Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siksaan Gravitasi dan Tempat Pembuangan
Tahun-tahun awal setelah keributan besar di Aula Gerhana berjalan bagai siksaan yang sengaja diulur. Bagi Ryuken yang baru menginjak umur tiga tahun, bertahan hidup di atas batuan Akuma bukanlah perkara mudah. Bocah malang itu tidak pernah diberi hak memakai zirah pelindung gravitasi atau meminum ramuan penguat tulang dari tabib istana. Perlindungannya hanyalah pelukan hangat sang ibu, Hana, di tengah sisa-sisa pengaruh politik Juro yang kian digembosi oleh Sektor Delapan.
Tetua Kaelen memotong pasokan obat-obatan untuk putra sulung Juro tersebut. Sebaliknya, anak-anak lain—termasuk Ren, saudara tirinya—mulai dilatih tegap di lapangan sejak balita. Mereka dipasangi zirah pemberat untuk membiasakan otot menahan gravitasi Akuma yang ekstrem. Sementara Ryuken dibiarkan bertarung sendirian melawan tekanan planet tanpa alat bantu apa pun. Kelainan jantungnya pun kian parah. Terkadang dadanya bergetar hebat, memompa darah terlalu cepat hingga kulitnya melepuh kemerahan akibat hawa panas dari dalam. Namun di waktu lain, jantungnya berhenti total selama berjam-jam. Di malam-malam kritis itu, Hana hanya bisa menangis dalam senyap, memeluk tubuh mungil anaknya di atas dipan bambu yang rapuh sambil menyalurkan sisa tenaga dalamnya demi menantang maut.
"Tatap rongsokan daging dari rahim madumu itu, Juro!" cemooh Renka suatu sore di koridor taman istana.
Di sampingnya, Ren kecil yang baru berumur tiga tahun sudah lincah mengayunkan pedang kayu di bawah siraman hujan merkuri pekat. Senyum Renka begitu tajam, menusuk hati Hana yang sedang bersandar lemas pada tiang bangunan. "Anak pertamamu bahkan tidak punya tenaga untuk menegakkan lehernya sendiri! Dewan Tetua sudah sepakat menghapus namanya dari daftar calon penerus. Takhta Kuadran Utara hanya layak untuk ksatria sejati seperti putraku!"
Juro Shinto yang berdiri membelakangi mereka tidak membalas. Dia hanya mengepalkan tinju hingga pilar batu di sampingnya retak seribu dan menaburkan debu hitam ke tanah. Tatapannya setenang kematian, lurus menembus langit malam. Juro tahu, musuh-musuhnya sedang menyusun rencana untuk menggulingkannya dari jabatan panglima. Waktu yang ia miliki untuk melindungi keluarganya kian menipis.
Saat Ryuken menginjak usia lima tahun, rencana jahat itu dieksekusi secara terang-terangan. Atas dekret Dewan Tetua yang disokong pasokan senjata Kekaisaran Vorash, Ryuken diusir paksa dari istana atas. Tubuh kurusnya diseret oleh dua pengawal berzirah berat, lalu dilemparkan ke gudang penyimpanan kayu yang lapuk di sudut paling belakang kompleks bawah—tempat pembuangan pelayan rendahan.
Lantai gudang itu berupa batu hitam kasar yang terus memancarkan hawa dingin, menusuk langsung ke tulang-tulangnya yang rapuh. Setiap kali Ryuken mencoba bangkit, sendi lututnya berbunyi kencang dibarengi rasa sakit luar biasa. Tubuhnya ambruk menabrak debu sambil memuntahkan darah segar. Baju hitam compang-camping miliknya kerap basah oleh rembesan hujan merkuri dingin yang menembus celah atap seng yang rusak.
Penderitaan fisiknya disempurnakan oleh kelicikan juru masak istana yang memotong jatah makannya atas perintah Renka. Setiap sore, ia hanya diberi semangkuk bubur apek yang dingin. Itu pun jika anak-anak lain tidak menendangnya ke lumpur hitam sebagai gurauan. Murid-murid muda yang telah dicuci otaknya oleh para tetua menjadikan kelemahan Ryuken sebagai bahan hinaan. Mereka sering meludahi pundaknya, menyebutnya sebagai sampah pembawa sial bagi klan.
"Lihat si cacat pembawa aib ini! Mengangkat sebilah ranting pun dia tidak mampu!" seru Ren sambil mendobrak pintu gudang yang rusak. Langkahnya angkuh, dipenuhi rasa superioritas karena selalu dimanja. Tanpa belas kasihan, Ren melayangkan tendangan keras menggunakan tumit sepatunya tepat ke arah dada kiri Ryuken yang sedang berlutut.
BRAK!
Hantaman itu melempar tubuh Ryuken hingga punggungnya membentur tiang penyangga gudang. Ryuken terkapar di tanah kotor, napasnya tersengal menahan perih yang seolah meremukkan tulang rusuknya. Darah segar mengalir dari sudut bibir, membasahi noda debu di bajunya.
Ren tertawa terbahak-bahak bersama belasan anak lainnya. Mereka meludahi wajah pucat Ryuken sebelum berbalik menuju kehangatan aula latihan istana, meninggalkan Ryuken sendirian di tengah kegelapan badai yang membeku tanpa obat sepotong pun.
Namun, di balik siksaan fisik yang sadis itu, jiwa Ryuken menolak mati. Ia tidak mengeluarkan setetes pun air mata keputusasaan atau memohon belas kasihan. Di tengah rasa sakit yang meremukkan tubuh, Ryuken perlahan memejamkan sepasang mata hitam legamnya di atas tanah yang basah oleh darahnya sendiri. Ia menarik seluruh kesadarannya masuk ke dalam batin yang paling sunyi.
Di dalam isolasi jiwanya, ia memfokuskan seluruh kekuatan hidup pada satu titik: jantung acaknya yang terus bergejolak.