Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Brummm.

Motor Scoopy hitam Akbar melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan desa.

Matahari siang terasa cukup terik membakar kulit, tapi suasana hati Akbar sedang sangat dingin dan tenang.

Dia menepikan motornya tepat di pelataran parkir minimarket tempat Risa bekerja.

Jam digital di ponselnya menunjukkan pukul satu siang lewat lima belas menit.

Ting tong.

Suara bel otomatis berbunyi saat Akbar mendorong pintu kaca minimarket tersebut.

Hawa dingin AC langsung menyambutnya, menghilangkan rasa gerah dari jalanan berdebu tadi.

Risa terlihat sedang sibuk menghitung uang di laci kasir untuk laporan penutupan shift siangnya.

Gadis itu mengikat rambutnya ke atas, memperlihatkan leher putihnya.

"Halo Mbak Risa, sudah selesai menghitung uang recehnya?" sapa Akbar santai bersandar di meja kasir.

Risa sedikit terlonjak kaget dan langsung menoleh dengan wajah sumringah.

"Eh Akbar, sudah pulang dari Jakarta? Katanya semalam menginap di sana?" balas Risa antusias.

"Iya Mbak, urusanku di Jakarta kebetulan sudah selesai lebih cepat dari perkiraan."

"Syukurlah kalau begitu, sebentar ya ini aku tinggal cetak struk laporan terakhir lalu ganti baju."

Akbar mengangguk pelan dan menunggu dengan sabar sambil melihat-lihat rak makanan ringan di dekatnya.

Lima menit kemudian, Risa keluar dari ruang pegawai sudah memakai kemeja kasual dan celana jeans.

"Ayo Bar, kita mau jalan ke mana siang bolong begini?" tanya Risa sambil menyandang tas kecilnya.

"Kita jalan ke pusat desa Mbak, ada sesuatu yang sangat penting mau aku tunjukkan padamu."

Mereka berdua berjalan keluar dari minimarket dan Risa langsung naik ke jok belakang motor Akbar.

Brummm.

Motor matic itu kembali membelah jalanan desa menuju area balai desa.

Sepanjang perjalanan, Risa terus bertanya-tanya karena penasaran dengan sikap misterius Akbar hari ini.

"Kamu ini bikin penasaran saja Bar, memangnya ada tontonan apa di balai desa jam segini?"

"Bukan tontonan Mbak, tapi ini menyangkut masa depan kita berdua," jawab Akbar asal ceplos.

Wajah Risa mendadak bersemu merah mendengar kata kita berdua yang diucapkan Akbar barusan.

Cittt.

Motor Akbar berhenti tepat di depan sebidang tanah kosong yang sangat luas dan dipenuhi rumput liar.

Tanah kosong ini letaknya persis bersebelahan dengan Warung Nasi Bu Tejo yang tadi siang didatangi Akbar.

"Lho Bar, ngapain kita berhenti di tanah kosong penuh rumput begini?" tanya Risa turun dari motor.

"Mbak Risa lihat tanah kosong seluas lima ratus meter persegi ini?" Akbar menunjuk ke hamparan lahan tersebut.

Risa mengangguk pelan dengan dahi berkerut bingung.

"Mulai siang ini, tanah ini resmi menjadi milikku seratus persen," ucap Akbar tersenyum lebar.

Mata Risa langsung membulat sempurna mendengar pernyataan gila dari pemuda di depannya ini.

"Kamu bercanda kan Bar? Tanah di pusat desa ini kan harganya pasti ratusan juta rupiah!"

"Aku sama sekali tidak bercanda Mbak, surat perjanjiannya sudah ditandatangani Pak RT Budi di atas materai tadi."

Risa menutup mulutnya dengan kedua tangan saking tidak percayanya dengan apa yang dia dengar.

Pemuda yang kemarin masih menjadi kuli panggul miskin ini tiba-tiba membeli tanah paling strategis di desa.

"Uang dari mana kamu bisa beli tanah semahal ini Bar? Jangan bilang kamu menang undian lagi?"

"Aku kemarin tidak sengaja menemukan barang antik di sungai, dan ada bos Jakarta yang membelinya dengan harga sangat mahal."

Akbar terpaksa mengarang sedikit cerita agar sumber kekayaannya terdengar lebih masuk akal di telinga Risa.

"Ya ampun Gusti, rezekimu benar-benar sedang mengalir deras seperti air terjun ya Bar."

Akbar melangkah masuk menginjak rumput liar di tanah tersebut, diikuti oleh Risa di belakangnya.

"Mbak Risa, aku berencana membangun sebuah minimarket modern yang jauh lebih besar di atas tanah ini."

"Bukan cuma minimarket biasa, tapi aku mau buat pusat belanja grosir terbesar di kecamatan ini."

Risa mendengarkan rencana besar itu dengan tatapan takjub bercampur kagum pada sosok Akbar.

Pemuda ini tidak hanya menghamburkan uangnya untuk bersenang-senang, tapi dia langsung berpikir untuk berbisnis.

"Itu ide yang sangat brilian Bar, lokasi ini persis di pinggir jalan raya utama desa, pasti akan sangat ramai."

"Karena itulah aku mengajakmu ke sini Mbak Risa," Akbar memutar tubuhnya menatap langsung ke mata Risa.

"Aku ingin bulan depan Mbak Risa keluar dari pekerjaan kasir yang sekarang."

Risa sedikit kaget mendengar permintaan tiba-tiba itu.

"Lalu kalau aku keluar, aku mau kerja apa Bar? Aku butuh uang untuk biaya obat ibuku setiap bulan."

"Mbak Risa akan menjadi manajer utama yang mengurus semua operasional minimarket baruku ini."

Akbar tersenyum meyakinkan sambil menunjuk ke hamparan tanah kosong di sekeliling mereka.

"Gajimu akan kubayar tiga kali lipat lebih besar dari yang kau terima sekarang, bagaimana?"

Tawaran itu terdengar seperti mimpi di siang bolong bagi gadis desa sederhana seperti Risa.

Menjadi manajer toko besar dengan gaji tiga kali lipat adalah lompatan karir yang sangat mustahil dia tolak.

"Ka... kamu serius Bar menawariku posisi manajer? Aku kan cuma lulusan SMA biasa," ucap Risa ragu.

"Aku tidak peduli ijazahmu Mbak, aku cuma butuh orang yang jujur dan bisa kupercaya sepenuhnya memegang uangku."

"Dan di desa ini, cuma Mbak Risa satu-satunya orang yang tidak pernah memandangku rendah saat aku masih miskin."

Mata Risa perlahan berkaca-kaca mendengar alasan tulus yang diucapkan oleh Akbar barusan.

Rasa haru yang luar biasa menyelimuti hatinya, dia tidak menyangka kebaikannya dulu berbuah semanis ini.

"Baiklah Bar, aku mau menerima tawaranmu, aku janji akan bekerja keras membesarkan tokomu nanti," jawab Risa mengangguk mantap.

"Bagus, kalau begitu besok kita langsung mulai cari pemborong bangunan untuk membersihkan lahan ini."

Ngeeeng.

Tiba-tiba suara deruman mesin mobil diesel yang sangat kasar memecah suasana manis di antara mereka.

Sebuah mobil double cabin besar berwarna merah mencolok berhenti mendadak tepat di pinggir jalan depan tanah Akbar.

Kepulan debu tebal berterbangan dari ban mobil yang mengerem kasar tersebut.

Pintu mobil terbuka, dan tiga orang pria berbadan besar turun dengan wajah yang sangat sangar.

Pria yang berjalan paling depan memakai kemeja batik terbuka, memperlihatkan kalung emas rantai kapal di lehernya.

Dia adalah Juragan Haris, tengkulak sembako paling besar dan paling ditakuti dari desa tetangga.

Hampir semua warung kecil di desa ini berhutang dan mengambil pasokan barang dari gudang milik Juragan Haris.

"Woi anak muda! Siapa yang menyuruhmu masuk dan menginjak-injak tanah kosong ini hah!" teriak Juragan Haris kasar.

Akbar langsung menarik Risa berlindung di belakang punggungnya dengan gerakan refleks yang sangat protektif.

"Memangnya kenapa kalau saya menginjak tanah ini? Ada masalah dengan bapak?" balas Akbar sangat tenang.

Juragan Haris meludah ke tanah dan berjalan mendekati Akbar dengan langkah mengancam.

Dua preman bayarannya ikut maju mendampingi bos mereka dengan tatapan menantang.

"Tanah ini sudah aku pesan dari bulan lalu ke si Budi RT sialan itu!" bentak Juragan Haris dengan mata melotot.

"Aku mau bangun gudang sembako baru di sini, berani-beraninya dia menjualnya ke orang lain tanpa bilang padaku!"

Akbar tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya merasa kasihan pada kebodohan pria buncit di depannya ini.

"Kalau bapak cuma pesan pakai mulut tanpa keluar uang sepeser pun, itu namanya cuma mimpi siang bolong Pak."

"Tanah ini sudah resmi saya beli dan uangnya sudah masuk lunas ke rekening Pak RT Budi hari ini juga."

Wajah Juragan Haris seketika berubah menjadi semerah darah menahan emosi yang memuncak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!