⚠️ PERINGATAN
Jika Anda hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.
Contoh Fang Ye 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst
Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.
Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.
Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:
Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.
Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebencian, dan kehidupan yang begitu panjang hingga tidak lagi memiliki arti.
Ketika seseorang telah memiliki segala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANTREAN YANG TIDAK BISA TERTAMPUNG [POV FRAGMEN KEDUA: GU MOYUAN]
Dalam tiga minggu, kabar tentang "alkemis yang bisa menyembuhkan penyakit lupa" menyebar jauh lebih cepat daripada yang pernah Gu Moyuan bayangkan.
Ia sudah memperkirakan wanita tua itu akan bercerita pada tetangganya. Ia tidak memperkirakan tetangga itu akan bercerita pada saudaranya di kota sebelah, dan saudara itu akan bercerita pada seseorang yang kebetulan bekerja untuk pedagang keliling, dan dalam waktu tiga minggu, ada empat puluh tujuh orang—sebagian membawa anggota keluarga yang sakit, sebagian hanya membawa harapan yang mulai terlihat seperti keputusasaan—duduk menunggu di depan kiosnya yang bertuliskan "SOLUSI".
Ia hanya berhasil membuat tiga pil lagi sejak percobaan pertama. Tiga Rusa Salju Berkilau lain yang berhasil ia temukan dan bujuk, dengan kesabaran yang sama seperti sebelumnya, dengan jarum yang sama presisinya, dengan janji yang sama ia tepati—hanya sengatan lebah, lalu kebebasan.
Tiga pil. Empat puluh tujuh keluarga.
"Kau harus memilih siapa yang mendapatkannya," seseorang di antrean berteriak, sudah hari kedua mereka menunggu, kesabaran mulai terkikis oleh dingin dan lapar. "Jangan biarkan kami menunggu tanpa kepastian!"
Gu Moyuan berdiri di ambang pintu kiosnya, menatap wajah-wajah itu—bukan lagi statistik dalam catatan tabib, tapi wajah nyata, mata nyata, harapan nyata yang sebagian besar akan pulang kecewa apa pun yang ia lakukan hari ini.
Ia sudah memutuskan kriteria pemberian pil—usia paling muda dengan gejala paling parah tapi masih dapat diselamatkan, mirip dengan logika triase yang, tanpa ia tahu, sedang digunakan seorang tabib lain di benua yang berbeda pada saat yang hampir bersamaan. Tapi mengetahui logikanya benar tidak membuat pengumumannya terasa lebih ringan.
"Tiga pil," ia berkata, suaranya keras agar terdengar seluruh antrean. "Aku akan memeriksa setiap kasus hari ini. Yang paling mendesak akan menerimanya. Sisanya—"
"Sisanya apa?" seorang pria memotong, suaranya penuh amarah yang sudah lama dipendam. "Menunggu sampai orang yang kami cintai juga mati?"
Gu Moyuan tidak punya jawaban yang bisa membuat pertanyaan itu terasa kurang kejam daripada kenyataannya.
Madam Yin tiba tengah hari, di tengah kekacauan antrean, dengan tandu mewah dan dua pengawal yang jelas bukan orang biasa.
"Tuan Alkemis," ia berkata, suaranya lembut tapi penuh kalkulasi yang tidak berusaha disembunyikan. "Aku mewakili Serikat Dagang Makhluk Langka. Aku dengar kau menemukan penyembuhan penting, dan aku dengar kau kesulitan memenuhi permintaan yang ada."
"Kau dengar benar," Gu Moyuan berkata, tidak menyembunyikan kewaspadaannya.
"Aku punya proposal," Madam Yin melanjutkan, tersenyum seperti seseorang yang sudah terbiasa mendapatkan yang ia inginkan. "Serikatku punya sumber daya untuk menangkap Rusa Salju Berkilau dalam jumlah besar—bukan membunuhnya, tentu saja, hanya menangkapnya, memeliharanya dalam kandang yang layak, dan memungkinkanmu memanen esensi yang kau butuhkan secara rutin, dalam skala yang jauh lebih besar daripada yang bisa kau capai sendirian."
Gu Moyuan merasakan sesuatu yang dingin menjalar di dadanya—bukan karena tawaran itu terdengar jahat, tapi karena tawaran itu terdengar begitu masuk akal, begitu efisien, begitu tepat menjawab masalah yang sudah menghantuinya berminggu-minggu.
"Berapa banyak yang bisa kau tangkap?" ia bertanya, membenci dirinya sendiri sedikit karena pertanyaan itu keluar begitu cepat.
"Serikatku sudah melacak sekitar dua belas kelompok kecil di seluruh Benua II," Madam Yin berkata. "Total mungkin lima belas hingga delapan belas ekor yang tersisa. Kami bisa menangkap semuanya dalam waktu dua bulan."
"Semuanya," Gu Moyuan mengulangi pelan.
"Kandang kami manusiawi," Madam Yin menambahkan cepat, seolah membaca keraguannya. "Mereka akan diberi makan, dirawat, dipelihara dengan baik. Kau hanya perlu datang secara berkala untuk memanen esensi, seperti yang sudah kau lakukan. Bedanya, kau tidak perlu menghabiskan enam bulan mencari dan membujuk satu ekor lagi. Kau bisa menyembuhkan seribu orang dalam setahun, bukan satu keluarga tiap beberapa bulan."
Seribu orang dalam setahun.
Gu Moyuan menatap antrean di belakangnya—empat puluh tujuh keluarga, dan itu baru yang datang dalam tiga minggu pertama. Berapa ribu lagi yang akan datang dalam setahun, dua tahun, lima tahun ke depan, semuanya menunggu keajaiban yang hanya bisa ia berikan pada segelintir orang dengan metodenya yang lambat dan hati-hati?
"Kalau kau menangkap semua yang tersisa," ia akhirnya berkata, suaranya lebih pelan daripada biasanya, "spesies itu akan hidup dalam kandang selamanya. Tidak ada lagi yang berkembang biak bebas di alam liar. Tidak ada lagi yang benar-benar 'Rusa Salju Berkilau' dalam pengertian yang selama ini ada—hanya ternak yang kebetulan berbentuk seperti mereka."
"Apakah itu penting," Madam Yin bertanya, tanpa nada mengejek, hanya pertanyaan jujur yang justru terasa lebih tajam karena ketulusannya, "dibandingkan dengan ribuan manusia yang bisa kau selamatkan?"
Gu Moyuan tidak punya jawaban cepat untuk itu. Untuk pertama kalinya sejak ia mulai proyek ini, ia benar-benar tidak tahu jawaban mana yang benar—hanya tahu bahwa kedua jawaban punya harga yang tidak bisa ia terima sepenuhnya.
Ia meminta waktu satu jam untuk berpikir, meninggalkan Madam Yin menunggu di kiosnya, berjalan ke belakang tempat ia biasa bekerja, mencoba menyusun pikirannya di tengah suara antrean yang masih terdengar dari depan.
Ia belum sampai pada keputusan apa pun ketika keributan pecah di depan kios.
Seorang wanita berteriak—bukan teriakan marah, teriakan yang jauh lebih mengerikan, teriakan seseorang yang baru saja menyaksikan sesuatu yang tidak bisa lagi diperbaiki.
Gu Moyuan berlari keluar, menemukan seorang anak laki-laki, mungkin berusia tujuh tahun, tergeletak tidak bergerak di pangkuan ibunya, yang berdiri di posisi keenam dalam antrean—terlalu jauh dari tiga pil yang tersisa hari itu, terlalu jauh dari kriteria "paling mendesak" yang Gu Moyuan tetapkan tadi pagi, karena gejalanya, saat pertama kali diperiksa, masih dianggap "cukup stabil untuk menunggu."
Ia tidak cukup stabil untuk menunggu hari ini.
Gu Moyuan berlutut di samping anak itu, memeriksa denyut nadinya yang sudah tidak ada, tahu dengan pengetahuan medis yang sudah ia kuasai selama tiga ratus tahun bahwa tidak ada apa pun—bukan pil, bukan teknik, bukan keajaiban apa pun—yang bisa mengubah apa yang baru saja terjadi.
Ibu anak itu tidak berteriak lagi. Ia hanya duduk, memeluk tubuh anaknya, diam dengan cara yang jauh lebih mengerikan daripada tangisan apa pun.
Seluruh antrean menyaksikan dalam keheningan yang berat.
Gu Moyuan berdiri perlahan, menatap Madam Yin yang masih berdiri di ambang kiosnya, tandunya yang mewah tampak seperti ejekan di tengah pemandangan ini.
"Ini akan terjadi lagi," Madam Yin berkata, tidak dengan kejahatan, hanya kenyataan yang diucapkan tanpa basa-basi. "Berkali-kali, selama kau terus bekerja dengan kecepatan yang sama. Proposalku bisa menghentikan ini."
Gu Moyuan menatap tubuh kecil yang kini terbaring diam di tanah kios yang sama tempat ia biasa menjual "solusi" untuk masalah orang lain, dan untuk pertama kalinya dalam tiga ratus tahun hidupnya, ia benar-benar tidak yakin apakah prinsip yang selama ini ia pegang—tidak pernah mengambil dari yang tidak bersedia, tidak pernah menjadikan sesuatu semata-mata alat—masih pantas ia pertahankan, ketika mempertahankannya berarti anak-anak seperti ini akan terus mati menunggu.
Tapi ia juga tidak bisa membayangkan mengirim ribuan Rusa Salju Berkilau—makhluk yang mempercayainya, yang membiarkannya mendekat karena kesabaran yang ia bangun sendiri—ke dalam kandang selamanya, demi kecepatan yang bahkan tidak menjamin ia akan cukup bijaksana menggunakannya dengan benar.
"Aku tidak bisa menerima proposalmu," ia akhirnya berkata, suaranya lebih lelah daripada tegas. "Aku tidak tahu apakah itu keputusan yang benar. Aku hanya tahu itu satu-satunya keputusan yang bisa kutanggung tanpa kehilangan sesuatu tentang diriku yang aku sendiri tidak bisa jelaskan nilainya."
Madam Yin tidak terlihat marah. Ia hanya mengangguk sekali, seperti seseorang yang sudah menduga jawaban itu tapi tetap merasa perlu mencobanya.
"Tawaranku tetap terbuka," ia berkata, naik kembali ke tandunya. "Kalau kau berubah pikiran—atau kalau lebih banyak anak seperti ini mati menunggu—kau tahu di mana menemukanku."
Ia pergi, meninggalkan Gu Moyuan berdiri sendirian di depan kiosnya, dikelilingi empat puluh enam keluarga yang masih menunggu, dan satu keluarga yang sudah tidak lagi menunggu apa pun.
Ia tidak mencatat kejadian hari itu di buku catatannya malam itu. Ia tidak menuliskan pertanyaan filosofis baru, tidak mencari kesimpulan yang bisa membuatnya merasa lebih baik tentang keputusan yang baru saja ia buat.
Ia hanya duduk di laboratoriumnya yang sunyi, tiga pil masih tersisa di kotak kecil di mejanya, dan untuk pertama kalinya yang bisa ia ingat, ia tidak yakin apakah menjadi seseorang yang mempertahankan prinsip lebih baik daripada menjadi seseorang yang menyelamatkan lebih banyak nyawa dengan cara yang tidak bisa ia benarkan.
Ia tidak menemukan jawaban malam itu.
Ia hanya menemukan bahwa besok pagi, empat puluh enam keluarga itu akan tetap ada di depan pintunya, menunggu keputusan yang sama sulitnya, dan ia harus menghadapinya lagi, tanpa jaminan bahwa besok akan berakhir lebih baik daripada hari ini.