Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 24, BAYANGAN DI ANTARA KITA
Malam itu, mereka bermalam di pemukiman Morgh. Api unggun menyala di tengah lingkaran rumah-rumah batu, dan penduduk Morgh membagi makanan serta minuman dengan tamu mereka. Suasana hangat meskipun udara di luar dingin dan berkabut. Namun di dalam hati Zhoo, ada beban baru yang tumbuh.
Ia berjalan menjauh dari api unggun, menuju tepi rawa yang tenang, membiarkan kabut menyelimutinya sebentar. Ia harus berpikir — sendirian.
"Kau tidak tidur?" suara Elara terdengar pelan di belakangnya.
Zhoo tidak menoleh. "Ratu Lyra bilang ada orang di antara kita yang hatinya terbelah. Bukan musuh, tapi bukan juga sekutu yang utuh. Dan aku tahu siapa yang ia maksud."
Elara berdiri di sampingnya, menatap air rawa yang tenang memantulkan cahaya redup. "Kau berpikir itu Kael?"
Zhoo mengangguk pelan, dada terasa sesak. "Sejak kita meninggalkan Lirael, dia berubah. Diam, sering pergi sendirian, dan tatapannya... tatapannya seolah ia sedang menimbang sesuatu yang berat. Dan saat pengkhianatan itu terjadi di kapal Angin Utara, dia ada di sana. Dia yang memotong tali tambat — tapi dia juga yang pertama kali bertanya kepada siapa saja yang tahu tentang pertemuan itu."
"Tapi dia sahabatmu sejak kecil," kata Elara lembut. "Mungkin ada alasan lain."
"Alasan apa pun tidak mengubah kenyataan bahwa ia menyembunyikan sesuatu," jawab Zhoo getir. "Dan itu yang menyakitkan — bahwa di antara semua orang, dia yang tumbuh bersamaku, dia yang pertama kali bilang akan ikut ke mana pun aku pergi... dia yang menyimpan rahasia dari kami."
"Jangan menghakiminya dulu," Elara meletakkan tangannya di lengan Zhoo. "Bicaralah padanya. Tanyakan dengan jujur, bukan dengan tuduhan. Mungkin dia sedang berjuang dengan sesuatu yang kita tidak mengerti."
Zhoo menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. "Kau benar. Aku harus bertanya langsung. Tapi aku takut mendengar jawabannya."
Ia berjalan kembali ke api unggun. Kael duduk sendirian di sudut yang agak gelap, menatap api dengan tatapan kosong. Zhoo duduk di sebelahnya, dan untuk waktu yang lama, tidak ada yang berbicara.
"Kau sudah lama berubah, Kael," kata Zhoo akhirnya pelan. "Sejak Lirael. Sejak pengkhianatan itu di kapal."
Kael tersentak sedikit, lalu menunduk lebih dalam. "Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu, Zhoo. Aku hanya... tidak tahu bagaimana cara mengatakannya."
"Katakan saja sekarang," desak Zhoo lembut namun tegas. "Kita bersahabat sejak kita kecil. Tidak ada rahasia di antara kita — atau setidaknya dulu begitu."
Kael menarik napas gemetar, lalu berbicara dengan suara yang hampir berbisik:
"Ayahku... dia masih hidup. Dan dia berada di pihak Vereon. Dia adalah salah satu penasihat raja. Dia mengirim surat kepadaku di Lirael — sebelum pertemuan di kapal itu. Dia bilang jika aku tidak meninggalkanmu dan kembali ke Veyra untuk melayani Raja, dia akan membunuh Ibu yang masih ditahan di sana sebagai sandera."
Zhoo tertegun. Ia tidak pernah tahu bahwa ayah Kael masih hidup, apalagi di pihak musuh.
"Surat itu... apakah kau memberitahu seseorang lain tentangnya?" tanya Zhoo pelan.
"Tidak. Aku takut kau akan berpikir aku akan mengkhianatimu. Tapi saat di kapal... aku panik. Aku berpikir — jika aku memberi tahu ayahku tentang pertemuan itu, mungkin dia akan membebaskan Ibu. Tapi aku tidak melakukannya, Zhoo! Aku bersumpah! Aku hanya berpikir sebentar, dan itu sudah cukup untuk membuat orang lain tahu — entah bagaimana caranya, kata-kataku keluar tanpa sengaja kepada seseorang yang berdiri di dekatku. Dan itu sebabnya mereka datang menyerang!"
Kael menunduk dalam, air mata jatuh ke tangannya. "Aku tidak bermaksud mengkhianati kalian. Aku hanya... aku tidak bisa kehilangan Ibu. Maafkan aku, Zhoo. Maafkan aku karena lemah."
Zhoo menatap sahabatnya itu — sahabat yang ia kenal seumur hidupnya — dan hatinya terasa perih. Ia tidak marah. Ia hanya merasa sedih karena beban itu dipikul sendirian oleh Kael selama ini.
"Kau tidak lemah, Kael," kata Zhoo pelan, meletakkan tangan di bahu temannya. "Kau manusia. Dan manusia terbelah di antara dua hal yang sama-sama ia cintai — itu bukan kelemahan, itu rasa sakit yang paling berat di dunia ini."
"Aku pantas kau usir," kata Kael parau. "Aku membahayakan kalian semua."
"Kau tidak akan kusuruh pergi," jawab Zhoo tegas. "Tapi kau harus berjanji satu hal padaku. Mulai sekarang, apa pun yang terjadi — bahaya, ketakutan, keraguan — kau beri tahu aku dulu. Kita hadapi bersama. Bukan kau sendirian, bukan kau menyembunyikannya sampai ia melukai kita semua."
Kael mendongak, matanya basah namun bersinar karena harapan. "Kau... kau tidak membenci aku?"
"Bagaimana mungkin aku membenci sahabatku?" Zhoo tersenyum tipis, sedih namun tulus. "Dan Ibumu — kita akan menyelamatkannya. Bukan dengan kau menyerah pada Vereon, tapi dengan kita menang perang ini. Karena hanya jika kita menang, semua orang yang ditahan dan disandera akan bebas — termasuk Ibumu."
Kael mengangguk kuat-kuat, air mata masih mengalir namun kini ada tekad yang baru di matanya. "Terima kasih, Zhoo. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi. Apa pun yang terjadi."
Saat Zhoo kembali ke tempat mereka beristirahat, Elara menunggunya. Ia melihat wajah Zhoo dan langsung tahu.
"Kau tahu?" tanyanya pelan.
"Aku tahu," jawab Zhoo duduk di sampingnya. "Dan itu bukan pengkhianatan yang murni. Itu adalah hati yang terjebak di antara dua kewajiban. Dan itu jauh lebih sulit diselesaikan daripada pedang mana pun."
"Dan kau akan tetap membiarkannya di sisimu?"
"Aku tidak akan membuang orang yang sedang jatuh," jawab Zhoo tegas. "Aku akan memegang tangannya sampai ia berdiri tegak kembali. Itulah arti teman, Elara. Itulah arti persekutuan yang sebenarnya — bukan hanya saat semuanya berjalan lancar, tapi saat kita penuh luka dan keraguan sekalipun."
Namun di tempat lain, di sudut gelap yang tersembunyi dari pandangan siapa pun, Ryn berdiri diam mengamati mereka. Di tangannya ada selembar kertas yang tertutup segel lilin hitam — tanda Vereon. Dan di mata Ryn, ada keraguan yang sama beratnya. Karena Ryn juga bukan sekadar penjaga gerbang Morgh. Ryn adalah mata-mata yang dikirim untuk mengamati, untuk melaporkan... dan mungkin untuk menghancurkan. Namun sejak melihat Zhoo, semuanya berubah. Dan sekarang, Ryn harus memilih — antara kewajiban lama yang sudah dijanjikan, atau jalan baru yang ternyata benar-benar ada.