Bagi Jema (24 tahun), hidup ini hanya tentang bau oli, tagihan listrik, dan obat Ibunya yang mahal. Lulusan S1 Elektro yang terpaksa jadi montir ini punya hati sedingin es dan tidak punya waktu untuk urusan cinta.
Sampai akhirnya, Maikel (18 tahun) datang mengacaukan segalanya.
Ceria, berisik, dan kaya raya. Bocah SMA bad boy itu sengaja merusak mobil sport mewahnya berkali-kali hanya agar punya alasan sah untuk menggoda Jema di bengkel.
Jema mati-matian menjaga jarak. Baginya, Maikel hanyalah gangguan berisik. Namun, saat Maikel pelan-pelan menyusup ke titik paling rapuh di hidup Jema, benteng pertahanan itu mulai goyah.
Sanggupkah Jema mengabaikan perbedaan usia enam tahun dan jurang status sosial di antara mereka? Apalagi ketika dunia remaja Maikel yang liar mulai menyeret hidup Jema ke dalam bahaya.
"Gue punya alasan sah buat ngerusak mobil gue tiap hari, biar bisa dapet servis dari montir pribadi hati gue." — Maikel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM TERAKHIR DAN JANJI DI BALIK RUMUS
Waktu berjalan tanpa belas kasihan, bergulir secepat roda mobil balap yang melesat di sirkuit. Dua minggu sejak insiden ketegangan di pesta ulang tahun mewah keluarga Bach dan peringatan dingin dari Samuel berlalu bagai kedipan mata.
Malam ini adalah malam terakhir sesi les privat kami. Besok pagi, Maikel akan menghadapi takdirnya di lembar soal Ujian Nasional penentu kelulusan SMA.
Jarum jam dinding di ruang tamu sederhanaku menunjukkan pukul delapan malam lewat sedikit. Suasana malam ini terasa jauh lebih tenang dari biasanya. Tidak ada lagi tumpukan buku kerja setebal bantal yang berserakan berantakan di atas karpet. Hanya ada selembar kertas simulasi prediksi ujian terakhir yang terbuka di atas meja kayu kecil kami.
Maikel duduk bersila dengan sangat tenang di seberang meja. Jam tangan sport hitam seharga dua juta pemberianku melingkar gagah di pergelangan tangan kirinya. Dia baru saja meletakkan pulpennya setelah bertarung dengan tiga puluh soal fisika rumit yang sengaja kubuat untuk menguji batas kemampuannya.
Aku mengambil lembar jawabannya, mencocokkannya dengan kunci analisis kalkulasi buatan perkakas elektroku. Sepasang mataku mendadak membelalak lebar. Jantungku berdegup kencang karena rasa bahagia bercampur haru yang tiba-tiba mendesak naik ke tenggorokan.
"Maikel... ini..." Aku menggantung kalimatku, menatap baris coretan angkanya tak percaya.
Maikel langsung mencondongkan tubuhnya ke depan, menaikkan sebelah alisnya dengan senyum narsis yang sangat khas.
"Gimana, Ibu Guru? Hasilnya bikin lu takjub sampai kehilangan kata-kata, kan? Bilang aja kalau otak genius tingkat dewa gue ini beneran terbukti nyata."
"Semuanya benar, Kel," ujarku lirih, suaranya sedikit bergetar karena rasa bangga yang teramat mendalam.
"Fisika kamu dapat 95, matematika dapet 92. Hanya ada beberapa salah kecil di konversi satuan termodinamika tadi."
"Yes!" Maikel mengepalkan tangan kanannya di udara dengan riang, tawa renyah nan bebasnya memecah keheningan malam ruang tamu.
"Gila! Akhirnya rumus-rumus kutukan dari lu beneran nyangkut semua di otak gue. Lu lihat kan, Jem? Jam tangan dari lu ini beneran bawa keberuntungan tingkat tinggi."
"Kamunya aja yang dari kemarin-kemarin malasnya minta ampun. Kalau mau mikir taktis ternyata bisa," sahutku, tak bisa menahan tawa kecil melihat ekspresi bangganya yang kekanak-kanakan namun entah kenapa terlihat sangat manis. Aku merapikan lembar jawaban itu, lalu menatap matanya lekat-lekat.
"Besok pas ujian dimulai, jangan terburu-buru. Baca soal analisisnya dengan teliti. Ingat rumus hambatan total RLC dan arah arus bolak-balik yang semalam kita bedah habis-habisan."
"Siap, Ibu Guru Galak kesayangan gue," jawab Maikel lembut, menopang dagunya dengan kedua tangan sembari menatapku tanpa berkedip. Tatapan matanya mendadak berubah menjadi sangat dalam, serius, dan memancarkan riak kehilangan yang pekat.
"Tapi, Jem... setelah besok lembar soal itu gue kumpulin ke pengawas, berarti... sesi les privat malam-malam kita di rumah ini resmi berakhir, dong?"
Deg.
Pertanyaannya yang polos mendadak membuat dadaku terasa sesak. Ada rasa sepi yang tiba-tiba menyelinap di sudut hatiku, meruntuhkan sisa logika normalku. Aku terdiam sejenak, memutar-mutar pulpen di jemariku untuk menyembunyikan kegelisahan.
"Iya. Tugas aku mengajari kamu kan sudah selesai, Kel. Lagian utang dua puluh tiga juta di kartu kredit hitam kamu juga sudah dianggap lunas total malam ini lewat jalur barter les privat kita. Kontrak kesepakatan kita berakhir."
"Skenario barter utang emang berakhir, Jema Juvita," potong Maikel cepat dengan nada suara baritonnya yang berat dan penuh penekanan yang mutlak. Dia menurunkan tangannya dari dagu, mencengkeram tepi meja kayu kecil kami hingga jarak wajah kami mengikis drastis.
"Tapi hubungan kita baru aja mau dimulai."
Wajahku seketika membara panas, memerah padam akibat intensitas tatapan matanya yang seolah mengunci seluruh pergerakanku.
"Maikel... fokus dulu ke ujian kelulusan kamu besok. Jangan bahas yang enggak-enggak."
"Gue udah fokus seratus persen, Jema!" desis Maikel dengan ketegasan seorang pria dewasa yang sanggup membuat seluruh dinding pertahananku bergetar hebat. Dia mengetuk pelan kaca jam tangan hitam di lengan kirinya.
"Lu ingat kan janji taruhan kita waktu di bengkel lama dan di mobil pas jemput lu? Kalau nilai ujian gue berubah jadi biru semua dari atas sampai bawah, lu harus mau gue ajak jalan-jalan berdua di hari Sabtu."
"Itu... itu kan cuma taruhan bercanda—"
"Gue enggak pernah bercanda kalau menyangkut lu!" potong Maikel lagi, sorot matanya berkilat posesif tanpa ada gurat anak sekolahan lagi.
"Enggak ada alasan menolak karena masalah umur, enggak ada alasan wejangan dari Tante, dan enggak ada alasan batasan status guru-murid dari Kak Samuel lagi. Begitu nilai gue keluar, gue bakal datang ke sini buat nagih janji kencan pertama kita. Lahir dan batin."
Dia bangkit berdiri dengan gerakan anggun nan tegap, membuatku terpaksa mendongak menatap postur tubuhnya yang tinggi gagah dalam balutan kemeja flanelnya.
Maikel menyampirkan tas ransel hitamnya di bahu, lalu berjalan perlahan menuju pintu depan. Aku mengekor di belakangnya dengan langkah kaki yang mendadak terasa teramat berat.
Begitu sampai di ambang pintu, Maikel membalikkan badannya. Di bawah temaram lampu teras luar yang remang, dia mengulas senyuman lebar yang sangat jenaka.
"Gue pulang dulu ya, Kak Jema. Doain murid terganteng lu ini besok bisa ngebabat habis soalnya tanpa sisa," ucapnya lembut, lalu mengedipkan sebelah matanya dengan gaya liarnya yang khas.
"Siap-siap dandan yang cantik buat hari Sabtu nanti, karena gue gak bakal terima penolakan apa pun."
"Maikel Sebastian Bach! Fokus ujian dulu baru mikirin kencan!" seru ku dengan wajah yang sudah memerah padam karena salah tingkah yang luar biasa hebat.
Maikel tertawa renyah, tawa bebasnya yang merdu memenuhi keheningan gang sepi saat dia melangkah lebar menuju mobil sport merahnya.
Setelah menutup pintu kayu dan memutar kunci ganda, aku bersandar rapat-rapat di balik pintu, memegangi dadaku yang bergemuruh hebat bagai mesin mobil balap.
Aku kesal karena selalu kalah telak berdebat dengan keras kepalanya bocah sembilan belas tahun itu, namun di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, ada rasa bahagia, rindu, dan desiran haru yang teramat pekat, menyadari bahwa babak baru dalam hidupku bersamanya akan segera dimulai tepat setelah lembar ujian besok diselesaikan.
Aku melangkah dengan gontai masuk ke dalam kamarku yang remang. Begitu pintu tertutup, aku langsung merebahkan tubuhku di atas kasur tipis, menatap langit-langit kamar yang sunyi dengan pikiran yang berkecamuk hebat.
Kuremas bantal guling di pelukanku, mencoba meredakan detak jantungku yang masih bertalu-talu dengan ketukan yang teramat kencang. Wajahku terasa menghangat tiap kali bayangan tatapan posesif Maikel dan janjinya tentang kencan hari Sabtu terlintas kembali di kepala.
"Apakah ini nyata...?" bisikku lirih pada kesunyian malam, suaraku terdengar parau dan penuh keraguan. "Apakah semua ini benar-benar terjadi?"
Pertanyaan-pertanyaan itu mendadak menghujam ulu hatiku, memicu perang batin yang hebat di dalam kepalaku. Sisi logisku yang dewasa mencoba berontak keras. Wejangan Ibu saat sarapan tempo hari tentang “jangan sama anak SMA” dan peringatan sedingin es dari Samuel di lantai dua belas mendadak berdengung bersamaan bagai kaset rusak.
Aku memejamkan mata, memijat pangkal hidungku yang terasa kaku. "Apa boleh... seorang wanita dewasa berusia dua puluh empat tahun seperti aku, beneran pergi kencan sama anak SMA yang usianya baru sembilan belas tahun?"
Logikaku berteriak bahwa hubungan ini salah, tidak ideal, dan penuh batasan sosial yang rumit. Maikel masih terlalu muda, dunianya masih dunia mainan anak sekolahan yang baru mau lulus. Sementara aku sudah harus bertarung dengan kerasnya realita mencari nafkah dan memikirkan biaya obat Ibu setiap bulan. Dunia kami berbeda fungsional.
Namun, di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, desiran senang dan rasa bahagia yang ditinggalkan oleh pelukan serta kegigihan Maikel malam ini menolak untuk mengalah. Keras kepalanya bocah itu beneran sanggup mengaburkan semua batasan usia yang kubuat.
Dengan hati yang masih tak karuan dan diliputi sejuta bimbang yang menggelitik dada, aku perlahan menarik selimut hingga sebatas dada, membiarkan kesadaranku tenggelam ke alam mimpi bersama rahasia janji hari Sabtu yang kian mendekat.