Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Akbar sama sekali tidak menghindar atau mundur sedikit pun dari posisinya berdiri.

Dia sengaja membiarkan Dion melempar botol menjijikkan itu ke arahnya.

"Rasakan ini anak kutukan!" teriak Dion sekuat tenaga sambil mengayunkan tangannya melempar botol itu.

Byur!

Cairan hitam kental itu meluncur deras di udara menuju wajah Akbar.

Namun, hal ajaib dan sangat tidak masuk akal tiba-tiba terjadi tepat di depan mata semua orang.

Sesaat sebelum cairan busuk itu mengenai hidung Akbar, lintasannya mendadak berbelok tajam seratus delapan puluh derajat ke belakang.

Seolah-olah cairan itu menabrak tembok tak terlihat dan angin yang meniupnya balik ke arah asalnya.

Plop! Splash!

Cairan hitam berbau busuk menyengat itu menghantam telak tepat di wajah dan dada Dion sendiri.

Bahkan karena Dion sedang membuka mulutnya saat berteriak tadi, sebagian besar cairan itu masuk ke dalam mulutnya.

Hening.

Suasana halaman rumah Akbar mendadak sunyi senyap sejenak.

Semua orang, termasuk Tono, Riki, Yanto, dan warga yang menonton, menganga lebar tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Bahkan hukum fisika seolah tidak berlaku sama sekali di halaman rumah Akbar pagi ini.

"Ukh... bwekkk! Huekkkk!" Dion mendadak memuntahkan isi perutnya dengan sangat hebat.

Bau busuk got campur kotoran ayam langsung menyebar pekat ke seluruh penjuru halaman.

Dion mengusap matanya yang perih terkena oli bekas sambil terus terbatuk-batuk dan muntah.

"Bos Dion! Bos tidak apa-apa?" Tono panik berniat mendekat tapi langsung mundur lagi karena tidak tahan dengan bau busuknya.

"Sialan! Huekk! Kenapa airnya malah berbalik arah ke wajahku sendiri!" teriak Dion menangis perih sambil memegangi perutnya.

Air comberan itu benar-benar masuk ke tenggorokannya dan rasanya sangat menjijikkan hingga membuat perutnya kram hebat.

Akbar hanya tersenyum dingin melihat penderitaan musuhnya itu dari jarak aman.

"Itu yang namanya karma instan, Dion," ucap Akbar dengan suara keras agar didengar semua warga.

"Niat busuk yang kau rencanakan untukku, berbalik menyerang dirimu sendiri seratus persen."

"Makanya, jangan suka mendzolimi orang yang diam, nanti kamu kualat seperti sekarang."

Beberapa warga kampung yang menonton dari luar pagar mulai berbisik-bisik dan menahan tawa mereka.

"Rasain tuh anak kades sok jagoan, sekarang malah dia yang mandi air got," bisik seorang bapak-bapak di luar pagar.

"Iya, lagian aneh banget ya, airnya bisa berbalik arah begitu macam kena angin puting beliung saja."

Mendengar bisikan dan tawa ejekan dari warga kampung, harga diri Dion sebagai penguasa kampung benar-benar hancur lebur berkeping-keping.

Dia yang awalnya berniat datang untuk mempermalukan Akbar malah berujung menjadi badut paling memalukan pagi ini.

"Awas kau anak sialan! Urusan kita belum selesai! Huekkk!" ancam Dion sambil terus muntah-muntah.

Dion langsung berbalik badan dan berlari sekencang mungkin keluar dari halaman rumah Akbar.

Dia sangat malu dan ingin segera pulang untuk mandi membersihkan tubuhnya yang bau bangkai ini.

"Tunggu Bos, tunggu kami!" teriak Tono, Riki, dan Yanto serempak menyusul bos mereka berlari kocar-kacir.

Melihat komplotan preman itu lari terbirit-birit, tawa warga kampung akhirnya pecah bergemuruh.

"Hahaha! Lari sana mandi pakai sabun cuci piring!" ejek warga menyoraki kepergian Dion.

Akbar melambaikan tangannya dengan santai ke arah warga yang masih berkumpul di depan rumahnya.

"Terima kasih Bapak-bapak, Ibu-ibu sudah mampir nonton pertunjukan sirkus pagi ini," sapa Akbar ramah.

"Sekarang saya mau siap-siap dulu ke minimarket depan buat ambil hadiah motor baru."

Mendengar kata hadiah motor baru, warga kampung kembali berbisik heboh.

"Wah, beneran si Akbar yang dapat motor hadiahnya? Kukira cuma gosip si Tono saja," bisik seorang ibu berkerudung.

"Gila, anak pembawa sial menang motor? Jangan-jangan dia pakai pesugihan tuyul di sungai semalam?" timpal ibu lainnya curiga.

Akbar mendengar bisikan nyinyir itu tapi dia hanya memutar bola matanya malas.

"Biarkan saja mulut-mulut sampah itu mengoceh sesuka hati mereka," batin Akbar sambil menutup pintu pagar kayunya.

"Sebentar lagi mereka akan melihat sendiri siapa yang jadi bos di kampung ini."

Ding!

Layar biru kembali muncul di depan wajahnya sesaat setelah dia mengunci pintu rumah.

[Selamat, Jimat Pengalih Kesialan telah berhasil digunakan secara maksimal.]

[Status Jimat saat ini: Hancur Habis terpakai.]

[Tuan berhasil mempermalukan musuh dan mendapatkan validasi awal dari lingkungan sekitar.]

[Sistem memberikan imbalan tambahan sebesar 20 Poin Hoki atas pencapaian karma instan yang memuaskan.]

"Cuma dua puluh poin ya, lumayanlah buat tambahan tabungan," senyum Akbar puas.

Akbar masuk kembali ke dalam kamarnya dan mengambil fotokopi KTP miliknya yang tersimpan di lemari plastik.

Dia juga memasukkan struk belanja dan tutup botol teh kemasan itu ke dalam saku kemejanya dengan sangat hati-hati.

Ini adalah tiket emasnya menuju kehidupan yang lebih baik, dia tidak boleh menghilangkannya.

"Jam delapan tepat, waktunya bertemu Mbak Risa manis di minimarket," ucap Akbar bersemangat.

Akbar berjalan menyusuri jalan kampung dengan langkah ringan dan kepala tegak.

Setiap berpapasan dengan warga, kini tatapan mereka pada Akbar tidak lagi murni jijik.

Ada campuran rasa heran, segan, dan penasaran di mata mereka setelah melihat kejadian di halaman rumah tadi.

Bagaimana tidak, cairan busuk yang dilempar Dion bisa berbalik arah melawan hukum alam.

Kabar burung pasti akan menyebar dengan cepat bahwa Akbar si anak kutukan kini punya pelindung gaib.

Sesampainya di halaman minimarket, Akbar melihat mobil boks berlogo perusahaan teh botol sudah terparkir rapi di sana.

Sebuah panggung kecil sederhana dengan spanduk "Penyerahan Hadiah Utama" sedang dipasang oleh beberapa petugas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!