugal-ugalan sampai nabrak lo. Jadi, biarin gue nebus kesalahan itu. Setidaknya, sampai lo benar-benar pulih dan tahu arah tujuan lo."
Aera menoleh perlahan, menatap Leo dengan sisa-sisa keraguan. "Kenapa lo peduli? Biasanya orang yang nabrak lari bakal kabur atau cuma bayar rumah sakit terus hilang."
Leo tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit yang menyiratkan ada beban tersendiri di dalam dirinya. "Karena gue tahu rasanya nggak punya tempat buat pulang. Gue tahu rasanya rumah yang lo sebut neraka itu."
Kalimat itu membuat Aera terdiam. Ada kilat kesedihan yang sama di mata Leo, sebuah luka lama yang mungkin tidak jauh berbeda dengan apa yang ia rasakan. Keheningan kembali merayap di antara mereka, namun kali ini terasa lebih hangat dan bersahabat.